Saat keluar dari kafe Copy Paste milik Bima, Anya mendapat telepon dari omnya. Dia memintanya datang ke kantor polisi. Bingung dengan urusan yang sepertinya mendesak, buru-buru Anya memesan ojek online.
Anya meringis ketika sampai di depan kantor polisi. Ini pertama kalinya dia ke tempat seperti ini. Beberapa orang berseragam berjalan melewatinya. Anya masuk ke ruang depan sembari membungkuk. Dua orang Pak Polisi duduk di balik meja sembari mencatat sesuatu.
Pandangan Anya beralih ke arah orang-orang yang menunggu, mencoba mencari omnya. Anya mengambil ponsel untuk menelepon, tetapi omnya muncul bersama seorang laki-laki dari lorong yang menghadap taman. Anya segera berjalan cepat menghampiri.
“Om!” panggil Anya terengah. “Mau apa di sini?”
Om Dedi mengangkat sebuah map yang dipegangnya. “Urus berkas perkara. Ini Pak Adrian, kuasa hukum kita.” Tanpa banyak menjelaskan, mereka langsung mengikuti petugas yang mengantar ke ruangan.
Anya membuntuti di belakang tanpa mengerti kenapa dia harus ikut campur urusan ini. Taman persegi dengan pohon-pohon kaku, dan sudut bangunan yang gelap penuh lorong-lorong benar-benar membuat tempat ini tidak ramah.
Dua petugas di dalam ruangan meminta mereka duduk. Anya mendengarkan dan kaget saat polisi sudah menangkap pelaku. Pak Adrian yang barusan dikenalkan sebagai kuasa hukum keluarganya lebih banyak bicara. Anya juga diberi beberapa pertanyaan sebagai saksi korban. Tak lama pembicaraan berakhir dan omnya meminta Anya pulang duluan.
***
Anya mampir dulu ke restorannya. Memeriksa beberapa laporan, tetapi pikirannya masih berputar saat di kantor polisi. Tuntutan mereka akan dibawa ke kejaksaan. Apa uang mereka akan kembali dari si pelaku penipuan?
Punggungnya bergidik membayangkan amukan tante Shinta saat bertemu si pelaku. Mungkin saja hari ini mereka sudah bertemu. Anya menghela napas dan mematikan komputer. Dia pulang saat langit mulai berubah gelap.
Sesampainya di rumah yang halamannya masih gelap, Anya menggeleng sembari berdecak. “Kok, belum pada pulang?” Semua lampu segera dinyalakan. Anya paling tidak suka sendirian di rumah.
Sepi dan menakutkan.
Sebelum berganti pakaian, secangkir kopi hangat rasanya bisa meredakan ketegangan. Anya pergi ke dapur dan menyalakan teko listrik. Dia memberi pesan kepada tantenya sembari menunggu air mendidih.
Rupanya di luar langit sedang perang. Anya berjingkat ngeri ketika mendengar suara gemuruh menggelegar disusul kilatan petir. Rintik hujan yang turun beramai-ramai langsung berubah deras. Cepat-cepat Anya membuat kopi instannya dan berjalan untuk menutup tirai jendela belakang.
Namun, tiba-tiba seluruh lampu di rumahnya padam. Anya menjerit dan menjatuhkan gelasnya ketika petir menyambar dan suara gemuruh keras memekakkan telinga. Dia mundur menjauhi pecahan sembari menutup telinga dengan tangan.
Tidak! Tidak! Jangan di saat seperti ini!
Detak jantungnya berdebar hingga terasa sakit. Anya berusaha mengatur napas, tetapi sangat sulit ketika ketakutan menyergapnya dalam kegelapan pekat. Satu kilatan petir berkilat di luar jendela, memberi sekilas cahaya masuk ke ruang dapur yang sepenuhnya gelap.
Dari kilatan itu Anya bisa melihat seseoarang berbaju merah sedang berdiri di hadapanya. Anya menjerit lantang, tetapi tubuhnya langsung ambruk. Sekuat tenaga Anya menyeret tubuhnya menjauhi sosok itu. Matanya dipejamkan erat-erat saking takutnya. Wanita itu tengah menatapnya. Dengan matanya yang hitam dan mulut yang mengeluarkan darah.
Tanpa bisa dicegah isak tangis keluar dari mulutnya. Anya hanya diam meringkuk ketakutan tanpa bisa kemana-mana. Tubuhnya sulit sekali digerakkan. Sekarang dia hanya berharap lampu nyala kembali atau mendengar deru mobil om dan tantenya.
Bunyi ponsel yang berdering dan bergetar di lantai seolah jawaban atas minta tolongnya. Namun, Anya terlalu takut untuk sekedar melirik. Apakah sosok wanita merah itu masih berdiri di sana?
Tanpa berani membuka mata, Anya meraba lantai. Tangannya sangat gemetar ketika memegang ponselnya dan mendekap ke d**a sembari mencoba menarik napas. Panggilan itu berhenti membuat ruangan kembali hening hanya diisi suara derasnya hujan.
Suara isak tangisnya menggema di telinga sendiri. Anya menunduk dalam dan menggigiti kuku ibu jarinya. “Tolong,” isaknya putus asa. Dia sangat ketakutan. Suara ponselnya yang berdering lagi membuat Anya terlonjak kaget, tetapi buru-buru mengangkatnya. Oh, bahkan begitu sulit sekadar menggeser layar ponsel saja dengan jemarinya yang gemetar.
Anya hanya bisa terisak ketika mendegar seseorang memanggil berulang-ulang namanya di telepon. Sekuat tenaga Anya ingin teriak minta tolong dan meminta orang itu datang ke rumahnya, tetapi yang tersisa dari suaranya hanya kata tersengal-sengal di sela isakan, “Tolong … takut … wanita baju merah itu di sini ….”
Kilatan petir menyambar sekali lagi dan Anya menjerit keras. “Tolong!” jeritanya ketakutan. Kali ini dia mendengar langkah mendekat. Didorong sisa tenaga untuk menyelamatkan diri, Anya menarik tubuhnya bertopang pada meja dapur yang berat. Dia berlari sembari berteriak ke arah pintu belakang. Dengan gerakan terburu-buru yang serampangan menarik slot kunci dan pintu terbanting terbuka.
Dengan tungkai yang berbelit berusaha lari sekuat tenaga, tubuhnya malah tersandung dan tersungkur. Anya merangkak dan mencoba bangkit lagi. Dia berlari ke bagian depan rumahnya dan menarik pagar rumahnya hingga bisa menyelipkan diri keluar.
Di luar juga gelap. Semua rumah di sekelilingnya gelap. Tidak ada siapa pun di jalan. Hujan deras yang mengguyur membuat pandangannya buram, dengan cepat dunia terasa berputar. Anya jatuh terduduk. Bingung di mana dirinya. Dia butuh tempat yang terang dan keramaian. Satu-satunya yang bisa dipikirkan hanya ke mini market dekat rumahnya
Anya berpegangan pada pagar sebagai tumpuan agar bisa berdiri, lalu berjalan gontai menjauh dari rumah-rumah yang gelap. Suaranya teredam hujan deras dan telinganya seakan tuli. Bahkan pos satpam komplek saja terasa sangat jauh.
Kepalanya terasa berputar dan Anya memekik ketika langkahnya kehilangan pijakan, seperti terjatuh di selokan yang pendek. Anya masih terduduk ketika tangan seseorang mencengkeramnya dari belakang. Anya langsung berteriak keras dan memejamkan mata.
Dia tertangkap. Sosok itu menangkapnya. Salahnya karena tidak berlari cepat-cepat.
***
“Anya! Anya!”
Sekali lagi Bima mengguncang bahu Anya. “Anya!” Tangan gadis itu berusaha menipisnya. Bima merasakan tubuh yang gemetar. Mata Anya terpejam ketakutan.
Tangan Bima terpaksa menepuk ringan pipi Anya dan memegangnya erat. “Anya, lihat saya! Saya Bima.” Dia tertegun sejenak. “Anya! Kamu aman! Sst … tenang.”
Mata itu perlahan terbuka, menampakkan raut tidak percaya. “Ini saya. Bima! Kamu aman.” Bima mengusap wajahnya yang basah. Mereka duduk di tengah derasnya hujan. “Kamu kenapa?”
Bibir Anya gemetar, lalu berubah menjadi tangisan. Kedua tangannya mencengkeram lengan Bima seolah takut dia menghilang. “Gelap. Ada … ada wanita merah,” Anya berbicara tidak jelas di sela isak tangis.
Kepala Bima langsung menoleh ke arah pagar rumah Anya. Menatap dengan waspada. Dia tahu ada pemadaman listrik di daerah ini saat lewat barusan. “Apa ada orang asing di rumah? Maling?”
Gadis itu menggeleng panik. Jelas sekali ketakutan. Ada apa? Perlahan Bima memeluknya, mengelus punggung yang gemetar. Ini pertama kali dia melihat Anya yang begitu ketakutan sekaligus rapuh. “Anya, kamu aman sekarang.” Sebelah tangan Bima mengelus puncak kepala Anya. “Semua baik-baik aja.”
Setelah isak tangis itu mereda. Bima membawa Anya ke mobilnya. Menyalakan penerangan dan memberikan sebotol air. Awalnya Anya menolak, tetapi Bima memaksa minum sedikit. “Tunggu sebentar di sini ya.”
“Jangan!” Anya menarik tangan Bima yang hendak keluar. “Jangan pergi!”
Mata Bima menatap mata Anya. “Kamu aman di dalam sini. Kunci pintunya pas saya keluar. Sebentar aja, nggak akan lama.” Kali ini Anya tidak mencegahnya lagi.
Bima kembali hanya selang beberapa menit, sementara Anya yang di dalam mobil sudah lebih tenang. Tanpa kata Bima menyalakan mesin mobil dan mereka meninggalkan komplek rumah Anya. Selama perjalanan tidak ada yang berbicara. Tubuh mereka basah kuyup dan gemetar kedinginan. Bima berbelok ke arah apartemennya dan sampai ke basement. Dia turun dan membukakan pintu untuk Anya.
“Mau ke rumah teman kamu yang lain atau balik lagi ke rumahmu?” Bima menahan giginya yang gemeletuk. “Seenggaknya di tempat saya ada jahe merah dan baju kering.”
Anya mendongak menatap Bima dari kursinya, lalu turun dari mobil. Tidak ada yang bicara sampai masuk ke apartemen. Lampu otomatis menyala ketika menempelkan kartu ke panel. Laki-laki itu bergegas mengambil beberapa handuk bersih. Satu dibelitkan ke tubuh Anya, satu handuk lagi untuk mengusap rambut yang masih meneteskan air.
“Kamu duduk di sini.” Bima menggiring Anya duduk di sofa. “Saya buatkan air jahe hangat.” Sembari mengambil handuk untuk dirinya sendiri, Bima pergi ke dapur.
Anya duduk diam, bingung dengan kondisinya. Dia mengggigit ujung handuk karena giginya gemeletuk. Anya menarik handuk dan semakin merapatkan handuk di bahunya. Dingin sekali. Suara hujan masih terdengar di balik jendela.
Terdengar suara denting sendok mengaduk, lalu Bima muncul membawa dua cangkir mengepul. “Ini.” Bima duduk di sebelah Anya yang meringkuk, menaruh cangkirnya sendiri untuk membantu Anya menyesap minumannya.
Setelah Anya bisa minum beberapa teguk, Bima menyerahkan gelas itu ke tangan Anya. “Lebih baik?”
Anya mengangguk dan menangkup cangkir yang hangat di telapak tangannya. “Makasih.” Lama dia hanya tertunduk diam. Kepalanya pusing hujan-hujanan sambil menangis. Belum lagi tenaganya seolah terkuras habis karena ketakutan.
“Kenapa Om bisa ke rumah saya malam-malam?”
Bima menatap Anya sejenak, lalu mencoba bercanda. “Ngembaliin tupperware kamu,” kekeh Bima yang melihat dahi Anya mengernyit. “Tadi siang kan saya janji mau balikin malam ke rumah kamu. Habis ngomel mulu kayak mau dicuri.”
Anya memaksakan senyum sembari menggeleng tak acuh. Dengan serius Bima menatap wajah Anya. Mata memerah habis menangis, hidung merah, dan bibir yang bergetar halus. “Kamu masih kedinginan.”
Bima pergi ke kamarnya untuk mengambil selimut. “Sini handuk basahnya. Ini lebih nyaman.” Bima menyampirkan selimut di bahu Anya. “Saya ganti baju sebentar. Kamu pinjam baju aja, nanti saya antar pulang.”
Pakaian kering membuat Bima lebih nyaman. Dia terbatuk pelan karena kondisinya juga baru pulih. Bima segera meminum satu tablet vitamin, lalu mengambil kaos dan celana training untuk dikenakan Anya. Keluar kamar sembari membawa pakaian kering. “Kamu mau nelepon Tan ….” Langkah Bima berhenti ketika mendapati Anya sudah tertidur dengan duduk meringkuk.
Menaruh pakaian itu di meja dan mengguncang pelan bahu Anya untuk membangunkan. Tidak ada tanggapan. Samar-samar napas Anya terdengar terengah, telapak tangan Bima menyentuh dahi Anya yang terasa lebih hangat. Gadis itu mulai demam. Dia membaringkan tubuh Anya di sofa agar lebih nyaman dan menyelimuti lagi.
Bima duduk di meja, menghadap Anya dan membuang napas panjang. Kepalanya menunduk memeriksa panggilan telepon terakhir adalah kontak Anya. Tadinya Bima baru setengah perjalanan ke rumah gadis itu ketika hujan deras turun. Namun, jawaban Anya di telepon membuatnya sampai bingung dipenuhi antisipasi. Bahkan tidak disangka menemukannya dalam kondisi seperti itu.
Saat dia meminta Anya menunggu di mobil, Bima memeriksa kondisi rumah bersama satpam. Mereka masuk lewat pintu samping yang terbuka, tetapi tidak menemukan siapa pun dan kejanggalan lain.
“Sebenarnya ada apa?” gumam Bima kepada Anya yang tertidur. “Sekarang mesti apa?”
***
Anya mengerang dan menggerakkan tubuh. Dia mengguling tubuh menjadi tengkurap di kasur yang empur, seprai yang nyaman, dan sarung bantal yang wangi parfum laundry. Hidungnya menghirup udara banyak-banyak. Nyaman sekali. Bahkan kamarnya tidak akan senyaman dan sewangi ini.
Tiba-tiba matanya terbuka lebar. Sontak Anya langsung mengangkat tubuhnya ke posisi duduk. Pandangannya menatap sekeliling. Jantungnya bertalu keras ketika sepenuhnya sadar bukan berada di kamarnya.
“Hah?” Anya meraba panik baju kebesaran yang dipakainya. ““Ini di mana? Kamar siapa? Semalam berbuat apa?
Anya mengambil bajunya yang disampirkan di kursi. Memeluknya erat dan membuka pintu.
Bima menaburkan lada di atas makanannya. “Kamu oke?” Tangannya menepuk meja di sisinya ketika Anya muncul. “Duduk sini.”
Anya bingung menjelaskan situasinya semalam, lalu bertanya-tanya apa yang terjadi setelahnya. Dia tidak ingat apa-apa lagi setelah menaruh cangkir jahe panas di meja. Menginap di apartemen laki-laki pasti hal yang salah. Anya menahan erangan.
“Jadi, mau berdiri di situ seharian atau sarapan? Ada sup jamur sama salad sayur.”
“Anu ...,” Anya menggaruk lehernya dan mengusap wajah. “Semalam saya tidur di kamar, Om tidur di mana?” Anya mengikuti arah pandang Bima yang mengedikkan dagu ke arah sofa di ruang tengah. Kali ini Anya mengusap bajunya dan mengigigit bibir bawah. “Kalau yang gantiin baju saya siapa?” Anya menatap waspada sekaligus malu. Wajahnya terasa panas ketika bertanya.
Bima berpikir sejenak, lalu memilih bersikap tak acuh. “Ehm, siapa lagi?” jawabnya enteng.
Mulut Anya menganga. “Jadi semalam yang gantiin baju …,” Anya kesulitan menjelaskan, meneguk ludah yang terasa seperti bongkahan. “yang gendong ke kamar itu …. Om?”tanyanya penuh kengerian.
Bima meraih kopinya, seoalah tidak menyadari kepanikan Anya. Dia mengangkat bahunya. “Aku pria dewasa. Kamu mau tau rinciannya?” Bima tersenyum di atas cangkirnya.
“Dasar Om-om m***m!” Anya menyilangkan tangan di depan d**a. Buru-buru mencari sepatunya, lalu melemparkan bantal kursi ke meja makan, tetapi lemparannya tidak sampai ke ujung kursi pun.
“Ih, udah tua m***m pula!” Anya memeloto galak, meski harga dirinya terasa hancur. “Itu namanya ambil kesempatan dalam kesempitan.” Anya mengambil sepatunya dan lari terbirit-b***t keluar apartemen Bima.