31 Jatuh Bersama

1597 Kata
Minggu kedua pada awal tahun. Acara yang dinanti tiba. Anya sengaja menghabiskan dua jam waktunya di salon karena ingin hadir dengan tampilan sebaik mungkin. Jika ingin berada di circle pengusaha sukses, tentu dia harus melepaskan image gembelnya lebih dulu. Seperti mendapat sentuhan magic, Anya menatap dirinya dengan semringah di cermin. Rambut yang digelung dengan gaya low bun dantambahan beberapa helai rambut di samping kiri dan kananyang dibuat sedikit bergelombang membuat Anyatampak classy dan feminin. Polesan make up yang tidak terlalu mencolok, tapi mempertegas aura anggunnya juga senada dengan pilihan gaun yang ia kenakan. Midi dress berwarna nude dengan heels putih yang berkilau. Sejenak, Anya tertawa. Saat membayangkan gaun yang tantenya pilihkan beberapa tempo lalu. Sudah seperti nyai roro kidul versi kekinian. Anya bergidik geli lalu meraih ponsel pada tas tangan yang sedari tadi dia genggam. Memesan taksi online jadi langkah selanjutnya yang dia kerjakan. Satu jam sebelum acara mulai, tidak terlalu cepat untuk hadir, bukan? Ditambah dengan perhitungan jarak perjalanan serta kemacetan ibu kota. Anya mantap memesan taksi online sekarang. Sepuluh menit kemudian, sedan berwarna hitam melambat di depannya. Dengan hati-hati Anya melangkah memasuki mobil. Setengah jam perjalanan, tidak ada yang aneh. Namun, saat memasuki kawasa SCBD, taksi yang Anya tumpangi seperti tak bergerak sama sekali. Beberapa kali dia melirik jam pada ponselnya. Acara akan dimulai 20 menit lagi sedangkan Anya masih setengah jalan. Kepanikannya tak berhenti di situ. Anya tiba di area hotel tempat seminar saat jam menunjukan pukul 18.55. Lima menit sebelum acara dimulai. Anya tergopoh menuju ballroom hotel. Heels tinggi yang tidak biasa dia kenakan memperlambat langkahnya. Sebelum memasuki ruang seminar, beberapa petugas memintanya menunjukan undangan resmi. Saat itu pula, dia sempatnya mengatur napas. Mengipas leher dengan telapak tangan dan memastikan lehernya tidak lembap karena keringat. Pintu ballroom yang megah terbuka. Mata Anya berbinar memandang setiap sudut ruangan. Namun, ada yang salah. Pakaian yang tamu lain kenakan cenderung lebih santai dan casual. Beberapa wanita malah memakai celana dengan paduan blazzer bahkan ada yang memakai kaus saja. Anya terbelalak. Pantulan dirinya pada cermin di tiang-tiang penyangga ballroom semakin membuat nyalinya menciut. Saat dia memutuskan untuk berbalik, Anya merasakan sesuatu yang hangat menyentuh lengannya yang dingin. Anya langsung menatap ke arah kiri. Ada Bima dengan setelan jas hitam serta dasi sedang tersenyum ke arah tamu undangan yang menyapanya. “Pak Bima? Ngapain di sini?” tanya Anya kikuk. Tanpa menyurutkan senyuman sedikitpun, Bima menjawab, “Numpang makan.” Anya mencebik. Sedangkan Bima langsung menarik lengan Anya untuk berbaur dengan tamu undangan lainnya. Bima memilih tempat duduk di tengah-tengah ruangan. Tak lupa Bima menarik kursi yang sudah dibungkus cover berwarna putih untuk Anya. Anya menuruti tanpa protes. Sedangkan Bima masih sibuk menjabat tangan para tamu yang merupakan koleganya. “Widih, yang di samping siapa nih, Pak? Istrinya Pak Bima?” celetuk gadis yang seperti sebaya dengan Anya. Bima tersenyum, tak menampik sama sekali. Sedangkan Anya malah jadi semakin canggung. “Pak Bima sudah nikah? Seriusan? Kapan, Pak?” Gadis di meja lain ikut menyambar obrolan. Bima hanya tertawa tanpa komentar. “Serius, nih, Bim. Parah banget sih, kalau kamu nikah diem-diem, nggak ada undang-undang kita.” Laki-laki dengan jas abu-abu menyampiri Bima sambil bersedekap. Sesekali dia mencuri pandang terhadap Anya yang masih menunduk malu. “Bukan-bukan. Kenalkan Ini Anya. Belum jadi istri. Masih calon.” Bima tersenyum yang tidak terlihat tulus sama sekali. Anya sontak terbebelalak saat mendengar kata calon istri untuk yang kedua kalinya. Kam to the pret! Om-om sialan! Anya dandan habis-habisan dan membuat waktu serta uang di salon demi mencari gebetan dan mengubah circle pertemanan! Bukan malah dikenalkan sebagai calon istri om-om usia 30an. Anya mendengkus dalam hatinya. Namun, jika memberontak sekarang sama saja dengan menggali lubang kuburan sendiri. Acara dimulai dan disambut dengan riuh tepuk tangan meskipun tamu yang datang tidak sampai 50 orang. Penerapan protokol kesehatan membuat ruangan ballroom yang biasanya bisa menampung tamu 150 orang kini menyusut jadi sepertiganya saja. Anya memandang sekeliling. Aura mewah terpancar dari setiap tamu undangan meski dengan busana santai. Tiba-tiba saja, Anya bergidik. Bima berbisik pelan di sampingnya. “Sepertinya, kamu salah kostum, Anya.” Anya menyunggingkan bibir lalu menoleh ke arah Bima. “Dan Bapak salah ngomong!” “Saya ngomong apa adanya. Kamu memang calon istri saya. Salahnya di mana?” “Saya kan sudah batalin!” “Pertunangan atau pernikahan itu terjadi jika kedua belah pihak setuju. Begitupun dengan pembatalannya.” Anya terbelalak. “Jadi maksudnya Pak Bima nggak setuju?” Tepuk tangan kembali terdengar. Anya mengerjap keheranan. Obrolan bisik-bisik dengan Bima menghilangkan fokusnya. Entah apa yang diserukan MC barusan sehingga hampir seluruh pasang mata tamu undangan menoleh ke arah mereka. Bima lantas berdiri lalu membungkuk ke arah kanan kiri. Laki-laki itu berjalan tenang menuju panggung. Anya menarik napas dalam. Pantas saja, dia dapat undangan. Ternyata Bima jadi salah satu pembicara dalam seminar. Pasti Bima juga yang merekomendasikan Anya ke dalam list tamu undangan. Riuh tepuk tangan berangsur redup saat Bima mulai memberi sambutan. Namun, ada yang aneh dengan Anya. Gadis itu terlihat sama sekali tak tenang. Dia merasa seperti ada bencana yang akan menghantam hidupnya. Degup jantungnya kian bertalu padahal Bimalah yang menjadi atensi setiap tamu. “Dan terima kasih juga untuk calon istri saya yang sangat cantik malam ini. Karena sudah menyempatkan diri untuk hadir bersama saya malam ini.” Deg. Bencana benar-benar datang! Mungkin saat pergantian tahun minggu lalu, Bima kesambar petasan atau terkena kembang api sehingga otaknya jadi konslet. Riuh tepuk tangan kembali terdengar. Kini, gantian Anya yang menjadi pusat perhatian. Anya hanya bisa membalas setiap tepuk tangan dengan anggukan serta senyum yang terkesan dipaksakan. Setengah jam berlalu. Bima turun dari panggung setelah puas berbicara. Satu jam kemudian, acara ditutup dengan makan malam. Pelayan sudah mondar mandir mengantarkan hidangan. Sedangkan Anya masih diam tanpa ekspresi apa pun. Padahal, biasanya Anya sangat antusias jika berurusan dengan makanan. Bukan karena kelaparan seperti Alden, tapi Anya fokus menyantap hidangan dan merasakan cita rasa makanan yang bergumul di lidahnya. “Kamu marah?” Bima membuka suara. Anya tak menanggapi sedikitpun. “Makan dulu. Setelah itu saya antar pulang,” lanjut Bima. Sontak Anya langsung menatap Bima dengan sinis. Tatapannya mengisyaratkan kemarahan walau tanpa kata-kata. Bima paham jika Anya marah, tapi pantaskah jika sikapnya jadi sedingin ini? Pukul 9 kurang, acara selesai. Beberapa tamu menutup dengan saling berjabat tangan, tapi ada juga yang enggan dan memilih menjaga jarak. Sedangkan Anya langsung melesat menuju pintu keluar. Debar di dadanya sudah tidak karuan. Air matanya hampir menetes kalau saja di sekelilingnya tidak ada orang. Anya berlari keluar lewat pintu samping hotel. Dia terduduk di bangku taman dengan perasaan semerawut. “Anya ada apa?” Bima menghampiri dengan tergesa. Eyeliner yang Anya kenakan sudah mulai luntur karena setitik air mata. Anya menatap Bima dengan emosi. Terlebih lagi karena Bima tak tahu salahnya di mana. Anya bangkit berdiri. Sepatu heels tinggi yang dia kenakan hampir membuat tingginya setara dengan Bima. “Apa sih maksud Bapak bilang ke orang-orang kalau saya ini calon istri Bapak?” Suara Anya masih tergolong tenang meski terdengar serak. “Iya kan itu memang kenyataannya, Nya,” bela Bima. Anya mengusap wajah. Make upnya benar-benar rusak sekarang. “Bapak tahu nggak sih, saya datang ke sini dengan harapan apa? Bapak tahu nggak sih, kenapa saya bela-belain dandan dan pakai baju beginian walaupun saya nggak merasa nyaman? Bapak tahu nggak sih, gimana rasa semangat dan bahagianya saya saat saya nerima undangan?” Bima terdiam. Kedua tangannya mengepal. “Saya bahagia banget, Pak. Saya bangga banget sewaktu nerima undangan. Saya pikir, kehadiran saya sebagai pengusaha muda mulai dipandang orang-orang. Saya pikir, saya sudah nggak diremehin lagi karena ngejalankan restoran jalur warisan. Saya pikir, saya bisa dipandang sebagai Anya, pengusaha muda pemilik Doulliet Resto yang menyelamatkan restorannya dari ambang kehancuran. Saya pikir, dengan adanya saya di sini, saya bisa bangun relasi bisnis saya. Kenal dengan pengusaha-pengusaha sukses dan bisa meniru kegigihan mereka. Tapi ternyata saya salah.” Anya menarik napas dalam. Ada jeda sekian detik dari ucapannya karena isak tangis. “Ternyata saya salah, Pak. Ternyata saya diundang ke sini bukan sebagai Anya si pengusaha muda, tapi sebagai Anya calon istri dari Bima Abian si pengusaha sukses yang berwibawa. Semua yang hadir nggak ada yang manggil saya Anya, pemilik Doulliet Resto. Mereka semua manggil saya calon istri Pak Bima, wanita beruntung pilihan pak Bima dan apa pun yang menyangkut pak Bima!” Kepalan tangan Bima mengendur. Hatinya terenyuh saat melihat Anya yang biasanya angkuh dan tegar kini menangis sedangkan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah puas mengeluarkan isi hati dan mengatur napas, Anya berlari pergi. Heels tinggi sudah dia tenteng agar tak menyusahkan jalannya. Menyusuri rerumputan taman demi mengambil jalan pintas agar cepat sampai ke jalan raya. Sekian menit berlalu, Bima baru memutuskan untuk mengejar Anya. Langkah panjangnya mempendek jarak dengan Anya. “Anya, biar saya antar pulang! Tunggu dulu!” Bima berteriak. Citra baik sudah tidak dia pedulikan. Mungkin beberapa tamu undangan yang masih berada di sekitar hotel akan berpikir bahwa ini pertengkaran kecil pra pernikahan. Salah paham yang dapat semakin mengeratkan hubungan atau malah bisa menghancurkan. Anya memilih menulikan telinga. Dia terus berlari menuju jalan raya. Memutuskan menyebrang tanpa melihat keadaan sekitar. Cahaya minim ditambah dengan matanya yang berkabut akibat tangisan membuat Anya tak begitu memperhatikan jalanan. Klakson panjang terdengar. Seketika Anya merasa tubuhnya melambung. Bukan karena tertabrak mobil, tapi karena ditarik dengan kuat oleh seseorang ke trotoar. Mata Anya terbuka perlahan saat mendapati tubuhnya tersungkur di atas d**a seseorang. Lengan kirinya masih digenggam erat sedangkan tubuhnya masih didekap. Napas mereka beradu. Degup jantung keduanya seperti berparade. Anya menatap wajah laki-laki yang kini berada tepat di bawahnya. “Kamu nggak apa-apa?” Bima membuka suara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN