Bima menatap layar ponselnya yang mati saat panggilan telepon terputus tiba-tiba. Beberapa kali dia menekan tombol daya, tapi percuma. Ponselnya malah kehabisan daya di saat situasi sedang genting.
Ada masalah cukup serius pada salah satu cabang kafenya di Bogor. Oven listrik meledak. Kebakaran karena konsleting listrik tak dapat dihindari. Untung saja, tidak terlalu parah. Bima menghela napas sambil memijat pelipisnya. Meski tidak ada korban jiwa, tapi dua karyawannya menderita cidera lumayan berat di tangan hingga wajah. Dan sialnya, saat manager kafe menjabarkan detail kejadian, ponsel Bima malah mati.
"Bos, sudah dengar kabar dar—" Bibir Hikam spontan mengatup saat melihat Bima tampak gusar. Tanpa penjelasan, Hikam sudah mendapat jawaban. Bisa dipastikan dari mimik wajah Bima. Lelaki itu sibuk memelototi layar ponsel yang sedang diisi daya.
"Nggak bisa begini. Aku harus ke sana."
"Mau ditemanin? Atau bareng supir?"
"Sendiri aja. Jakarta - Bogor kan dekat. Masa harus ditemanin."
"Bukan masalah dekat atau nggak, tapi kamu masih syok. Yakin bisa nyetir dengan fokus? Apalagi setelah tau ada 2 karyawan yang jadi korban. Pasti bakal kepikiran tuh sepanjang jalan."
Langkah Bima terhenti. Tangannya mengepal.
"Mending bareng Pak Cipto aja. Kebutuhan dapur juga masih full. Kalau urusan delivery, ntar gampanglah bisa diatur. Jadi Pak Cipto nggak sibuk-sibuk amat di sini.”
Sejenak Bima tercenung. Ucapan Hikam ada benarnya. Tak mungkin dia bisa fokus menyetir di saat seperti ini.
Laki-laki itu tahu benar bagaimana kerasnya jadi karyawan. Kerja siang malam, tapi gaji tetap pas-pasan. Biarpun Bima terlihat cuek di luar, tapi Bima tidak pernah mengabaikan satupun keluhan karyawannya. Terlebih sekarang, karyawannya terluka di tempat kerja.
Pernah suatu hari, istri karyawannya sedang melahirkan. Dengan senang hati, Bima datang menengok. Padahal saat itu dia baru pulang dari perjalanan bisnis luar kota.
Banyak orang yang beranggapan bahwa investasi terbaik hanyalah berupa saham, emas, properti maupun surat berharga. Namun, bagi Bima, investasi yang paling berharga adalah karyawan-karyawannya.
Berawal dari kedai kopi biasa yang ditekuni hanya berdua dengan Hikam, kini Bima memiliki ratusan karyawan yang tersebar pada 5 cabang kafenya. Aset berharga yang harus baik-baik dia jaga.
Membangun bisnis tidak semudah yang biasa orang pikirkan. Perlu waktu, tenaga serta modal yang besar. 12 jam sehari. 7 hari seminggu. Tak kenal lelah. Tidur teratur selama 8 jam saja sudah jadi hal yang mewah.
Banyak orang yang memilih menyerah setelah berhadapan dengan kegagalan. Bangkrut tak dapat dihindari karena sebagian besar alasan ingin berbisnis hanya didasarkan pada asumsi pribadi dan keinginan sementara. Tidak didukung pemahaman, pengetahuan terlebih lagi pengalaman.
Berbeda dengan Bima. Sejak sekolah, dia memilih menghabiskan waktu luang dengan bekerja. Jika remaja lain memilih rebahan saat liburan tiba, Bima malah berkutat dengan segala profesi yang berbeda.
Jadi kurir antar makanan pernah, kurir antar paket juga pekerjaannya selama kuliah, pelayan di rumah makan, tukang cuci piring sampai jadi pegawai cuci mobil pun dia kerjakan. Semua itu dia lakukan demi mencari pengalaman dan pengetahuan.
Hingga akhirnya, dia dipercaya menjadi kasir dan bertanggung jawab mengelola keuangan di rumah makan, tekad Bima terus berkobar. Tidak kenal lelah untuk mempelajari ilmu manajemen keuangan. Seiring berjalannya waktu, Bima melihat aktivitas keuangan yang di ambang batas normal. Permainan orang dalam, membuat rumah makan itu berada di ambang kehancuran.
Kendati demikian, Bima tak kehabisan akal. Ilmu dari buku-buku yang dia baca diyakini berguna untuk dirinya. Dan benar saja, setelah diberi kepercayaan penuh, Bima berhasil membuat rumah makan itu bangkit lagi.
Di mulai dari merencanakan struktur modal yang harus bisa diseimbangkan dengan anggaran yang dimiliki serta dana yang dipinjam sana-sini. Lalu merestrukturasi karyawan terutama yang melakukan penggelapan dana. Hingga promosi yang terang terangan dia lakukan dengan menyebar selebaran dan menempel flyer di setiap sudut jalan.
Bima percaya, perencanaan keuangan yang tepat akan mampu memaksimalkan keuntungan yang di dapat dalam waktu jangka panjang asalkan pengelolaannya tetap berpegang pada standar akuntansi yang ada.
“Mau pergi sekarang, Pak?” Suara Pak Cipto membuyarkan pikirannya.
Setelah memperbaiki posisi duduk dan merapikan kerah kemeja, Bima mengangguk. Memberi titah agar mobil segera melaju menuju Bogor. Kota kelahirannya sekaligus kota pertama tempatnya memulai usaha.
“Lewat Jagorawi aja, kan, Pak?” Pak Cipto bertanya sambil melirik Bima dari kaca spion tengah.
Bima hanya mengangguk. Matanya belum beranjak dari layar ponsel. Harap-harap cemas jelas terlihat dari rautnya. Sesekali Bima melepaskan embusan napas yang berat lalu menopang wajah dengan kedua telapak tangan.
“Semoga aja nggak ada keadaan yang serius di kafe, ya, Pak,” ucap Pak Cipto. Mencoba menenangkan Bima walau tidak berefek sama sekali.
“Saya nggak peduli dengan seberapa kacaunya keadaan kafe asal karyawan saya nggak ada yang terluka,” jawab Bima dengan tatapan kosongnya.
“Ya, kita sambil doa aja, Pak. Semoga cideranya tidak parah,” ucap Pak Cipto lagi. Masih melirik Bima dari spion tengah, Pak Cipto melanjutkan, “Saya kagum sekali dengan Pak Bima. Di saat bos-bos lain yang pasti bakal memikirkan nasib kafe ketimbang karyawan, tapi Pak Bima beda. Itu yang bikin saya kerasan hampir 7 tahun kerja bareng Pak Bima. Bapak selalu mengutamakan kesejahteraan karyawan.” Pak Cipto menutup kalimatnya dengan acungan jempol. Terlihat Bima mengulas sedikit tawa dan Pak Cipto bernapas lega.
Hampir satu jam berlalu. Musik klasik yang mengalun dari pengeras suara mobil tak membuai Bima sama sekali. Matanya tetap awas menilik ponsel yang digenggam dengan erat. Tikungan dia rasakan tanpa respons sedikitpun. Jarak pandang yang terbatas karena tembok pemisah jalan semakin memperpendek pandangan Bima.
Mobil melaju dengan momentumnya sendiri, kecepatan mobil meningkat perlahan. Biasanya, pengendara lain akan terbuai memacu laju kendaraan melebihi batas maksimal. Untung saja, Pak Cipto tidak demikian. Laki-laki paruh baya itu lebih mengutamakan keselamatan ketimbang kecepatan. Hal itu juga yang membuat Bima nyaman duduk di belakang kemudi Pak Cipto.
Setengah jam kemudian, Bima tiba di rumah sakit tempat karyawannya dirawat. Bukannya memeriksa keadaan kafe yang lumayan rusak parah karena kebakaran, Bima lebih memilih melihat keadaan karyawannya lebih dulu.
Sebelas tahun lalu, Bima pernah mengalaminya. Kecelakaan kerja yang membuat kakinya cidera. Alih-alih mendapat bantuan finansial serta dukungan moril, Bima malah dipecat. Cidera kaki tak mungkin dapat membuatnya bekerja sebagai kurir antar paket, kata bosnya. Masuk akal, tapi tidak berperikemanusiaan.
Hampir satu bulan Bima mengurung diri di kamar. Kadang menyesali perbuatannya karena mengabaikan protokol keselamatan. Kadang juga memaki diri sendiri dengan kata-kata kasar. Namun, untung saja Hikam masih ada di sisinya. Teman seperjuangan dari zaman mengais seribu rupiah, hingga kini beromset puluhan juta.
Bima mengembuskan napas berat saat tahu salah satu karyawannya mengalami cidera cukup parah. Separuh wajahnya terkena percikan api yang mengakibatkan melepuh hingga mata sebelah kiri. Untung saja kebutaan dapat dihindari. Sedangkan karyawan lain mengalami luka bakar ringan di kedua tangan.
Bima datang dengan wajah cemas. Namun, senyum dan sapaan sopan karyawannya membuat Bima sedikit tenang. Setelah berbincang menanyai keadaan serta mendapat kronologis kejadian, Bima pamit pulang.
“Terima kasih banyak, Pak.” Keluarga dari salah satu karyawannya menggenggam tangan Bima saat dia hendak berpamitan.
“Terima kasih untuk apa, Bu?” tanya Bima sambil menepuk-nepuk punggung tangan wanita tua di hadapannya.
“Terima kasih, tidak menuntut anak saya karena kelalaian kerjanya. Terima kasih karena tidak meminta ganti rugi kepada keluarga kami dan terima kasih banyak—” Wanita tua itu terisak, punggungnya naik turun. “Karena tidak memecat anak saya,” lanjutnya diikuti air mata.
Bima terenyuh. Ketakutan akan bayang-bayang ganti rugi, pemecatan serta penuntutan lebih mereka khawatirkan ketimbang keadaan korban. Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin begitu istilahnya.
Bima tersenyum tulus sambil mengusap bahu ibu dari karyawannya.
“Lebih baik sekarang ibu khawatirkan keadaan anak ibu dulu. Tidak perlu khawatirkan masalah lain. Fokus dengan kesembuhan putra ibu. Masalah kerugian dan lain-lain nanti kita cari solusinya bersama saat keadaan sudah membaik dan putra ibu sudah kembali pulih.”
Ucapan Bima bagai oase di tengah gurun pasir. Wanita tua itu terus terisak lalu duduk bersimpuh di hadapan Bima sambil puluhan kali mengucap terima kasih untuk Bima dan Sang Maha Pencipta.
***
Setelah keluar, Bima langsung menuju mobilnya yang terparkir di depan lobi rumah sakit.
“Kita lanjut ke kafe, ya, Pak,” titah Bima yang dibalas anggukan pelan pak Cipto.
Lamunan Bima usai saat ponselnya bergetar. Mode silentnya masih aktif karena habis mengunjungi rumah sakit. Diliriknya nama penelepon di layar.
“Hikam,” ucapnya pelan.
“Gimana keadaan di sana, Bos?”
Bima memijat pelipisnya. “Aman. Sudah terkendali,” jawabnya singkat. “Oven listrik yang meledak. Dua karyawan terkena luka bakar. Lumayan serius, tapi masa kritisnya sudah lewat,” lanjut Bima setelah jeda tarikan napas panjang.
“Beneran nggak ada korban jiwa, ‘kan?”
“Iya. Syukurnya sih nggak ada. Tadi aku sudah ngunjungin dua karyawan itu di rumah sakit. Tagihan rumah sakit dan biaya perawatan keseluruhannya juga sudah dilunasi.”
“Tapi ... kamu nggak apa-apa, kan, Bim?”
“Ya nggak apa-apa. Emang aku kenapa?”
Hikam tertawa di sebrang telepon. “Ya habisnya nggak bisanya aja kamu ngejelasin panjang lebar begini. Aku kira, kepalamu ikut terantuk tembok.”
“Sialan!” Tanpa kalimat penutup, Bima mematikan telepon. Bima yakin seratus persen, Hikam sedang mengejeknya di sana.
Perlahan mobil berhenti karena lampu merah. Fokus Bima jadi teralih pada remaja laki-laki yang sedang berjualan minuman di depan minimarket dekat lampu merah. Tanpa sadar Bima tersenyum lalu menggeleng pelan.
“Belok ke mini market itu dulu, Pak. Saya mau beli minum,” titah Bima sambil menunjuk arah minimarket yang dimaksud.
Setelah lampu hijau menyala, Pak Cipto segera memutar stir dua kali ke arah yang dituju. Mobil melambat saat memasuki pelataran ruko minimarket. Momen itu dimanfaatkan Bima untuk mencari remaja laki-laki yang tadi menyita atensinya.
“Itu dia,” ucap Bima pelan lalu bergegas menuruni mobil.
“Mau beli minum, Bang?” tanya remaja laki-laki di hadapannya. Baju kaos lusuh dengan celana pendek yang sudah berubah warna mengingatkan Bima pada sosoknya di masa lalu saat mengais rupiah. Namun, untung saja Bima tidak semenyedihkan itu. Orang tua angkat yang mengasuhnya masih memberikan pakaian layak meskipun Bima sering menolak karena hatinya tak enak.
“Udah lama jualan di sini?” Bima mulai bertanya sembari memilah-milah minuman yang akan dibelinya.
“Mulai pagi, Bang.”
“Rame?”
“Sepi.”
“Ya kalau sepi kenapa nggak cari tempat lain?”
“Udah 4 lampu merah yang saya datangin mulai pagi, Bang,” jawabnya. Bima terenyuh.
“Masih sekolah?”
Remaja itu menggeleng. “Putus sekolah tahun lalu di kelas 2.”
“Karena biaya?” tanya Bima.
Remaja laki-laki itu terdiam sesaat. “Ibu saya sakit. Nggak ada yang ngurus ibu dan adik saya di rumah.”
“Loh, sekarang ini malah jualan. Yang ngurus ibu dan adik siapa?”
“Ibu sudah meninggal. Adik saya titipkan ke tetangga,” jelasnya singkat. Tak ada kepedihan dari wajahnya, keadaan memaksa hatinya harus jadi sekuat baja.
“Ini uangnya, kembaliannya simpan aja.” Bima memberi dua lembar uang seratus ribuan lalu mengambil tujuh kaleng minuman bersoda.
“Kebanyakan, Bang.”
“Nggak apa-apa. Ambil aja. Nanti jangan lupa beli masker. Kamu juga harus jaga kesehatan. Inget!”
Remaja laki-laki itu mengangguk semringah. Begitupun dengan Bima. Dia berjalan ke arah mobil dengan senyum mengembang di wajahnya.
***
Garis polisi terpasang mengelilingi kafe Bima. Protokol kesehatan seperti diabaikan karena masyarakat lebih antusias menjadi wartawan dadakan. Mulai dari memasang status terbaru hingga melakukan siaran langsung di media sosial.
Arifin, manager kafe menyambangi Bima. Dia menunduk lesu sambil menjelaskan kronologis secara runtut. Sudah diyakini, semua murni kecelakaan. Oven listrik meledak karena korsleting arus pendek. Ditambah dengan kompor yang menyala tak jauh dari oven.
Ledakan yang cukup kuat membuat satu karyawannya terpental. Sedangkan satu karyawan lain malah ikut terbakar di tangan saat berusaha memadamkan api dengan kain basah. Untung saja petugas pemadam kebakaran datang tak terlalu lama. Api tak sampai menyebar ke ruang utama. Namun, cukup menghanguskan dapur serta sebagian peralatan di dalamnya.
Meski kerugian di tafsir hingga puluhan juta karena 40 persen bangunan dapur rusak parah, Bima tetap mencoba tenang. Untung saja Bima selalu mendaftarkan asuransi yang dapat memberikan perlindungan komprehensif bagi bisnisnya.
“Karyawan diliburkan saja dulu untuk beberapa hari kedepan sampai pemeriksaan polisi selesai dan renovasi dilakukan.”
Pak Arifin mengangguk. Keduanya lalu berjalan beriringan menuju meja di tepi jendela. Bima tampak tercenung sedangkan pak Arifin memasang raut wajah bersalah.
“Oh, ya. Kemungkinan saya akan stay beberapa hari di sini. Sampai penyelidikin polisi selesai. Ada hal lain yang harus saya lakukan juga di sini. Jadi, hubungi saya jika ada apapun yang terjadi. Beritahu saya setiap detailnya”
“Kalau begitu, mau saya carikan penginapan terdekat, Pak?” tanya Pak Arifin.
Bima hanya mengangguk sambil menatap langit kota Bogor dari balik jendela kaca kafe. Ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Karena kembali ke Bogor seperti mengorek luka lama.
***
Tiga hari terasa lambat berlalu. Setelah penyelidikan polisi resmi ditutup, Bima memutuskan kembali ke Jakarta. Perjalanan cukup panjang dan melelahkan dia tempuh. Memeriksa satu persatu cabang kafenya, Bogor, Tanggerang hingga Bandung lalu kembali lagi ke ibukota.
“Mampir di minimarket depan ya, Pak. Saya mau beli kopi dulu,” titah Bima lalu menyimpan ponsel serta gadget lainnya ke dalam tas. Mobil menepi perlahan.
Saat Bima hendak memasuki minimarket, hal konyol terjadi. Dia melihat seorang wanita berusaha mendorong pintu kaca berkali-kali, tapi tak kunjung terbuka. Dengan wajah tenang tanpa dosa, Bima membukaan pintu untuk wanita itu.
“Pintunya yang ini, Mbak. Bukan yang itu.”
Saat mereka saling memandang, Bima terdiam. Tak disangka, Anya yang berdiri tepat di hadapannya. Setelah kesalahpahaman yang terjadi baru-baru ini, Anya seperti menghindari Bima. Suasana canggung sangat terasa.
“Kamu jadi masuk atau nggak? Nih saya sudah bukain pintunya,” tanya Bima. Sedangkan Anya hanya menyelonong masuk tanpa suara.
“Kamu nggak apa-apa, ‘kan? Baik-baik aja, ‘kan?”
Anya mengangguk dua kali. “Iya, saya baik-baik aja, Pak.”
“Ini sudah jam 10 malam, lho. Nggak baik perempuan keluar sendirian. Ibukota bukan tempat yang aman, Nya.”
Anya geming. Ditaruhnya kembali beberapa bungkus mie instant yang sedari tadi dia lihat berkali-kali, lalu berbalik menatap Bima. “Dekat-dekat sama Pak Bima tuh yang nggak aman! Lagian Bapak ngapain sih ikutin saya terus. Mau beli pembalut juga? “
Bima menggeleng cepat. “Tapi kan ini tempat mie instant?”
Anya menghela napas. “Ya saya jadi nggak bisa nyari pembalut karena Pak Bima ngikutin saya terus!”
Selesai sudah pertahanan Anya. Mulutnya tidak bisa direm lagi. Beberapa pelanggan lain sontak menatap Anya lalu cekikikan sendiri.
Anya meniup poni karena kesal. “Terus kok tumben Bapak malah belanja ke sini? Ini kan daerah rumah saya. Jauh banget dari kafe ataupun apartemen Pak Bima! Bapak sengaja mau ngintilin saya? Mau macem-macem lagi sama saya?” cerocos Anya.
Gantian. Giliran Bima menghela napas. “Ini minimarket Anya! Saya ke sini karena mau beli sesuatu. Memangnya salah? Saya baru pulang dari perjalan jauh. Jakarta – Bogor – Bandung – Tanggerang balik ke Jakarta lagi. Dan ini minimarket pertama yang saya lihat setelah saya kehabisan persediaan minuman.”
Anya mengernyit. “Widih. Di saat orang lagi frustrasi dia malah jalan-jalan keliling kota!”
Sejenak Bima terdiam. Tangannya mengepal. Anya masih saja belum melupakan kejadian itu. Walau semua hanya salah paham.
“Kafe saya terbakar,” ucap Bima setelah emosinya mereda.
“What? Seriusan?” Anya terbelalak sambil menutup mulut yang menganga dengan satu tangan meski sudah tertutup masker.
“Seriusan, Pak?” tanya Anya lagi. Bima hanya mengangguk.
“Terus sekarang gimana?”
“Ya terbakar. Hangus. Gosong.”
“Bukan itu yang saya tanya. Pak Bima ... nggak bangkrut, ‘kan? Nggak mendadak miskin, ‘kan?”
Bima mendelik saat menaruh dua botol kopi kemasan di meja kasir. Dia menatap Anya yang berdiri tepat di sampingnya.
“Itu resiko bisnis. Maka dari itu, jangan lupa mendaftarkan aset bisnis ke asuransi.”
“Oh, jadi ada asuransi?” Anya manggut-manggut. “Syukurlah,” lanjutnya.
“Pembayarannya mau digabung, Pak?” tanya kasir minimarket.
Dengan percaya diri yang tinggi, Anya membenarkan. Dia ikut menaruh belanjaannya di meja kasir dengan semangat.
“Gabung aja, Mbak. Om-om ini nggak jadi bangkrut. Jadi dia pasti masih bisa bayarin belanjaan saya.” Anya cengengesan di depan Bima. Sedangkan Bima hanya geleng-geleng dibuatnya.
Setelah membayar belanjaan, Bima keluar duluan. Meninggalkan Anya yang masih sibuk membawa barang belanjaan.
“Mas-mas, kasihan nih pacarnya ditinggal. Tungguin napa,” celetuk ibu-ibu yang mengantre di belakang mereka.
“Ih, om-om itu bukan pacar saya, Bu! Enak aja!” protes Anya tak terima.
Tanpa kata, Bima berbalik. Menggandeng tangan Anya dengan tiba-tiba. Membantu membawa kantong belanjaan Anya. “Saya memang bukan pacarnya. Tapi saya calon suaminya.”
Kalimat penutup yang sukses membuat jantung Anya merosot. Sepertinya, yang konslet bukan hanya listrik di kafe Bima. Karena nyatanya, otak laki-laki itu lebih parah kerusakannya.