Sekarang, aku punya jadwal baru selain makan, minum dan menangis. Jadwal merangkak!
Setiap pagi dan sore, para pelayan akan mengeluarkanku dari kotak bayi dan membiarkanku merangkak hingga aku lelah.
Aku bisa bebas menjelajahi kamar yang seluas 5 kali lapangan bola ini. Hah, aku ingin tahu kenapa kaisar membangun kamar seluas ini hanya untuk seorang bayi yang menghabiskan waktunya dalam kotak. Tapi, ini bagus juga karena aku bisa bebas merangkak ke segala penjuru. Meski, hal itu menyusahkan para pelayan yang harus mencuci dan menyisir karpet bulu ini setiap hari.
Ah, soal karpet, kaisar mengganti semua karpet itu dengan karpet bulu dari Kerajaan Farensil yang dipimpin Raja Weast dan istrinya Ratu Laxa.
Kerajaan itu dikenal dengan karpet bulunya yang memiliki kualitas terbaik di seluruh kekaisaran. Karpet bulu ini rasanya lebih nyaman dan lembut daripada kasurku. Jadi, merupakan hal yang wajar jika tiba tiba aku tertidur pulas di atas karpet saat merangkak.
Kaisar kini sudah tidak lagi menempatkan satupun ksatria di kamar ataupun istanaku karena aku menangis setiap kali melihat ksatria. Agak susah juga membujuk kaisar untuk melalukan hal itu. Karena, dia mengartikan tangisanku sebagai rasa benci. Ribuan ksatria terancam dipecat karenanya. Untunglah, Niel bisa mengerti keinginanku.
Pangeran ketiga memang yang terbaik!
Pengusiran para ksatria olehku bukan tanpa sebab. Aku selalu turun diam-diam dari kotak bayi ini dan merangkak keluar kamar saat semua orang tertidur. Akan sangat sulit bagiku untuk pergi jika ksatria berbaris di setiap sudut istana. Walau para ksatria sudah pergi, bukan berarti tidak ada yang mengetahui perbuatanku ini. Beberapa kali aku tertangkap basah oleh pelayan bunga dan pelayan lain. Sepertinya, para pelayan di istana ini pun punya jam kerja malam.
Ash juga salah satu dari sekian banyak orang yang tahu. Tapi, tidak seperti pelayan yang akan langsung membawaku kembali ke kotak bayi. Ash sama sekali tidak peduli. Bahkan, kalau boleh jujur Ash adalah makhluk yang membantuku melarikan diri dengan membuka pintu kamarku dan pintu ruangan lain. Makanya, meski pelayan sudah mengunci pintu itu aku tetap bisa melarikan diri.
Ash memang kucing yang paling baik dan manis!
Dan, kelihatannya berita soal bayi yang melarikan diri belum terdengar ke telinga kaisar atau para pangeran. Jika mereka dengar berita itu, pasti mereka akan langsung memenggal kepala para pelayan. Atau langsung memasang dinding besi agar aku tidak bisa kabur.
Walau mereka melakukan hal itu pun aku akan tetap melakukan penjelajahan malam hari karena ada banyak hal baru yang aku ketahui. Meski aku hanya bisa merangkak paling jauh 50 m.
Misalnya, kamarku berada di lantai dua sehingga ketika melihat ke arah jendela, akan ada hamparan taman istana sejauh mata memandang. Di samping kamarku adalah kamar tamu. Dan, di samping kamar tamu adalah kamar tamu juga. Hanya saja ukurannya lebih kecil dari kamarku. Yah, sejauh ini hanya itu yang aku tahu.
Malam ini aku kembali melakukan penjelajahan malam hari seperti biasa. Bedanya, sekarang Ash tak ikut. Mungkin, black panther itu sedang tidur atau tengah bermain dengan Pangeran Kedua. Yah, tak masalah. Setidaknya, Ash membiarkan pintu kamarku terbuka sebelum pergi.
"Ugh!"
Aku memanjat kotak bayiku. Semakin hari tubuh bulat ini semakin mudah kugerakkan. Sepertinya, aku sudah terbiasa dengan tubuh bayi ini.
Pluk!!!
Berhasil! Aku sudah berada di atas karpet bulu. Sekarang hanya tinggal merangkak keluar kamar.
"Permisi, Tuan Pintu!"
Aku menggeser pintu dengan sepelan mungkin agar tidak membuat suara. Tujuan ku kali ini adalah ruangan di sebelah kamar tamu yang berada di sebelah kamar tamu lain yang ada di sebelah kamarku. Sepertinya, aku menyebut terlalu banyak kamar tamu.
"Baiklah, ayo kita merangkak!"
Eh, lorong istana ini sepi sekali. Biasanya akan ada banyak pelayan lewat sehingga aku harus bersembunyi. Syukurlah, aku jadi bisa merangkak dengan santai.
Aku akan tumbuh besar dan kuat. Lalu, aku akan kabur dari kekaisaran gila ini sebelum aku mati di tangan para pangeran. Tapi, sebelum itu mari kita kumpulkan harta sebanyak mungkin dan hidup sebagai pengangguran yang kaya. Di istana ini pasti ada semacam ruang harta, kan?
"Ah, aku harus segera menemukannya sebelum aku ditemukan terlebih dahulu!"
Aku merangkak lebih cepat. Sudah 1 kamar tamu yang kulewati. Tinggal satu kamar tamu lagi dan aku akan sampai di tempat tujuanku.
"Ayo, Qiya!"
Hah! Akhirnya sampai juga. Kaki dan tanganku rasanya mati rasa. Sekarang hanya tinggal membuka pintu ini.
Aku berusaha berdiri dengan bersandar pada pintu. Tangan mungilku berusaha menggapai gagang pintu. Ugh, sebenarnya gagang pintu yang terlalu tinggi atau tubuhku yang terlalu boncel? Apakah kaisar tidak menyediakan pintu khusus bayi? Hah! Tentu saja tidak! Memangnya kaisar akan menduga jika bayinya akan kabur dari kotak bayinya dan merangkak ke setiap jengkal istana?
Tubuhku bergetar. Ini bukan waktunya bagi tubuh bulat ini untuk belajar berdiri. Yang bisa aku lakukan di usia ini hanyalah merangkak.
Bruk!! Pintu itu langsung terbuka ketika aku tak sengaja mendorongnya.
Aku terjatuh berdebam di atas lantai yang dilapisi karpet bulu.
Sebenarnya, istana ini punya berapa banyak karpet bulu? Setidaknya, karpet ini membuat tubuhku tidak merasakan sakit.
Aku mengangkat tubuhku yang tengkurap. Kembali dalam posisi merangkak. Mataku menatap setiap sudut ruangan ini.
"Kamar tamu lagi?!"
Sebenarnya, untuk apa istana ini punya banyak kamar tamu. Toh, tidak akan ada tamu bodoh yang akan datang ke istana yang berisi pangeran dan kaisar gila ini.
Aku merangkak keluar dari ruangan ini tanpa menutup kembali pintunya. Toh, pelayan mungkin akan mengira angin yang membuka pintunya.
Sekarang, hanya tersisa ruangan terakhir di ujung lorong. Hanya itu harapan terakhirku. Semoga saja di ruangan itu ada benda yang berharga walaupun sedikit.
Nafasku terengah-engah. Aku rasa tubuh ini akan kehilangan setengah lemaknya besok.
Akhirnya sampai! Aku sudah tidak kuat merangkak lagi.
Aku mendorong pintu ruangan ini. Hah! Ternyata semua pintu di istana ini sangat mudah dibuka. Untuk apa aku bersusah payah berdiri untuk membuka pintu?!?! Lalu, kenapa para pangeran dan kaisar selalu mendobrak pintu kamarku kalau tiupan nafas mereka saja bisa membukanya?!?!
Bibirku terbuka begitu mataku melihat isi ruangan ini. Akhirnya aku menemukan ruang harta istana putri! Karena ruangan ini berada di istana yang menjadi milikku. Itu artinya harta ini juga milikku!
Semua tenagaku langsung terisi ulang. Kaki dan tanganku mulai melangkah menyusuri setiap jengkal ruangan ini. Permata, batu berharga, cincin, emas, kalung. Semuanya tersimpan rapi di dalam laci. Ada juga yang berhamburan di lantai.
"Baiklah, mari kita memulung permata yang ada di lantai!!!"
Aku mengambil permata sebanyak yang bisa aku ambil. Untunglah, aku sudah menyiapkan kantong kain yang aku ambil dari pelayan bunga. Aku hanya menyiapkannya untuk berjaga-jaga jikalau aku menemukan ruang harta. Dan, ternyata aku benar-benar menemukannya. Permata itu aku ikatkan pada bajuku.
Aku keluar dari ruangan harta tanpa menutup kembali pintunya. Toh, kalaupun para pelayan mengira permata di ruangan itu hilang. Mereka tidak tahu hal itu benar atau tidak karena jumlah permata yang terlalu banyak.
"Malam ini aku untung besar!"
Gambaran hidup seorang pengangguran yang kaya raya terhampar di depan mataku.
Aku kembali merangkak ke kamarku. Ugh, rasanya lebih jauh dari sebelumnya.
Mataku menangkap siluet hitam dari kejauhan. Nampak seperti seseorang yang sedang tidur. Aku merangkak lebih cepat.
"Ugh, bau amis apa ini?"
Seorang pelayan tergeletak di atas lantai dekat kamarku.
"Kenapa pelayan itu tidur di sini? Apakah kaisar terlalu memeras tenaga pelayan istana hingga pelayan ini tertidur di sembarang tempat?"
Aku mendekati pelayan itu.
"Pelayan Bunga! Kenapa ada di sini?"
Tangan mungilku menggoyang tubuhnya. Aneh, dia sama sekali tidak bangun.
"Ah, ini?!?!? Ini darah!"
Wajahku pucat pasi begitu melihat tanganku yang dipenuhi darah.
Apa yang terjadi pada pelayan bunga?
"Tuan Putri! Apakah itu anda?" Pelayan bunga menatapku yang berada di depannya.
Aku diam. Tak tahu harus menjawab apa. Aku takut.
"Tuan Putri! Cepat pergi!" Pelayan bunga berkata lirih.
"Pergi? Pergi dari apa? Pergi kemana?"
"Ah, di sini rupanya! Sang Bulan Kekaisaran yang menjadi sumber kekuatan kekaisaran!" Seorang pria bertopeng dengan pakaian serba hitam muncul di belakangku. Darah menetes dari pedang yang ada di tangan kanannya.
"Apa maksudnya dengan sumber kekuatan kekaisaran?"
"Tuan Putri! Cepat kabur!"
Aku juga ingin merangkak sejauh mungkin dari sini. Tapi, aku terlalu takut. Tubuhku tidak bisa bergerak.
Pria bertopeng itu mendekat. Pedangnya teracung ke depan. Hanya tinggal menunggu waktu sampai besi panjang itu menusuk tubuhku. Mataku terpejam.
Aku sudah hidup dengan baik selama 7 bulan ini. Itu sudah cukup lama. Kaisar dan para pangeran selalu memperlakukanku dengan baik. Para pelayan juga sama. Aku juga punya banyak kenangan selama berada di sini. Sekarang, aku bisa pergi dengan tenang.
Aneh! Tidak sakit!
Aku perlahan membuka mataku. Tubuhku penuh dengan darah. Air mataku menetes tanpa aba-aba.
Pelayan bunga! Dia memeluk tubuh mungilku. Pedang itu justru menusuk tubuhnya. Dari mulutnya mengalir darah segar. Padahal tubuhnya selalu bergetar jika di hapadan Kaisar. Kenapa dia bisa seberani ini memberikan nyawanya hanya untukku?
"Dasar pelayan bodoh! Kau hanya membuang nyawamu dengan percuma demi bayi yang tak lama lagi akan mati!" Pria itu menarik pedangnya dengan kasar.
"Uhuk!" Pelayan itu terbatuk. Darahnya mengalir lebih banyak.
"Tuan Putri! Tumbuhlah dengan baik!" Pelayan itu tersenyum. Matanya terpejam.
Aku menatap pelayan bunga. Sekarang, aku sama sekali tidak peduli dengan nyawaku. Aku tidak peduli jika aku mati sekarang. Aku hanya peduli pada pelayan bunga. Dia masih hidup. Aku masih merasakan nadinya. Tapi, dia sekarat. Aku harus mencari Niel. Dia bisa menyembuhkan pelayan bunga.
"Niel! Luca! Mith! Kiel! Dego! Kaisar! Ash! Siapapun! Tolong pelayan bunga!"
Mataku terpejam. Air mataku mengalir dengan deras.
Pedang itu sudah berada di atas kepalaku. Tinggal satu sabetan dan kepalaku akan terlepas dari tubuh mungil ini.
"Kau boleh membunuhku! Tapi, selamatkan pelayan ini! Panggilkan dokter! Aku mohon!"
Aku memeluk pelayan itu. Tubuhnya semakin dingin. Darahnya keluar terlalu banyak.
"Tolong aku!"
Mataku terpejam.