"Aku bingung mau hibur kamu kek gimana," kata Alden, lalu mendesah panjang.
Anya cemberut. Gadis itu mencoret-coret buku binder sembarangan.
"Mau traktir, boke. Mau ajak jalan-jalan, boke," kata Alden lagi.
Anya tidak menanggapi. Dia menyangga dagunya dengan satu tangan.
Alden berdecak-decak. "Melarat banget sih."
Anya menatap ke luar jendela. Saat ini mereka sedang di rumah Alden, tepatnya di bagian dapur. Anya tidak mempunyai tempat tujuan yang lain untuk menenangkan emosinya yang masih menggulung-gulung layaknya ombak di laut.
"Emang si kaleng biskuit nggak punya ati ampela," ucap Alden seraya mengambil dua gelas.
Alden menuangkan sesendok gula ke dalam dua gelas. "Main tuduh aja. Giliran di sini nggak salah cuman minta maaf doang. Aku kan jadi pengin nyanyi."
"Sesudah robek hati cuma bilang sorry,
sesudah darah tinggi, cuma bilang sorry. Kau nggak punya iq hanya itu yang bisa kau ucapkan sorry." Alden mulai menyanyi dengan penuh penghayatan.
Anya masih terdiam, meskipun tangannya sibuk.
Alden bersiul. "Bener-bener deh. Cowok, tapi ya gitu deh."
"Nggak ada surprise. Traktiran kek, kasih kado kek, kasih duit kek buat shopping." Alden menggeleng seraya menuangkan air teh ke dalam gelas.
Alden mengaduk-aduk minuman teh hangatnya. "Emang bener-bener nggak berperikemanusiaan."
Anya mulai terusik. Gadis itu meletakkan pulpen begitu saja, lalu Anya bersedekap seraya menatap Alden. "Udah nyerocosnya?"
"Belum." Alden menggeleng, meletakkan segelas teh hangat di depan Anya.
Anya mengangguk. "Ya, udah lanjutkan."
Alden terus mengoceh. Tentang Bima. Apa saja semua dikomentari. Diam-diam Anya tersenyum kecil. Hanya mendengar kritikan dari Alden, hati Anya merasa sedikit terhibur.
"Sayang, aku udah ...." Ucapan Bella terhenti, begitu juga dengan Alden yang tiba-tiba tak bersuara.
Bella menatap Anya dan Alden bergantian. Sementara Anya tanpa kata bersiap untuk pergi. Gadis itu meraih tas selempangnya. Anya tidak ingin menambah keruwetan di hatinya dengan berantem bersama Bella. Lebih baik dia pergi saja. Menghindari pertikaian lebih baik daripada lepas diri, memaki-maki orang yang tidak bersalah.
"Mau pulang?" tanya Bella basa-basi.
Anya mengangguk. "Iya."
"Kenapa?" tanya Bella, gadis itu melirik segelas teh hangat yang masih mengepulkan asap tipis. "Apa gara-gara ada aku?"
"Nggak, nggak gitu," jawab Anya seraya menggeleng.
"Ya, udah di sini aja. Untuk kali ini nggak apa-apa kok, tapi tetap aku masih nggak suka sama kamu," kata Bella terlalu jujur."
"Serius nggak apa?" tanya Anya seraya kembali meletakkan tas selempang di tempatnya semula.
Bella menggagguk. Diam-diam Anya tersenyum dan merasa bersyukur. Bella menghampiri kekasihnya, lalu bergelayut manja.
"Pacarku emang paling pengertian," puji Alden seraya mencubit hidung Bella dengan gemas.
Bella hanya menyengir.
"Sampai mana tadi kita?" tanya Alden kepada Anya.
Anya mengangkat bahu.
"Jas doang kelihatan mahal, tapi pelit," kata Alden tiba-tiba.
"Yang, lagi ngomongin siapa?" tanya Bella seraya menatap Alden.
"Kaleng biskuit," jawab Alden.
Kening Bella mengernyit.
"Eh, itu calon suaminya si Anya," jelas Alden begitu sadar dengan kebingungan kekasihnya.
Bella manggut-manggut sambil ber-o panjang.
"Aku lagi ngumpat. Mewakili isi hati Anya yang teriris-iris," kata Alden dramatik.
Bella tertawa. "Lagian serem banget sih media sosial sekarang. Belum tahu kebenarannya main hujat aja."
Alden bertepuk tangan sekali. "Bener-bener."
"Apalagi siapa sih itu yang jadi pemeran utamanya?" kata Bella seraya berpikir.
"Siapa?" tanya Alden
"Itu yang sakit perut," kata Anya.
"Oh ... investor dia. Orang kaya," sahut Alden.
"Mau aku buatin minum nggak?" tawar Alden lembut kepada kekasihnya.
Bella mengangguk. "Boleh. Tapi ya, mau investor kek, orang kaya kek, orang banyak duit kek, lebay banget sumpah gaya pas sakit perutnya."
"Kan kesakitan mangkanya lebay," sahut Alden seraya membuat minuman yang sama untuk Bella.
"Apa sih? Aku nggak tahu ya, tapi menurut mata laserku, dia tuh kayak lagi acting." Bella mengangkat bahu.
Alden menyentil kening Bella dengan pelan. "Jangan berprasangka buruk."
"Hiiiih ...," protes Bella. "Di mataku dia tuh kayak kucing galak. Nyebelin."
"Kucing itu lucu, imut," sanggah Alden seraya meletakkan minuman yang selesai dibuatkan ke depan Bella.
"Kubilang kucing galak. Yang suka nyakar sembarangan. Ngerusak pesta aja tuh perempuan. Harusnya nggak usah dateng. Kasihan kan yang punya tuan rumah pesat. Pasti deh kepikiran banget karena ulang tahun yang harusnya sweet jadi bencana," ucap Bella sebal sendiri.
"Minum dulu deh, Yang," tawar Alden. "Kenapa kamu yang lebih sebel sih, Yang?"
"Sebelku aja udah segunung gini, gimana dengan Anya coba?" Bella menatap Anya yang sedari tadi hanya menyimak obrolan Alden dan Bella.
"Apalagi sekarang nama resto Anya jadi jelek, apa nggak tambah dongkol?" Bella mendesah panjang.
Anya meringis. Hatinya terasa tercubit. Memikirkan kembali reputasi restorannya yang buruk, membuat kepala Anya mendadak sakit.
"Sebagai pacarnya temen kamu, aku cuman bisa bilang sabar," kata Bella. "Kata orang setiap masalah ada hikmahnya. Akan ada pelangi warna-warni setelah hujan turun. Aku yakin resto kamu bisa pulih lagi."
Alden mengacak-acak rambut kekasihnya, merasa senang bahwa Bella bisa mengatakan hal demikian kepada orang yang tidak gadis itu sukai. Sementara Anya hanya tersenyum sebagai tanggapan akan ucapan Bella.
"Kamu galau gini karena emang tentang resto atau galau mau mutusin nggak nikah sama calon suami kamu, ya?" tanya Bella tiba-tiba. Gadis itu merasa penasaran sebab tanpa sengaja Bella melihat interaksi Bima dan Anya yang sangat tidak menyenangkan pasca insiden kucing betina galak yang kesakitan perut.
"Kenapa? Kamu takut nanti aku puter haluan ngerebut Alden?" Anya balas bertanya.
Bella menggeleng. "Nggak tuh. Aku kepo aja. Kan calon lakimu itu kek nyebelin banget pas huru-hara itu."
Anya diam.
"Aku jadi kamu sih udah aku hiiiiiiih terus cari yang lain. Nggak wort it banget kalau dipertahankan. Itu aku lho. Kalau untuk kamu, pertahankan aja biar nggak ngerebut Alden dari aku," kata Bella seenaknya, lalu tertawa. Tawa Bella menular, membuat Anya ikut tertawa.
Di tempatnya, Alden sudah ketar-ketir bakal ada perang dunia ketiga. Untungnya saja tidak terjadi membuat cowok itu menghela napas lega.
***
Ratu yakin telah jatuh hati kepada Bima ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya. Wanita itu memilih menyembunyikan perasaannya agar Bima tidak menjauh darinya. Namun, sepertinya hal itu salah. Nyatanya, sekarang dia memiliki saingan yang tidak bisa disebut saingan karena levelnya jauh di belakangnya. Ratu tidak sudi harus bersaing dengannya. Apa bagusnya dia? Dia hanya seorang gadis yang masih ingusan, menurutnya.
Ratu menghabiskan vodka miliknya. "Dasar jalang!" umpatnya sendiri.
Ratu memesan kembali minuman karena merasa belum mabuk. Wanita itu duduk sendirian di sofa sebuah bar yang mengalunkan musik lembut.
"Cewek seperti itu bukan tipenya. Nggak mungkin," ucap Ratu lagi.
Di waktu yang sama, di bagian bar yang lain, Bima sedang bermain billiard. Laki-laki itu harus menghilangkan rasa suntuknya supaya tidak terlalu kuyu.
Bima melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Akibat pembatasan jam malam, sebentar lagi bar akan segera tutup. Tanpa sengaja Bima melihat Ratu yang sedang menyesap minumannya. Sendirian. Pandangan Bima mengedar. Mungkin dia akan menyapanya sebentar sebelum akhirnya pulang.
"Ratu," panggil Bima setelah menghampiri wanita itu.
Ratu mendongak, lalu matanya melebar karena terkejut. Efek minuman ini sangat kuat sampai-sampai menciptakan fatamorgana orang yang wanita itu suka. Ratu tersenyum lebar sambil mengangkat tangan.
"Bima," ucap Ratu seraya menunjuk laki-laki itu, lalu cengegesan sendiri.
Bima berdecak. Laki-laki itu duduk di samping Ratu dan mencoba merebut minuman wanita itu, tetapi gagal
"Sudah jangan minum lagi," kata Bima.
Ratu menatap sinis Bima. "Siapa kamu larang-larang aku? Pacar bukan, suami juga bukan."
Kemudian Ratu cekikikan sendiri.
Bima menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
"Bim, mau jadi pacar aku?" tanya Ratu.
Bima hanya mendengarkan.
"Kamu kaya raya, aku suka," kata Ratu, lalu menyengir lebar.
Bima tersenyum kecil.
"Aku rindu tahun dua ribu delapan belas," kata Ratu, lalu mendesah panjang.
"Ada apa di tahun itu?" tanya Bima.
Ratu tidak langsung menjawab. Wanita itu menatap dalam ke manik mata Bima.
"Ada kamu," sahut Ratu kemudian. "Aku suka."
Bima mengedip sekali. Laki-laki itu tidak menanggapi.
"Kan, belum pandemi seperti sekarang," ucap Ratu mulai lagi. "Sekarang apa-apa pake masker, bawa sanitizer, jam malam dibatasi. Sungguh menyebalkan"
Bima hanya mengangguk. Menyetujui ucapan Ratu.
"Bim, kamu nggak ada rencana mau menikah kapan gitu?" tanya Ratu tiba-tiba. Wanita itu menyelipkan rambut ke balik telinga. Pipinya terasa panas karena pertanyaannya sendiri.
"Belum kepikiran," sahut Bima santai.
"Kalau pacaran?" tanya Ratu lagi.
"Belum kepikiran juga," sahut Bima, menatap heran kepada Ratu.
"Kaku banget sih hidup kamu," komentar Ratu, lalu wanita itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Bima tidak menanggapi.
"Pacaran yuk, Bim?" Ratu menatap sungguh-sungguh Bima dengan detak jantung yang berpacu gila-gilaan.
Bima mendesah. Wanita itu benar-benar mabuk.
"Ya, kita sama-sama single. Kenapa nggak coba pacaran?" kata Ratu lagi.
Bisa tidak menanggapi. Percuma juga. Lebih baik diam saja.
Ratu menggeleng. "Nggak, nggak. Kita nikah aja yuk," koreksinya.
"Kamu ngajak nikah kayak ngajak main," gumam Bima nyaris seperti berbisik. Mungkin Ratu tidak mendengar ucapannya.
"Arrg ... orang tuaku sudah mulai ribet. Mereka ingin aku menikah hanya karena umur. Yang benar saja!" seru Ratu, wanita itu mendongak, menatap langit-langit.
"Menikah itu emang karena sudah siap," kata Bima.
Dengan sekali sentakan Ratu menatap Bima. "Bener, kan? Tapi, emang umurku sudah banyak. Aku nggak dekat dengan laki-laki mana pun, tapi aku sudah kenal kamu, tahu kepribadian kamu. Kamu juga udah tahu aku, kenal aku juga. Kenapa kita nggak menikah saja?" ucap Ratu kemudian.
Bima menggeleng. "Aku yakin kamu belum kenal aku lebih dalam. Kalau udah kenal kamu pasti lari terbirit-birit."
"Emangnya apa?" tanya Ratu bingung.
Bima mengangkat bahu.
"Emang kamu psikopat macam Hiroshi Miyano?" tanya Ratu lagi.
Bima tersenyum. "Bisa jadi."
"No, no, no. Kamu tampan, dia nggak," kata Ratu, menggelengkan kepala.
"Emang kalau psikopatnya tampan, kamu maklumi?" tanya Bima heran.
"Hmmm ... ya, mungkin." Ratu mengangkat bahu. "Laki-laki tampan bisa dimaklumi."
"Jangan suka meromantisasi seorang psikopat. Kamu sudah tahu kan kisah Furuta?" kata Bima seraya memutar bola matanya. "Apalagi menormalisakan hal yang kejam-kejam begitu."
Ratu berkedip sekali. "Iya, iya," sahutnya malas.
Bima menggeleng tak habis pikir.
"Aku baru tahu fatamorgana bisa kayak kenyataan," gumam Ratu.
"Kamu pikir aku fatamorgana?" tanya Bima tak percaya.
Ratu mengangguk. "Tentu."
Bima tertawa. "Aku asli, ya. Coba sentuh tangan aku."
Ratu menyentuh tangan Bima dan terkejut. "Hoh? Ini beneran kamu yang asli, hah? Bima asli? Nyata?" katanya histeris.
Ratu menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, lalu menepuk-nepuk pelan pipinya, mencubit tangannya. Terasa sakit sampai wanita itu mengaduh pelan. Bima tertawa melihat tingkah Ratu, tawa laki-laki itu menular membuat Ratu ikut tertawa.