50 Untung Bertemu Bima

1747 Kata
Bima duduk di salah satu kursi dalam ruang meeting di hotel ini. Pembahasan malam ini mengenai peraturan baru yang dibuat pemerintah untuk operasional hotel dan restoran. Pak Fairus sebagai ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Jakarta sedang membahas setiap poin dari peraturan baru, tentunya tentang kapasitas meja tamu, jam operasional, dan standar protokol yang wajib difasilitasi di setiap resto. Bima juga setuju untuk menyelenggarakan gerakan vaksin bersama untuk setiap karyawan dan membuat sign prokes yang harus ada di setiap resto. Pada pertemuan ini juga, Bima sebagai salah satu pembicara yang memberi arahan pada strategi marketing sebagai upaya bertahannya industri hospitalier ini di masa pandemi dengan peraturan serba membatasi ruang gerak. Bima memang terkenal dengan kemampuannya sebagai seorang mentor penggerak dalam bidang digital marketing dan karena banyaknya orang-orang pernah ikut kelasnya yang membuatnya mendapatkan sambutan antusias ketika maju ke depan. "Selamat malam semuanya," sapa Bima sembari memandang ke sekeliling ruangan. Setelah memberi salam kepada para ketua dan hadirin Bima mulai menjelaskan, "Usaha kita ini yang paling rentan untuk bangkrut dalam sekejap. Ditutup langsung drop, begitu dibuka merangkak naik, lalu saat mulai naik, ditutup lagi, drop lagi, begitu terus. Itu yang terjadi selama satu tahun terakhir ini, betul?" Bima mengangkat tangannya disusul dengan para owner yang merasakan hal sama. "Adaptasi digital melalui instant delivery memanfaatkan sosial media menjadi solusi paling bermanfaat. Saya yakin sudah banyak yang menerapkan.Jualan di sosmed hits, market place, aplikasi, web." Bima dapat melihat banyak yang menganggukkan kepala. "Lalu dengan verifikasi ke digital ini tentu tidak mudah. Buktinya masih banyak resto yang tutup setiap hari." Seseorang mengangkat tangan menginterupsi "Pak, saya termasuk salah satu usaha resto yang tutup karena masalah biaya operasial dan bayar sewa. Saya ingin merintis lagi, bagaimana caranya?" "Ah, betul. Rencana sudah dibuat oleh Pak Fairus untuk solusi dari masalah pembayaran sewa tempat dan pinjaman ke bank akan diperingan dengan tempo yang lebih lama dan pemangkasan bunga." Bima menoleh kepada Pak Fairus. "Betul begitu ya, Pak?" Pak Fairus mengangguk tegas mengiyakan. Bima melanjutkan, "Manajemen resto memang mesti lebih survive untuk mengambil channel dan peluang lainnya. Kenapa cafe saya yang lebih condong hanya menjual kopi dan camilan bisa tetap stabil bahkan meningkat di masa seperti ini?" Bima menekan remote yang terhubung ke layar. "Karena strategi take away dan instant delivery kami sudah diubah dengan mencari relasi tender. Kami menyuplai paket makanan kepada faskes, instansi pemerintah, pabrik dengan harga yang terjangkau untuk para karyawannya." Layar di monitor berganti memperlihatkan daftar rumah sakit yang ada di Jakarta. "Rumah sakit ini pastinya membutuhkan makanan yang layak dan terjamin kebersihannya. Peluang ini masih sangat besar. Selain itu perusahaan kami juga mengekspor jenis kopi dari petani lokal." Meeting berlanjut dengan diskusi dan Bima memberikan tawaran workshop membuat proposal kerjasama sampai bisa goal, dia mencotohkan satu proposal yang bisa dipelajai para pelaku usaha kuliner di sini. "Saya yakin Pak Bima ini selalu menghadirkan ide-ide kreatif yang bisa ditiru oleh pengusaha lain," ucap Pak Fairus kepada Bima. Meeting sudah selesai dan mereka naik ke restoran untuk makan malam. Bima tersenyum sopan. "Kita orang-orang garis depan bukan?" Alisnya terangkat sebelah membuat Pak Fairus tertawa dan menepuk bahu Bima. Dalam ruang restoran sudah ada buffet makanan, Pak Fairus mempersilakan semuanya mengambil makanan. Bima hanya mengambil porsi sedikit karena dia harus menghubungi kliennya yang akan datang ke Jakarta. Di meja yang dikelilingi oleh orang-orang yang menikmati masakan hotel ini, Bima sudah mengosongkan piringnya dan permisi dari meja. Dia berbicara kepada Pak Fairus untuk pamit. Bima menutup pintu kayu yang dipernis berwarna hitam dengan handle stainless yang berat di belakangnya. Dia berjalan melewati beberapa pintu yang tertutup. Di lantai ini terdapat ruangan makan privat untuk keluarga, pasangan, atau seperti dirinya yang meeting di tempat ini. Jika ingin ruangan yang lebih trbuka dengan pemandangan kota Jakarta, hotel ini menyediakan tempat di roof top mereka. Karpet yang tebal meredam suara langkahnya. Jendela-jendela besar dibiarkan terbuka menampakkan kegelapan malam dengan kelip lampu-lampu gedung. Ada hamparan taman dengan pohon-pohon menjulang di bawah sana. Terpaan angin membuat pucuk pohon bergoyang. Bima berjalan menuju lift sembari mencoba menelepon asisten kliennya. Tidak ada jawaban, panggilannnya dialihkan. Bima menekan kartunya ke panel dan menunggu pintu lift terbuka. Sekali lagi dia mencoba menghubungi kliennya. Kali ini panggilan terhubung dan asisten kliennya memberitahu pesawat mereka delay dan baru tiba larut malam, pertemuan akan ditunda sampai besok pagi. Bima masuk ke dalam lift sembari menelepon lalu menyudahi pembicaraan. Masih sibuk mengganti dan menyusun ulang jadwal di ponselnya, tubuh Bima berbalik menghadap pintu lift dengan pintu yang sudah hampir tertutup. Namun, pintu kembali terbuka. Belum sempat Bima melihat seseorang yang menerebos masuk ketika tubuhnya tiba-tiba ditabrak dan dipeluk erat seorang wanita sampai tubuhnya berputar membelakangi pintu. Refleks Bima mencengkeram lengan atas wanita itu dan mendorongnya agar pelukan terlepas. Hanya dua detik pergulatan sampai wanita itu mendongak kepadanya dan mata Bima membulat kaget saat tahu Anyalah yang memeluknya. Dalam keadaan ketakutan. "Ada apa?" Suara seorang pria muncul memanggil nama Anya. Bima menoleh dan dapat langsung menilai situasi. Bima menatap Anya lagi. "Apa dia bersikap kurang ajar?" berupa desisan kemarahan yang muncul dari suara Bima membuat Anya memekik kaget. Rasanya Anya ingin menangis, dia hanya mengangguk satu kali. "Biar saya kasih pelajaran." Bima langsung membalikkan tubuh. Tangannya terkepal erat, sorot matanya mengancam begitu tatapan tertuju pada pria yang berjalan cepat ingin mencapai lift. "Jangan," ucap Anya tersekat. Dia meremas jas Bima yang dicengkeramnya dan menunduk dalam di punggung Bima. "Pergi dari sini. Tutup pintu liftnya!" lirihnya. Tubuh Anya sudah gemetar karena takut laki-laki m***m itu mencapai pintu lift. Cengkeraman Anya mengendur ketika Bima menekan panel dan pintu tertutup. Anya melepaskan pelukan dan menarik napas dengan keras. Debaran jantungnya masih belum kembali normal. Napasnya tersengal. Matanya terpejam erat, mencoba meredakan seluruh tubuhnya yang gemetar. Kejadian barusan kurang dari semenit, tetapi rasanya menguras banyak waktu. Melihat Anya yang ketakutan seperti itu, siapa pun akan berpikir dia telah dilecehkan. Pikiran mengerikan itu membuat efek kemarahan pada Bima. Dia ingin menghajar laki-laki itu, siapa pun dia, tidak peduli memiliki hubungan apa pun dengan Anya. Tangan Bima terulur ke wajah Anya yang masih memejamkan mata, tetapi tangannya tidak jadi membuai wajah yang begitu resah itu. Jemari Anya yang masih gemetar tidak luput dari tatapannya yang awas. Bima mengulurkan tangan dan membuka tangan Anya yang terkepal erat. Refleks Anya menggenggam erat tangan Bima. Telapak yang hangat dan lebih besar darinya seolah memberi perlindungan yang sedang dibutuhkannya saat ini. "Anya?" Denting lift membuat Anya membuka mata, pintu lift perlahan terbuka. Dia mendongak menatap Bima yang mengerjap canggung, khawatir bercampur bingung. "Biar saya antar pulang," putus Bima dan melangkah keluar. Namun, Anya menarik tagannya membuatnya menoleh bingung. "Saya belum mau pulang." Anya melepas pegangan tangannya. "Bisa cari udara segar dulu?" Dia menatap Bima dan matanya berkaca-kaca. Sejenak Bima menatapnya lekat-lekat, kemudian menggangguk dan membawa tangan Anya dalam genggamannya. Anya ikut tanpa membantah. *** Mobil Bima berhenti di taman alun-alun kota. Di kejauhan terlihat masih banyak orang-orang yang duduk-duduk. Lampu warna-warni berkedip berganti menyinari kolam dengan air mancur di tengahnya. Bima membawa Anya duduk di sudut yang tidak terlalu ramai, lalu membeli sebotol air mineral dari pedagan asongan. Bima menyerahkan botol air yang dibelinya. "Nggak masalah sama ini?" Anya menggeleng dan menerima air yang diberikan. Meneguknya dengan penuh kelegaan. Udara malam yang dingin membantu melepaskan kesesakan di dada.. "Makasih." Bima melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Anya. "Pakai aja," ucapnya ketika gelagat Anya ingin menolak, "nanti kamu masuk angin." Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Mereka hanya duduk bersebelahan, menonton lampu taman yang berubah-ubah warna. Seharusnya rencananya berhasil. Anya sangat ingin semuanya berjalan sempurna. Namun, kencan butanya selalu berakhir miris. Mulai sekarang, Anya bersumpah tidak akan ikut aplikasi dating tidak jelas itu. Semua isinya pemalsuan. Dunia maya yang susah dipastikan mana yang real atauu bohong. Apalagi tidak tahu watak sebenarnya dari orang yang hanya kenal lewat chat. "Tadi itu siapa?" Pertanyaan Bima yang mendadak membuat Anya hampir berjengkit. Rupanya Bima sadar kecemasannya sudah berlalu. Kenapa dirinya harus bertemu Bima di saat seperti itu. Bukan berarti jika dia tiddak bertemu Bima keadaan akan berbeda. Anya bergidik ketika membayangkan jika tidak ada siapa pun yng ditemuinya saat di lift. "Pak Bima kenapa bisa di hotel itu?" Anya malah balik bertanya, mengalihkan pembicaraan. Bima hanya menunjukkan tag nama dari hotel sebagai narasumber dalam meeting yang masih terkalung di dadanya. Mulut Anya terbuka tanpa suara membentuk kata 'Oh'. "Tadi kenalan kamu?" Bima kembali membahas topik yang sama. "Teman? Teman kencan?" Alis Bima terangkat kepada dandanan dan pakaian yang dikenakan Anya. Rasanya baru saja Anya ditampar rasa malu. Merapatkan jas ke tubuhnya, Anya mencari alasan, merasionalisasi kenapa dirinya bisa bersama seorang laki-laki dinner bareng di hotel mewah, padahal yang sebenarnya sedang menjalankan rencana untuk membatalkan pertunangannya. Anya memalingkan wajah, beruntung karena malam hari dan tidak ada lampu yang menyorot kepadanya. Sebab, wajahnya pasti sudah memerah. Tangan Bima membelai kepala Anya. "Kamu bisa cerita kalau mau, saya nggak maksa." Usapan ringan itu begitu menenangkan. Perlahan tubuh Anya bergeser hingga berhadapan dengan Bima. Tatapan laki-laki itu begitu jernih tanpa prasangka yang membuat Anya menelan tindakan bodohnya sendiri. Sembari menepuk halus kepala Anya, Bima berkata, "Yang penting kamu nggak kenapa-napa. Kamu lapar?" Senyuman di bibir Bima membuat Anya ikut tersenyum. Tadinya Anya ingin menggeleng mengatakan dirinya tidak lapar, tetapi Bima keburu berdiri dan berlari kecil menghampiri penjual kerak telor. Duduk-duduk di sini setidaknya membuat perasaan Anya menjadi lebih baik. Ini juga pertama kali baginya melihat Bima begitu santai dengan membeli jajanan pedagan kaki lima. Jika para pedagang itu tahu berapa harga jam tangan yang dipakai laki-laki mungkin si tukang kerak telor yang sedang meladangi pesanan Bima tidak akan bersikap sok mengajari seorang atasan. Anya tersenyum dan berusaha merapikan rambutnya yang terkena angin, berbeda dengan rambut Bima yang tetap diam kukuh mengilap karena pomade. Laki-laki itu kembali dengan membawa satu piring plastik yang dialasi kertas di tangan. "Nih, cobain!" Bima memberikan kerak telor ke tangan Anya. "Itu buatan chef yang udah 20 tahun bikin kerak telor. Katanya dijamin enak!" Bima tertawa pelan dan membuka botol air mineral. Tanpa disangka ternyata dirinya memang lapar. Awalnya dia hanya makan sedikit demi sedikit, lalu karena tidak enak hati, dia mengulurkan sesendok kepada Bima. "Nih, cobain juga masakan chef berpengalaman." Bima menerima suapan itu tanpa rasa canggung sedikit pun, berbeda dengan Anya yang sedikit terkejut karena Bima tidak menolak. Dia menyuapi Bima. Mereka makan dari satu sendok yang sama. Pipi Anya mendadak terasa terbakar. Bima berkomentar santai dengan rasa kerak telor itu yang memang enak. Setelah menghabiskan makanan, Bima mengantar Anya pulang. Memastikan gadis itu masuk ke rumah dan menutup pintu, sebelum menelepon ke pihak hotel tadi siapa yang resevasi dinner malam ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN