Satu minggu berlalu. Tak bisa dipungkiri, kejadian minggu lalu sangat berdampak negatif untuk Doulliet Resto. Omong kosong terlanjur menyebar.Anya kehabisan cara untuk mengembalikan nama baik restoran yang setengah mati dia perjuangkan.
“Kalau gini terus bisa-bisa tutup, nih!” keluh Anya sembari membaringkan kepala di atas meja dengan lengan sebagai tumpuannya.
“Kabarnya Pak Bima gimana, Bu?” Pak Azka mendekat. Lalu duduk di hadapan Anya.
Anya hanya menggeleng pelan, lalu menjawab, “Mati kali.”
“Hus. Nggak boleh ngomong gitu, Bu,” tegur Pak Azka.
“Biar bagaimanapun juga, Pak Bima sudah mau bantu kita, ‘kan?”
“Bantu dari segimananya, Pak? Bantu ngehancurin yang bener!” keluh Anya.
Setelah menarik napas panjang, Pak Azka mengungkapkan, "Bu, maaf kalau saya lancang, tapi dari dua hari lalu selalu ada reservasi dari beberapa instansi. Hari ini saja, ada salah satu bank yang juga reservasi."
Melihat tatapan heran Anya, Pak Azka melanjutkan, "Klien kita yang kemarin adain pesta ulang tahun anaknya, rekomendasikan resto kita ke teman-teman bisnisnya. Besok juga ada reservasiselebgramfashion yang mau booking untuk foto katalog di spotvintage."
Pak Azka tersenyum. "Yang mau saya sampaikan, saya rasa Pak Bima juga ambil andil dari semua reservasi tamu ini."
Seketika itu juga, kemarahan Anya menguap. Dia mencoba menyangkal semua kebetulan ini, tapi tak bisa. Pak Azka ada benarnya.
Walaupun restoran sepi akan pengunjung yang sekadar mampir makan dan menghabiskan waktu makan siang, tapi selalu ada saja reservasi yang nilainya tidak sedikit. Dan tentu saja menguntungkan.
“Selamat siang.”
Anya terperanja. Pintu restoran terbuka. Sosok laki-laki yang sudah lama tidak dilihatnya muncul. Raut wajahnya masih tampak bersalah saat menatap Anya.
“Pak ....” Hani menyapa dengan ramah. Sedangkan Anya masih diam di tempatnya.
“Masih sepi, ya?” tanya Bima. Anya langsung memelototinya.
“Salah siapa?”
“Iya, iya. Saya kan udah minta maaf berkali-kali. Marahnya lama banget, Nya.”
“Duduk, Pak,” tawar Pak Azka di sela obrolan. Bima mengangguk sambil tersenyum. Mengisyaratkan ucapan terima kasih.
“Kalau dengan maaf, restoran aku bisa rame lagi ya langsung aku maafin.”
Sejenak, Bima menghela napas berat. Ditatapnya Anya cukup lama. “Saya ke sini mau ngajakin kamu keluar sebentar.”
“Ke mana?”
Bima mendekat ke arah Anya. Kedua tangannya bertaut. Mengulum bibir. Seperti tak yakin dengan kalimat yang berputar di otak dan menunggu untuk disampaikan.
“Emm, Kedai es krim,” jawab Bima setelah beberapa detik bungkam.
Otak Anya dengan lantang menolak. Namun, hatinya tidak berkata demikian. Sekilas, ada bayang-bayang ucapan Pak Azka tentang kebaikan yang Bima lakukan. Tanpa sadar, Anya mengangguk pelan. Senyum yang sedari tadi redup, kini perlahan muncul di sela hati dan otak yang saling menentang keputusan.
***
“Di sini aja, nggak apa-apa?” tanya Bima saat berdiri di depan kedai es krim terdekat. Antrian depan kasir cukup panjang. Ditambah lagi dengan penerapan PSBB, yang mengharuskan para pengantre saling berjarak 1 meter. Bima khawatir, Anya keburu bosan menunggu. Namun, senyum di wajah Anya tidak berkata demikian.
“Sabtu besok ada rencana ke mana?” tanya Bima.
Anya yang semula bersedekap, kini menaruh jari telunjuknya di bawah dagu. Memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu dipikirkan. Memangnya ke mana lagi dia selain restoran atau rumah? Tidak mungkin bertemu Alden. Karena, di malam minggu waktu Alden hanya untuk Bella.
Anya menggeleng pelan. “Nggak ada ke mana-mana, Pak. Emang kenapa?”
“Emm, mau nonton?” tawar Bima yang sebenarnya juga tampak ragu.
“Nonton apa? Kebakaran? Keributan?” tanya Anya, asal.
“Nonton film. Di bioskop.”
“Emang sudah buka?” Anya maju dua langkah. Bima mengikuti sambil mengangguk.
“Sudah. Karyawan saya yang bilang. Katanya, dia habis nonton.”
“Kita berdua aja? Enaknya nonton film apa?” tanya Anya.
Bima mengangkat bahu. “Terserah kamu. Kamu aja yang pilih filmnya. Saya kurang paham yang begitu-begitu.”
“Maksudnya?” Anya melongo.
“Saya belum pernah nonton film di bioskop, Anya. Jadi saya kurang paham. Jelas?”
Menit berikutnya Anyaterbahak. Satu tangan memegang perut sementara tangan lainnya menancang lutut. Membungkuk-bungkuk. Lalu tersedak. Bima sigap maju ke meja kasir. Mengambil sebotol air mineral lalu memberinya kepada Anyasetelah membuka tutupnya terlebih dulu.
“Makasih, Pak,” ucap Anya santai lalu menenggak air mineral 3 kali.
“Minumnya sambil duduk, pelan-pelan. Awas tersedak,” ucap Bima. Anyatertawa lagi.
“Kamu sakit?” tanya Bima mulai cemas. Sedangkan tawa Anya tak kunjung hilang. Volumenya malah makin bertambah besar. Beberapa pelanggan kedai es krim yang ikut mengantre dalam barisan terus melirik Anya dengan tatapan aneh. Namun, Anya tak sama sekali memedulikannya.
“Seriusan Pak Bima nggak pernah nonton di bioskop?” Anyabalik bertanya. Entah yang ke berapa kali.
“Saya serius!”
“Seriusan?”
Bima mengangguk tanpa malu.
“Kok bisa, sih, Pak?”
“Saya sibuk, Anya. Nggak ada waktu untuk itu.” Bima maju satu langkah.
“Nonton film kan bisa ngilangin strees, Pak. Refreshing pikiran gitu. Benerannggak pernah?”
“Mau pesan apa, Mbak – Mas,” tanya pelayankedai yang sudah hafal dengan wajah Anya.
“Em, aku mau StrawberryCreamPuffpakai topingmarshmallowsamaVanillawithOreo ya, Mbak,” jawab Anya setelah berusaha meredakan tawa.
“Kamu habisin dua-duanya?” Bima mendelik.
Anya cengengesan dengan tampang lugu. “Yang Vanilla mau dibungkus. Buat bekal di resto.”
“Bekal kok es krim,” sindir Bima. Anya mencebik.
“Itu saja? Ada lagi yang mau ditambahkan?” Pelayan bertanya lagi.
“Saya Choco mint ya, Mbak.”
“Idih, doyannya pasta gigi.”
“Itu es krim, Anya. Bukan pasta gigi.”
“Iya tapi rasanya kayak pasta gigi, Pak.”
“Tapi—“
“Baik. Saya ulangi. 1 Strawberry Cream Puff, 1 Vanilla with Oreo dan 1 Choco Mint. Ditambah 1 botol air mineral. Itu saja, Mbak-Mas?” Pelayan memotong perdebatan Anya dan Bima. Karena malu, Bima langsung mengangguk dan membayar. Sedangkan Anya memilih mencari tempat duduk sambil cekikikan.
Setelah mendapat tempat duduk ternyaman, Anya melambaikan tangan ke arah Bima yang sudah membawa nampan berisi es krim pesanan mereka.
“Ini bukan kedai es krim favoritmu, benerannggak apa-apa?” tanya Bima ketika menarik kursi dan duduk di hadapan Anya.
“Nggak apa-apa. Toh, rasa es krimnya tetap sama.” Mata Anya berbinar saat melihat kilauan strawberry di antara roti yang bisa memuaskan dahaga serta lambungnya.
“Sudah nggak marah?” tanya Bima.
“Nggak usah ngomongin itu deh, Pak. Bikin badmood aja!” Raut wajah Anya berubah masam. Bima terkekeh pelan.
“Bu Ratu gimana, Pak?”
Pertanyaan yang membuat Bima terkejut keluar dari mulut Anya. Padahal Anya sendiri yang malas membahas kejadian tempo lalu, tapi sekarang dia malah menanyakan keadaan Ratu.
“Baik-baik aja. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Yeee, siapa juga yang khawatir. Nggak sama sekali!” Anya menentang.
“Nggak boleh gitu. Dia investor kamu, lho.”
Anya tersenyum sinis. “Iya. Investor. Dewa Penolong yang merangkap jadi Dewa Kematian. Ngebunuh aku secara perlahan.”
Bima terdiam. Ditatapnya Anya lekat-lekat. Di wajah gadis itu, jelas terpancar rona ketakutan. Masa depan restoran ada di tangannya. Bukan seseorang yang berpengalaman, membuat Anya harus memutar otak lebih keras. Ibarat sekolah. Tidak ada teori, malah langsung praktik yang diharuskan dapat nilai sempurna tanpa cela.
***
“Sudah pulang, Bu? Pak Bima mana?” tanya Hani saat Anya kembali ke restoran.
“Ya mana aku tahu, emang aku emaknya,” jawab Anya asal. Lalu duduk di depan pak Azka.
“Sudah makan, Bu?”
Anya mengangguk saat manager restorannya bertanya perhatian. Diingatnya beberapa saat lalu. Saat ajakan ke kedai es krim berujung dengan makan malam yang sedikit kacau. Baru juga menyantap makanan beberapa suapan, tapi Bima langsung pamit pulang. Ada kerjaan mendadak katanya. Namun, Anya tetap tak peduli. Bukannya mengikuti Bima pulang, dia malah sibuk menghabiskan makanan yang mereka pesan.
“Sabtu besok aku mau nonton bareng Pak Bima. Ada yang mau ikut?”
Hani nyaris melempar piring yang terakhir dibilasnya. Buru-buru melepas apron, lalu mendatangi Anya. Memastikan tak ada yang salah dengan pendengarannya.
“Seriusan, Bu? Mau nonton? Di bioskop? Sama Pak Bima juga?” tanyanya beruntun. Anya mengangguk tiga kali sambil menikmati es krim vanilla yang sudah mencair.
“Emang bioskop sudah buka ya, Bu?”
Anyamasih mengangguk.
“Beneran, Bu?”
Anya mengangguk lagi. Semakin cepat.
“Seriusan, Bu?”
Suara gebrakan meja terdengar. Pak Daffa sampai bergidik.
“Harus berapa kali sih akujawab? Bioskop sudah buka Hani ... sudah buka! B U K A! Kamu benerannggak tahu atau pura-pura nggak tahu, sih?”
“Sumpah, Bu! Saya benerannggak tahu. Saya ‘kan full time di resto. Lagian saya pikir lagi PSBB. Bioskop masih ditutup.” Hani mencebikkan bibir sambil bersedekap.
“Bisa nggak bibirnya dimundurin?”
“Hani ikut ya, Bu!” seru Hani mengalihkan pembicaraan.
“Boleh, deh. Daripada akugabut cuma nonton berdua Bima doang.”
“Jadi awalnya Bu Anya Cuma mau nonton berduaan doang bareng Pak Bima? Emangnggak ada niat dalam hati yang terdalam buat ajak kita?”
“Kalau gitu, saya nggak ikut, deh, Bu. Nggak enak sama Ibu dan Pak Bima.” Pak Daffa buka suara.
“Nggak enak kenapa, Pak?”
“Ya nggak enak aja, Bu. Apalagi malam minggu. Pasti Bu Anya sama Pak Bima mau kencan,” ucap Pak Daffa lalu mengedipkan sebelah mata.
“Apaan, sih, Pak. Kencan apaan? Nggak ada kencan-kencanan, kok,” kilah Anya cepat. Rautnya berubah masam.
“Ya, biar begini ‘kan, saya juga pernah muda, Bu. Lagian kencan sama calon suami sendiri nggak ada yang larang kok, Bu.”
Anya mendelik. “Calon suami apaan, sih, Pak. Ngarang deh. Nggak ada kepikiran buat ke sana. Aku masih mau fokus ngurusin resto. Masih mudagini. Nggak mau nikah-nikahan!” Anya bergidik. Geli. Membayangkan menikah dengan Bima membuatnya ngeri. Berbagi kamar, berbagi ruang apalagi berbagi tempat tidur. Bulu tengkuknya sukses berdiri saat membayangkan hal itu.
“Jadi siapa aja yang mau ikut?’ tanya Anya. Mengalihkan pembicaraan dengan cepat. Pak Daffa masih senyam-senyum sendiri.
“Hani sudah pasti ikut, Bu!” jawab Hani cepat. Namun, Anya tak menghiraukan.
“Mas Hikam ikut juga, ya!” ajak Anya. Hikam terkesiap. Diletakkannya gelas dan perlengkapan tempur lainnya.Hikam terlihat seperti menimbang-nimbang jawaban sebelum akhirnya menyetujui ajakan Anya.
“Yes! Mas Hikam ikut!” Hani kegirangan.
“Aku bawa pacar, ya, Bu.” Hikam menambahkan. Semangat Hani langsung lenyap.
“Mas Hikam sudah punya pacar?” tanya Hani tanpa ragu. Hikam mengangguk sambil tersenyum tipis. Lalu melanjutkan ritualnya. Menyeduh kopi espresso dengan mesin manual, lalu menuangkannya ke dalam cangkir. Membuat busa s**u, menuangkannya ke dalam kopi.
“Capuchino, Bu,” ucap Hikam sembari meletakkan secangkir capuchino di hadapan Anya.
“Buat Hani nggak ada, Mas?” rengek Hani.
Hikam tersenyum. “Ada. Tuh, ambil sendiri di meja.”
Pak Daffa spontan tertawa meski susah payah menahannya.
“Tumben-tumbenan Bima mau nonton. Ke bioskop pula.” Hikam mulai berbicara setelah duduk di hadapan Anya. Kursi berderit sedikit saat ditarik. Membuat Hikam menyipitkan mata karena tak nyaman dengan hunyinya.
“Eh, emang bener ya, Pak Bima belum pernah nonton ke bioskop?”
Hani tersedak. Seteguk capucino menyembur dari mulutnya. “Seriusan?”
Hikam menoleh ke arah Hani. Lalu kembali menatap Anya, kemudian mengangguk dua kali. “Bener.” Setelah menikmati capucinonya, dia melanjutkan, “Pernah beberapa kali masuk ke bioskop, tapi selalu gagal. Ya, entah ada panggilan telepon pentinglah, ada urusan sama keluarganyalah, atau urusan-urusan lainnya yang selalu berujung batal nonton.”
“Sudah kayak dokter aja ya, sering dapat panggilan darurat.” Hani menyeletuk.
“Waktu masa-masa kuliah atau sekolah juga nggak pernah?” tanya Anya lagi. Sedikit demi sedikit mengorek masa lalu Bima.
Hikam terus menggeleng. “Bima tuh, orang tersibuk dan tergila yang pernah aku kenal. Gila belajar, gila usaha, gila kerja. Makan aja sering lupa. Mana ada kesempatan buat jalan-jalan apalagi nonton film di bioskop yang menghabiskan waktu berjam-jam. Palingan dia nonton di rumah. Pakai laptop atau home proyektor.”
“Lewat link haram?”
“Huss!” Anya mendelik. Berusaha membungkam mulut Hani rapat-rapat. Karena selalu menanyakan hal-hal yang tidak penting.
“kamu mending pulang, deh. Sudah jam 9 lewat, tuh. Nggak takut dibegal karena kemalaman?”
“Iya, deh, Bu. Iya. Hani diem. Tapi masih pengen ngobrol di sini. Bareng ibu dan Mas Hikam.
“Kalau saya, mau pamit, ya, Bu. Anak saya minta dibawain martabak.” Pak Daffa berpamitan. Anya mengangguk menyetujui. Begitupun dengan Hikam dan Hani.
***
Hari yang disepakati tiba. Sabtu sore. Anya sengaja datang setengah jam lebih cepat untuk memesan tiket. Mengharapkan Bima yang memesan adalah hal mustahil.Daripada salah-salah, lebih baik Anya saja. Cari aman.
Dua tiket bioskop telah dia kantongi. Sedangkan Hani masih sibuk berswafoto dengan tiket nontonnya. Menunggah di laman media sosial dengan tagar segambreng. Biar dapat banyak ‘like’ katanya.
“Pak Bima sudah di mana, Bu?” tanya Pak Daffa. Anya menggeleng, lalu menjawab dengan senyuman tipis. Membuat alasan mengada-ada. Karena sedari tadi, dalam hatinya juga selalu menanyakan hal yang sama.
Di mana Bima?
Apa om-om itu lupa akan janjinya?
Apa hanya sekadar terlambat atau malah sama sekali tak datang?
“Pak Azka juga izin nggak ikut, Bu. Ada urusan keluarga katanya. Barusan ngirim pesan ke saya.” Pak Daffa menggoyang-goyangkan ponselnya.
Anya hanya mengangguk. Di pikirannya masih memikirkan keberadaan Bima yang tak kunjung muncul.
“Beli minum dulu, yuk, Bu,” ajak Hani. Anya terpaksa mengekor.
“Eh, itu Mas Hikam.” Pak Daffa menyeletuk. Anya langsung menoleh.
“Nggak bareng Pak Bima, Mas?” tanya Anya.
“Ya nggaklah, Bu. Aku bareng pacar. Masa bareng dia terus,” jawab Hikam. Pacarnya hanya tersenyum sambil menepuk lengan Hikam dengan mesra.
“Ayo, Bu!” Hani bersuara. Di pelukannya, sudah ada satu bucketpopcorncaramel ukuran besar dan segelas minuman soda. Sedangkan pak Daffa hanya menenteng sebotol air mineral saja.
“Nggak mau camilan, Pak?” tawar Anya. Pak Daffa hanya menggeleng sambil mengangkat botol air mineral di tangannya. Isyarat bahwa dia tidak butuh yang lain lagi.
“Nambah kentang boleh nggak, Bu?”
“Buat siapa?”
“Ya buat saya lah, Bu. Emang Ibu mau?”
“Ini lagi di luar resto. Jangan panggil ibu ibu terus. Usia kita kan nggak beda jauh.”
“Terus manggil apa, Nya?”
Anya langsung mendelik saat Hani dengan enteng memanggil namanya. “Panggil Ibu ajadeh.”
Pak Daffa dan Hikam spontan tertawa.
Pintu theater satu telah dibuka.. Bagi Anda yang telah memiliki karcis dipersilahkan untuk memasuki ruangan teater satu..”
“Bu … Bu … Bu, sudah mau mulai tuh, filmnya. Masuk yuk, Bu. Nanti ketinggalan.”
Anya melangkah dengan malas. Masih aktif menengok ke belakang. Celingak-celinguk mencari orang yang sedari tadi membuatnya tak tenang.
Bangku penonton di deretan tengah menjadi pilihan Anya malam ini. Lampu yang tadinya menerangi ruangan teater berangsur redup. Layar besar mulai menampilkan iklan-iklan, cuplikan film yang akan tayang beberapa saat mendatang.
Menonton film di masa pandemi lumayan membosannya. Suasana yang berbeda jadi penyebab utama.
Tidak bisa mengobrol dengan teman di kiri kanan, karena bangku harus dikosongkan—memberi jarak antar penonton. Tidak ada kepala dan bahu yang bertemu. Tidak ada lengan yang saling bertaut. Anya mendesah panjang. Berusaha fokus pada film yang diputar. Namun, percuma. Tokoh utama dalam film malah berubah jadi wajah Bima.
Tak ingin terlalu lama memikirkan Bima, Anya memilih bermain ponsel. Mengaktifkan mode ‘diam’ terlebih dulu. Agar notifikasi yang masuk tidak mengganggu.
Membuka laman sosial media favoritnya jadi hal kedua yang dia lakukan.Anyaspontan tersenyum saat melihat foto yang diunggah Hani beberapa saat lalu. Dirinya tampak mencebikkan bibir di belakang Hani yang sedang berpose centil. Sedangkan Hikam asyik mengobrol dengan pacarnya sambil merapat ke tembok.
Menit berikutnya, Anya bergeming dengan senyuman yang berangsur pudar. Hingga akhirnya benar-benar hilang. Satu foto yang sukses memporak-porandakan bahagianya malam ini. Entah apa yang dia rasakan. Kecewa, marah, kesal melebur jadi satu. Seperti ada yang remuk di hati. Dan pecahannya menyebar ke seluruh tubuh. Menebar pedih tanpa permisi.
Sebuah foto yang diunggah Ratu di akun miliknya. Menampilkan wajah Bima yang lahap menyantap makan malam dengan Ratu. Disertai caption yang membuat Anya mendadak kaku.
“On a scale of 1 to 10, you’re an 11. Thx for to night”