"Kak Zain?" tanya Anya, yang baru dibangunkan dari tidur kurang dari setengah jamnya, seharusnya merasa kesal akan semua gangguan. Namun, alih-alih merasa pusing dan kosong, situasi di ruangannya mendadak tegang. Zain dan Bima saling bertatapan, masih selalu menilai satu sama lain. Tatapan mereka mengatakan tidak peduli apa ada hubungan pribadi dengan Anya atau hanya sekadar rekan bisnis. Yang jelas sekali bukan opsi kedua. Kegugupan menggelitik perut Anya ketika mereka bertiga berdiri tanpa ada yang mau mulai berbicara untuk mengakhiri ketegangan. Anya menarik napas. "Mau makan siang bareng ya, Kak?" Bibir Bima berkedut saat mendengar panggilan 'Kak' dan Anya bisa menangkap ekspresi penuh ejekan itu. Setiap rasa kesalnya siang ini sangat wajar bila ditumpahkan kepada si Kaleng Biskuit.

