28.2 Menolak Perjodohan

1056 Kata
Suara lembut nan berat itu membuat Anya langsung membalikkan badan. Dia tidak menyangka akan bertemu laki-laki itu secepat ini. Bima berpakaian kerja yang seperti biasa rapi. Laki-laki itu mendekat dengan gerakan luwes. Semuanya bertukar sapa ramah tamah, kecuali Anya yang tidak bisa berkata-kata. Dengan cepat makanan disajikan, padahal baru saja laki-laki itu menarik kursi di sebelahnya. Rasanya ada gumpalan pahit tertahan di tenggorokannya. Ada rasa dingin menjalari punggung Anya. Merasa terjebak karena jika Bima dan keluarganya bertemu sudah pasti ngobrolin perjodohan. Anya berdeham dan memaksa meneguk air. Anya tidak suka duduk di sini. Dia takut mendengar setiap obrolan atau dimintai pendapat. Potongan daging yang dimasukkan ke dalam mulutnya seperti batu, bahkan keras sekali memotongnya. Tangan seseorang terulur mengambil piringnya dengan mantap. “Biar saya bantu.” Bima tersenyum ramah ketika Anya mengangkat wajah menatapnya. Tanpa meminta persetujuan, Bima membantu memotong steik di piring Anya dan mengembalikannya kembali. “Gimana tekstur dagingnya?” tanya Bima lebih untuk ke semuanya. “Lembut dan nggak terlalu berlemak. Rasanya enak,” jawab Om Dedy. Bima menaruh pisaunya. “Ini tempat teman saya. Steik di sini sekelas bintang lima. Kalau Om dan Tante mau ke sini, kabari saja nanti saya booking lagi.” “Ooh … calon mantu Tante memang baik banget.” Senyum Bima masih mengembang, mengelap telapaknya dengan serbet. “Sebentar, saya ke toilet dulu.” Dia berdiri dari kursinya dan melangkah pergi. Gemeletuk dari kerikil yang terinjak semakin cepat di belakangnya. Bima yakin seseorang mengikutinya. Benar saja sebelum dirinya mencapai pintu, tangannya ditarik. Bima langsung menoleh dan mendapati Anya berdiri di depannya. “Pak, saya mau sebentar,” ucap Anya sedikit terangah. Bima menurut ketika dibawa ke balik pohon semak yang membatasi dengan area toilet resto. “Pak Bima yang bikin acara ini?” Spontan Bima menggeleng. Anya menahan makiannya. Jelas tantenya yang tidak tahu malu menghubungi Bima. “Bapak tahu kan kenapa kita ketemuan di sini?” Bima mengangguk tanpa menujukkan emosi apa pun. Anya membuang napas keras. “Pak, saya mau Pak Bima batalin perjodohan ini. Nolak semua rencana yang dibuat.” Anya menggigit bibir, “Please.” Sejenak Bima menundukkan pandangan, lalu tangannya terulur ke batang pohon, memagari tubuh Anya. “Bukannya waktu itu kamu maksa minta saya tanggung jawab?” Anya meneguk ludah kerena jarak mereka dekat sekali. Bingung harus mendorong laki-laki itu atau berpura-pura tidak merasa terganggu. Anya menjawab dengan berani, “Waktu itu kan salah paham. Pokoknya saya mau Pak Bima batalin perjodohan ini. Titik.” Anya langsung melewati Bima. Berjalan cepat ke kursinya lagi. Beberapa saat Bima kembali ke kursinya. Dia memilih tidak melanjutkan makan karena tante Shinta sudah mulai membuka obrolan seolah tidak ada waktu menikmati acara makan malam ini. “Nak Bima, Tante ajak kamu ketemuan begini karena Anya dari kemarin nanyain kapan perjodohan kalian lanjut ke jenjang yang lebih serius,” ucap Tante Shinta yang sukses membuat Anya tersedak minumannya. Anya buru-buru mengelap mulutnya dengan serbet, pandangannya memelotot kepada tante Shinta yang balas memelototinya. Dia menoleh kepada Bima yang menatapnya dengan alis terangkat. Ah, kacau!! Malu banget, padahal barusan dia minta laki-laki itu batalin perjodohan mereka. Bima berdeham, tampak tidak nyaman. “Saat ini kami masih menyesuaikan diri. Saya mau semuanya dipersiapkan dengan matang. Jadi―” Anya tiba-tiba berdiri. “Proses menyesuaikan diri udah kok. Ternyata nggak ada kecocokan. Jadi lebih baik nggak ada perjodohan. Perjodohan ini batal aja.” Anya meraih tas tangannya. “Makasih untuk makan malamnya. Maaf banget kalau aku lancang, tapi mending jujur dari sekarang. Permisi.” *** Pagi ini Anya berada di rumah Alden membantu persiapan ulang tahun mama sahabatnya. Moodnya masih jelek karena kejadian di restoran semalam. Sudah pasti saat kembali ke rumah tantenya berubah jadi Mak Lampir yang marah-marah karena dia menolak perjodohan ini begitu gamblang. Anya mengembuskan napas lelah lagi. Tiba-tiba pipinya dicubit oleh tangan jail Alden. “Ya ampun, kamu mau buat kue atau ramuan jaran goyang?” Telunjuk Alden menusuk-nusuk pipi Anya dan gadis itu menghindar dengan kesal. Bella yang sedang memindahkan mentega ke dalam pan ikut berkomentar, “Muka kamu tuh kayak kanebo kering. Ngerasa kepaksa nggak nih bantuin bikin kue sama masak?” Anya menjumput sedikit tepung terigu dan mengempaskannya ke baju Alden membuat baju hitamnya langsung ternoda putih, tetapi urung ingin melempari tepung kepada Bella si mulut nyinyir. “Mana mungkin kepaksa kalau buat kasih kejutan ke tante. Ini juga lagi dikerjain.” “Ya, udah, sini aku cuci dulu kanebo keringnya.” Lengan Alden melingkari leher Anya, mengacak rambut, dan berpura-pura ingin memelintiranya. “Terus diperas, siapa tahu bad moodnya luntur.” Anya menjambak rambut Alden meskipun dengan susah payah karena lehernya dipiting. Alden melapaskan Anya, mereka tertawa bersama, lalu mulai memasukkan bahan-bahan kue. Sesekali Alden mengambilkan bahan yang salah bahkan menakar kurang pas hingga Anya harus berdebat. Namun suasana menjadi cair penuh candaan. *** Bella tidak bisa menampik rasa cemburu yang hinggap di hatinya sekarang. Gadis itu sudah sangat berusaha untuk tidak merasakannya. Dia sudah menanamkan hal positif bahwa kali ini tidak akan mengulangi kejadian yang sama. Namun, rasanya sia-sia belaka. Harusnya, Bella tidak berhubungan dengan cowok yang sudah jelas memiliki sahabat kental. Harusnya, Bella tidak berada di antara dua sahabat yang sama-sama memiliki pengertian paling luas dan besar. Akan tetapi, cinta tidak mau pandang bulu kepada siapa hati akan terjatuh. Dulu, Bella pernah mempunyai pengalaman buruk tentang mantan pacarnya yang diam-diam memiliki perasaan kepada sahabatnya. Awalnya memang seperti tidak akan ada hal yang terjadi. Mereka terlihat sangat mustahil untuk memiliki hubungan spesial lebih dari sahabat. Nyatanya, Bella salah. Tanpa sengaja Bella memergoki mantan pacarnya tidur bersama sahabatnya. Mereka sama-sama polos. Bella meringis kecil begitu mengingat kejadian pahit yang pernah dialaminya. Diam-diam gadis itu melirik kepada Anya yang kini sedang tertawa bersama Alden setelah ribut tentang jumlah telur yang akan di-mixer. "Si kampret nggak mungkin kayak si kunyuk itu," bisik Bella kepada diri sendiri. "Si kampret udah punya calon suami. Nggak mungkin ada rasa dengan Alden," bisik Bella lagi. "Tapi, mungkin ada rasa." Bella bermonolog sendiri. Bella menggeleng. "Nggak. Mereka nggak akan kayak gitu. Mereka nggak akan nyakitin aku. Mereka baik. Mereka nggak akan tega." "Bisa sih nyakitin aku. Bisa banget mereka setega itu. Buktinya, hatiku udah ngerasa cekit-cekit," tepis Bella. Bella yang sedang mencairkan mentega segera mematikan kompor. Gadis itu menunduk dan memegang d**a sebelah kirinya. Di dalam sana, rasanya seperti terbakar api yang sangat besar dan itu sangat menyiksa Bella.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN