33 Ratu yang Jahat

1882 Kata
Ratu diam sejenak di depan pintu. Memperhatikan dari ujung kepala sampai kaki Anya, menilai penampilannya secara gamblang. Alisnya terangkat sinis ketika memperhatikan papper bag yang dibawa Anya. Tidak ada senyum yang mengembang atau tatapan ramah menyambut kedatangan tamu tidak diharapkan. “Siapa?” Kepala Ratu menoleh ke dalam, ingin berkata bukan siapa-siapa. “Anya,” jawab Ratu kepada Bima. “Silakan masuk.” Tangannya melebarkan pintu yang sebelumnya tidak dibuka sepenuhnya. Tatapan Ratu mengikuti langkah Anya yang menghampiri Bima ke ruang duduk. “Malam,” sapa Anya garing kepada Bima yang sedang duduk di sofa sembari memegang salep. “Eh, biar saya bantu.” Refleks Anya menaruh barang bawaannya, menyambar salep itu, dan duduk di sebelah Bima. Mendorong bahu laki-laki itu agar memunggunginya. “Tolong buka kancing kemejanya, Pak.” “Nggak usah. Saya bisa sendiri.” Bima menolak dengan halus. “Ini agak―” “Tangan Pak Bima gimana? Masih sakit kan?” Anya menatap Ratu yang masih berdiri menonton mereka. Berdeham canggung, Anya menambahkan, “Lagian ini juga salah saya Bapak sampai luka-luka.” Mata Ratu menyipit. “Bima udah cerita, kemarin katanya ada orang mau nyeberang, tapi nggak lihat ada mobil yang lajunya kencang. Akhirnya dia jatuh karena nolongin orang itu. Ternyata itu kamu, ya?” Ratu bersedekap, menahan suaranya agar tidak berdecak kesal. “Dari tadi juga saya mau bantu Bima untuk olesin punggungnya yang sakit, tapi ditolak terus. Udah Bim, benar kata Anya, biar dia bantu kamu.” Ratu pergi ke dapur untuk mengambil gelas tambahan, lalu duduk di seberang sofa. “Kebetulan aku baru aja bikin teh herbal. Kamu juga cobain ya, bagus buat kesehatan.” Ratu menuangkan teh dari teko ke dalam tiga cangkir gelas. “Eh, iya, Bu. Makasih.” “Kalau kamu terluka juga? Kalian udah ke rumah sakit?” Anya menggeleng. “Saya nggak luka sama sekali.” Anya menghadap punggung Bima lagi. Bima sudah melonggarkan kancing kemeja dan Anya menahan napas ketika melihat lebam itu. Warnanya sudah berubah keunguan gelap. Dia menggigit bibir karena khawatir, sehalus mungkin mengoleskan salep. Tubuh Bima tersentak sedikit. “Sakit, ya? Mau ke rumah sakit aja?” Bima menoleh ke balik punggungnya menatap Anya sejenak. Kekehan malah keluar dari bibirnya, jelas menganggap kekhawatiran Anya berlebihan. “Dingin,” komentarnya pada salep yang baru diolesi. “Nggak apa, ini hanya luka ringan. Nggak ada yang serius atau butuh perawatan dokter.” “Kita nggak usah pesan makanan karena udah ada yang bawain gratisan,” ucap Bima kepada Ratu. Tangan Ratu setengah jalan ke mulutnya untuk menyesap teh dari cangkirnya. “Kamu bawa apa? Masak sendiri?” Sikapnya dibuat sangat santai ketika menyesap teh dengan anggun. “Saya bawa dari resto, Pak Dafa yang masak. Maksud saya chef kami.” Anya menatap papper bag yang dibawanya di atas meja. “Ada sup ikan bouillabaisse sama dessert crème brulee, ada roti bougette juga.” “Ya udah kita makan bareng aja.” Anya langsung menoleh kepada Bima dan menggeleng. “Nggak usah, Pak. Rencananya saya mau langsung pulang aja.” “Tinggal sini dulu, kita makan bareng.” Bima mengeluarkan kotak makan dari papper bag. “Ini banyak, bisa untuk bertiga.” Anya menggaruk pipinya, dan mengetatkan rahang, menatap sekali kepada Bima dengan pandangan menusuk. Sudah jelas di dalam hatinya berteriak penuh makian. “Saya ambil piringnya dulu kalau gitu. Permisi.” *** Hanya dibatasi rak lemari dengan hiasan tanaman pot yang memisahkan ruang tengah dan dapur. Napas Anya terasa berat karena menahan amarah. Si Kaleng Biskuit itu entah sengaja atau tidak membuat dirinya dalam situasi canggung seperti ini. Lagian mereka ngapain sih malam-malam berdua-duaan di sini? Sejenak pandangannya menatap sekeliling ruang dapur yang tertata rapi. Meja marmer putih tampak kontras dengan kitchen set berwarna hitam dan laci-laci yang tertutup abu-abu tua. Tangan Anya menarik laci, mengambil tiga piring dan pisin. Dia menarik laci kecil di atasnya untuk mencari sendok dan garpu, tetapi tidak menemukan. “Di mana, ya?” “Di laci dekat kompor,” beritahu Ratu yang menyusul Anya. “Kebiasaan Bima kalau lagi masak pasti cari sendok, jadi aku taruh di tempat paling dekat. Pas dia baru pindahan ke sini, aku yang bantu susun.” Ratu mengambil gelas yang tersimpan di laci atas, lalu membuka kulkas. “Mau air putih atau jus jeruk?” Wanita itu pasti sering ke sini karena apartemen Bima sudah seperti rumahnya sendiri. “Air putih aja.” Dari tempatnya berdiri, Anya jelas melihat isi kulkas yang penuh. “Bima suka lupa isi kulkasnya kalau bukan aku yang beliin.” Ratu tersenyum manis, bangga akan dirinya sendiri. “Dia kan super sibuk, tapi mesti ada yang ngurusin kan?” Anya tidak tahu harus membalas bagaimana. Dia sendiri tidak tahu posisinya di mana. Jika Ratu sedang berusaha membuatnya cemburu, itu usaha sia-sia karena dia sama sekali tidak memiliki perasaan spesial terhadap Bima. Jika sedang membandingkan status mereka, jelas Anya tidak tertarik bertukar posisi. Makan malam ini terasa menyebalkan. Duduk bersama orang yang tidak disukainya, belum lagi Ratu yang berusaha menampilkan kemesraan. Jika tidak melanggar kesopanan, Anya dengan senang hati muntah karena muak dengan perhatian berlebihan si Drama Queen ini. “Oh, ya, gimana resto kamu?” Ratu tiba-tiba mengganti topik mengarah kepada Anya. “Eh,” Anya menelan sisa makanannya, “Baik, progresnya meningkat.” “Aku dengar Bima banyak bantu resto kamu.” Ratu tersenyum lebar. “Next meeting bisa kan reservasi di resto kamu? Udah lama juga nggak ke sana.” Anya mengangguk, mengembuskan napas perlahan. Dia nyaris melontarkan kata-kata penolakan. Namun, perasaannya tersedak rasa bersalah ketika menoleh kepada Bima dan betapa pucatnya laki-laki itu malam ini. Beberapa kali kernyitan terlihat jelas di dahinya dan gerakan tangan yang refleks ingin menyentuh rusuknya. Pasti menyiksa sekali duduk berlama-lama dan berpura-pura baik-baik saja. Anya berdiri, membuat mereka menatapnya. “Saya udah selesai dan mau buru-buru pulang udah malam. Bu Ratu mau pulang juga kan?” Tanpa menunggu jawaban, Anya membereskan piring. “Pak Bima udah kenyang juga kan?” Tanpa permisi menarik juga piring milik Bima dan menumpuk piring mereka. “Nggak usah dicuci, nanti ada orang yang bersihin tiap pagi ke sini.” Tangan Bima menahan Anya yang hendak mengangkat piring. Mata mereka bertemu, jaraknya yang membungkuk di samping Bima dapat melihat jelas titik keringat di dahi laki-laki itu. Anya meneguk ludah, bertanya dalam hati apakah dia baik-baik saja? Mata Anya mengerjap ketika Bima tersenyum lembut seolah menjawab pertanyaannya. “Oke. Saya pulang dulu. Bu Ratu mau ke bawahnya bareng?” Anya meraih tasnya. “Orang sakit mesti cepat istirahat.” Didesak dengan perkataan Anya agar mereka cepat pulang, Ratu juga mengambil tasnya dan ikut berdiri. “Kita bisa pulang bareng. Biar saya antar kamu.” Bima mengantar mereka sampai depan pintu. Sedikit mengerang saat berdiri. “Makasih untuk bantuan malam-malam begini.” “Kamu cepat sembuh ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku aja.” Ratu langsung menyentuhkan pipinya ke pipi Bima bergantian. “Bye!” Anya memutar bola mata jengah, tetapi tetap berdiri di tempatnya. Rupanya Bima melihatnya, alis laki-laki itu terangkat naik dengan sorot mata bertanya. Anya hanya mengucapkan selamat malam tanpa basa-basi. Bagus juga kalau ada si Drama Queen yang sigap segala-galanya, jadi dia tidak harus sering ke sini untuk mengecek kondisi Bima. *** Di dalam mobil selama perjalanan pulang, Anya bingung memulai percakapan dengan Ratu yang tiba-tiba berubah jadi Ratu Es. “Maaf jadi ngerepotin Bu Ratu antar pulang saya.” Ratu menoleh sejenak, lalu fokus menatap jalanan lagi. Laju mobilnya melambat begitu keluar dari kawasan apartemen. Kecepatannya hanya sekitar 20 km/jam. “Saya nggak keberatan.” Dia mengendarai di jalur lambat. “Bagaimana makan malam bareng keluarga kamu waktu itu?” Anya menoleh cepat ke arah Ratu.. “Reservasi atas nama Bima Abian di salah satu restoran mitra kami. Tentu aku tahu. Gosip seperti api melahap kertas kan?” Ratu tersenyum meremehkan. “Bagaimana kelanjutan perjodohan kalian?” Pertanyaan berani ini membuat Anya tersentak. “Saya rasa itu urusan keluarga saya dan Pak Bima.” “Kamu nggak minta Bima untuk menikahimu secepatnya, bukan?” Anya membuang napas keras mendengar pertanyaan itu. Seoalah dirinya mengejar Bima. Ratu akan senang jika mendengar pengakuannya menolak perjodohan, tetapi dia tidak akan memberikan kepuasan itu. “Masih bisa dibatalkan,” cetus Ratu ringan. “Ngomong-ngomong Bima udah banyak bantuin kamu padahal dia hanya investor. Emang dia laki-laki baik, dewasa, dan bertanggung jawab. Nggak cocok dapat calon istri yang kekanak-kanakan karena nggak akan ngerti kebutuhan bisnis apalagi mengurus dirinya yang super sibuk.” Genggaman tangan Anya mencengkeram tasnya sampai terasa sakit di buku jarinya. Bibirnya sudah serapat cangkang kerang. Ratu menatap Anya polos. “Ah, maaf, mungkin kata-kataku agak kasar.” Senyumnya memohon maaf. “Aku hanya kasian sama Bima. Dia udah baik dan nolongin orang, tapi dia yang babak belur.” Jari Ratu bergerak di udara. “Kita ngomongin hal lain aja.” Tak jauh dari mobil mereka, ada mobil yang berhenti dengan menyalakan lampu hati-hati. Si pengemudi keluar dari mobil terlihat sedang menyisikan anak kucing jalanan yang terjebak di tengah jalan. Ketakutan tidak bisa menyeberang. Setelah menyimpan kucing kecil itu di trotoar si pengemudi melanjutkan perjalanannya. Ratu terkekeh menonton adegan itu. “Kamu tahu kenapa orang kaya barusan nggak mungut anak kucing itu?” Mata Anya menyipit sedikit, memilih tidak berkomentar. Lama-lama dia punya minat menjahit mulut wanita ini. “Karena meski anak kucing itu lucu, tetapi bukan dari ras mahal. Kucing juga bisa mencakar majikan yang sudah memberi makan. Tidak tahu diuntung, serakah, tidak tahu diri.” Ratu menatap Anya dengan maksud tertentu. “Kami lebih memilih pelihara anjing yang jelas setia dan penurut.” Mulut Anya terbuka, matanya mengerjap beberapa kali saat mencerna maksud dari kata-kata barusan. Sulit dipercaya perumpaan itu jelas ditujukan untuk menghina dirinya. Namun sebelum sempat membalas, Ratu mendahuluinya. “Keluar,” ucap Ratu dingin ketika mobilnya menepi dan berhenti di pinggir jalan. Ponsel Ratu berdering dan menunjukkan panggilan masuk. “Aku masih ada urusan.” Tanpa memedulikan Anya, dia mengangkat telepon dan sibuk berbicara. *** Anya keluar dari mobil dan membanting pintu. Mobil Ratu langsung melaju kencang meninggalkannya. Mulut Anya ternganga. “Wah!” Benar-benar terkejut sekaligus bingung. “Gila! Mak Lampir nggak waras.” Anya mengusap rambutnya, menguraikan dengan kasar, lalu mengipasi wajahnya yang panas. Bibirnya gemetar, napasnya terengah. Anya mengusap wajahnya yang basah. “Jangan menangis!” Dia menatap sekeliling mencoba mengenali di mana dirinya sekarang. “Apa ... apa maksudnya barusan?” Tidak habis pikir. “Barusan dia nyamain aku sebagai kucing gak tahu diri dan lebih baik jadi anjing?” Berpikir kata-kata itu barusan seperti disambar petir. Apa salahnya sampai harus menerima kata-kata kasar seperti itu? Anya baru hendak mengambil ponsel untuk menghubungi Alden agar menjemputnya. “Haish!” Tangannya sampai gemetar. Rasanya dia butuh beberapa saat untuk menenangkan diri. Jantungnya memompa begitu cepat hingga kemarahannya nyaris meledak. Anya berteriak keras, tidak tahan akan amarah karena direndahkan seperti ini. Sepatunya dilemparkan ke depan dengan kesal. “Dasar Mak Lampir sialan! Semoga semua orang bisa tahu sikap jahatnya itu. Dan orang-orang balas ngutuk.” Tangan Anya terulur ke udara membentuk cekikan. Langkahnya dientakkan dengan keras dan memungut sepatunya lagi. Tidak peduli apa pendapat orang di sekitar yang melihatnya marah-marah di pinggir jalan. Anya memuntahkan semua makian yang sudah ditahan sejak muncul di apartemen Bima. Tunggu saja pembalasannya kepada Mak Lampir itu. Dia lupa kalau cakar kucing bisa dalam dan menyakitkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN