26 Tanggung Jawab

1255 Kata
Anya merasa malu, tetapi juga menyedihkan. Gadis itu terbaring di ranjangnya yang berukuran besar dan bersprei putih. Sebentar-sebentar Anya menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Perlahan, dia mengubah posisi tidurnya, miring ke arah kanan. Tangannya terulur ke nakas hanya untuk tak memencet tombol on-off lampu tidurnya. Bisa-bisanya laki-laki yang belum tentu menjadi suaminya sudah melihat apa yang ada di balik bajunya, meskipun katanya laki-laki itu sudah dijodohkan dengannya. Namun, tetap saja Anya merasa tidak ada yang benar. Anya menghentikan gerakan tangannya, lalu mengacak rambutnya frustrasi seraya mengerang pelan. Gadis itu menatap langit-langit dengan mata nyalang. Pikirannya kacau. Hatinya tidak tenang. "Kenapa?" gumam Anya merana hampir menangis. "Apa? Aku harus apa sekarang?" Merasa buntu, Anya menendang-nendang angin. Merasa kesal sendiri, lalu dia menyelimuti seluruh tubuhnya. Dari balik selimutnya, gadis itu memejamkan mata, mencoba untuk tidur. Pikirnya, dengan tidur semuanya akan terlupakan begitu saja. "Anya." Panggilan dari tantenya serta suara ketukan beberapa kali membuat mata Anya terbuka. Gadis itu bergeming. "Anya, makan dulu. Sudah ditungguin Om. Hp kamu nggak aktif, ya?" Tidak ada jawaban. Anya mengeratkan selimutnya agar sempurna menutupi tubuhnya. "Anya, kamu sudah tidur?" Masih tidak ada jawaban. "Tante dobrak pintunya, ya?" Anya membuka selimut dan terduduk langsung. "Aku habis dari toilet," bohong Anya, sedikit mengeraskan suaranya. Ada jeda sebentar untuk gadis itu menghela napas panjang dan mengembuskannya cepat. "Bentar lagi nyusul." "Cepetan!" "Iya, Tante, iya," sahut Anya seraya memutar bola matanya malas. Gadis itu meranjak dari ranjang. Sebelum keluar kamar, Anya menyempatkan diri untuk bercermin. Wajahnya terlihat kusut, rambut berantakan begitupun dengan hatinya yang perlu ditata ulang. Gadis itu mengerutu, lalu mendesah panjang sambil menepuk-nepuk pelan pipinya, berjalan keluar kamar. "Om perhatiin, kamu di kamar terus seharian ini. Kamu nggak bosen?" tanya Om Dedi. Anya hanya bergumam tidak jelas, lalu duduk di kursi makan. Gadis itu terlalu tidak ingin menjelaskan apa yang terjadi kepadanya. "Gimana keadaan restoran?" tanya Om Dedi lagi seraya menatap keponakannya itu. "Begitu aja," jawab Anya tanpa menatap lawan bicaranya. Tante Sinta melirik keponakannya sebentar sebelum mengambil nasi untuk suaminya. "Anya boleh nanya serius nggak?" Anya menatap tante dan om-nya secara bergantian dengan tatapan paling serius. Kening Tante Sinta mengerut heran. "Mau tanya apa?" "Om sama Tante nggak serius jodohin aku sama Bima, kan?" tanya Anya tanpa pikir panjang. Jantung gadis itu mendadak berdetak lebih kencang saat menunggu jawaban mereka. "Kenapa tanya begitu?" Tante Sinta balas bertanya. Mati-matian Anya tidak memutar bola matanya karena merasa sebal dengan pertanyaannya yang dijawab dengan pertanyaan pula. Gadis itu sok merasa biasa saja, lalu mengangkat bahu cuek. "Ya ... hanya ... aku penasaran sekaligus heran aja," jawab Anya sekenanya. Tante Sinta dan Om Dedi hanya menatap Anya. Cukup lama. "Kalau serius, kenapa aku nggak pernah ketemu dengan orang tuanya Bima?" lanjut Anya. Tante Sinta tersenyum kecil. "Oh ... kamu ingin ketemu orang tuanya Bima?" "Ya ... nggak juga." Anya cengengesan tidak jelas. "Kalau kamu udah nggak sabar pengin dilamar secara resmi, nanti Tante bilang," kata Tante Sinta. "Nggak, nggak," jawab Anya panik seraya menggoyangkan kedua tangannya. "Nggak gitu maksud Anya." "Sudah, sudah," ucap Om Dedi. "Kita makan dulu aja. Bahas lamarannya nanti aja. Anya menunduk seraya meringis mendengar ucapan om-nya. Dia hanya ingin sedikit lebih tahu saja tentang nasibnya, bukan berarti beneran mau dilamar oleh laki-laki yang katanya sudah dijodohkan dengannya. *** Ponsel Anya berdering. Namun, gadis itu mengabaikannya begitu melihat id yang terpampang jelas di layar benda pintarnya itu. Entah sudah berapa kali Bima menghubunginya. Jelas Anya tidak akan mengubrisnya. Dia belum siap bersinggungan dengan laki-laki itu dalam waktu dekat ini. Anya butuh waktu agar ketika melihat Bima hanya ada perasaan biasa saja. Sampai kapan? Anya sendiri tidak tahu. Gadis itu sudah sangat malu sampai menyalahkan diri sendiri dengan kata 'seandainya saja waktu itu ....' "Anya." Mendengar namanya dipanggil, refleks Anya mengangkat wajahnya. Untuk beberapa detik, Anya hanya terbegong. Begitu sadar, tangannya yang sedang memegang serok tergelincir, membuat gadis itu panik sendiri. Entah panik karena adonan kuenya tercecer berantakan atau panik karena ada Bima di dekatnya. "Wo, wo, wo, rileks, Anya," ucap Bima melihat kekacauan di depan matanya. "Shiiiiit!" umpat Anya pelan seraya mencopot sarung tangan dari plastik, lalu memijit keningnya yang mendadak pening. "Kamu, oke?" tanya Bima hati-hati. "Oke," jawab Anya jutek tanpa menatap Bima. Gadis itu melengos pergi, meninggalkan aktivitasnya yang tadinya sedang menyibukkan diri membuat kue di dapur restorannya. "Kamu menghindari saya?" tanya Bima to the point. Langkah Anya terhenti, keningnya mengerut dalam. "Apa karena kejadian waktu ...." "Nggak!" potong Anya cepat seraya membalikkan badan untuk menatap Bima. "Saya nggak ngehindari Bapak." "Kamu memang menghindari saya, Anya," ucap Bima. "Dibilangin nggak kok ngeyel!" seru Anya, lalu mendengkus keras. Dadanya naik-turun menahan emosi. Dalam hati, Anya ingin menangis, tetapi tidak mungkin terjadi di depan laki-laki yang telah membuat hari-harinya tidak damai. "Saya nggak pengin ini berlarut," ucap Bima. "Malam itu ...." "Nggak!" sela Anya dengan menaikkan suaranya, membuat pegawai restorannya yang lain mencuri-curi pandang padanya, meskipun Anya tidak menyadari itu. "Bapak jangan bahas yang nggak-nggak deh," kata Anya. "Nggak ada waktu itu, malam itu. Jangan bikin saya tertekan." Anya memijit kepalanya yang semakin berdenyut. Hatinya terasa panas seperti tersambar api. "Saya nggak maksud buat ...." "Oke!" potong Anya, menganggukkan kepala sekali dengan tegas. "Gara-gara malam sialan itu saya jadi nggak bisa tenang. Saya terus kepikiran. Bapak benar-benar bikin saya seperti kapas yang tersiram air. Lemas, Pak. Gemeter nih sebadan-badan. Ngerti, nggak? Bapak ngerti nggak?" Pak Daffa dan Hani saling berpandangan penuh arti begitu mendengar apa yang diucapkan oleh bos kecilnya itu, sementara Bima menelan ludahnya susah payah. Kenapa gadis itu memilih kata-kata yang sangat ambigu didengar oleh telinganya. Bima menangkap tatapan Pak Daffa dan Hani yang seketika mereka langsung menyibukkan diri. "Ternyata pilihan yang salah," gumam Bima, lalu meringis pelan. "Apa?" tanya Anya. "Bapak bilang apa?" "Nggak, kamu tuh ...." "Tanggung jawab!" sela Anya tegas. "Bapak harus tanggung jawab. Pokoknya! Saya nggak mau tahu!" Suara nampan jatuh yang sangat mengganggu, membuat Anya menolehkan kepalanya cepat. Gadis itu mengedipkan mata begitu tahu bahwa dia seharusnya membutuhkan tempat privasi. Hani menyengir kaku. Dia meraih nampan yang tidak sengaja dijatuhkannya, lalu mengelapnya asal dan pura-pura sibuk lagi dengan kerjaannya. Merasa sudah kepalang tanggung, Anya bersikap bodoh amat, meskipun jantungnya tidak bisa diajak kompromi. Organ sialan itu malah berdetak lebih kencang daripada biasanya. "Anya, dengerin saya dulu, oke," kata Bima. Anya menggeleng. "Nggak. Bapak harus tanggung jawab. Bapak udah lihat yang seharusnya nggak boleh. Sekarang, Bapak ke kantor polisi, menyerahkan diri sudah melakukan tindakan c***l sebelum saya melaporkan Bapak!" Bima mengetatkan rahang untuk menghalau makian yang akan keluar dari mulutnya. Kemudian laki-laki itu menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan untuk menetralkan emosinya yang sempat mengelegak. Bima berdecak pelan sambil geleng-geleng kepala. Laki-laki itu merasa malu dan harga dirinya jatuh di dasar jurang paling dalam. "Dengerin ya, Bu Anya ..., malam itu," Bima mengangkat tangan sebagai isyarat untuk Anya agar tidak memotong ucapannya. "Office girl. Yang bantu gantiin baju kamu." "Hah?" Hanya itu yang keluar dari mulut Anya. Pak Daffa dan Hani saling berpandangan, lalu keduanya menyingkir lebih jauh karena merasa tidak ada hal penting lagi yang harus didengar. Semua yang terjadi hanya kesalahpahaman semata. "Iya, yang gantiin baju kamu, office girl di apartemen saya," jelas Bima. "Saya belum lihat apa yang nggak boleh dilihat, asal kamu tahu aja." Hening kemudian. Ada jeda yang membuat Bima dan Anya hanya saling menatap dalam diam. Anya melihat kesungguhan di mata Bima, membuat gadis itu sedikit gelagapan karena sudah berkata yang tidak-tidak. Anya meringis, lalu menutupi wajahnya dengan satu tangan "Oh, Gusti, malu banget astaga." Tanpa pamit, Anya pergi begitu saja. Meninggalkan Bima sendiri yang diam-diam tersenyum melihat tingkah gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN