“Kamu nggak apa-apa?” Bima membuka suara walau dengan napas terengah .
Anya tercenung cukup lama. Dia meneguk ludah beberapa kali saat pandangan mereka bertemu, jarak di antara keduanya kian terpangkas.Debar di d**a semakin tak terkendali, sebelum klakson kendaraan yang berlalu-lalang mengembalikan kesadaran Anya yang sempat hilang.
Dengan sigap dia berdiri meski sempat sempoyongan. Sedangkan Bima masih berbaring sambil mengaduh kesakitan. “Pak, maaf. Bapak nggak apa-apa?” tanya Anya, memincingkan mata.
Bima masih tidak menunjukan respons. Seakan kesulitan bernapas, dia memegang d**a yang terasa nyeri. Melihat hal itu, takut-takut Anya mendekat. Dia mengulurkan tangan cukup lama, tapi Bima tidak meraihnya.
Anya menunduk, memeriksa keadaan Bima yang terus mengaduh sakit. “Bapak beneran sakit? Ya ampun, maaf, Pak!”
Tanpa komentar, laki-laki itu masih memegangi d**a. Anya terdiam beberapa saat sebelum otaknya mulai menelaah apa yang telah dia lakukan.
Anya mencebik. “Kita ke rumah sakit deh, Pak,” tawarnya dengan berat hati. Kenapa juga pakai acara jatuh segala? Padahal Anya sudah tak ingin berlama-lama berada di dekat Bima.
Tangan Bima terangkat ke udara. Dia menolak ajakan Anya dengan gelengan kepala. “Saya mau pulang aja.”
“Tapi Pak, Bapak berdiri aja susah. Gimana saya bisa bawa Bapak pulang.”
Bima menatap Anya sekilas, lalu terpejam lagi karena menahan nyeri. “Saya nggak nyaman di rumah sakit. Lebih nyaman di rumah sendiri.”
Terdengar helaan napas Anya. Dia menyetujui sambil memutar bola mata.“Ya udah, ayo, saya bantu jalan.”
Dengan sekuat tenaga, Anya memapah tubuh tegap Bima. Sedikit sempoyongan dan menjaga keseimbangan dengan susah payah, Anya terhuyung. Bima refleks mengeratkan pegangan pada bahu Anya.
“Eh, eh, maaf, Pak. Pak Bima berat banget, sih.”
“Kalau saya ringan, itu tandanya saya permen kapas,” ceteluk Bima.
Anya mencebik. “Bapak keberatan dosa, nih! Makanya jangan kebanyakan bohong. Pakai acara bilang saya calon istri pula. Kena karma, kan!”
“Aw!” Refleks, Bima memegang d**a saat Anya dengan sengaja menyikutnya. Sedangkan Anya terlihat tidak peduli. Tatapan matanya lurus kedepan. Sepatu hak tinggi sedikit menyusahkannya berjalan. Ditambah lagi karena beban hidupnya bertambah. Harus memapah tubuh tegap Bima.
Jarak menuju parkiran terasa kian jauh. Diam-diam, Bima memperhatikan wajah Anyayang terlihat nanar. Ada berbagai perasaan yang terpancar di sana. Emosi yang terbalut dengan kecemasan. Serta rasa lelah karenaterpaksa memapah tubuhnya. Malam terasa kian dingin, tapi kehangatan menjalar di antara keduanya.Bagai 2 kutub magnet yang saling bertolak belakang, tapi spontan melekat jika berdekatan.
***
Bima menekan pin pada smart lock pintu apartemennya. Masih dipapah Anya yang mulai kelimpungan, mereka masuk secara bersamaan. Anya menyandarkan tubuh Bima ke sofa sebelum dia menarik napas dalam-dalam. Kakinya diluruskan sedangkan tangannya dibentang-bentangkan ke udara.
“Aduh, pegel banget!” keluhnya sambil memijat-mijat leher.
“Kamu bisa cuci tangan dulu? Protokol kesehatannya jangan dilupakan,” titah Bima.
Anya memutar bola mata sambil berdecak. “Iya-iya, Pak.”
Berjalar ke area dapur, sepenuhnya Anya terpanah dengan interior apartemen Bima. Didominasi ornamen hitam putih serta abu-abu tua menambah kesan maskulin di setiap ruangan. Ditambah lagi, keadaan ruangan yang sangat rapi. Semua benda terletak pada tempatnya.
Berbanding terbalik dengan keadaan kamar Anya yang kadang semerawut saat belum dibersihkan Bi Asih. Remot AC ada di atas tempat tidur, buku-buku beserakan di atas meja, serta beberapa pakaian kotor yang tergeletak di tempat yang tidak seharusnya.
“Bapak yakin Cuma tinggal sendirian di sini?” tanya Anya penasaran. Bima hanya mengangguk sembari melepas jasnya. “Tanpa asisten rumah tangga?” tanya Anya lagi.
“Heem.”
“Kok bisa apartemennya serapi ini. Sampai-sampai nggak ada debu sama sekali.” Anya mengusap meja dapur dengan ujung telunjuknya. 100 persen bersih. Tidak terdeteksi ada debu bahkan bakteri.
“Ya udah deh, sini saya lihat punggung Bapak. Saya kompres, ya.” Anya menaruh semangkuk air hangat serta handuk kecil di atas meja. Bima otomatis memperlihatkan punggungnya.
Untuk waktu yang cukup lama, Anya terdiam. Sudah seringkali dia melihat punggung Alden bahkan mengeroknya saat Alden masuk angin, tapi kali ini sensasinya berbeda. Punggung Bima jauh lebih tegap dibanding Alden yang cenderung kerempeng.
Ragu-ragu, Anya mengusap punggung Bima dengan kompresan air hangat. “Pak Bima beneran nggak mau ke rumah sakit?” Anya bertanya dengan sungguh-sungguh saat melihat punggung Bima yang lebam. “Ini memar, lho, Pak.”
Bima menggeleng sambil meringis menahan sakit. “Nggak perlu. Dikompres aja paling juga sembuh.”
Menit berikutnya, Anya langsung menyambar ponsel yang ada di atas meja.
“Kamu mau apa?” Bima mengernyit.
“Saya mau ngerekam ucapan Pak Bima barusan. Ya buat jaga-jaga, kalau kedepannya Bapak mau nuntut saya karena nggak bertanggung jawab, saya bisa pakai bukti rekaman ini. Bisa diulangi, Pak?”
Bima menghela napas. Laki-laki itu langsung menghadap Anya. Kancing kemeja yang sepenuhnya terbuka sangat cukup untuk jadi alasan mengapa Anya memelotot sampai menjatuhkan ponselnya.
“Bapak apa-apaan, sih!” Anya berteriak protes sambil menutup mata dengan kesepuluh jarinya.
“Apa-apaan apanya?”
“Itu, kancing bajunya kebuka-buka.” Terlihat sekali, bola mata Anya bergerak-gerak dari bawah ke atas, kanan ke kiri kembali ke bawah lagi. Jari-jarinya direnggangkan sedikit sebelum kembali merapat.
Bima tampak frustrasi. Dia mengusap dahinya beberaoa kali. “Kan kamu lagi ngompres punggung saya. Ya jelas kancing kemeja saya lepas. Atau kamu mau kemejanya saya buka sekalian?”
Tanpa pikir panjang, Anya menolak mentah-mentah. Sigap gadis itu berdiri dan melempar handuk kecil ke atas pangkuan Bima. “Nih, Bapak kompres aja sendirilah. Saya mau pulang.”
“Malah dia yang marah. Di sini tuh saya loh yang jadi korbannya.”
Dengan tangan mengepal, Anya berusaha mengulas senyuman. “Pak Bima yang baik hati, Bapak nggak lihat sekarang sudah jam berapa? 15 menit lagi mau jam 10, Pak. Bapak tega ngebiarin saya pulang tengah malam?” rengek Anya dengan wajah memelas.
Dengan ekspresi sedikit ingin muntah, Bima menjawab, “Ya sudah. Pulang aja. Naik taksi online, jangan naik bus. Saya yang pesankan.”
“Jarak dari sini ke rumah saya jauh, Pak.” Anya memelas.
“Saya yang bayar,” ucap Bima dengan cepat menangkap maksud Anya.
“Serius?” Anya mendelik. Bima mengangguk dua kali sambil meraih ponsel di saku jas.
“Besok saya bawain sarapan deh, Pak,” tawar Anya. “Sekalian saya bawain salep pereda memar,” imbuhnya lagi.
Anya menutup pintu apartemen Bima sepelan mungkin. Tak langsung pergi, dia malah bersandar di pintu yang telah menutup. Menelaah kembali ucapannya beberapa saat lalu. Lalu merutuki niat baiknya sendiri.
“Wah, aku pasti sudah gila!” makinya. Sambil berjalan menuju lift.
***
Minggu pagi Anya sedikit berbeda kali ini. Jika biasanya dia menghabiskan waktu bergulat dengan guling di tempat tidur sampai jam 8 pagi, lain halnya dengan saat ini. Anya sudah sibuk mengupas bawang sejak jam 6.
“Padahalkan, dia bisa ajamesen makanan online,” ucap Anya sembari menghaluskan bumbu. “Kenapa mulutku malah keceplosan nawarin sarapan,” lanjutnya. “Bener-bener nggak waras!”
Meski sambil mengomel, dengan cekatan diamemasukkan potongan labu serta irisan jagung ke dalam panci berisi beras yang telah melunak. Sementara, wangi bumbu halus yang di tumis di wajan sebelah menguar memenuhi dapur.
Tak lupa juga Anya menyiapkan camilan kecil. Jaga-jaga jika bubur buatannya tidak sesuai dengan lidah Bima. Siapa tahu saja, indra pengecap laki-laki itu mendadak rusak saat punggungnya terbentur trotoar.
Pisang bolen jadi pilihan Anya pagi ini. Simpel. Tidak terlalu membutuhkan banyak bahan. Terlebih lagi karena dia melihat beberapa lembar puff pastry instan di dalam kulkas.
Setelah memanggang 4 buah pisang dengan tambahan sedikit mentega di atas pan, Anya mulai memotong beberapa lembar puff pastry instan. Dengan sigap, Anya membagi pisang menjadi dua lalu membelahnya. Memberi isian cokelat dan keju di tengah pisang sebelum dibungkus dengan puffpastry.
Beberapa menit kemudian, delapan potong pisang bolen sudah berjajar rapi di dalam loyang dan siap di oven.
Sementara itu, Anya menengok bubur yang kian melunak. Dia menambahkan potongan sayur hijau dan penyedap rasa. Aroma khas bubur semakin menguar saat Anya menambahkan beberapa lembar daun kemangi.
Setelah menyicipi rasa dan tekstur bubur sudah sesuai dengan selera, Anya mematikan kompor. Segera dia mengambil dua kotak makanan dari dalam lemari dapur.
“Ini keterlaluan sih, kalau om-om itu sampai nggak suka. Berarti lidahnya yang bener-bener sakit parah.”
Belum genap jam delapan pagi, dia sudah berdiri di depan gedung apartemen Bima. Satu paperbag besar dia bawa. Dengan mantap, Anya menekan nomor lantai apartemen Bima pada lift. Beberapa kali dia melirik jam di pergelangan tangan.
Saat pintu lift terbuka, dengan santai Anya menyambangi pintu apartemen Bima. Dia menekan bel beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Pikiran Anya mulai kemana-mana. Dia takut, jika Bima mendadak kesakitan dan pingsan.
Samar-samar, Anya mencoba mengingat sandi pintu yang dimasukkan Bima semalam. Dan berhasil. Deretan 6 angka yang mudah diingat. Tidak aman sama sekali, pikir Anya.
“Pak ... Pak Bima ... saya datang, Pak! Pak Bima baik-baik aja, ‘kan?” Anya meletakkan paper bag di atas meja makan lalu celingak-celinguk mencari Bima.
“Bener-bener pingsan nih om-om,” gerutunya.
“Kok kamu bisa masuk ke sini?”
Spontan Anya menjerit sambil menutup mata dan telinga. Jantungnya sudah hampir lepas karena Bima.
Mata Anya seketika mendelik saat melihat Bima mendekat ke arahnya. “Pak Bima ngapain Cuma pakai begituan?” tanya Anya protes.
“Saya habis mandi. Wajar kalau saya cuma pakai handuk. Kalau saya habis meeting, pasti pakai kemeja.” Dengan santai, Bima melintas di hadapan Anya. Dia mengambil segelas air putih dari meja makan.
Anya meneguk ludah beberapa kali saat otot-otot lengan Bima menyapa pandangannya. Sambil mengusap wajah dengan kedua tangan, dia bergegas duduk di sofa. Mengeluarkan bungkusan kecil berisi obat penghilang nyeri serta salep yang dia janjikan semalam.
“Ini sarapan yang kamu bawa untuk saya?” tanya Bima saat melirik sebuah paper bag besar di atas meja.
Anya berbalik menatap Bima lalu mengangguk. “Saya masak dari pagi-pagi buta cuma buat Bapak. Jadi, Pak Bima buruan ganti baju dan sarapan. Saya mau pulang. Mau lanjutin mimpi ketemu Zayn Malik yang tertunda.”
“Sukanya kok sama suami orang!” sindir Bima. “Saya lapar. Saya langsung makan aja, ya.” Bima menarik kursi makan dengan santai.Beberapa saat kemudian, denting sendok terdengar.
Anya bergegas menghampiri Bima. “Kenapa, Pak?”
“Lengan kanan saya ngilu,” ucapnya sambil mengusap bahu hingga siku.
“Saya suapin deh.”
Hati-hati, Anya duduk di samping Bima. Derit kursi yang ditarik membuat perasaannya semakin tak nyaman. Ditambah lagi dengan pemandangan tak biasa yang dia hadapi sekarang.
Seakan tahu situasi hati Anya, Bima bertanya, “Maaf, kamu nggak nyaman, ya?”
Anya menggeleng. “Bapak makan aja dulu, terus minum obat. Nanti saya olesin salepnya. Biar bapak bisa langsung istirahat.” Dan saya bisa segera pulang, lanjutnya dalam hati.
Setengah jam berlalu dalam hening. Baik Anya maupun Bima tidak banyak berbicara. Kecanggungan menjadi penyebabnya.
“Maaf, kalau buat kamu nggak nyaman. Tadi saya kesusahan pakai baju karena lengan saya sakit.”
Anya mengangguk, seakan maklum. “Mau saya bantu sekalian, Pak?” tanya Anya. Lagi-lagi niat baiknya menenggelamkan dirinya sendiri.
“Nggak usah. Nanti saya usaha sendiri aja.”
“Kalau gitu, saya pamit, ya, Pak. Mau ke resto dulu.”Setelah memasukan beberapa obat ke dalam kotaknya, Anya bergegas berdiri. Diraihnya tas tangan yang dia taruh di atas sofa sedari tadi.
“Oke, thanks, ya,” ucap Bima.
Sebelum meninggalkan Bima, inisiatif Anya mengusap bahu laki-laki itu. Berdoa dengan sepenuh hati agar Bima lekas sembuh.Namun, tidak disangka. Bima malah mendongak ke arahnya. Pandangan mereka bertemu lagi untuk yang kesekian kali. Diam-diam, kejengahan menghinggapi Anya. Wajahnya memerah. Pipinya mendadak panas.
Bima semakin mendongak. Dengan santainya dia menyingkap beberapa helai rambut Anya dan menaruhnya ke belakang telinga.
“Kamu ... udah lama nggak keramas, ya? Baunya apek.”
Helaan napas Anya terdengar berat.
Kaleng biskuit, sialan!
***
Anya masih mengaduk-aduk pasta bolognese tanpa berniat memakannya. Sudah lewat tengah hari, tapi rasa laparnya belum kunjung tiba. Ucapan Bima tadi pagi membuatnya kesal setengah mati. Sudah bela-belain bangun pagi, ngiris-ngiris bawang, masak buat sarapan, eh malah dihina-hina! Kaleng biskuit keterlaluan.
Salah siapa jika Anya tak sempat keramas? Demi mengantarkan sarapan tepat waktu, dia rela mandi hanya 10 menit. Bahkan kurang dari itu. Jarak rumah yang tergolong jauh, sedikit menyusahkannya. Walaupun Minggu pagi, tetap saja jalanan Jakarta tidak bisa diprediksi kepadatannya.
Anya mendesah. Diingatnya kembali Bima yang tadi pagi kesusahan menggerakan tangan. Memakai baju saja tidak bisa. Apalagi menyiapkan makanan? Dengan malas, Anya menyambar ponsel. Mengirim pesan basa-basi sekadar menanyakan kabar. Satu pesan balasan masuk. Singkat, padat, jelas.
“Masih nyeri, susah ngetik. Maaf.”
Lagi dan lagi Anya mendesah kesal. Salah siapa yang bersikeras tidak mau ke rumah sakit? Sungguh, Anya menyesal saat mengucapkan ingin bertanggung jawab. Kalau saja Bima dirawat di rumah sakit, pasti diatidak akan serepot ini. Toh rumah sakit pasti sudah menyiapkan servis terbaik. Makan pagi hingga malam sudah terjamin. Pengobatan juga dilakukan tenaga ahli. Dan pastinya, Bima punya asuransi kesehatan untuk mengcover biaya perawatannya.
“Nanti malam setelah meeting saya ke apartemen Bapak lagi, deh. Lagian ada titipan juga dari Pak Daffa yang khawatir dengan kondisi Bapak setelah saya kasih tahu keadaannya.”
Anya mengetik pesan balasan dengan terpaksa. Kalau saja Bima bukan investor restorannya dan kalau saja jika ini bukan tentang balas budi, Anya sudah pasti tidak sudi merawat Bima.
Beberapa jam berlalu dengan sunyi. Anya meminta Pak Dafa menyiapkan makan malam spesial untuk Bima. Buat apa repot-repot memasak kalau ujung-ujungnya bakal dihina?Anya mencebik sambil beberapa kali kembali mencium rambutnya. Sudah keramas. Sudah wangi. Namun, kekesalannya masih ada.
Langit Jakarta sudah hampir berubah warna. Dia memilih menaiki ojek online agar tidak kemalaman karena terjebak kemacetan. Namun, tetap saja Anya sampai di apartemen Bima saat langit sudah benar-benar gelap.
Satu paperbag besar dengan beberapa kotak makanan dia bawa dengan senyuman. Berharap, setelah ini tugasnya selesai. Orang seperti Bima tidak mungkin sanggup berleyeh-leyeh terlalu lama. Pekerjaannya pasti sudah menumpuk. Mau tidak mau, Senin pagi dia pasti sudah kembali bekerja.
Anya menekan bel beberapa kali. Sama seperti tadi pagi. Tidak ada jawaban. Saat Anya hendak memasukkan sandi, pintu terbuka. Anya terperangah setengah tak percaya.
“Loh, Anya. Ada apa, ya?”
Masih geming, Anya mencoba merangkai kata. “Bu Ratu.” Namun hanya itu yang mampu diucapkannya.