Aku menatap langit-langit kamar. Usiaku sudah 7 bulan sekarang dan tubuh ini jadi semakin bulat saja. Ah iya, karena usiaku sudah 7 bulan. Aku sekarang sudah bisa duduk dan merangkak. Sepertinya, tubuh bayi ini sudah mulai kuat. Tengkurap pun sekarang jadi sangat mudah. Mungkin setelah bisa berjalan, aku akan bisa kabur dari kekaisaran gila ini.
Kaisar kini mengurangi jumlah kstaria di dalam kamar dan istanaku karena tidak ada lagi orang-orang bodoh yang berani menyerangku setelah kasus 6 bulan lalu.
Kudengar, Luca sudah menemukan dalangnya dalam waktu 2 hari.
Marquess Helius yang merupakan pemimpin pasukan "Anti Kekaisaran"lah yang melakukannya. Aku tak tahu kenapa dia repot-repot membunuh bayi yang tak akan hidup lama ini. Saat Mith dan Dego ingin menghancurkan kediaman Marquess Helius dan membunuhnya. Dia dan istrinya juga keempat anak-anaknya ditemukan mati gantung diri. Sepertinya, daripada mati di tangan kedua pangeran, mereka memilih mengakhiri nyawanya sendiri. Mandiri sekali mereka!
Dan, tada! Kediaman Marquess Helius hilang dari peta dan keturunan mereka juga. Haha.
Keempat kepala mereka dipotong dan ditempatkan di alun-alun kota sebagai pelajaran bagi para orang bodoh yang ingin bermain dengan kaisar.
Mendengar cerita itu, aku jadi semakin ingin pergi dari kekaisaran ini.
"Tumben sekali mereka belum datang. Apa berita soal aku yang bisa merangkak belum terdengar ke telinga ka....."
"QIYA!!!!"
"Aku menyesal!"
Kaisar mendobrak pintu kamarku. Kelima pangeran berbaris di belakang kaisar. Keenam makhluk itu kompak belari ke arah kotak bayiku. Kaisar langsung membekukan 2 ksatria yang berjaga dalam kamarku.
"Anda masih belum berubah, ya, Kaisar!"
Kepala mereka menyembul di atas kepalaku.
"Apa Qiya kami benar-benar sudah bisa merangkak?"
"Yap!"
"Kami ingin lihat!"
Lagi-lagi mereka memasang wajah melas seperti saat memintaku untuk tengkurap 2 bulan lalu. Bedanya, sekarang kilauan cahaya itu makin menyilaukan saja.
"Berhenti memasang tampang seperti itu!"
"Ayo! Tunjukkan kehebatan Qiya pada kami!"
"Ugh, aku baru saja merangkak mengelilingi kotak bayiku lima menit lalu! Aku lelah tau! Tubuh bulat ini terlalu berat untuk dibawa!"
Kaisar mengangkat tubuhku dan meletakannya di lantai-yang dibawahya terdapat sutra, dan masih beralaskan bulu beruang-dalam keadaan tengkurap.
"Aku kan tidak bilang kalau aku mau!"
Lantai ini sangat lembut dan empuk! Aku rasa aku akan tidur saja.
Kelima pangeran dan kaisar langsung jongkok demi bisa melihatku dengan jelas. Tangan mereka menopang dagu.
"Biarkan aku muntah terlebih dahulu!"
Mith menyiapkan batu perekam sihir.
"Ayo! Qiya! Kami tahu Qiya bisa!" Dego memberi semangat.
"Ayo Qiya! Merangkaklah demi kami!"
"Aku makin tidak ingin melakukannya!"
Kilauan cahaya itu semakin terang. Mata hijau keenam makhluk itu juga semakin membulat.
"Baiklah, aku menyerah! Kalian menang!"
Aku mengambil ancang-ancang untuk merangkak. Kepala dan dadaku terangkat. Kedua telapak tanganku sudah membuat tumpuan. Sekarang tinggal kakiku saja.
"Ugh, ayo Qiya!"
Berhasil! Kedua kakiku sudah tertekuk. Baiklah, aku sudah membuat posisi merangkak. Sekarang tinggal melangkah dengan kaki dan tangan bulat ini.
Tangan kananku bergerak. Menyusul kaki kiriku.
Keenam makhluk itu sama sekali tidak berkedip melihatku. Manik mata mereka semakin membulat saja.
Aku sudah merangkak sejauh 10 m. Dan, sekarang rasanya tubuhku lemas sekali. Tubuh bayi ini benar-benar payah.
Akh!! Aku terjatuh dengan kepala mendarat terlebih dahulu. Untunglah, karpet ini sangat lembut dan empuk. Rasanya sama sekali tidak sakit. Tapi, aku tidak bisa bergerak.
Kenapa tubuh ini sangat berat?!?!?!
"QIYA!!!" Keenam makhluk itu berteriak.
"Kompak sekali kalian!"
"Bagaimana ini? Qiya tidak bergerak!"
"Itu karena badanku terlalu lemas tahu!"
"Apa Qiya mati?"
"Itu yang kau inginkan ya, Luca?"
"Aku tidak berani mengangkat tubuh malangnya!"
"Aku masih hidup tahu!"
Aku mengangkat tangan kananku sebagai tanda jika aku masih hidup.
"QIYA!!! Kau masih hidup?" Niel mengangkat tubuhku.
"Kau ingin aku mati saja?"
"Qiya, apakah ada yang terluka? Kepalamu baik-baik saja? Kakimu tidak berdarah, kan? Bagaimana dengan tanganmu?" Kaisar menatap setiap inchi tubuhku dari kepala hingga kaki.
"Ah, Ayah! Telapak tangan Qiya terluka!" Kiel mengangkat tanganku.
"Benarkah? Tapi, aku sama sekali tidak merasakan sakit."
"Siapa yang bertugas membersihkan karpet bulu ini?" Kaisar berdiri dan bertanya pada kedua pelayanku yang berdiri tak jauh dari pintu.
"Sejak kapan kalian berdua ada di sana?"
"Cepat seret dia kemari!"
Entah mengapa aku punya firasat buruk soal hal ini.
Tak berselang lama, kedua ksatria datang dengan menyeret seorang pelayan.
"Kalian ternyata benar-benar menyeretnya, ya. Haha."
"Apa kau tau apa kesalahanmu?" Kaisar berdiri di depan pelayan yang tergeletak di lantai itu. Matanya menatap bengis pelayan yang mulai terisak itu.
Mith menggendongku dan membawaku di samping kaisar.
"Tidak, Yang Mulia Kaisar. Tapi, apapun kesalahan saya, saya akan membayarnya dengan nyawa saya!"
"Lihat telapak tangan, Putri! Berdarah!"
Pelayan itu menatap telapak tanganku. Sedetik kemudian wajahnya terlihat bingung. Sedetik kemudian ia kembali menangis.
"Tolong, maafkan saya karena saya tidak becus membersihkan karpet ini hingga membuat Yang Mulia Tuan Putri terluka!"
"Bukankah kau bilang kau ingin membalasnya dengan nyawamu?" Luca ikut menggertak.
"Hei, diakan hanya bercanda!"
Aku menatap telapak tangaku sendiri. Kalau aku memang terluka, harusnya aku merasa kesakitan saat merangkak tadi. Tapi, rasanya biasa saja.
Hah! Pantas saja tidak terasa. Ini kan hanya luka goresan kecil sepanjang 2 mm. Mata kalian jeli sekali hingga bisa melihat luka yang harus menggunakan mikroskop agar bisa melihatnya dengan jelas ini. Dan, kalian heboh bahkan hingga mau menghukum mati seorang pelayan karena luka yang semut saja melihatnya sebagai luka kecil?
Lebih baik kalian buang saja aku!
Pantas saja pelayan itu memasang tampang bingung karena tidak bisa melihat luka yang dimaksud Pangeran Pertama.
"Cepat seret dia ke penjara bawah tanah!"
"Tolong ampuni saya, Yang Mulia!" Pelayan itu bersimpuh di kaki Kaisar.
"Aku tak akan mau melakukan itu. Bahkan, jika kepalaku harus terpisah dari badan!"
"Saya mohon! Saya akan membersihkan karpet dengan lebih baik! Tolong ampuni saya!"
"Hah! Baiklah, ayo kita mulai misi penyelamatannya!"
"Hua! Hua! Hua!" Aku menangis kencang.
Lama-lama aku bisa menjadi pemeran utama sebuah drama dengan keahlianku ini.
"Qiya, kenapa kau menangis? Apa lukanya sangat sakit?" Mith menatapku penuh belas kasih.
"Apa hukuman pelayan itu kurang? Apakah kita harus memotong kepalanya?"
"Bisa-bisanya kau menawarkan hal itu padaku, Luca bodoh!"
"Hua!! Hua!! Hua!!" Aku terus menangis tanpa henti.
"Cepat seret dokter istana kemari! Tuan Putri sepertinya sangat kesakitan!"
Kedua ksatria itu kembali pergi. Kali ini mereka akan menyeret dokter istana ke kamarku.
"Kenapa kalian memanggil dokter istana untuk luka kecil ini. Bukankah ada pengguna spirit penyembuh di tempat ini?!"
"Hei! Kalian lupa menyeret pelayan ini!" Kiel berseru kencang.
"Ayah, potong gaji kedua ksatria itu!" Niel yang biasanya tidak terlalu peduli soal hukuman para pekerja kini ikut bergabung.
"Tentu saja. Tapi, apa kalian ingat wajah ksatria itu?"
Kelima pangeran kompak menggeleng.
"Atau mungkin namanya?"
Kelimanya tetap menggeleng.
Yah, wajar sih kalau tidak ada satupun ksatria yang namanya diingat oleh 6 makhluk ini. Secara, kekaisaran ini punya banyak kstaria. Masing-masing istana pangeran saja dijaga 250 ksatria. Belum lagi ksatria yang mengelilingi istana kekaisaran yang luasnya saja 100 kali lapangan bola ini. Tapi, bukankah berlebihan jika kalian tidak mengingat wajah dua ksatria yang baru saja pergi 30 detik lalu itu?
"Kalau begitu kita potong saja gaji semua ksatria!"
"Mudah sekali bicaramu, Kaisar. Kau ingin para ksatria mengundurkan diri, ya?"
"Lalu, kita apakan pelayan ini? Potong tangannya?"
"Astaga, Dego! Usiamu baru 5 tahun dan kau sudah mengenal kalimat menyeramkan seperti itu?!"
"Aku rasa Qiya ingin kita memotong kepalanya. Makanya dia menangis."
"Bukan itu yang aku mau tahu. Dasar kalian ini! Baiklah, mari gunakan cara terakhir!"
"Hua!!! Hua!!! Hua!!!" Kedua tanganku lurus pada pelayan itu. Seolah minta digendong. Yah, memang itu yang aku mau.
Mith yang melihat tingkahku hanya diam. Berusaha mencerna apa yang aku inginkan.
"Hua! Hua! Hua!" Aku terus menangis sembari berusaha menggapai pelayan yang duduk bersimpuh di depan kaisar itu.
"Sepertinya, Qiya ingin mengucapkan salam perpisahan pada pelayan ini!"
"Argh, bukan begitu!"
"Wah, Qiya sangat baik, ya! Nah, ucapkanlah salam perpisahan dengan buruk!" Mith memberikanku pada pelayan yang langsung menggendongku itu.
"Aku bukan ingin mengucapkan salam perpisahan. Tapi, terima kasih karena sudah memberikanku pada pelayan ini!"
Pelayan itu menatapku. Ia tersenyum.
"Aku akan memanggilmu pelayan senyum mulai sekarang!"
"Aha! Gyu! Gyu! Gyu!" Aku tertawa menatap wajah pelayan itu. Lalu, memeluknya.
Jder!!! Kilat menyambar hati kelima pangeran dan kaisar.
"Aku rasa Qiya menyukai pelayan itu. Bagaimana kalau kita memecatnya saja?"
"Apa-apaan itu?!?!"
"Hua!!! Hua!!! Hua!!!"
"Aku rasa Qiya tidak suka itu. Lebih baik kita asingkan saja dia!"
"Itu lebih buruk tahu!"
Aku terus menangis tanpa henti.
"Sebenarnya kalian itu tidak peka atau memang bodoh?"
"Aku rasa Qiya tidak ingin kita memecat atapun memotong kepala pelayan ini. Qiya ingin kita... apa ya istilahnya? Ah, Qiya ingin pelayan itu dimaafkan oleh kita!" Niel menatapku yang terus menangis.
"Apa susahnya bilang memaafkan?"
Kalau disuruh memilih diantara keenam pria aneh ini. Aku lebih memilih niel, karena dia yang paling normal dan tidak berlebihan.
Kaisar manggut-manggut.
"Baiklah! Mulai sekarang tugasmu adalah membersihkan ruangan lain. Serahkan karpet ini pada orang lain saja. Ah, lalu kau harus menjaga jarak 10 m dari Tuan Putri. Kau boleh pergi!"
Pelayan itu berdiri. Kaisar mengambilku kembali dari pelayan itu.
"Kenapa dia harus menjaga jarak dariku?"
"Terima kasih banyak atas kemurahan hati Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Para Pangeran!" Pelayan itu menunduk penuh hormat.
"Hei, yang berperan penting itu aku tahu!"
Pelayan itu langsung balik kanan dan pergi sebelum kaisar berubah pikiran.
Hari ini aku menyelamatkan satu nyawa lagi.