28.1 Car Free Day

1020 Kata
Pagi ini Anya menyempatkan jogging di Car Free Day Sudirman. Dia menyeka keringatnya dan meneguk setengah botol air. Napasnya masih sedikit terengah sehabis berlari-lari kecil sepanjang jalan. Anya duduk di dekat pot tanaman besar sembari menonton seorang anak perempuan yang sedang diajari menggunakan sepatu roda oleh ayahnya. “Dulu yang populer naik sepeda,” gumamnya. Handphone Anya berdering dan nama Alden tertera. “Kamu di mana?” “Sini, dekat simpang jalan ada tukang ketoprak. Bella mau makan itu.” Anya mencebik. “Halah, kalian tetap aja pacaran bukannya olahraga.” “Eh, jalan kaki keliling-keliling juga jalan kaki.” “Ya udah, aku nyusul.” Anya mengepruk sekali maskernya sebelum dipakai kembali. Karena merasa gerah, dia melepas jaket dan mengikatkannya di pinggang. Anya berjalan santai sambil mencari makanan apa yang cocok untuk sarapan paginya. Ketoprak bukan seleranya pagi ini setelah membakar kalori. Di dalam tenda kecil ketoprak dadakan pinggir jalan, Anya melihat Bella dan Alden duduk berseberangan. “Udah pesannya?” Anya menarik kursi di sebelah Bella. “Udah, lagi nunggu. Bentar lagi kayaknya. Kamu mau pesan?” Bella menggeser kursinya agar jarak mereka tidak terlalu dekat. Social distancing yang dipaksakan atau kentara dari hati. Anya tersenyum di balik maskernya sebelum menggeleng dan berkata, “Enggak, aku tadi beli bubur.” Anya menaruh bungkusan bubur dalam cup mika. Setelah ketoprak pesanan Alden dan Bella datang, mereka makan sembari mengobrol ringan. Alden memberitahu rencananya membuat pesta kecil-kecilan untuk ulang tahun mamanya. Dengan senang hati Anya akan membantu membuatkan kue dan menu makan malam. Bella juga sudah menyewa dekorasi untuk meja. Biasanya saat anggota keluarga sahabatnya itu merayakan sesuatu pasti Anya diundang. Ini Minggu yang santai. Matahari sudah semakin menyengat, mereka memutuskan pulang. Sehabis membersihkan diri, Anya duduk di ruang tengah menyalakan Tv. Hanya menonton sebentar karena tidak ada acara yang dia ikuti. Anya pergi ke dapur memeriksa isi kulkas, mengambil beberapa bahan makanan dan mulai memotong-motong sayur. Membuat makan sore untuk keluarganya lebih bagus ketimbang hanya menonton Tv. Tidak sampai satu jam, masakan Anya sudah selesai. Dia memasak cah kangkung dan bakwan goreng. Wadah kotor masih dibiarkan di tempat cuci piring, sementara itu Anya duduk di meja dapur melahap beberapa potong gorengan yang dicocol saus sambal. “Hmm … enak juga meski nggak pakai udang.” Anya meniup-niup gorengannya yang masih panas, memastikan tidak terlalu panas saat dilahap. Beberapa potong cemilan itu membuat moodnya naik. Anya mencuci piring dan membersihkan meja. Setiap Minggu juga dia selalu mencuci bajunya sendiri, berbeda sekali saat dulu keluarganya masih mempekerjakan asisten rumah tangga. Pakaiannya sedang dicuci di mesin cuci. Anya membaca buku resep dan menandai mana yang akan dibuatnya nanti. Sembari menuggu cuciannya selesai, Anya mulai menghitung bahan yang dibutuhkan untuk porsi 8 orang. Anya mengangkat wajah dari daftar bahan makanan yang sedang dibuatnya ke arah ruang tamu yang sepi. Om dan tantenya baru pulang. Belakangan ini mereka sibuk mengurus kasus penipuan berlian tantenya tempo lalu. Untung saja pelakunya sudah tertangkap dan akan diproses hukum. “Om, Tan, aku udah masak sayur buat makan. Mau makan sore atau malam?” Omnya menjawab sembari melepas sepatu, “Nanti saja, Om mau istirahat dulu.” Tante Shinta mengipasi dirinya yang kepanasan. “Jam 5 aja kita makan bareng. Tante mau mandi dulu, panas banget.” Anya mengangguk. Lagipula dia masih harus menjemur pakaiannya. Pukul empat lebih Tante Shinta memanggil. Anya turun dan duduk di meja makan. Mereka makan dengan tenang. Masakannya tetap enak meski sudah dingin. Tidak ada percakapan berarti sampai tantenya berkata, “Besok kamu udah mesti pulang jam 5. Kita mau pergi jam 7 dan kamu mesti ikut.” “Ke mana?” tanya Anya spontan. “Adalah, pokoknya kamu siap-siap aja dandan rapi.” Anya menahan pertanyaan di ujung lidah. Tidak biasanya dirinya diajak pergi. Tebakan Anya terkait hukum kasus penipuan itu. Dia hanya mengangguk enteng dan tidak keberatan datang. *** Kening Anya berkerut ketika dirinya baru pulang dari resto dan tantenya sudah menyerbu masuk ke kamar. “Aku nggak telat kan? Kemarin bilang jam 5 mesti udah pulang.” “Iya, tapi buruan siap-siap.” Tante Shinta menyerahkan dress sewarna daun cemara ke tangannya. “Nih, pakai ini! Tante udah siapin.” Kernyitan Anya berubah jadi tercengang ketika membalik gaun dan menatap potongan yang terbuka di punggung. “Kita mau ke pesta?” “Ini … ini―” Anya hendak memprotes, tetapi tantenya sudah mendorong-dorong tubuhnya agar cepat masuk ke kamar mandi. Tidak butuh waktu lama untuk dirinya mandi, tetapi lama sekali Anya menatap dress yang harus dipakainya. Pertama dia tidak suka warna hijau, tambah riasan blink-blink dirinya persis seperti pohon natal berjalan. Kedua, Anya tidak suka model gaunnya, meski tubuhnya bagus, tetapi bukan gayanya memperlihatkan lekuk tubuh. Selera tantenya memang payah. Anya turun dengan kesal karena seruan tantenya meminta cepat. Dress selutut berwarna hijau ini juga membuatnya tidak nyaman. Untung saja ada cardigan hitam berkilau yang cocok dengan gaun pesta. Jika tidak, Anya akan seperti Tinker Bell yang berlalu lalang dengan gaun terbukanya. Melihat raut tidak senang tantenya karena perubahan gaya bajunya, cepat-cepat Anya menyambar, “Pakai ini, atau aku nggak akan ikut?” Tatapannya lurus ke arah tantenya. Tantenya tampak ingin berdebat, tetapi menahannya. “Ya udah kita berangkat.” Anya tidak tahu akan pergi ke mana sampai mobil mereka berhenti di salah satu restoran mahal. Ini jelas melenceng jauh dari tebakannya semula. Angin malam yang dingin membuat Anya bergidik, refleks memeriksa roknya memastikan tidak tersingkap. Sembari mengikuti tantenya ke dalam, dia berbisik, “Tan, kita mau ngapain sih? Ketemu siapa?” Sepatu high heels Anya menyandung batu, untung tidak sampai membuat tubuhnya oleng. “Urusan bisnis?” Anya menahan makian karena tantenya hanya mendelik dan berjalan lagi tanpa menjawab. Om Dedy juga seperti terburu-buru memastikan bookingan meja mereka. Anya menatap sekeliling. Restoran ini bergaya rustik dipadukan tropis dengan gazebo kayu, tanaman-tanaman langsing yang menjulang, kolam ikan, taman bebatuan, dan suara jangkrik. Astaga! Malam ini bukan om dan tantenya kan yang bayar? Meskipun dirinya duduk di gazebo yang di bawahnya ada kolam ikan, Anya tidak bisa tenang ketika melihat daftar menu makanan mereka. Steik sapi pasti bukan sesuatu yang murah, apalagi di restoran sekelas ini. “Maaf terlambat.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN