30 Seminar Invitation

1047 Kata
Bima sedang sibuk dengan seseorang di telepon ketika pintu ruang kerjanya terbuka tiba-tiba. Suara bantingan pintu membuatnya langsung menyelesaikan pembicaraan dan mengakhiri panggilan. “Bima,” panggil ibunya dengan penuh kekesalan. “Maaf, Pak. Ibu ini tiba-tiba paksa masuk ke sini,” ucap Pak Ryan, manajer kafe Bima. Belum menjawab, Bima malah melirik Pak Ryan lebih dulu. Tanpa pikir panjang, Pak Ryan langsung mengerti maksud Bima. Dia menutup pintu sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara. “Sudah mikirin cara untuk ngambil hati Anya?” todong ibunya tanpa basa-basi. Bima menghela napas. Dipijatnya pelipis hingga batang hidung sembari mencari jawaban. “Ibu udah berapa kali dibilang jangan ngomongin itu di sini? Ini kantor saya. Bukan untuk obrolan pribadi yang nggak ada ujungnya begini.” “Obrolan ini demi masa depan kamu. Dan siapa bilang nggak ada ujungnya? Obrolan ini bakal selesai kalau kamu sudah nikah sama Anya. Ibu nggak bakal nuntut kamu terus kalau itu udah terjadi.” Ibunya mengempaskan tas yang dibawanya ke meja. Matanya menyipit penuh ancaman. “Tapi Anya nggak mau nikah sama saya!” Volume suara Bima naik dua kali lipat. Dia menyugar rambut lalu berkacak pinggang. Memilih menatap ujung sepatu ketimbang mata ibunya yang penuh hasrat dan amarah. “Ya itu tugas kamu untuk buat Anya mau! Pikirin caranya. Ibu nggak mau tahu. Pokoknya awal tahun depan kalian harus nikah! Nggak ada pembatalan!” Bima tertunduk. Tangannya mengepal. Rahangnya mengetat. Tangannya melepas kancing kemeja teratasnya. Rasanya ruangan berubah sempit dan kekurangan udara. “Kasih saya waktu beberapa bulan lagi. Dan selama itu, jangan pernah muncul di hadapan saya apalagi datang ke sini, oke?” Bima memberi jawaban sekaligus permintaan yang terdengar seperti perintah. Sambil menghela napas. “Ibu nggak mau ada kegagalan. Ingat apa yang harus kamu bayar.” Ibunya meraih tas tangan yang semua ia letakkan di atas meja lalu beranjak pergi tanpa suara. Dentuman keras yang berasal dari kepalan tangan Bima menghantam meja terdengar dua kali. Dia memikirkan perjodohannya dengan Anya berulang kali. Tak bisa dibayangkan, jika dua manusia yang berbeda prinsip tinggal dalam satu atap di bawah ikatan pernikahan. Bima tak pernah menaruh rasa sedikitpun pada Anya. Karena sedari awal, dia menganggap Anya seperti adik perempuannya sendiri. Dia tulus membantu Anya layaknya saudara. Bukan karena embel-embel rasa suka dan ingin menikah. Bima yakin, Anya pun begitu terhadapnya.Wanita cenderung ingin menghabiskan masa muda dengan sebaik-baiknya sebelum menikah. Pernikahan bukan hal sepele. Bukan ikatan yang bisa dilakukan uji coba tiga hari seperti aplikasi. Tentu sebagai pebisnis, Bima tidak ingin merusak citra baiknya di depan kolega. Apa jadinya jika dia menikah lalu bercerai karena tidak sanggup menghadapi Anya? Pun sebaliknya. Bagaimana jika Anya yang menuntut berpisah karena tidak tahan hidup dengan Bima? Karrna sejatinya, citra baik sangat penting bagi pengusaha. * * * Tiga minggu berlalu. Sejak pertemuan paksa dengan Bima tempo lalu, Anya sudah jarang bertemu dengan laki-laki itu. Pernah sekali Bima mengunjungi Doulliet Resto, tapi Anya malah menghindar. Mengunci pintu dalam ruangannya dengan dalil sibuk bekerja. Sedangkan Bima tidak ambil pusing. Karena nyatanya, kunjungannya ke Doulliet Resto memang murni urusan bisnis. Profesionalitas seorang investor. Namun, Anya menganggapnya lain. Biar bagaimanapun, Anya tetap merasa tak enak hati dengan Bima karena sudah menolaknya di hadapan Om dan Tantenya setelah semua yang Bima lakukan untuk membantu restorannya. Menit berikutnya, Anya menatap sekeliling restorannya. Lampu tumblr kelap kelip yang mengitari beberapa pohon cemaramenyita atensinya. Semarak tahun baru masih terasa meskipun tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Walau tahun sudah berganti, tapi pandemi tak kunjung pergi. Entah sudah berapa pengusaha yang harus memutar otak hingga 180 derajat demi mempertahankan bisnisnya. Tak sedikit pula yang memilih menyerah dan mencoba peruntungan di bisnis lain. Walau kadang, hasil yang didapat cenderung sama saja. Anya terkesiap saat mendengar denting lonceng kecil pada pintu restoran. Ada yang datang. Namun, semangatnya lindap saat mendapati Alden tersenyum lebar dan mendekat ke arahnya. “Aku kira pelanggan. Nyatanya malah preman yang minta jatah makan,” sindir Anya, sarkasme. Alden tergelak, tapi tidak mengelak. “Iya nih, Nya. Laper. Aku bayar kok. Aku bawa uang." Anya menatap remeh. “Habis ngepet?” Alden kembali tertawa, sedangkan Anya dengan terpaksa memanggil Hani untuk melayani sahabatnya. Sayup-sayup, notifikasi ponselnya terdengar. E-mail masuk ke akun bisnisnya. Anya mengernyit seakan tidak percaya. Dia lantas menuju kantornya untuk mengambil laptop. Seakan tak puas membaca e-mail pada layar ponsel yang tidak terlalu lebar. Anya masih menatap e-mail masuk pada layar laptopnya. Sedetik matanya menyipit, detik kemudian matanya memelotot. Mengeja setiap huruf pada bagan e-mail. Memastikan bahwa dia tidak salah baca. Undangan menghadiri seminar offline dengan pengusaha-pengusaha franchise muda. Agendanya tentang pengetatan prosedur kesehatan standar hotel dan restauran di masa pandemi. Anya masih tidak menyangka, dia mendapat undangan itu. Bertemu dengan pengusaha-pengusaha muda yang sukses tentu hal luar biasa untuknya. Alden menghentikan kunyahannya. Garis pandangnya pada makanan yang menggiurkan kini berpindah pada Anya. Cukup lama mereka saling pandang, sebelum Anya menyodorkan garpu tepat di depan mata Alden. "Gila! Kalau kena mata gimana?" "Ya buta!" jawab Anya, enteng. Sedangkan Alden sudah mengepalkan tinjunya. Berlagak ingin menjitak Anya, tapi urung. Tatapan mata Anya lebih menyeramkan baginya. “Dasar nenek lampir! Lagian ngapain sih daritadi kamu senyam senyum aja sambil lihatin layar laptop. Lagi nonton film yang enak-enak, ya?” tuduh Alden dengan tatapan mata yang menjijikan. “Amit-amit jabang bayi. Pikiranku masih bersih. Emangnya kamu yang suka nonton begituan.” Anya protes tak terima. Diraihnya karet rambut yang sedari tadi ada di pergelangan tanganya. Anya menyanggul rambut dengan asal lalu memperbaiki posisi duduk. Dihadapkannya layar laptop pada Alden dengan semangat. “Ini, lho, yang aku perhatiin dari tadi.” “Seminar Invitation?” Alden mengernyit saat membaca subjek e-mail. Anya mengangguk penuh semangat. “Aku diundang dong. Bentar lagi bakal masuk ke circle pengusaha-pengusaha sukses.” Anya menyatukan kedua telapak tangannya sambil tersenyum lalu menempelkannya pada pipi. Angannya sudah mengudara. Imajinasinya telah menyusun rencana pendekatan dengan pengusaha-pengusaha muda. Siapa tahu, ada yang buat hatinya dag-dag-dug. Sekali mendayung, dua tiga empat lima bahkan enam pulau terlampaui. “Undangannya via e-mail doang?” “Baca notenya dong! Kalau sudah konfirmasi akan hadir, hard copynya bakal dikirim!” Anya ngegas. Dia langsung menarik laptopnya kembali. “Kalau sudah selesai makan, langsung pulang! Bayarnya jangan lupa!” titah Anya. Lalu beranjak pergi menuju ruang kerjanya kembali. Bicara serius dengan Alden memang tak cocok. Bahkan Anya sempat berpikir untuk meng-upgrade teman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN