24 Dia Itu Siapanya?

2159 Kata
Anya duduk lemas di teras belakang restorannya. Makan siang yang disiapkan pak Daffa sejak setengah jam lalu masih utuh tanpatersentuh. “Makanannya nggak enak, ya, Bu?” celetuk pak Daffa. Lelaki itu menggaruk pelipisnya. Takut salah bicara dan malah menambah runyam suasana. Anya menggeleng. “Aku Cuma lagi nggak nafsu, Pak,” ucapnya pelan. Lalu meluruskan kaki. Badannya sampai memerosot. Tak lagi bersandar dengan baik. Berkali-kali dia mengetuk kepalanya dengan jari, tapi bayangan Bima tak kunjung pergi. Di kepalanya, masih jelas terekam saat wanita itu memapah tubuh Bima. Minggu lalu dengan Ratu. Sekarang dengan wanita baru. Dasar om-om cap buaya sss. Anya mengembuskan napas, tak habis pikir. “Kenapa, Bu?” Hikam bertanya. Laki-laki itu menyodorkan segelas latte untuk Anya. Anya mendesah tanpa menjawab. Sesekali melirik segelas latte hangat yang diberikan Hikam. “Bu ... Bu Anya!” tegur Hikam lagi. Anya tersentak. “Ah, aku nggak apa-apa,” jawabnya terbata. Ekspresi Anya terlalu kentara. Untung saja Hikam berbanding terbalik dengan Bima. Hikam segera tahu ada yang tidak beres dengan Anya sore ini. “Tadi ketemu Bima?” lanjut Hikam, mengorek informasi. Anya mengangguk pelan. Lalu menggeleng kuat. Membatalkan jawaban pertama. “Mana yang bener?” “Nggak ketemu,” jawab Anya, lesu. Hikam manggut-manggut lalu menyesap minumannya. Anya mengikuti. “Kalau sama Airin, ketemu nggak?” Spontan Anya tersedak. Hikam buru-buru mengambil tisu di meja dapur. Diam-diam, laki-laki itu tersenyum tipis sambil manggut-manggut. Sudah mengerti apa yang terjadi. “Airin? Airin siapa?” tanya Anya canggung dengan wajah yang memerah. “Airin itu temen sekelas kami dulu. Aku dan Bima.” “Kuliah atau sekolah, Mas?” selidik Anya sambil terus mengelap meja yang sudah kering. “Kuliah.” “Oh, jadi deket banget?” tanya Anya. Dia mencoba menyembunyikan ekspresinya dengan mengatur poni yang tidak berantakan sama sekali. Hikam mengangguk pasti. “Dekat banget. Airin itu cinta pertamanya Bima.” Ekspresi Anya langsung berubah. Beberapa kali dia telihat mencebik dan memutar bola mata saat kata cinta pertama terdengar olehnya. “Tapi dulu Airin selalu nolak Bima,” lanjut Hikam yang tidak membuat Anyasemringahpl sama sekali. “Aku nggak peduli sama masa lalu Pak Bima. Apalagi dengan si kirin kirin itu.” “Namanya Airin, Bu,” koreksi Hikam sambil menahan tawa. “Ya itulah pokoknya. Tapi kok Mas Hikam bisa tahu ada Airin Airin itu di rumah Pak Bima?” Hikamkembali menyesap minumannya hingga tak tersisa, sebelum menjelaskan, “Pagi ini Airin baru pulang dari Sydney. Dia nelepon aku, pengin ketemu. Nelepon Bima juga, tapi nggak diangkat. Jadi aku bilang kalau Bima sakit. Dan—“ “Dan cewek itu langsung nyamperin ke rumah pak Bima?” lanjut Anya. “Yaps. Dan namanya Airin. Bukan cewek itu.” Hikam masih menggoda Anya. Menyebutkan nama Airin berkali-kali semakin merusak suasana hati Anya. Kelihatan sekali gadis itu cemburu. Walau berusaha tidak peduli, tapi tetap saja wajah yang memerah dan napas yang terengah menjadi bukti panasnya suasana. Anya bersandar pada kursi sambil bersedekap dan menyilang kaki. Tatapan matanya masih tertuju pada Hikam. Merasa diintimidasi, Hikam mencoba mengalihkan pembicaraan. “Lattenya enak, ‘kan, Bu? Ini resep baru, lho.” “Berarti tadi pak Bima dianter ke rumah sakit sama Airin, ya?” Anya tak goyah. Topik pembicaraannya masih sama. Hikam kembali menahan tawa. “Ya, daripada Bima kenapa-kenapa. Ntar malah repot, ‘kan?” “Ih, manja banget sih. Lagian sekarang tuh, zaman udah canggih. Berobat ke dokter bisa pakai aplikasi. Ntar obatnya dianterin deh sama kurir. Daripada ke rumah sakit. Repot. Harus swab lah, harus rapid test lah. Ribet, ‘kan? Bukannya sehat malah tambah sakit,” dumel Anya. Hikam hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat betapa kacaunya ekspresi wajah Anya saat ini. “Cemburu?” Pertanyaan Hikam membuat deru napas Anya mendadak melambat. Program otaknya seperti berhenti tiba-tiba. Dengan senyum canggung, dia berusaha menepis segala persepsi Hikam tentangnya. Setelah mengatur napas beberapa saat, Anya menjawab, “Enak aja! Siapa yang cemburu? Aku tuh cuma takut kalau Pak Bima bukannya sembuh, tapi malah terpapar Covid karena ke rumah sakit. Namanya juga rumah sakit. Rumahnya orang sakit. Pasti banyak yang sakit.” “Ya terus selain ke rumah sakit mau dibawa ke mana lagi? Rumah Bu Anya?” Hikam menggoda. Skakmat. Hikam bukanlah lawan debat yang sepadan untuk Anya. Hikam bukan Alden, yang bisa mengalah saat Anya mengeluarkan tatapan singa. Melihat Anya kehabisan kata, Hikam menutup pembicaraan dengan membawa cangkir yang telah kosong. Sedangkan Anya masih terdiam di tempatnya. Menepis segala pikiran yang merusak suasana hatinya mulai tadi siang. *** Dahi Anya berkerut saat membaca pesan dari nomor tanpa nama. “Saya baik-baik saja.” Meski dari nomor tak dikenal dan hanya berisi empat kata,Anya bisa menebak. Tidak ada orang yang sekaku itu saat mengirim pesan selain Bima. Disimpannya kembali ponsel di atas meja. Mencoba taktik jual mahal. Memberi jeda beberapa jam untuk membalas. Namun, nyatanya hati Anya bertolak belakang dengan pikiran. Dia kembali mengambil ponselnya. Menggigit bibir, memilah kata. Berkali-kali pesan balasan dihapus kembali sebelum terkirim. Hingga akhirnya diputuskan. Anya hanya membalas dengan pesan tak kalah singkat. “Siapa?” Menit berikutnya dia menundukkan kepala. Selayaknya mengheningkan cipta, dia merapal kata layaknya doa. Ada harapan, jika itu benar-benar Bima. Bukan tanpa alasan. Anya hanya ingin memastikan, feelingnya tak salah terka. Ponsel berdering. Anya tersentak. Wajah yang semula terlukis senyum, kini perlahan pudar. Nama Alden yang terpampang di layar. Dengan emosi, Anya menjawab. “Kenapa?” “Buset! Galak amat, Nya. Hampir budek nih kuping.” “Nggak usah basa-basi, deh. Kenapa nelepon?” “Lagi di mana, Nya?” “Di rumah. Kenapa, sih?” “Kok sudah di rumah, sih? Kirain masih di resto. Kan masih jam 8, Nya? Resto udah tutup apa gimana?” tanya Alden, berlapis-lapis. “Aku pulang duluan dari sore. Lagi suntuk. Lagian suka-suka aku dong. Resto-resto aku juga. Kenapa kamu yang sibuk, sih? Lagian kenapa sih nanya-nanyamulu!” “Ya nggak apa-apa. Tadinya, aku mau mampir ke resto. Numpang makan.” Sambungan telepon diputus Anya secara sepihak. Harusnya dia sudah menduga, Alden tak mungkin menelepon jika bukan untuk urusan perut gembelnya. Yang selalu ingin terisi penuh dengan mengeluarkan budget rendah bahkan gratisan. Dan pastinya, menyusahkan teman. Anya baru melempar ponsel ke tempat tidur, ketika ponselnya berdering lagi. Dengan malas, dia kembali meraih benda pipih dengan suara berisik itu. Berniat mengabaikan panggilan masuk setelah menghentikan deringnya. Namun, niatnya urung saat melihat nama Bima di layar. Anya menarik napas panjang sebelum menjawab. “Ada apa ya, Pak?” tanyanya. Profesional. “Tadi kamu datang ke appartemen saya kenapa? Urusan kerjaan atau ....” “Atau apa, Pak? Nggak usah mikir aneh-aneh, deh,” potong Anya. Dia menyandarkan punggungnya pada tiga tumpukan bantal di tempat tidur. Lalu menyelunjurkan kaki. Posisi nyaman untuk menerima telepon. “Saya nggak mikir aneh-aneh. Tadi saya tiba-tiba kepikiranaja alasan kamu datang ke appartemen. Mungkin, karena Hikam ada bilang kalau saya sakit. Makanya tadi saya kirim pesan ke kamu. Kalau saya baik-baik saja.” “Oh, jadi nomor asing tadi itu Pak Bima? Kenapa pakai nomor lain? Oh, paham aja sih. Satu gebetan satu nomor gitu ya konsepnya?” tuduh Anya. Emosi jiwanya kembali hadir setelah mereda beberapa saat. “Gebetan apa? Maksud kamu apa? Saya nggak paham. Itu tadi nomor pribadi saya. Kalau yang biasa saya pakai itu nomor untuk bisnis.” Nomor pribadi? Anya menggigit bibir.Seakan sedangterinjak ranjau,debar jantungnya tiba-tiba bisa dia dengar. “No—mor pri—badi?” ulang Anya. Memastikan bahwa dia tidak salah dengar. “Iya. Nomor pribadi. Hanya orang-orang terdekat saja yang tahu,” jelas Bima. Sepertinya, saat ini Anya sudah gila. Tumpukan bantal sudah tidak beraturan karena dia tinju dengan perasaan semringah. Hanya orang-orang terdekat saja kata Bima. Berarti secara tidak langsung, Anya sudah dianggapsebagai orang terdekatnya. “Tadi saya habis membalas pesan teman saya. Eh, jadi keterusan hubungin kamu pakai nomor itu,” lanjut Bima. Seketika, senyum Anya yang baru mengembang luruh begitu saja. “Te ... man?” Bima membenarkan. “Iya. Teman. Wanita yang tadi siang bersama saya di lobi. Ingatkan?” jawab Bima. Singkat. Tanpa penjelasan apa pun. Anya mencebik. Teman dari Hongkong! Bilang saja cinta pertama. Benar-benar konyol! “Ya sudah, deh, Pak. Saya tutup, Ya. Saya mau tidur. Semoga cepat sembuh, deh. Biar nggak kebanyakan drama.” “Drama apa, Nya? Emh, sebenarnya saya hubungin kamu tuh, ada maksud lain.” “Apalagi sih, Pak?” “Buatkan saya bubur ayam untuk sarapan besok. Bisa?” Anya terdiam. Ternyata jokes om-om tak kalah garing dari jokes bapak-bapak. *** Bima merentangkan tangan untuk meregangkan otot-ototnya. Kembali bekerja setelah sakit 3 hari membuatnya cepat lelah. Diliriknya kotak bekal yang dibawa Hikam beberapa jam lalu. Dari Anya, katanya. Bima tersenyum sekilas. Lalu pura-pura abai saat Hikam masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. “Senyum-senyum aja, Bos. Ada apa, sih?” “Siapa yang senyum-senyum? Saya lagi capek. Senyum dari mana?” jawabnya, berdalih dengan sempurna. Hikam mencebik. “Halah, ngaku aja! Senyum-senyumnya sambil mikirin ekspresi Anya saat buat bubur ayam itu, ‘kan?” Hikam menunjuk kotak bekal di meja Bima. Di sela tawa, Hikam melepas kaca matanya. Lalu duduk di hadapan Bima. “Kamu buka-buka kotak makannya, ya? Kok tahu isinya bubur ayam?” Bima menyelidik. Sedangkan Hikam malah tertawa. “Bos, Bos! Jelas-jelas Anya yang bilang, kalau semalam Bos request minta dibuatin bubur ayam untuk sarapan. Makanya tadi pagi, Anya buru-buru ke sini. Cuma nganterin ini doang. Padahal jarak rumah Anya ke restonya tuh lebih deket daripada jarak rumah Anya ke kafe kita.” “Terus hubungannya jarak rumah Anya dengan aku apa?” Hikam hanya bisa geleng-geleng. Kalau saja Bima bukan temannya, Hikam pasti tidak akan mau bekerja dengan Bima. Laki-laki yang tidak peka terhadap sekelilingnya. Lebih-lebih jika untuk urusan wanita. Sejak ditolak oleh Airin, Bima memang menutup rapat-rapat hatinya. Wanita yang dekat dengannya hanya sebatas teman bisnis. Walau para wanita itu selalu mengharap lebih dari Bima. Termasuk Ratu. “Ya itu artinya, Anyatuh khawatir banget sama kamu,” ucap Hikam. Kali ini serius. Berusaha membenarkan isi pikiran Bima yang sekarang dipenuhi dengan urusan kerja, kerja dan kerja. Bima spontan mencondongkan badan. Mendekat ke arah Hikam. “Serius?” Hikam mengangguk tiga kali. Sebenarnya, Hikam sudah menduga. Ada yang beda dari tatapan Bima untuk Anya maupun sebaliknya. Meski dua orang itu selalu berdebat saat bertemu, tapi adakalanya diam-diam mereka saling menyimpan rindu. Seperti sekarang. Bima masih menatap kotak bekal dari Anya dengan senyuman. “Tuh kan senyum lagi!” teriak Hikam. Bima bergidik. “Garing!” protesnya lalu pergi ke luar ruangan. Meski begitu, tawa Hikam masih terdengar olehnya. Bima masih memikirkan kata-kata Hikam saat menuruni tangga. Dia mengambil ponsel dari saku celana. Menatap layar ponsel lumayan lama. Dua jempolnya sudah beriringan mengetik nama Anya pada daftar kontak. Namun, mendadak ragu-ragu ketika melihat orang yang dia kenal berdiri di pintu masuk kafe dan mendekat ke arahnya. “Gimana keadaannya? Udah mendingan?” Bima mendadak kelu. Dia hanya bisa mengangguk dua kali sebelum suara Hikam datang menyelamatkannya sebelum dianggap gagu. “Eh, ada Bu Anya. Kenapa berdiri di situ, Bu? Naik ke atas aja. Biar lebih nyaman ngobrolnya.” Jelas sekali Hikam sengaja menyenggol lengan Bima saat melewatinya. Lirikan mata Hikam yang terlihat seperti mengejek semakin membuat Bima kehabisan kata. “Ajak aja Bu Anya ke atas, Bos. Nanti aku buatkan minuman,” titah Hikam lagi sambil mengedipkan sebelah mata. Anya yang medadak canggung jadi semakin salah tingkah. “Aku ke sini cuma mau nganterin ini kok,” jawab Alya. Paperbag cokelat digoyang-goyangkannya. Bima mendelik. “Apa itu?” “Makan siang. Tante Sinta yang suruh anterin. Tante nitip salam juga buat Pak Bima. Semoga lekas sembuh, katanya.” Papperbag cokelat telah berpindah ke tangan Bima. Spontan, dia melihat isinya. Kotak makan yang sama dengan warna berbeda. Merah muda. “Jangan lihat dari warna kotak makannya, Pak. Yang penting bisa bikin kenyang. Kapan lagi dapat sarapan dan makan siang gratisan, kan?” Hikam buru-buru menutup mulutnya dengan kepalan tangan saat tawanya tak sengaja keluar. “Oh, ya, satu lagi.” Anya menatap Bima lekat-lekat sambil menggigit bibir. Bima terdiam dibuatnya. “Kenapa?” “Tupperware isi bubur tadi pagi, mana ya?Buburnya sudah habis, ‘kan? Aku mau ambil sekarang,” ucap Anya. “Belum saya cuci. Ada di atas. Kamu mau naik dulu?” “Ambilin bisa nggak, Pak? Kan Bapak yang habis makan. Tadi pagi juga saya yang anterin ke sini. Masa iya, saya juga yang harus naik ke lantai dua buat ngambil tupperware kosongnya? Masih kotor pula.” Bima mendelik. rahangnya mengetat. Di balik punggung Anya, Hikam mencontohkan gerakan menarik napas dalam-dalam dengan tangan. Tarik ... buang, tarik ... buang. “Ya sudah. Kalau begitu, besok saya yang bawa 2 tupperwarenya ke restoran kamu. Atau, nanti malam saya ke rumah kamu.” “Se—riusan, Pak?” “Iya. Daripada tidur saya nggak tenang.” Kali ini, salah tingkah kembali menghinggapi Anya. Setelah Bima berhasil menenangkan diri, kini gilirannya yang dibuat deg-degan setengah mati. Nanti malam? Mau ke rumah? Hanya untuk kembalikan tupperware? Alasan payah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN