Dia tidak menelepon.
Bima menatap ponselnya di atas meja kerja. Ucapan selamat memenuhi pesan masuknya, tetapi tidak ada dari Anya. Apa dia belum kembali ke restorannya?
Bima mengetik pesannya sembari bergumam, “Tadi saya ke resto kamu dan titip undangan. Kamu bisa datang?”
Beberapa menit kemudian pesan balasan dari Anya berisi, “Nggak, makasih. Saya nggak mau datang, buat apa? Saya sibuk, mending ngurusin kerjaan yang numpuk aja.”
Apakah balasan ini mengejutkan? Sama sekali tidak. Wanita memang tidak bisa dimengerti. Tidak datang pun tak masalah. Bima memang tidak berharap mendapat ucapan selamat.
Teleponnya berdering, kali ini dari ibunya. Bima langsung mengangkat panggilan itu dan kaget saat ibunya memberitahu sudah berada di kafe dan ingin meminta sesuatu. Buru-buru Bima melangkah dan menyentak gagang pintu. Kepala ibunya terlihat di ujung tangga dengan langkah tenang menaiki tangga.
Bima menahan keinginan untuk menutup pintu di belakangnya dan meminta ibunya pergi dari sini. Alih-alih mengusir halus, Bima bertanya, “Ada apa?”
Ibunya menatap ruang kerja Bima, dengan santai duduk di sofa. “Ibu perlu uang. Kamu tahu kan Ibu mesti bayar ini itu, tapi belum dikirimin.”
Kali ini Bima hanya mengangkat bahu. “Berapa? Di brankas sini hanya ada sepuluh juta, cukup?”
Senyum sekilas terbit di bibir ibunya. “Ibu tahu banget mesti ke mana kalau kepepet.”
Bima tidak menanggapi, berusaha tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia langsung membuka kunci brankas dan menyerahkan amplop tebal ke tangan ibunya. “Lain kali nggak perlu ke sini kalau butuh uang, janjian di luar aja.”
Ibunya mencebik. Jelas tidak suka dengan reaksi anaknya setiap dia datang ke lingkungan kerjanya. “Ibu kan nggak sering-sering ke sini. Sekali-kali ketemu sama anak sendiri nggak apa-apa kan? Eh, gimana sama Anya?”
“Nggak ada masalah,” jawab Bima enteng.
“Tuh kan Ibu jodohin kamu sama wanita yang tepat. Pokoknya cepat lamar.” Ibunya tersenyum senang. “Perjodohon ini harus berhasil. Ingat tujuan kita,” ucapnya penuh ambisi.
Pintu ruangannya tiba-tiba diketuk, lalu terdorong terbuka. Hikam muncul dengan membawa dua cangkir kopi. Laki-laki itu bergeming, kekesalannya tidak tampak, tetapi Bima mengetahuinya. “Maaf, Pak, ini kopi pesanannya, kebetulan saya mau istirahat jadi yang antar ke sini.” Setelah menaruh cangkir kopinya, Hikam langsung permisi.
Ibunya sudah mengambil cangkir dan setengah jalan ke bibir, tetapi melihat Bima menatapnya dengan menyipitkan mata. “Tadi sebelum naik ketemu manajer kamu, jadi sekalian pesan kopi.”
Perbincangan tak berarti membuat Bima jengah, dia tidak nyaman duduk di sofanya. Memberi secangkir kopi artinya memberi banyak tuntutan yang keluar dari bibir ibunya. Bima hampir membanting pintu tertutup begitu ibunya pergi.
Suara Hikam memanggilnya tepat ketika Bima mengempaskan diri ke kursi. Dia memijat batang hidungnya. Berurusan dengan ibunya sudah memakan banyak tenaga, dia tidak mau menyiksa diri lebih lama. Kali ini kernyitan tidak suka jelas-jelas ditujukan untuknya. Baiklah, Bima akan menghadapi masalah ini sebaik mungkin.
Bima tersenyum. “Ada keluhan?”
“Tadi itu ibu kamu kan?” Hikam menutup pintu. “Ngapain dia ke sini? Kalian masih berhubungan?”
Bima menerima tatapan tidak percaya Hikam. “Aku nggak bisa melepaskan diri atau kabur.”
Kekesalannya terbit, Hikam menatapnya tajam. “Mestinya kamu nggak usah nurutin apa maunya. Terus tadi aku dengar kalian ngomongin perjodohan ….”
Bima langsung berdiri, tangannya mengibas ke udara menyuruh Hikam keluar. Dia menunjukkan kekuasannya sebagai seorang bos dengan berkacak pinggang. Rupanya hal itu tidak berpengaruh.
Hikam balas berkacak pinggang dan berdecak. “Kamu udah gila, ya? Zaman sekarang mana ada jodoh-jodohan, niat ibu kamu pasti jelek. Meski nggak kenal secara langsung, tapi aku teman kamu satu-satunya yang tahu.”
Kepala Bima menengadah. Dia mengerti kemarahan Hikam. Temannya sejak dulu itu satu-satunya yang tahu perjalanan keras hidupnya. Bima menghela napas. “Bisa kita bicara di luar aja? Restoran lain sekalian makan siang,” putus Bima dan tanpa menolak Hikam mengikutinya.
***
Baru kali ini Anya melihat Pak Azka sangat serius. Sudah dua hari beberapa berkas bergantian diterima dan dikirim. Pak Azka mengayun-ayunkan pulpen yang masih dipegangnya, meminta pendapatnya jika ingin merevisi ide yang dianjurkan Bima.
Hani datang ke ruang kerja Anya dengan teko berisi air dingin. “Bu, ini air dingin tambahannya.”
“Makasih.” Anya menuang air ke gelas mereka yang sudah kosong.
Bukannya langsung kembali ke area resto, Hani berucap, “Bu, di depan ada Pak Bima sama cewek, kayaknya itu calon istrinya. Mereka lagi makan.”
Anya hampir membanting gelasnya. Tak habis pikir bisa-bisanya si kaleng biskuit kencan di restorannya. Ya, meski restorannya memang untuk siapa saja yang mau makan di sini, tetapi memangnya tidak ada restoran lain?
Hani melipir ke dekat Pak Azka, lalu berbisik, “Bu Anya marah ya, Pak? Cemburu gitu?”
“Nggak!” ucap Anya galak yang mendengar bisikan Hani membuat karyawannya itu mengerut salah tingkah.
Pak Azka otomatis membereskan lembaran kertas di meja. “Kalau nggak ganggu Pak Bima , ada beberapa hal yang mau saya tanyakan. Permisi.”
Anya ditinggalkan sendiri di ruang kerjanya. Dia sendiri kaget kenapa responsnya seperti barusan saat dituduh cemburu. “Kebangetan!” gerutunya dan menenggak segelas air dingin.
Cukup lama sampai Anya menguap lebar dan menggeliat merengangkan ototnya karena terlalu lama duduk. Anya mengubah posisi duduk dan melanjutkan pekerjaan lagi.
“Anya.”
Anya berdiri perlahan, mengernyit seolah-olah tertusuk ketika Bima memanggil namanya. Aura permusuhan menguar ke udara. “Kalau mau ngomongin kerjaan, Pak Azka lebih tahu.”
Bima menatap sekeliling ruang kantor Douillet Resto, alisnya terangkat ketika mendengar nada permusuhan dari Anya. “Aku ke sini nyari kamu. Kata Hani kamu lagi marah-marah. Apa ada yang nggak beres?”
“Ngapain Hani mesti ngadu segala lagi,” gerutunya pelan. Kepala Anya menggeleng. “Nggak ada. Bukannya Bapak orang sibuk ya, mesti pergi ke mana lagi gitu?”
Bima mengerjap. “Apa saya diusir?”
Anya memelotot. “Nggak ada yang ngusir,” ketus Anya.
“Kenapa kamu kesal gitu? Harusnya saya yang tersinggung karena kamu nolak undangan yang udah saya anterin sendiri ke sini.”
Anya tidak tahan lagi. “Ya, saya nolak lah, semua laki-laki tuh sama aja.” Anya berhadapan dengan Bima. “Seiyanya mau nolak juga mesti kabarin dulu gitu. Saya punya harga diri yang nggak bisa digilas kayak baju cucian. Emang Bapak udah bilang ke tante sama om saya?”
Melihat ekspresi Bima yang belagak tidak mengerti membuat Anya semakin kesal. “Sekalian aja Bapak undang tante sama om ke nikahannya. Udah, ah, kasian tuh ceweknya disuruh nunggu sendirian.”
Tangan Bima langsung menahan lengan gadis itu ketika Anya hendak melengos pergi. Tubuh Anya berputar di luar kehendaknya hingga mereka berdiri berhadapan lagi. “Kamu ini ngomong apa sih?” tanya Bima tidak mengerti. “Saya aja belum ngelamar kamu, masa udah ada undangan pernikahan?”
Tangan Bima melepaskan Anya . “Saya cuman kasih undangan acara penghargaan karena terpilih jadi mentor terbaik kemarin. Ya, nggak masalah kalau kamu nggak mau datang juga. Jadi ini persoalan undangan pernikahan apa ya?”
Mendengar kata-kata itu membuat Anya menganga. Dia berbalik dan mengambil undangan itu yang dibiarkan di atas rak. Pipinya terasa tertampar rasa malu saat membaca detail undangan itu. Tangan Anya terangkat menutup mulut menahan pekikan.
Ini karma karena tidak memeriksa malah langsung menyimpulkan. Saking malunya, Anya ingin memukul dahinya dengan kertas undangan mewah ini.
Bima tersenyum kecil. “Tuh kan salah sangka.” Dengan usil Bima bersiul. “Kamu cemburu ya?” Kali ini Bima membiarkan Anya berderap pegi, lalu tawa dari dasar perutnya tidak bisa ditahan lagi. “Ya, ampun!”
***
“Gara-gara si centil lemot Hani Bunny Sweety.” Anya mengembuskan napas dengan kesal. Dia sengaja turun dari ojek online di depan komplek dan berjalan kaki ke rumah. Angin malam yang dingin dapat mengipasi wajahnya yang panas. Masih terbayang dalam benaknya saat marah-marah tidak jelas dan reaksi Bima.
Belum lagi besok mereka mau rapat di resto. Si Kaleng Biskuit itu seperti sengaja ingin menyiksanya. “Uh.” Anya mengipasi wajahnya dengan tangan.
“Kenapa? Habis makan pedas atau malu habis gangguin pacar orang?”
Suara dengan nada sinis itu mebuat Anya langsung menoleh. Rupanya Bella sudah menunggunya di taman. Rasanya Anya tidak pernah sepengecut ini berhadapan dengan orang lain. Namun, Bella yang statusnya sebagai pacar sahabatnya membuatnya super sabar.
Bella melangkah mendekati Anya sembari bersedekap. “Di telepon nggak diangkat, chat nggak dibalas. Jadi aku sengaja nungguin di deket rumah.”
Anya meringis. “Maaf, hari ini sibuk banget.” Dia tidak mundur dan menegakkan punggung saat Bella berdiri di depannya. Kalau berani macam-macam, Anya siap berkelahi layaknya kucing betina. Mumpung tidak ada Alden juga.
“Aku cuman mau tahu mana calon kamu? Katanya ada, tapi nggak bisa buktiin. Mana, coba tunjukin foto kalian aja!” tuntun Bella.
Anya bingung menjawabnya. Dia tidak pernah foto bersama Bima.
“Nggak bisa kan? Kalau gitu coba telepon dia sekarang dan kasih tahu aku.”
Anya mendengkus. “Kamu jangan kayak anak kecil deh. Buat apa aku gangguin dia malam-malam? Dia tuh orang sibuk, jam segini aja masih kerja.”
Bella memutar bola matanya. “Oh, jadi karena yang katanya calon kamu itu sibuk jadi tiap malam kamu sukanya gangguin Alden?”
Tanpa banyak bicara Anya melewati Bella. “Kamu nggak akan pernah ngerti meski dikasih tahu berulang kali. Aku cape, kamu juga mending istirahat.”
Bella mengangkat sebelah tangan ke sisi mulutnya dan berseru, “Pokoknya aku bakal terus nyuruh kamu nunjukin calon kamu itu. Bila perlu aku cari tahu sendiri. Anya, kamu nggak akan bisa ngerebut Alden!”
Anya tidak menggubris dan mengunci gerbangnya.
***
Pagi-pagi sudah mengganggu. Anya menutup kepalanya dengan bantal. Keras kepalanya Bella tidak usah diragukan. Banyak sekali pesan masuk dengan pesan berulang dan panggilan tak terjawab.
Anya mendecakkan lidah dan mematikan ponselnya. Hari ini moodnya jelek, dandanannya juga seadanya saat berangkat ke restoran. Anya berjalan keluar komplek untuk naik angkutan umun, tetapi bunyi klakson menyentak tubuhnya. Anya menoleh dan melihat mobil Bima.
“Sini, masuk!”
Anya berjalan lagi menyusuri trotoar. Klakson mobil berbunyi lagi. Dengan tangan terkepal Anya melangkah dan nurut masuk ke mobil.
“Saya mau ke bank dulu, jadi bisa sekalian lewat,” jelas Bima dan melajukan mobilnya lagi.
Anya berdeham canggung, meraba maskernya agar tetap menutupi sebagian wajahnya. “Anu … maaf yang kemarin itu. Eh, yang undangan ….”
Bima terkekeh. “Nggak apa-apa. Lega saya tahu kenapa kamu marah-marah.”
“Saya kesal aja kalau Pak Bima benar begitu, nggak ada alasan lain kok.” Anya memalingkan wajah. Ponselnya berdering lagi, Anya menunduk melihat siapa yang menelepon dan menggeser tombol menolak, lalu membalikkan layar ponselnya ke pangkuan.
Hanya selang beberapa detik, ponselnya berdering lagi. Anya menolak panggilan itu sampai ketiga kali berikutnya. Mobil Bima menepi ke pinggir jalan. Saat Anya menoleh Bima berkata, “Kamu mau ngobrol di luar? Kayaknya itu telepon penting. Saya nggak masalah nunggu.”
Bibir Anya terbuka lalu menggigit bibir bawahnya. Tatapan Bima membuatnya resah. Dari posisi duduknya yang terkena cahaya menembus kaca mobil, mata Bima terlihat cokelat dengan iris hitam yang memikat. Laki-laki ini tampan.
“Ada masalah apa?” tanya Bima lembut.
Anya tersadar. Dia mematikan ponselnya dan menarik napas. Terlalu malu mengakui, tetapi masalahnya dengan Bella tidak akan selesai jika ditunda terus. “Dia pacar sahabat saya, yang cemburuan akut. Dia selalu ngira kalau pacarnya bakal direbut.”
“Terus nggak sengaja saya bilang udah punya calon.” Anya melirik Bima sesaat, ekspresi laki-laki itu tidak menunjukkan apa-apa. “Dia mau pembuktian, jadi sekarang,” tanpa sadar Anya memainkan kuku tangannya, pandangannya menunduk. “saya mau minta tolong Pak Bima pura-pura gitu.”
Keheningan menyebar di dalam mobil. Anya serba salah, setengah menyesal menceritakannya. Meskipun mereka memang dijodohkan, tetapi tidak ada hubungan spesial apa pun yang terjalin, kedekatan mereka jelas-jelas hanya hubungan bisnis.
Bima mengangkat bahu, dan menjalankan mobilnya lagi menuju Douillet Resto. Sepanjang sisa perjalanan Anya merasa tersiksa karena permintaannya digantung. Apa setidaknya si kaleng biskuit sedang mempertimbangkan masalahnya? Atau yang lebih parah laki-laki itu sedang menertawakannya dalam hati? Rasanya Anya ingin melompat dari dalam mobil.
Mobil sudah berhenti di depan restorannya, Anya menatap Bima lagi. Menatapnya penuh harap. Apakah dia bisa membuat tatapan memelas ala kucing? Tidak, Anya belum pernah mencobanya.
Akhirnya Bima mendesah dan berkata, “Jadi pacar teman kamu terus menelepon dan kamu membujuk saya untuk meyakinkan dia kalau saya ini memang calon kamu?”
Anya mengangguk pasrah.
“Saya hanya membuat kesepakatan bisnis, Anya. Kesepakatan yang mendatangkan banyak keuntungan untuk saya. Jadi, saya harap kamu ngerti.” Bima menekan tombol kunci. Sebelah tangannya menyentuh kepala Anya. “Kamu boleh turun.”
Tanpa kata Anya melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Dia hanya berdiri menatap mobil Bima yang menghilang di belokan.