Bukan pemandangan aneh jika karyawan restoran tampak mondar-mandir dengan cekatan. Melayani dan menyajikan serta sedikit layanan tambahan bagi pelanggan yang datang di jam sibuk seperti hari ini.
Anya memperhatikan dengan saksama dari kejauhan, tanpa menimbulkan rasa risih para pelanggan restoran. Jam sibuk baru saja berlalu 5 menit yang lalu dan restoran perlahan-lahan mulai sepi ditinggalkan pengunjung yang puas menikmati sajian makan siang mereka. Ada rasa bangga yang menyusup di hati Anya melihat hal tersebut.
Anya memutuskan untuk mengecek ke bagian dapur, ketika suara yang tidak asing menginterupsinya.
“Anya!”
Telinga Anya berdenging. Tangannya mengepal sambil merutuk dalam hati. Dengan malas, dia berbalik lalu sebisa mungkin memaksakan senyumnya untuk hadir.
“Tante Shinta?” celetuk bibir Anya tanpa sadar. “Ada apa datang ke restoran?”
“Tante Shinta? Di mana?” Hani yang mendengar ucapan Anya ikut berbalik, menghadap dan mencari sesuai arah tatapan lurus Anya.
“Enggak disamperin?” tanya Hani menyikut pinggang gadis itu dengan pelan karena Anya tetap berdiri di posisinya tanpa bergerak.
Anya menggigit bibir bawahnya dengan gelisah sebagai jawaban. Entah kenapa kehadiran Tante Shinta membuatnya tidak nyaman. Selama ini, Tantenya nyaris tidak pernah berkunjung ke restoran selain karena urusan-urusan yang menurutnya mendesak seperti kekurangan uang atau perjodohan.
Anya bergeming tanpa melepas perhatiannya dari sang tante. Hingga pandangan keduanya bertemu dan senyum wanita paruh baya itu mengembang sempurna. Kedua pipi terangkat dan menambah kesan anggun dan menawan. Langkah Tante Shinta mantap mendekati Anya.
Membaca situasi dengan cepat, Hani bergegas pergi. Ingin melayani pelanggan jadi alasan. Padahal, tidak ada yang memanggilnya untuk datang.
Anya memilih diam di tempat, daripada harus menyambut dan ikut mendekat. Jika seandainya Tante Shinta merencanakan sesuatu, setidaknya tidak akan mengundang banyak perhatian dari orang-orang di sekitar mereka.
“Anya! Cantik banget hari ini?” ujar Tante Shinta riang sembari memeluk Anya. Tidak lupa kecupan di pipi kiri dan kanan sebagai pelengkap ramah tamah yang menurut Anya mengesalkan.
Anya berusaha tersenyum dan membalas pelukan tersebut dengan hangat. “Biasa aja, Tan.” Meski di dalam hatinya sendiri merasakan canggung luar biasa dan bersiap dengan skenario sang tante.
“Nggak kok. Aura kamu makin beda sekarang sejak di lamar Nak Bima. Duh, senangnya Tante melihat wajah keponakan yang semakin hari semakin cantik ini.” Suara Tante Shinta terdengar sedikit keras kali ini, hingga beberapa orang di dekat mereka melirik dengan penasaran.
Pujian Tante Shinta yang sedikit terasa tidak biasa semakin menguatkan dugaan Anya. Dia menahan napas agar senyumannya tidak luntur di wajah. Apa pun rencana sang tante, Anya yakin dia tidak akan menyukainya. Dalam hati, Anya sibuk berdoa kalau insting pertahanannya salah.
“Kamu sudah makan siang?”
“Sudah, kok, Tan,” jawab Anya cepat tanpa basa-basi.
Anya langsung bersyukur dengan keputusannya hari ini, ketika memilih makan siang duluan tadi. Jadi, dia bisa lega menjawab jujur, ditambah dia bisa mengajukan beberapa orang sebagai alibi penguat untuk ditanyai sang tante. Andai kata Tante Shinta tidak percaya.
“Aduh, sayang sekali!” Wajah Tante Shinta membentuk ekspresi kecewa yang dibuat-buat. “Padahal Tante mau makan siang sama kamu tadi.”
Anya merasa keringat dinginnya mengalir cepat. Dia bisa menduga ke mana arah rencana wanita yang kini masih menyunggingkan senyum lebar itu.
“Kamu makan siangnya sama siapa?”
Alih-alih terdengar sedih dan kecewa. Pertanyaan tersebut keluar dengan nada antusias yang tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun yang mendengarnya.
Anya baru ingin menjawab dan membantah praduga Tante Shinta, tetapi wanita itu lebih dulu membungkam Anya dengan kalimat mematikan. Yang berhasil membuat Anya diam seribu bahasa.
“Sama Bima ya? Lain kali ajak-ajak Tante juga. Kan sekalian kita obrolin untuk pesta pertunangan kalian. Itu kan bukan hal yang mudah Anya! Butuh persiapan matang!” teriak Tante Shinta girang. Lalu dengan cepat berbalik, sibuk melirik ke kiri dan kanan, kemudian matanya mengitari seluruh ruangan restoran. “Aduh! Mana calon menantu Tante yang ganteng itu, ya? Sudah lama nggak ketemu.”
Anya mematung. Jantungnya seolah copot dari d**a dan tiba-tiba terjun bebas, seperti disuruh melompat dari apartemen lantai enam belas. Otaknya tidak mampu mengolah berbagai jawaban sekarang.
Kini, tidak lagi beberapa orang yang melirik penasaran, tetapi seluruh yang ada di sana. Perhatian mereka tertuju penuh kepada Anya. Tak heran, karena kalimat terakhir Tante Shinta cukup keras memenuhi ruangan restoran. Bahkan yang di area dapur saja sampai mengintip dan menjulurkan kepala mereka keluar.
“Tan, ini restoran! Masih ada pelanggan! Bisa kan nggak usah teriak-teriak?” Anya langsung menarik tante Shinta menuju ruangannya untuk meredam suasana.
Dengan sigap, tante Shinta menepis tangan Anya. Dia berkata, ingin langsung pulang saja. Mata Anya memelotot maksimal. Bisa-bisanya tante Shinta melenggang pulang seenaknya setelah membuat kegaduhan?
Setelah tante Shinta pergi dengan semringah, Hani menghampiri Anya yang masih bergeming di depan pintu ruang kerjanya.
Masih memeluk nampan, Hani terlihat menahan senyuman. “Ciee, jadi cincin itu, cincin dari lamarannya Pak Bima, ya, Bu?” Hani menyenggol Anya dengan lengan.
Bibir Anya menyungging sambil melirik Hani dengan sinis. “Mending kamu kerja aja, deh. Daripada ngegosip. Ini cincin hadiah ciki-ciki!” Anya menunjukkan tangan kirinya di hadapan Hani lalu mengentak kaki.
Hani hanya tertawa melihat pipi Anya yang memerah dan memilih masuk ke ruangannya.
***
Kaki jenjang yang dibalut sepatu hak tinggi, menimbulkan ketukan demi ketukan renyah di telinga saat beradu dengan lantai yang dia pijak. Langkahnya terhenti di sebelah mobil, tepat di samping pintu penumpang depan yang bersebelahan dengan pengemudi. Tangannya yang bebas sigap membuka pintu mobil dan duduk dengan anggun.
“Lihat deh, penampilan aku hari ini?” titah Bella setelah melihat Alden berada di balik kemudi yang masih memainkan ponsel.
“Cantik nggak? Sepatu baru, nih!” Kaki kiri dan kanan Bella gantian terangkat. Sepatu blink-blink dengan hak tinggi membuat Alden tersenyum mengejek.
“Beli sama siapa, Yang? Kapan? Kok aku nggak tau.”
Bella segera duduk di samping Alden lalu meletakkan tasnya ke bangku belakang sebelum memasang sabuk pengaman. “Sudah lama, cuma baru aku pakai aja. Karena dengar kamu bakal bawa mobil.” Senyum semringah otomatis tercetak hangat di wajah Bella.
Melihat hal itu, Alden ikut tersenyum bahkan sedikit tertawa. “Iya nih. Tumben tumbenan papa mau ngasih minjem mobilnya. Biasanya, biar motor aku masuk bengkel berhari-hari pun, papa ogah ngasih pinjem mobil.”
“Mungkin karena sekarang kamu sudah kerja, Yang. Jadi, papa yakin kamu sudah bisa bertanggung jawab.”
Kali ini, Alden tertawa nyaring sambil memukul kemudi. Ucapan papanya sebelum memberikan kunci mobil sangat persis dengan ucapan Bella barusan.
“Kenapa sih, kamu, ketawa terus. Malam ini aku aneh, ya?” tanya Bella sambil menyondongkan tubuh ke Alden yang telah menaruh ponselnya di penyangga HP dashboard.
Alden hanya menggeleng sambil mengusap rambut Bella, kemudian menyalakan mesin mobil dan mengenakan sabuk pengamannya.
“Kita mau ke mana?”
Alden melirik jam di pergelangan tangan, lalu berkata, “Cari makan aja yuk. Kamu juga belum makan, ‘kan?”
“Ya pasti belum dong. Kan kita mau makan malam bareng.” Bella membenarkan posisi duduknya. “Kita mau makan di mana kali ini?” tanya Bella setelah merapikan penampilannya di cermin kecil mobil dan mengembalikannya ke posisi semula.
Alden menoleh sebentar dari ponselnya menatap Bella. Ide muncul di otaknya. Restoran Anya masih buka di jam segini dan sampai di sana akan sangat pas mendekati waktu tutup. Sekalian mereka bertiga bisa mengobrol bersama.
“Bagaimana kalau kita makan di restoran Anya aja? Sekalian ngecekin kondisinya, masih hidup apa sudah sekarat,” ujar Alden setengah serius dan setengahnya lagi penuh dengan nada usil dan niat jail.
“Hahaha, dasar! Tapi jangan dekat-dekat sama Anya! Akhir-akhir ini kamu juga sering banget kan bareng Anya!” Bella bersedekap sambil menyandarkan bahu. Dia kembali mengingat hal-hal mengesalkan beberapa hari lalu. Saat Alden menolak mengantarnya ke kampus dengan alasan ingin menemani Anya. Bella mengepalkan kedua tangannya di atas paha.
Alden tertawa sambil memukul kemudi. “Itu nemanin dia kencan buta, Yang. Aku sudah cerita ‘kan? Tentang teman kencan buta Anya yang kita cari lewat aplikasi dating itu? Sumpah! Nggak ada yang bener, Yang. Ada yang sudah uzur. Ada juga yang pakai behel ungu ngejreng!”
“Makanya kamu nyarinya yang bener. Kasihan juga tuh Anya. Pasti kena mental.” Bella ikut tertawa setelah mendengar cerita Alden. Kekesalannya perlahan pudar mengingat kisah cinta Anya yang tragis.
“Lagian ngapain sih, Anya sampai nyari teman kencan segala? Emang dia bener-bener nggak mau sama Pak Bima itu? Biar bagaimana pun, kalau dilihat-lihat Pak Bima juga ganteng kok. Tajir lagi.”
Seketika Alden membanting stir ke kiri. Dia menepikan mobilnya secara tiba-tiba. Tentu, hal itu mengejutkan Bella.
“Gantengan mana aku sama Bima Bima itu?” Terdeteksi, Alden cemburu. Dia memang sangat akut mencintai Bella.
Bella cengengesan. “Masih gantengan Pak Bima sih, Yang.” Tangan Bella menjulur, menyentuh tangan Alden yang mengepal. “Tapi aku tetap sayangnya sama kamu aja.”
Memang dasar, cinta bisa membutakan segalanya. Siapa pun tahu, kalau Bima memang lebih baik dari Alden dari segi mana pun. Kekesalan di raut wajah Alden seketika luruh saat Bella menggenggam tangannya.
Alden tersenyum lebar bak bintang iklan pasta gigi. Dinyalakannya kembali mesin mobil lalu menghidupkan lagu yang disambungkan ke ponselnya sendiri. Lagu romantis kesukaan Bella yang sudah bisa dipastikan dapat membuat Bella makin cinta.
Mobil memasuki keramaian jalan raya yang seolah tak pernah letih dengan sesaknya berbagai jenis kendaraan. Tinggal dua tikungan lagi, mereka akan sampai ke Douillet Resto.
“Kita enggak ngasih tahu Anya mau ke sana dulu?” tanya Bella mengingatkan saat mereka terjebak di lampu merah sebelum tikungan.
“Enggak usah. Anggap kita ngasih kejutan ke dia,” jawab Alden semringah.
Bella mencebik sambil bersedekap. “Kayaknya kamu semangat banget kalau sudah mau ketemu Anya."
Lampu hijau menyala. Mobil kembali melaju perlahan. Setelah melewati tikungan, Alden tertawa.
“Aku semangat karena mau pamer mobil! Ya itung-itung, mau buat Anya panas. Karena dia udah lama nggak nyetir.”
Obrolan mereka terus mengalir. Tawa selalu terdengar. Suara sumbang Alden yang menyanyikan lagu favorit Bella jadi penyebabnya. Beberapa kali, Bella sampai menutup mulut Alden bahkan merapatkan telinga.
Alden memperlambat laju mobilnya saat mulai memasuki pelataran restoran Anya. Mereka sampai tepat seperti waktu yang diperkirakan Alden.
“Yak, sampai di tempat tujuan,” ujar Alden begitu membelokkan mobilnya ke arah parkiran dan berhenti sempurna dengan aman.
Bella terkekeh sambil menggeleng pelan menikmati tingkah kekasihnya tersebut. Mereka segera turun dari mobil, tetapi ponsel Bella tiba-tiba berdering. Alden ikut menunggu Bella yang mengecek peneleponnya.
“Kamu masuk duluan aja. Mama nelepon. Bakal lama pasti nih,” saran Bella sambil mengangkat panggilan masuknya.
Alden tersenyum dan segera menganguk pelan, serta meminta Bella tidak usah terburu-buru untuk masuk. Dengan santai Alden memasuki restoran Anya yang hanya terisi oleh beberapa pengunjung. Dia melihat Anya yang masih sibuk mengawasi dan memerintahkan beberapa hal.
Anya tidak memperhatikan siapa pengunjung yang baru memasuki restorannya. Dia tetap fokus mengerjakan kegiatannya, sampai Anya membalikkan badan dan mendapati wajah sang sahabatnya tengah tersenyum.
“Hai, Anya!” sapa Alden sambil mengangkat tangan kanannya.
Alden berjalan santai ke arah Anya dan menyapa dengan ceria. Berbanding terbalik dengan Anya yang tersenyum, tetapi hanya di permukaan saja. Di dalam hati, dia sudah bersiap untuk memberikan Alden pelajaran berharga. Yang pasti, tidak akan bisa dilupakan sang sahabat dalam waktu lama.
Anya memastikan target buruannya terkunci di posisi tidak berdaya. Dia memasang perhitungan sempurna. Begitu Alden tepat berdiri di depannya, Anya segera menarik Alden kebelakang. Cengkraman Anya menguat saat berada di depan dapur.
Serangan tiba-tiba diluncurkan Anya dan berhasil membuat Alden tidak berkutik. Tangan Anya, dengan kelima jarinya, kuat mencengkeram rambut lelaki itu hingga mengaduh kesakitan.
“Aaa! Ampun!” teriak Alden spontan saat tubuhnya terhuyung ke depan.
“Nggak ada ampun!” geram Anya lalu mengeratkan rangkulan di leher Alden sampai mereka memutar.
Alden terbungkuk seketika, ikut memutar, mengikuti arah tarikan tangan Anya. Laki-laki itu otomatis terkunci dan pergerakan jadi terbatas. Namun, kali ini Alden hanya meringis pelan mengingat masih ada beberapa pelanggan restoran yang belum beranjak pulang.
“Heran, masih beraninya muncul di sini!” Anya membabi buta melampiaskan kekesalannya.
Usaha Alden agar bisa terbebas nihil, serta demi menyeimbangkan badan, sekarang tangannya langsung berusaha merangkul pinggang Anya. Sebelahnya lagi, dia pergunakan untuk memegang pergelangan tangan gadis itu, agar Anya berhenti merangkul lehernya dengan kuat.
Sayangnya, meski Alden berhasil memegang pergelangan Anya, gadis itu sudah menggumpulkan emosi serta amarahnya untuk dilepaskan saat ini. Alden terpaksa hanya bisa pasrah, sebisa mungkin dia berusaha untuk tetap bernapas.
“Ampun, Anya! Sakit, oy!” rintih Alden dengan suara tertahan menanggung sakit.
“Ampunan?” bisik Anya dengan nada mengerikan di telinga Alden. “Aku ampunin kalau dari kepala sampai ujung kaki berhasil aku olah dan sajikan sebagai makanan utama.”
Alden meneguk ludah dengan susah payah. Dia masih belum paham kenapa Anya tiba-tiba murka dan mengamuk seperti serigala liar yang ingin memainkan buruannya sebelum dilahap hidup-hidup.
“Memang aku salah apa?” tanya Alden hati-hati melirik wajah Anya dari sudut mata. Dia bergidik ketika mendapati ekspresi Anya yang seolah ingin melumatnya hidup-hidup.
“Masih berani dan sanggup bertanya karena apa?”
Suara Anya membuat bulu kuduk Alden merinding. Jauh lebih menakutkan ketimbang ketemu setan asli saat ini.
“Setooop!” teriakan itu memenuhi ruangan restoran. Untung saja, beberapa pelanggan yang tadinya masih duduk dengan nyaman, kini sudah keluar. Restoran sudah sepi. Hanya ada Hani yang tercengang tepat di belakang Bella.
Teriakan Bella berhasil menghentikan keberingasan Anya dan rangkulan tangan Alden. Mereka yang awalnya membelakangi Bella segera berbalik dan menatap syok.
Pasalnya, Bella sekarang tak ubahnya seperti banteng yang ingin mengamuk. Alden dan Anya seakan bisa melihat embusan asap yang keluar dari telinga dan hidung Bella.
“Kalian berdua ngapain!” teriak Bella murka pada keduanya.
Alden dan Anya kini meneguk ludah dengan wajah pucat.