Mau minta maaf?
Tanpa menunggu Anya langsung mematikan ponselnya. Kemarahannya menguar di seluruh penjuru kamar.
Segampang itu orang minta maaf? Cih! Untuk apa merespons kalau hatinya sendiri saja tidak menerima. Anya mengambil guling dan meninju bertubi-tubi bersamaan dengan rentetan sumpah serapah.
Pada hari yang ditunggu-tunggu, dalam imajinasi sempurnanya pesta ulang tahun itu akan menjadi titik balik untuk restorannya. Namun, tuduhan keracunan itu sampai dilebih-lebihkan ke media sosial, memberi lebih banyak gosip, dan spekulasi. Yang membuatnya marah kenapa kejadian sebenarnya kalau si Ratu drama itu hanya sakit lambung tidak dijadikan klarifikasi besar-besaran.
Anya berbaring terlentang, menatap langit-langit kamarnya. Dalam khayalannya ada lubang menganga lebar di atas sana, siap menelan semua impiannya. Begitu gelap dan menghancurkan. Rasanya ini menjadi sulit lagi.
“Kacau!” geram Anya dan meninju ke udara. Dia dengan suka rela membiarkan dirinya terserap ke lubang itu kalau saja restorannya bukan warisan keluarga.
Helaan napas panjang terdengar nelangsa di telinganya sendiri. “Nggak ada bedanya menyerah atau coba dari awal lagi.” Anya berguling dan duduk tiba-tiba di kasur. Menyibak rambutnya yang lepek berminyak karena beberapa hari ini Anya malas melakukan apa pun. Makan saja tidak berselera.
Jari-jarinya gemeretak ketika ponselnya berdering dan nama Bima muncul di layar. Sudah pasti Anya tidak mau mengangkat panggilan itu. “Lihat aja, aku bakal tunjukin ke lampir itu gimana rasanya dihina di depan umum!”
Anya bangun dari kasur dan membuka jendela kamarnya, matanya menyipit ketika sinar matahari begitu menyengat. Namun, pandangan Anya berani menantang si Raja siang. Tidak ada yang bisa membuatnya menyerah dengan mudah.
Awalnya Anya terkekeh lalu berubah menjadi tawa yang semakin lama semakin keras. Dan menakutkan.
“Heh! Anya?”
Mendengar panggilan keras membuat Anya langsung berhenti tertawa dan berbalik melihat tantenya berdiri di pintu kamarnya.
“Kamu kesurupan?” Tantenya menghampiri dengan ragu. “Ketawa- tawa nggak jelas gitu. Apa jadi sinting?”
Tangan Anya menggaruk kepalanya dengan salah tingkah, lalu mengusap hidungnya. “Eh, anu … nggak kok, Tan.” Anya hanya bisa nyengir kuda.
Tantenya menyipit curiga. Dari aromanya, Anya sudah bisa mengendus akan ada gosip tentang dirinya yang jadi setengah gila. Buru-buru Anya menambahkan, “Tadi cuman nyemangatin diri sendiri aja. Lucu banget gara-gara perkara kecil ini aja sampai mogok kerja.”
“Ya, udah kamu buruan mandi! Dekil banget kayak gembel,” omel Tantenya. “Udah gitu makan.”
Anya balas mengangguk dan menutup pintu kamarnya lagi setelah tantenya pergi.
***
Rani yang sedang mengelap meja bekas tamu sudah menghitung enam kali mendapati Pak Bima bolak-balik dari ruangannya untuk mencari Hikam. “Belum, Pak, Hikam belum ke sini lagi, masih di kafe yang lain,” tanggap Rani sebelum Bima sempat bertanya.
Bima mengatupkan mulutnya lagi. Tanpa sadar dia berdecak tidak suka dan bergumam, “Teleponnya nggak aktif lagi.” Bima bisa saja menelepon semua cabang kafenya atau bertanya kepada HRD jadwal kerja Hikam di mana hari ini, tetapi semua karyawan bisa menganggap ada masalah penting.
Bima memasukkan ponselnya ke saku celana. Sejenak memperhatikan meja yang sedang dilap Rani. “Minta desain grafis kita buat sign X di kursi yang nggak boleh diduduki untuk diganti. Itu udah mengelupas pinggirnya.”
“Baik, Pak.”
“Kalau Hikam datang ke sini bilang temui saya di Douillet Resto, ya.”
“Eh, Pak!” Spontan Rani mencegah Bima. “Jangan ke sana, Pak! Katanya ada yang keracunan di sana. BA … HA … YA!” Rani menyilangkan tangannya ke depan wajah.
Tidak biasanya Bima ingin menyumpal mulut seseorang. Memang hanya beberapa orang saja yang tahu perihal kerjasama dirinya dengan resto Anya. Tubuh Bima condong ke arah Rani, meski cukup berjarak, tetapi Bima tahu pelayan kafenya itu mendadak sadar salah bicara.
Dari balik maskernya Bima sengaja terkekeh, lalu berucap dengan nada bercanda yang dingin. “Kalau gitu, saya akan bawa makanan dari sana khusus buat kamu.” Bima berbalik dan berjalan kembali ke ruangannya.
Dengan bingung Rani mengamati bosnya pergi. “Idih, amit-amit!” Bibir Rani mencebik. “Gitu banget kalau orang-orang lagi pada sensi. Ada apaan sih belakangan ini?”
Selang tak lama kemudian, Hikam datang. Dengan santai menggulung lengan kemejanya menjadi lipatan berlapis yang rapi. Rani langsung menghampiri dan menyimpan nampan di atas meja bar.
“Tuh, si bos nyariin kamu dari tadi sampai marah. Katanya kamu nggak bisa dihubungi.”
Hikam mengangkat alis dan dengan cueknya mendemonstrasikan pemasangan charger ke ponselnya yang kehabisan baterai. “See? Handphoneku mati, di kafe Sudirman ramai banget, nggak sempat pegang.” Hikam mengelap kacamatanya dan memasangnya lagi. “Emang kenapa si Bos sampai marah-marah?”
“Katanya kamu diminta ke Douillet Resto.” Rani membuat gerakan tangan agar Hikam mendekat untuk berbisik ke arah telinga Hikam.
Tinggi badan mereka yang cukup jauh membuat Hikam dengan suka rela membungkukkan badan kepada Rani. Telinganya siap mendengar gosip.
“Tapi ya, jangan berani makan di sana deh. BERACUN!” bisik Rani. “Kemarin kan Bu Ratu sempet keracunan itu, nggak tau deh kenapa Pak Bima mau ke sana, kayaknya mau nuntut resto itu.”
Kali ini gantian Hikam yang berbisik kepada Rani, “Ran, mulut kamu tuh yang beracun.” Dalam hati, Hikam tahu penyebab temannya marah. “Udah jelas kok beritanya kalau Bu Ratu itu cuman sakit asam labung naik kebanyakan minum kopi. Kamu ini jangan percaya berita yang nggak benar.”
***
Sebab membutuhkan sesuatu untuk menyibukkan dirinya, Bima merecoki manajernya dengan mengecek beberapa pekerjaan yang sempat tertunda. Yang mengesankan semuanya sudah diatur dan kebanyakan sudah selesai. Dia praktis tidak dibutuhkan.
Dengan kesal Bima mencukil isi amplop yang masih tertutup dan membaca tumpukan suratnya. Ini tidak melegakan, karena pikirannya tetap terpusat kepada Anya. Mau berapa lama lagi gadis itu akan marah padanya? Satu hari, dua hari, tiga hari … tidak mungkin bisa lebih lama lagi, kan?
“Hai, Bos!”
Bima mengangkat wajah mendengar suara Hikam. “Punya berita bagus?” Dia heran melihat temannya yang masuk dengan aura penuh kesenangan.
“Yes, aku lagi nikmatin bos yang galau.” Hikam tertawa sendiri dan berhenti saat mood bosnya benar-benar sedang tidak bisa diajak bercanda. Hikam duduk di sofa dan berkata, “Renata udah kirim meja barnya dan mulai pemasangan di resto Bu Anya. Besok aku mau cek peralatan kopinya dan tes panel.”
Wajah sinis Bima memudar dan tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan tidak sabar. “Kalau gitu kamu bertugas di sana sampai semua urusan bar baru selesai.”
Hikam menahan erangannya. Bukan berarti dia tidak suka, tetapi pekerjaan di kafe mereka yang lainnya akan menjadi tertunda. Kesimpulannya, tugas Hikam akan menumpuk.
***
“Wah! Pagi ini bakal sibuk.” Hikam menyapa Pak Daffa yang sudah bersiap di dapur. “Hari ini saya nemenin Bapak di sini.”
“Oh, ya, saya senang ditemani.” Pak Daffa memakai apron begitu pun Hikam. “Tapi maaf kalau di sini berisik sama wajan dan kompor.”
Hikam sudah pasti familier dengan suasana dapur restoran. Dia hanya tertawa sebagai tanggapan. Pak Daffa sibuk memilah bahan makanan lagi. Sementara pandangan Hikam dengan jeli memeriksa mesin kopi dan mulai mencobanya. Cukup lama Hikam mencoba membuat beberapa jenis kopi dan terakhir latte art.
Setelah selesai Hikam mencari lap meja dan bertanya, “Pak, cadangan lap meja di mana ya?”
“Di rak atas yang itu,” tunjuk Pak Daffa ke salah satu rak.
Hikam melihat tumpukan kain dan meraih yang paling atas. Tiba-tiba ada yang jatuh dan bergerak. Merayap. Seketika Hikam teriak dan melompat-lompat melihat cicak jumbo. Besarnya sampai sekepal tangan. GILA!!
Hikam berteriak lagi. Heboh. Suara teriakannya saja bisa dikira lagi dikeroyok sekampung. Masalahnya dia sangat geli, jijik, takut dengan cicak. Benar-benar shock melihat cicak bisa sampai sebesar itu.
Hikam melompat-lompat ke arah Bima yang baru datang. “Cicak! Cicak!!” teriak Hikam dengan nada geli merinding sekaligus jijik.
“Di dinding.” Bima menahan tawanya, “diam-diam merayap ….”
“Haish! Itu beneran ada cicak raksasa. Woah!” Mata Hikam mencari liar ke mana si cicak berlari sembunyi.
Menganggap situasi ini lucu, Bima tidak mau menyiakan-nyiakan kesempatan menjaili temannya. Badannya saja besar, tetapi takut sama cicak.
“Itu, Hik, di sana!” tunjuk Bima ke arah sisi lain tatapan Hikam.
Tanpa diduga Hikam melompat ke pelukannya dan refleks Bima menangkapnya dalam dekapan untuk mencegah mereka berdua jatuh. Adegan ini mirip Saggie yang menangkap Scoobydoo setiap kali melompat ketakutan.
Pak Daffa sampai terpana menyaksikan adegan super konyol ini. Tanpa babibu, Bima langsung melepaskan Hikam dan mereka langsung berakting tidak terjadi apa-apa. Bima merasakan sentuhan tatapan seseorang di belakang punggungnya. Dia berbalik untuk melihatnya. Anya menatapnya dengan sorot dingin.
“Pagi!” sapa Bima. Kebisuan Anya merupakan hal baru bagi Bima.
Tangan Anya menegang begitu melihat Bima sepagi ini. Dia mengabaikan laki-laki itu. “Ada apa ini?”
“Anu, Bu, tadi―”
“Ada cicak segede tangan. Hih!” Hikam bergidik ngeri.
Tatapan Anya meminta penjelasan kepada Pak Daffa.
“Itu tokek, bukan cicak. Saya juga nggak tahu itu diam di situ, biasanya di atap belakang,” ucap Pak Daffa.
Mata Anya memelotot. “Jadi itu peliharan Pak Daffa lagi?” ucapnya hampir murka.
Kepala Pak Daffa menggeleng-geleng cepat. “Bukan, Bu. Itu tokek udah beberapa hari ini ada, nggak tahu datang dari mana.”
“Kok saya nggak tahu.” Anya berkacak pinggang dan mengusap wajahnya. Menatap minta maaf kepada Hikam dan tak sudi memandang Bima. “Dulu bawa tikus, sekarang ada tokek. Besok-besok bakal ada ular, komodo?”
Pak Daffa menunduk. “Marmut, Bu, bukan tikus,” koreksinya pelan. “Oh, kalau ular kemarin udah dibawa pulang satpam depan.”
Semuanya menatap tidak percaya kepada Pak Daffa. Mulut Anya sampai menganga karena ternyata memang pernah ada ular.
“Dari kemarin saya mau tangkap, tokeknya di atas terus nggak mau turun.” Pak Daffa menangkupkan tangannya minta maaf. “Nanti saya tangkap.”
“Pak Daffa ikut ke ruangan saya sebentar.”
Setelah tahu detail kejadian dan mengizinkan Pak Daffa ke dapur lagi, Anya duduk di area belakang resto. Bersama Pak Azka. Anya mengusap wajah dan memijat kepalanya. Untung saja restorannya belum ada tamu. Ribut-ribut seperti tadi pasti tidak bisa ditoleran tamu.
Suara Bima yang menyapa Pak Azka membuat Anya ingin menggeram dan memaki. Laki-laki itu bukan membantu malah menikmati kejadian barusan. Siapa sangka pagi-pagi begini dalam hari pertamanya masuk kerja lagi ada ujian kesabaran seperti ini.
“Maaf untuk kejadian barusan dan tempo lalu,” ucap Bima.
Ada ketegangan menggantung hingga Pak Azka tidak berani berkomentar. Hani datang dan tanpa basa-basi langsung pergi lagi setelah menaruh tiga cangkir kopi buatan Hikam di meja.
“Pak Bima pikir maaf aja bisa ubah keadaan?” Anya berdiri dan berbalik menghadap Bima yang berdiri di belakangnya. “Coba lihat sekarang, resto ini sepi lagi. Mati-matian di sini cari pelanggan.” Anya mengambil secangkir kopi dan memberikannya kepada Bima.
Bima menerima cangkir kopi dari Anya dalam diam, menunggu kemarahan selanjutnya.
“Nih, kopinya udah dikasih sianida khas restoran ini. Pak Bima cobain aja kenikmatannya.” Dengan tatapan marah, Anya langsung pergi dan membanting pintu ruangannya.