29 Ulang Tahun Mama Alden

1007 Kata
Tidak seharusnya Bella merasa seperti sekarang. Merasa cemburu buta dan tidak bisa melupakan trauma masa lalunya. Dia harus berhenti. Dia tidak boleh berpikir negatif. Dia tidak boleh curiga dan berprasangka aneh-aneh. Bella harus percaya. Akan tetapi, Bella sendiri seperti tidak kuat. Pikiran dan hatinya seperti tidak memiliki kompromi yang lebih lagi. "Alden," panggil Bella. Aktivitas Alden terhenti. Laki-laki itu mendongak, menatap bingung pacarnya. "Ya, Sayang," balasnya. Bella diam. Gadis itu mendekat ke arah Alden. Air matanya sudah mengucur deras membasahi pipinya. Bella membersitkan hidung yang terasa perih. Namun herannya, Alden tidak peduli. Laki-laki itu tidak bertanya tentang kenapa dia menangis. Laki-laki itu hanya menatap Bella sambil tersenyum. "Kita putus," kata Bella final. Gadis itu merasa sakit hati dengan reaksi Alden yang tidak perhatian dengan keadaannya. "Sebentar,” sebelah alis Alden terangkat. “Kamu bilang apa tadi? Kamu mau putus?" tanya Alden heran, tetapi tenang. "Kenapa putus?" Kali ini yang bertanya Anya. “Kenapa tiba-tiba?” Anya mengelap tangannya yang terkena lelehan cokelat ke celemeknya. “Kamu kenapa, Bell, kok kayak gitu? "Karena ...." "Aku?" Anya menunjuk dirinya sendiri. Gadis itu memasang wajah berpura-pura sedih. "Kamu takut aku dan Alden ada something?" Bella mengusap air matanya kasar. Dia merasa kesal sendiri. "Betul!" Anya mengangguk tegas. "Aku sama Alden emang punya hubungan kok." Anya mengandeng tangan Alden seraya menatap mesra laki-laki itu. "Kami emang pacaran di belakang kamu. Iya, kan, Cinta?" "Iya, Cintaku," jawab Alden sambil memencet hidung Anya gemas. Bella tercengang. Dadanya seperti baru saja dipukul sekarung tepung. Sulit memahami apa yang baru saja diungkap pacar dan sahabatnya itu. Bella tidak bisa menahan emosinya lagi. Dadanya naik-turun penuh emosi. Tidak bisa dibiarkan. Bella harus membuat perhitungan. "Dasar b******n!" seru Bella sekencang mungkin sambil mengambil mangkok kaca dan memukulkannya kepada Alden yang langsung terpental. "Bell, Bella, Bella," panggil Anya seraya mengguncang bahu Bella lembut dan menjentikkan jari tepat di muka Bella yang bengong. “Halo? Kamu oke?” Bella mengedipkan mata beberapa kali, lalu mundur dengan tergesa karena keberadaan Anya yang sangat dekat dengannya. Gadis itu hampir saja terbentur meja dapur di belakangnya kalau saja tidak ditahan oleh Alden. "Ngelamunin apa sih? Serius banget dipanggil-panggil nggak nyahut," ucap Anya bingung sekaligus penasaran. "Oh, em, oh, em." Bella kesulitan menjawab. "Capek ya, Sayang?" tanya Alden lembut seraya menatap Bella khawatir. “Sini deh, duduk dulu.” Bella menggeleng kaku. "Nggak. Siapa yang capek? Orang dari tadi nggak ngapa-ngapain gimana bisa capek?" "Kalau kamu capek, istirahat aja di sofa ruang tengah. Aku tahu kok kamu banyak tugas kuliah kemarin. Nggak kira-kira emang dosen tuh kalau ngasih tugas. Mentang-mentang online, tapi tugas mentereng," kata Alden, lalu berdecak-decak. "Nggak," tepis Bella seraya menggeleng tegas. "Aku nggak capek. Aku mau bantuin bikin kue buat Tante. Harus ambil andil dong di dapur, kalau dekor meja makan kan nanti sore." "Biarpun nggak bantuin juga kamu tetap jadi calon menantu idaman Mamaku. Anak perempuan yang disayang Mamaku," ucap Alden, menggoda Bella yang tidak bisa menyembunyikan semburat warna merah di pipinya. "Beeeeeeh ... paling bisa deh gombal-gembel begitu," sindir Anya, lalu berjalan ke arah kulkas untuk mengambil air. Anya menuangkan air dingin ke dalam gelas, dan meneguk segelas air. "Iri? Bilang Bos, papale papale papale," sahut Alden dengan nada paling menyebalkan. Anya hanya mengibaskan tangan. Ingin marah juga percuma. Buang-buang energi. Menanggapi juga malah membuat kesal sendiri. Lebih baik fokus dengan kue yang akan dia buat supaya cepat selesai. "Kita duduk di situ aja, berdua," kata Alden kepada Bella seraya merangkulnya. Dengan lembut Alden membawa Bella duduk di kursi dapur. "Terus kuenya?" tanya Bella heran. Alden mengibaskan tangan. "Biar itu menjadi tanggung jawab Anya. Kita tinggal terima beres.” Bella tidak menyahut. Kernyitan tampak jelas tergurat di keningnya. "Itulah gunanya punya sahabat serba bisa. Kita harus memanfaatkan sebaik-baiknya sahabat kita itu. Kalau kue ulang tahun untuk Mamaku udah jadi, tinggal kita bilang kita bantu buat. Setuju?" Alden tersenyum lebar seraya menatap Bella penuh cinta. "Enak aja nih si Supri," kata Anya seraya melemparkan serbet kepada Alden yang langsung tertawa terbahak-bahak. "Udah biarin aja. Kita di sini aja. Mojok berdua," kata Alden kepada Bella. Mereka duduk berdua selonjoran dan menyandarkan punggungnya di tembok. Bella hanya mengangguk sambil tersenyum. Harusnya, Bella tidak perlu mengkhawatirkannya. Hubungannya dengan Alden akan baik-baik saja. Dia hanya perlu percaya, sekali lagi tanpa embel-embel. Alden tidak sama dengan mantan pacarnya. Anya juga tidak sama dengan sahabat mantan pacarnya. Mereka orang yang berbeda dan memiliki sifat yang berbeda. Alden dan Anya memang sahabat dan selamanya akan seperti itu. "Ya, ampun," Alden memegang kedua pipi Bella, "pacarku kenapa bisa cantik banget, ya?" "Apaan sih," kata Bella cemberut. "Kalau cemberut tambah cantik," ucap Alden, megunyel-unyel pipi Bella. "Cantik banget. Aku suka. Nggak, nggak. Aku cinta " "Hiiih ... gombal," decak Bella, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya merasa hangat dan berbunga-bunga. Alden memeluk erat Bella dan lebih mendekat lagi pada pacarnya seraya tersenyum lebar. "Iya deh yang merasa dunia milik berdua sementara yang lainnya cuman numpang lewat doang," sindir Anya sambil berdecih melihat kelakuan dua sejoli yang terpampang nyata di depan matanya. "Nggak usah didengerin. Iri aja dia itu. Maklum lah calon suaminya kaku kayak kanebo kering. Julukannya aja kaleng biskuit," bisik Alden di telinga Bella, lalu tak lama Laki-laki itu tertawa kecil bersama pacarnya. Anya memutar bola matanya malas. Tak menyangka sahabatnya bisa sebucin itu kepada Bella yang garang hanya kepadanya. Sepertinya, Anya harus cepat merampungkan tugasnya sehingga tidak perlu lagi melihat adegan yang membuat ingin mencolok matanya sendiri. Setelah sibuk membuat kue dan masak untuk acara makan malam. Anya ikut bahagia mendapati Mama Alden begitu bahagia mendapat kejutan. Mereka makan malam bersama. Ada satu kotak berukuran sedang yang diberikan Bella sebagai hadiah ulang tahun. Semuanya menjadi terasa sempurna karena mama Alden sudah menganggap Anya dan Bella sebagai anak sendiri. Dalam satu tahun yang setiap hari dilewati, ulang tahun mama Alden di bulan penghujung tahun benar-benar suatu kebahagian tersendiri untuk Anya yang tidak pernah diutarakan kepada siapa pun. Rasanya dia tinggal bersama keluarga. Duduk di meja makan yang hangat dan obrolan ringan penuh canda. Bahkan dia akan mendapat pelukan erat ketika mengucapkan, “Selamat ulang tahun, Tante!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN