Lippo Mall Kemang Village tidak begitu ramai. Suasananya tidak semenyenangkan dulu, tetapi meskipun begitu Anya bersyukur karena mall akhirnya bisa buka kembali. Gadis itu bisa cuci mata dan merasa tidak begitu pengap karena hanya berkutat di rumah atau restorannya saja.
Anya melirik Bella yang dia yakini masih cemberut dari balik maskernya. Sebentar-sebentar, Anya bisa mendengar lolosan napas Bella yang panjang dan berat, seperti gadis itu sedang memikul beban yang berat di pundaknya.
"Paksa pacarmu yang sakit berdiri. Aku juga nggak mau sebenernya," kata Anya begitu menangkap tatapan Bella yang tidak enak dipandang.
"Tapi, mau juga," balas Bella, lalu mendengkus keras.
"Kasihan aja sama Alden. Nanti kamu ngambek empat puluh hari, empat puluh malem," kata Anya kemudian.
Bella mendelik tak terima.
Anya mengibaskan tangan. "Udahlah. Mau cari kado apa sih? Buat siapa?" tanyanya seraya berjalan masuk ke mall.
"Sepatu mungkin," jawab Bella setelah berpikir sejenak seraya mengikuti Anya.
Anya menengok. "Buat Alden?"
"Nggak," sahut Bella sambil menggeleng.
"Oh," kata Anya singkat dan terdengar aneh di telingga Bella.
"Buat adikku. Dia ulang tahun," jelas Bella tanpa diminta.
"Oh."
"Nggak usah mikir sepatu yang kubeli nanti buat selingkuhan deh. Aku nggak pernah selingkuh," kata Bella kemudian, menjajari langkah Anya.
Anya menatap Bella. "Aku nggak mikir gitu."
"Tapi, tatapanmu bilang begitu," ucap Bella tidak mau mengalah.
"Terserahlah," desah Anya, membuang muka. Merasa sia-sia jika dia mendebat omongan Bella. Lagian, manalah mungkin Anya berani berpikir demikian, padahal tahu dari Alden bahwa Bella-lah yang selalu diselingkuhi. Mungkin karena itu Bella menjadi sensitif jika Alden dekat dengannya.
Bella mencolek lengan Anya, lalu menunjuk sebuah toko sepatu. Mereka masuk dan berpencar untuk melihat-lihat sepatu yang dipajang.
"Ini bagus," kata Anya seraya menunjukkan sepatu berwarna navi kepada Bella.
Bella menatap dengan teliti sepatu yang dipilih oleh Anya, lalu menatap sepatu yang sedang dipegangnya. Berwarna putih.
"Ini juga bagus," gumam Bella tanpa melihat Anya.
"Ya, udah itu aja," kata Anya kemudian biar cepat selesai dan pulang.
Bella menatap Anya, lalu menunjuk sepatu berwarna abu-abu. "Tapi, ini juga bagus."
Pandangan Anya tertuju kepada arah yang ditunjuk Bella, lalu menatap sepatu yang masih dipegang Bella dan berkata, "Ya, udah beli dua."
"Mana cukup uangnya," desah Bella nelangsa. Gadis itu meletakkan kembali sepatu yang dipegangnya, lalu mengambil sepatu berwarna abu-abu untuk dilihatnya lebih saksama.
"Ya, pilih salah satu," ucap Anya setelah menghela napas panjang.
"Ini lagi mikir," sahut Bella tanpa melihat Anya. Gadis itu meletakkan kembali sepatu berwarna abu-abu, lalu kembali mencari.
Anya mendesah panjang. Dia membalikkan badan, berjalan ke tempat di mana gadis itu mengambil sepatu berwarna navi untuk mengembalikkannya di sana.
"Aku duluan yang pegang ini," kata Bella, lalu menatap pemilik tangan yang sama-sama ingin mengambil sepatu berwarna hitam bercorak putih.
"Eh." Hanya itu yang keluar dari mulut Bella ketika tahu siapa yang berada di sampingnya. Si perut lemah di acara ulang tahun yang tidak memakai masker.
Ratu mengernyitkan kening. "Kalau kamu mau, ambil aja."
"Emang aku mau ambil ini," gumam Bella yang tidak bisa didengar oleh Ratu.
"Kalau yang ini aja gimana?" tanya Anya tiba-tiba, membuat Bella dan Ratu menatapnya dengan tatapan berbeda. Tak suka dan bingung. Tak suka karena Bella melihat Anya membawa sepatu berwarna-warni. Sangat norak, pikir Bella.
Untuk sesaat Anya hanya mematung di tempatnya berdiri. Dia tidak menyangka akan bertemu Ratu di sini. Melihat wanita yang ada di depannya langsung teringat kejadian naas di pesta ulang tahun.
"Kamu nggak mau menyapanya?" tanya Bella kepada Anya seraya mengendikkan dagu ke Ratu, membuat Ratu menatap gadis itu.
"Syukurlah Bu Ratu sudah sehat," ucap Anya kemudian seramah mungkin.
"Siap—"
"Dia Anya. Iya sih kalau pake masker jadi anyonghaseo. Nggak ada yang ngenalin," potong Bella.
"Oh, Anya," ucap Ratu datar. "Kamu mau beli sepatu juga?"
Anya hanya menggeleng yang tidak dilihat oleh Ratu karena wanita itu kembali sibuk melihat-lihat sepatu.
"Buat siapa? Bima? Emang kamu tahu berapa nomer sepatunya?" Ratu melirik judes kepada Anya untuk sekejap. "Tahu selera Bima seperti apa? Bima itu nggak sembarangan kalau membeli barang untuk pribadinya. Bima itu ...."
Bella tidak lagi mau mendengar ucapan Ratu. Gadis itu menganggapnya selayaknya angin lalu. Bella benci dengan Ratu yang tanpa memberi kesempatan kepada lawan bicaranya untuk menyanggah sehingga terjadi percakapan dua arah. Bella juga merasa janggal dengan situasi yang terjadi saat ini. Gadis itu melirik Anya diam-diam. Yang katanya sahabat pacarnya itu hanya memasang wajah penuh kebingungan setelah ditanya macam-macam oleh wanita yang super duper menyebalkan. Menurut Bella tentu saja. Jika yang diposisi Anya adalah dirinya, Bella tanpa harus mendengarkan omong kosong yang tak berarti, langsung mengajak duel Ratu karena sangking geregetnya.
"Excuse me," ucap Bella seraya menatap Ratu yang langsung diam dan mengalihkan perhatiannya.
"Maaf ya Mbak, maaf banget nih. Jangan sok jadi superior deh yang apa-apa tahu soal Pak Bima," tutur Bella seraya memasang wajah judesnya.
Ratu bersedekap, menatap Bella dari atas sampai bawah dengan tatapan mencemooh. "Kamu anak kecil tahu apa?"
Bella menunjuk dirinya sendiri. "Aku? Anak kecil? Yang bener saja!"
Ratu mendengkus keras. Tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya bila dia tidak menyukainya.
"Dia ini," Bella mengendikkan dagu ke arah Anya, "calon istrinya Bima. Apa Mbak sudah tahu?"
Ratu menatap Anya yang seketika gelagapan. Anya sendiri bingung kenapa bisa demikian. Bella menikmati ekspresi yang Ratu tampilkan. Wanita itu melebarkan matanya. Tatapannya yang tertuju kepada Anya penuh dengan emosi. Marah dan benci mendominasi. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Seakan-akan hal itu bisa mengendalikan badai yang sedang berkecampuk di hatinya.
"Aku jadi Mbak sih malu sudah sok-sokan nanya terus bilang ini dan itu," sindir Bella, "Yang dibanggain bener-bener udah punya calon istri. Eh ... sorry." Bella tersenyum miring.
Dada Ratu naik-turun penuh emosi. Wanita itu ingin berteriak dan mengamuk membabi buta, tetapi dia tahan kuat-kuat untuk menjaga wibawanya.
"Terus ini," Bella menunjuk masker yang dipakainya," jangan lupa dipake. Meminimalisir penyebaran tahu. Nggak mau kan mall ditutup lagi?"
Tanpa kata, Ratu meninggalkan Anya dan Bella yang saling berpandangan dengan tatapan berbeda. Khawatir dan sok polos. Anya khawatir dengan kejadian ini akan membuat kerja sama mereka terganggu. Sementara Bella, dia tidak bermaksud menjadi si mulut besar. Dia hanya terlalu lugu saja, menurutnya. Mereka berdua tidak tahu bahwa sepanjang kaki Ratu melangkah, wanita itu menangis. Perasaannya lebur. Dadanya sesak, hatinya hancur berkeping-keping.
***
Bima merasa kepalanya berat dan mau pecah. Pandangannya berputar-putar. Tubuhnya mati rasa. Tenggorokannya kering dan perutnya melilit. Laki-laki itu berusaha untuk bangun dari tempat tidur karena merasa haus, tetapi ketika menjejakkan kaki di lantai, mendadak semuanya menjadi kabur. Bima terduduk di pinggir ranjang dan mengumpat pelan sambil memijit kepalanya.
Yang ada di benaknya saat ini adalah mencari bantuan. Bima meraba-raba kasur untuk mencari ponselnya. Setelah ketemu, dia langsung menghubungi hikam. Tidak ada jawaban. Bima mencoba sekali lagi. Tetap tidak ada jawaban. Bima mendesah panjang. Dengan kekuatan yang masih tersisa akhirnya Bima mengirim pesan kepada Hikam. Mengatakan bahwa dia meminta Hikam untuk datang segera setelah membaca pesannya.
Suara bel terdengar beberapa kali. Bima mengerang kesal. Laki-laki itu berusaha berdiri dan berjalan menuju pintu, meskipun harus tertatih-tatih. Dalam benaknya, Bima mengira yang datang adalah Hikam sehingga langsung membuka pintu tanpa rasa curiga.
"Bima."
Panggilan dari seorang wanita membuat Bima mendongak. Gadis itu Airin Hawaliyah. Sahabatnya dulu dan setahunya masih berada di Sidney. Mata Bima membola. Laki-laki itu tidak menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Ya, ampun ... Bim, bisa sakit juga?" tanya Airin cengengesan untuk menutupi rasa gugup sekaligus canggungnya seraya menghampiri Bima. Gadis itu masuk ke apartemen Bima begitu saja, meletakkan koper tas selempangnya di sembarang tempat.
Bima tidak menyahutinya. Airin menoleh, melihat Bima yang kepayahan memeluk pintu apartemen. Wanita itu segera menghampiri Bima, memapah laki-laki itu, dan mendudukkannya di sofa panjang.
"Panas banget," kata Airin sambil memegang kening Bima.
"Kok kamu ada di sini?" tanya Bima pelan.
"Karena tahu kamu sakit," jawab Airin.
Bima hanya berdecak. Mau bicara panjang lebar juga terasa malas.
"Aku laper. Aku juga haus," aku Bima kemudian.
"Bentar aku ambilin," kata Airin. Wanita itu berjalan menuju dapur untuk mengambil air putih.
Airin membuka kulkas. Tidak banyak bahan makanan untuk membuat sesuatu yang bisa dimakan. Akhirnya wanita itu memesan makanan lewat gawainya, lalu segera kembali ke Bima setelah mengambil sebotol air mineral dan beberapa buah.
"Aku udah pesen makanan," kata Airin sambil meletakkan nampan di atas meja, sementara dirinya duduk di samping Bima.
Bima meraih sebotol air mineral dan menuangkan isinya ke gelas dan segera meminumnya.
"Makan buah dulu aja deh, Bim, lumayan buat nganjel perut," kata Airin.
Bima hanya bergumam, lalu mengambil sebiji pisang dan memakannya.
"Nanti kita ke dokter ya, Bim, kalau kamu udah makan bubur," ucap Airin.
"Kenapa beli bubur?" tanya Bima, menatap Airin.
Kening Airin mengernyit. "Orang sakit biasanya makan bubur."
"Yang ada nggak ada tenaga," kata Bima.
"Mau aku pesenin nasi?" tanya Airin.
Bima menggeleng.
"Ke dokter ajalah nanti sehabis makan. Biar cepet sembuh. Ngeri juga kalau ternyata kena covid," kata Airin santai.
"Ini udah mendingan," ucap Bima.
Airin melirik sebal kepada Bima. "Mendingan-mendingan. Nurut aja deh, Bim, jangan bebal."
"Iya, iya." Bima menghabiskan pisang yang ada di tangannya, meskipun terasa pahit di mulut.
***
"Mau tetep bandel telat makan dan kerja gila-gilaan?"
Bima menyengir lebar dan menggeleng.
"Habis udah kata omelanku," kata Airin.
Kata dokter yang memeriksa Bima, laki-laki itu seharusnya dirawat untuk beberapa hari. Namun, Bima menolak dan memilih berobat jalan saja. Sepanjang perjalanan pulang Airin tak henti-hentinya mengomel panjang-lebar dan kebetulan sedang hujan.
"Sakit tuh nggak enak. Mau makan apa juga rasanya pahit," tutur Airin.
Bima terima semua omelan Airin dalam diam. Sebenarnya, laki-laki itu ingin bertanya banyak hal tentang kepulangannya. Namun, bibirnya terasa kelu.
"Mau tambah pake jaketku nggak?" tanya Airin terdengar khawatir, menatap Bima lama.
Bima menggeleng. "Mana muat."
"Kan dingin. Aku mah sehat jadi fine-fine aja. Tuh hujannya tambah deres," ucap Airin seraya menatap jendela mobil yang basah.
"Kenapa beli payungnya cuman satu tadi?" tanya Bima heran.
"Biar romantis," jawab Airin, menatap Bima seraya menaik turunkan alisnya beberapa kali secara cepat. "Sepayung berdua kena geledek bareng-bareng. Romantis banget nggak sih?"
"Matamu," gumam Bima, kesal sendiri.
Airin cekikikan, lalu meminta supir untuk berhenti. Mobil yang dipesan Airin berhenti di depan gedung apartemen Bima. Setelah membayar, Airin membantu Bima dan memeluk pinggang Bima. Untuk sesaat, Bima tersentak kaget. Namun, membiarkannya.
"Lebih deket lagi dong, biar baju aku nggak basah," kata Airin.
Bima menurut, meskipun jarak mereka sudah sangat dekat sekali. Sudah menempel satu sama lain.
"Kalau bajuku basah males gantinya," keluh Airin.
"Kenapa?" tanya Bima.
Airin mendongak sedikit. "Apa?"
"Kenapa turun di sana dan bukan langsung depan lobi?" tanya Bima lebih jelas dengan suara datar.
Airin bergumam sebentar sebelum menjawab, "Biar ada adegan sepayung berdua."
Airin tertawa. Bima hanya diam membisu, meskipun hatinya bersorak.
"Lemes banget sih bawa payungnya. Kalau aku tinggi juga mending aku yang pegang payung," kicau Airin.
"Ai, cerewet banget sih," komentar Bima. "Tambah pusing nih kepala."
Airin tidak peduli. Dia mengoceh tentang hujan yang tak kunjung reda, bingung bagaimana pulangnya, dan semakin mendekat ke arah Bima, memeluk semakin erat pinggang sahabat yang sudah lama belum dilihatnya. Tiba-tiba Bima menghentikan langkah ketika melihat Anya yang berlari menerjang hujan dan langkahnya langsung terhenti begitu pandangan mereka bersirobok. Gadis itu mengedipkan mata sekali begitu air hujan melewati matanya. Anya menatap lama Bima yang berada di bawah payung dengan seorang perempuan cantik.
Merasa bingung dengan tingkah Bima, Airin melihat ke mana arah pandang sahabatnya itu. Anya menangkap tatapan perempuan yang berada di samping Bima. Mereka saling menatap dalam diam yang ganjil.