Menjelang malam, saat matahari hampir tenggelam, Bima kembali ke apartemennya. Dia menyiram tanaman pakis yang berjajar dalam pot di balcon, mencabuti beberapa daun yang kering. Udara di luar cukup berangin dan berawan berat, sepertinya malam akan hujan.
Bima menyempatkan berolahraga ringan. Setelah tubuhnya berkeringat, Bima pergi ke kamar untuk mandi. Dengan handuk yang masih melilit di pinggang dan punggung yang lembap, di depan cermin lemari Bima mengepas beberapa setelan. Bibirnya menarik senyum ketika sadar dia memilih-milih pakaian untuk pergi nonton dengan Anya.
Kekehan Bima terdengar di telinganya sendiri, Anya tidak akan peduli jenis pakaian apa yang dipakainya, bagi gadis itu dia hanya om-om, bahkan malam ini mereka akan nonton ramai-ramai. Bima memutuskan mengambil kemeja longgar dan celana chino.
“Ah, siapa aja yang bakal ikut?” Bima memeriksa isi chat Anya yang menyebutkan beberapa karyawan mereka akan ikut. Bima mengedikkan bahu menganggap bukan masalah. Ini pertama kalinya dia pergi ke Bioskop, ruangan gelap dengan layar raksasa itu mungkin sangat berisik.
Saat sedang menggulung lengan kemejanya, bel apartemen berbunyi. Bima melangkah tenang menuju pintu, berbeda dengan si tamu yang sepertinya sedang panik karena membunyikan bel beberapa kali.
Baru saja Bima menekan tombol kunci ketika pintu terdorong cepat dan Ratu terkesiap. Tangan Bima mencengkeram bahu anita itu agar tidak terjerembap. “Kamu kenapa?”
Wangi parfum bercampur aroma sabun segar tercium kuat ke cuping hidung Ratu. Dia menoleh dan tergoda dengan leher Bima yang terbuka. Beberapa kancing kemeja laki-laki itu masih dibiarkan terbuka. Ada rasa kesal tahu Bima bersiap pergi. Mata Ratu mengerjap begitu Bima menoleh kepadanya, dengan canggung melangkah mundur menjauh.
“Aku nelepon berkali-kali, tapi kamu nggak angkat. Orang resto bilang kamu udah pulang.” Tangan Ratu refleks merapikan rambutnya, sementara Bima menggeser tubuh untuk mempersilakan masuk, tetapi Ratu memilih diam di tempatnya.
“Mr. Qiancheng sebentar lagi tiba di hotel Anara, ada perubahan jadwal. Pesan dari asistennya baru masuk, dan bilang besok mereka sudah pergi ke Aceh.” Ratu terdiam, menyadari kekontrasan perubahan emosi dari Bima. “Jadi hanya malam ini kesempatannya.”
“Untuk urusan bisnis,” Bima memulai, seharusnya ini membuatnya marah, tetapi masalah harus segera ditangani. “Aku nggak bayar akomodasinya di Jakarta untuk dikacangin. Kita akan menjual kopi, bukan liburan gratis. Ada jadwal seminar juga yang materinya harus matang.”
Bima mengambil ponsel dan hand bag kantor berisi tab dan berkas penting lainnya, lalu berhenti di depan Ratu. “Kamu mau ikut atau lagi sibuk?”
Ratu tersenyum. “Sopirku udah nunggu di bawah.” Mereka bergegas keluar. “Nggak akan diragukan kemampuan negosiasi kamu, tapi ada wanita pas lagi rapat biasanya menghidupkan suasana.”
Bima mengangguk sembari berkata singkat, “Thanks.”
***
Selama perjalanan ke Tangerang, beberapa kali Bima memeriksa jam tangannya. Masih pukul setengah tujuh, masih sempat datang saat pemutaran film terakhir. Sekali lagi Bima fokus pada berkas-berkasnya.
Sesampainya di hotel, resepsionis memberitahukan tamu Mr Qiancheng belum datang. Bima dan Ratu menoleh dari meja resepsionis saat beberapa orang datang diiringi percakapan bahasa Mandarin. Seorang bell boy mendorong troli di belakang mereka dengan koper-koper besar.
Bima menghampiri rombongan itu dan menyapa dalam bahasa Inggris, “Selamat malam, Mr Qiancheng?”
Mereka saling bertatapan. “Maafkan saya. Saya menyesal tidak mengenali Anda,” tutur Mr Cheng dengan logat Mandarin yang kental.
“Saya Bima Abian. Ini rekan saya, Ratu,” ucap Bima dan langsung menerima salam hangat dari rombongan Mr Cheng. “Wajar, ini pertemuan pertama. Kita bisa ngobrol sambil minum teh?”
“Ya, tentu.” Mr Cheng berbicara kepada bawahannya yang langsung segera pergi menuju lift, sementara Bima, Ratu, dan Mr Cheng masuk ke area VIP restoran.
Sembari menunggu makanan pesanan mereka disajikan, Ratu begitu piawai mendekatkan diri dengan Mr Cheng. Dia benar, wanita dapat dengan mudah mencairkan suasana. Mata hitam sipit itu jelas-jelas mengagumi kecantikan Ratu. Sosok Mr Cheng jauh di luar dugaan semula, ternyata dia belum tua, sekitar awal empat puluhan, posturnya tinggi langsing dibalut dengan setelan mahal.
Makan malam terasa akrab dan menyenangkan. Olahraga sorenya sia-sia, semua hidangan di hotel ini segar dan beraroma sedap. Bima menghabiskan steik tanderloin, kentang panggang, brokoli dan wortel yang manis. Setiap hidangan selalu disertai dengan sup. Seorang pelayan menuangkan wine ke gelas Mr Cheng, tetapi Bima mencegahnya saat ingin mengisi gelas milik Ratu.
Ratu menoleh terkejut. “Aku nggak mau kamu mabuk,” ucap Bima pelan yang dibalas Ratu dengan mengangkat alisnya. “Kamu ingat kejadian di klub billiard tempo lalu?”
Ratu merona dan berdeham kecil. “Minum satu teguk nggak bakal bikin aku oleng.” Itu masalah yang patut dipikirkan. Meski waktu itu bisa pulang sendiri, tetapi hampir sebagian dari racauannya tidak dapat diingat Ratu. Perlahan tangannya mengambil gelas teh panas dan mengisapnya.
Bima hampir tidak menyadari lamanya mereka makan sampai ponselnya bergetar dan nama Anya muncul di layar. Namun, sebelum Bima sempat mengangkat telepon, Mr Cheng bertanya tentang seminar onlinenya.
“Saya mengelola sebuah komunitas digital marketer yang dalam program pembelajaran berbayar selalu menghadirkan pemateri …” Bima terdiam, matanya menoleh ke ponselnya yang bergetar lagi, “Maafkan saya,” gumam Bima dan menonaktifkan ponselnya. “Untuk webminar kali ini kami memiliki tema Social Selling Fundamental for FnB. Kami berencana naik level ke sertifikat global.”
“Menarik. Berapa banyak peluang keikutsertaan pesertanya?” tanya Mr Cheng dengan nada penuh antusiasme. Bima menunjukkan grafik survey dari timnya. Mereka mulai membahas sistematisnya. Mr Cheng mengangguk mengerti, lalu mengalihkan topik, “Saya dengar Anda juga menyuplai produk kopi terbaik dengan harga seller pertama.”
Sesuai perkiraannya, Bima berhasil menggiring Mr Cheng pada topik ini. “Ya, saya memasarkan kopi robusta Martina Rinasih.”
“Oh, Saya dengar itu memenangkan kontes.” Mr Cheng menyesap sisa kopi di cangkirnya. “Bisa kita lihat produknya besok?”
Tiba-tiba Bima merasakan semua rasa bangga penuh semangat dalam dadanya menguap. “Bukannya besok Anda pergi ke Aceh? Untuk bertemu supplier kopi juga?” Dia buru-buru ke sini agar tidak kalah saing dengan kompetitor lain untuk melakukan negosiasi.
“Lusa, bukan besok Mr Abian,” tanggap Mr Cheng. “Dari awal saya sudah tertarik dengan kopi Jawa, ini malam yang menyenangkan sebelum membahas detailnya besok. Di Aceh, saya punya teman pemilik tambang batu bara yang ingin berinvestasi di komoditas kopi juga. Tembus ke pasaran China pasti keuntungan bisa berkali lipat.”
Apa dari awal Mr Cheng tidak akan menolaknya? Pikirannya berkumpul penuh kebingungan. Ternyata orang di Aceh bukan kompetitor melainkan calon investor. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lalu, Bima merasa seperti pebisnis amatiran. Matanya melirik ke arah Ratu yang tidak menatapnya.
“Saya juga ingin mulai simulasi perekaman seminar itu besok.” Mr Cheng berdiri dari kursinya. “Senang berbincang dengan Anda. Selamat malam Mr Abian.”
Setelah Mr Cheng naik ke kamarnya, dengan tidak sabar Bima keluar dari gedung dan berdiri di teras lobi. Sebuah pertanyaan menikam pikirannya: apakah Anya menunggunya? Tidak ada jawaban saat menelepon gadis itu. Sudah hampir tengah malam, mungkin sudah tidur. Bima hanya mengetikkan pesan singkat sebagai permintaan maaf.
Ratu menghampirinya dengan sorot menyesal, tetapi bukan malu karena berbohong, atau mungkin memang wanita itu juga tidak tahu. Bima menghela napas dan mengusap wajahnya yang lelah. Memilih tidak mengorek informasi apa pun.
“Selamat.” Ratu tersenyum lebar di hadapan Bima. “Meski ada keliru, tapi aku bisa jadi orang pertama yang ucapin selamat.”
Bima menarik pintu mobil begitu sopir mereka sampai di depan lobi. “Ayo, kita pulang!”
***
Keesokan pagi, hari Anya dimulai dengan kesibukan memasak di rumah Alden. Temannya itu duduk diam di balik meja dapur masih terbungkus selimut. Orang tua Alden sedang pergi keluar kota, dan semalam teman penganggurannya ini mengemis diberi makan.
Anya memotong sayap ayam dengan suara geprakan keras. Lebih karena emosi yang membakar hatinya. Nyebelin! Nyebelin! Tua Bangka! Sekali lagi entakkan pisau menggeprak talenan.
Maaf aku nggak bisa datang.
Hanya itu isi pesannya.
Anya menggeleng tak habis pikir. Telat ngabarin, susah dihubungi, bikin orang lain nunggu, eh, dianya malah asyik berduaan mesra-mesraan. Cuih!
“Nya! Nya… Nyet!”
Anya mendelik kesal kepada Alden.
“Itu kasian ayamnya sampai remuk gitu. Mau bikin sop atau bubur ayam?” Alden langsung meneguk ludah begitu Anya mengangkat pisau. Kedua tangan Alden disatukan ke atas kepala. “Ampun, Ndoro, silakan dilanjutkan!”
Tanpa bicara, Anya memasukkan potongan ayam ke dalam panci yang mengepul, lalu menambahkan rempah. Bagaimana mungkin dia mau pergi dengan laki-laki itu? Dan berakhir diremehkan lagi.
“Belum nelepon minta maaf, ya?”
Anya menoleh kepada Alden dan menggeleng. “Maaf udah bikin bad mood pagi-pagi gini.”
“Nyantai aja kali! Aku tuh bad mood kalau masakan kamu nggak enak.” Kepala Alden melirik ke arah panci penuh harap. “Kan sayang kalau nggak kemakan. Coba kamu yang telepon.”
“Idih! Jangan harap, ngomong aja malas.” Tangan Anya memasukkan potongan sayuran dan mulai mengiris bawang. “Lagian nih, nggak penting juga ngurusin orang yang nggak penting.”
Alden mengangguk setuju sembari mengacungkan jempol. Tangannya mencelupkan lap ke dalam baskom dan menempelkan ke dahi.
“Kamu sakit?” Pertanyaan itu muncul bukan dari Anya yang sama-sama heran dengan Alden, tetapi dari suara cempreng Bella yang langsung berjalan cepat menghampiri sang pujaan hati.
Menariknya yang membuat Anya mual, Alden mendadak berakting menggigil. Laki-laki itu berpura-pura sakit. Bulu kuduk Anya merinding begitu menebak alasannya.
“Ya ampun, kamu kok bisa sakit? Aduh kasian.” Bella mengusap wajah Alden.
“Maaf ya, aku nggak bisa nemenin kamu hari ini,” ucap Alden nelangsa.
“Iya nggak apa-apa.” Bella membantu Alden berdiri dan membaringkannya di sofa. Dengan cekatan menyelimuti Alden lagi. “Kamu sakit, aku juga sedih.”
Anya ikut melihat adegan penuh sandiwara ini di depan pintu dapur sembari bersedekap. Kali ini Alden mulai terbatuk-batuk seperti tenggorokannya digaruk biji kedondong. Bella berlari melewati Anya untuk mengambilkan minum.
Sembari menepuk-nepuk punggung Alden, Bella bertanya, “Kamu udah minum obat? Udah makan?” Alden hanya balas menggeleng lemas. Tubuh Bella berbalik kepada Anya. “Nya, masaknya udah belum? Malah diam di situ.”
Anya menahan agar bola matanya tidak berputar jengah. Dia kembali ke dapur dan mematikan api kompor. Menyendok secentong penuh sup ke dalam mangkuk, tergoda menambahkan sesendok garam. Anya mengurungkan niat jailnya hanya karena ini makanan yang tidak boleh dibuang.
Anya kembali ke ruang tengah dan hampir tersedak dalam tawa melihat Alden terbuntal banyak selimut layaknya kepompong. Memilih duduk diam dan menonton Bella menyuapi Alden dengan beberapa kali omelan karena laki-laki itu menolak. Dia yakin wajah Alden memerah bukan karena berpura-pura demam.
“Tadi Anya bilang mau yang nemenin kamu ke mall pas aku bilang mau maksain buat antar kamu,” ucap Alden setelah menghabiskan supnya.
Anya langsung memelotot dan menggeleng keras-keras. “Nggak, kapan aku bilang gitu? Ih, jang―”
“Ya udah aku perginya sama Anya aja nggak apa-apa. Aku mesti beli kado buat mamaku soalnya. Udah nggak akan keburu kalau besok.” Bella membereskan alat makan dan mengelap meja dengan tisunya. “Kamu mesti minum obat.”
“Nanti aja aku minumnya.” Mendadak Alden berubah tegang.
“Jangan!” Cegah Anya, tidak melewatkan kesempatan dalam kesempitan untuk membalas Alden. “Dia kan nggak bisa nelan obat, jadi mesti ditumbuk.” Anya bergerak ke laci di meja TV, tahu di sana tempat keluarga Alden menyimpan P3K. “Nih, obatnya,” puas Anya saat Bella langsung meremukkan obat itu dengan sendok.
Rasain, ucap Anya tanpa suara. Tangannya melingkari leher dan lidahnya terjulur memperagakan orang sekarat. Anya tertawa tanpa suara melihat Alden terpaksa menelan obat kebohongannya sendiri.
Setelah selesai mengurus Alden, Bella membereskan tasnya. “Kamu istirahat ya, aku nggak lama belanjanya.”
Mustahil, sinis Anya dalam hati. Pergi belanja dengan Bella artinya jalan kaki seharian. Satu mall bisa dua kali bolak-balik dan yang paling memalukan, Bella suka nawar ngotot tidak tahu tempat. Anya menepak dahinya sendiri.
“Yuk, Nya!” Bella setengah menyeret Anya karena berjalan ogah-ogahan menuju pintu.
Sekali lagi Anya memelotot kepada Alden yang dengan manis melambaikan tangan.