Beware 2

1793 Kata
Sudah 4 bulan sejak aku berada di ruangan ini. Yah, hasil dari perhitunganku begitu, sih. Kira-kira, usiaku sekarang berapa, ya? 5 bulan? Atau 6 bulan? Yang jelas tubuh ini masih susah untuk bergerak. Ditambah para pelayan yang selalu memberiku s**u tiap 4 jam sekali membuat tubuh ini jadi semakin bulat saja. Tak ada hal istimewa yang terjadi selama 4 bulan ini. Kegiatanku setiap harinya juga sama. Menangis. Minum s**u. Tidur. Kedua pangeran gila datang. Mengangguku. Kaisar gila ikut datang. Menggantikan kedua pangeran untuk menggangguku. Pelayan bersayap seperti peri datang dengan nampan s**u. Terancam dipecat. Ditolong olehku. Selamat. Minum s**u. Tidur. Lalu menangis lagi. Benar-benar sangat monoton. Kenapa sama sekali tidak ada hal seru yang terjadi? Aku sangat bosan! Bukankah istana putri ini sangat luas? Kenapa sama sekali tidak ada pelayan yang membawaku keliling istana. Boro-boro keluar istana, keluar dari ruangan ini saja tidak pernah. Benar-benar menyebalkan! Setidaknya, biarkan aku melihat langit biru yang cerah disertai awan putih yang nampak lembut. Bisakah atap itu menghilang saja?!?! "Nyot! Nyot! Nyot!" Aku lagi-lagi menghisap botol s**u yang mulai dingin. 4 bulan meminum s**u yang sama membuatku bosan. Walau rasa s**u selalu berubah setiap hari. Tapi, s**u tetaplah s**u. Dan, walau terkurung dalam tubuh bayi, jiwaku ini sudah 18 tahun tahu! Ngomong-ngomong, kenapa ruangan ini sepi sekali, ya? Biasanya aku bisa mendengar suara gerungan Ash dan pange.... "Qiya! Kakak datang!" Mulai lagi! Luca langsung mengangkat tubuhku dan mencium pipiku. Ugh, apakah istana kaisar tidak punya kamar mandi? Atau, Pangeran kedua ini tidak tahu caranya membersihkan tubuh dengan benar? Dia bau! "Luca! Jangan sentuh Qiya dengan tubuh kotormu itu!" Mith datang dan mendobrak pintu istanaku. Sepertinya, tata krama kekaisaran ini memang patut diacungi kepalan tangan. "Apa maksud Kakak dengan kotor? Apakah Kakak meragukan kesucianku?" Mata Luca nampak membulat. Persis seperti tatapan anak kucing pinggir jalan yang meminta makan. Apa-apaan tatapan matanya itu?! "Cepat letakkan, Qiya!" Tangan Mith teracung ke depan. Api menyembur dari telapak tangannya. Luca dengan sigap membuat tameng dari tanah. Semburan api itu terus muncul tanpa ampun. Apa Mith ingin aku jadi daging barbeque? Kalau memang begitu harusnya dia menggaramiku terlebih dahulu! Tubuh bayi ini rasanya hambar tahu! "Hei! Kau bisa membakar Qiya!" Luca nampak kesulitan menahan serangan Mith yang membabi buta. "Tenang saja! Api itu hanya akan membakarmu! Hahahahaha!" Apakah dia memang harus tertawa saat mengatakan hal mengerikan seperti itu? "Kalau begitu lebih baik kita terbakar bersama!" Luca loncat ke atas lemari besar dengan santai. Tameng tanah itu runtuh. Masuk ke dalam lantai tanpa menyisakan bekas apapun. Mith memasang kuda-kuda. Bersiap menyerang. Luca mengencangkan pelukannya pada tubuh bulatku. Juga bersiap menyerang. "Hei! Jika kalian ingin mati, lakukan saja sendiri! Jangan membawa bayi yang tidak tahu apa-apa ini!" Mith menjetikkan jarinya, beberapa bola api muncul di belakang tubuhnya. Luca mengepalkan tangannya. Sebuah raksasa setinggi 5 m terbuat dari tanah muncul. Yah, hanya setengah badan, sih. Tanpa memberi kesempatan untuk raksasa itu, Mith langsung melancarkan serangannya. Dengan cepat bola api itu menghujam tubuh raksasa yang bergerak secepat keong itu. Serpihan tanah memenuhi ruangan. Apa mereka ingin menghancurkan ruangan ini sekaligus menjadikanku bayi penyet bakar? Serangan Mith terus berlangsung. Luca berkali-kali menghindar. Berusaha sekuat tenaga bertahan. Melawan level spirit tertinggi saat level spirit milikmu adalah level menengah yang sangat payah tentu bukan perkara mudah. Luca berpindah naik ke atas plafon yang berjarak 25 m dari lantai. "Hei, Luca bodoh! Turunkan aku!" Aku memukul d**a anak laki-laki usia 7 tahun yang jadi semakin bau ini. Tapi, tentu saja bagi Luca yang terbiasa dipukul adik-adiknya, pukulan bayi mungil yang lemah ini hanya terasa seperti hembusan angin. Mith menyemburkan api dari tangannya. Luca spontan menghindar. Serangan Mith hanya mengenai udara kosong. Bum! Atau tidak. Terdengar bunyi berdebum kencang. Atap ruangan ini terjatuh. Akhirnya, atap itu menghilang dan aku bisa melihat langit biru disertai awan putih yang lembut. Tapi, bukan begini caranya! "Kembalikan atapku! Dasar dua makhluk bodoh!" "Mith Kil Peranto! Luca Anz Peranto! Apa yang kalian lakukan pada Qiya?!!" Serpihan debu yang memenuhi ruangan membuatku tak bisa melihat dengan jelas sosok yang muncul dibalik sana. Tapi, aku tau dengan jelas siapa yang datang. Aku selalu benci dengan kehadiran kaisar. Tapi, untuk pertama kali dalam hidupku aku menyukainya. Baiklah, ini saatnya Qiya untuk beraksi! "Hua! Hua! Hua!" Aku menangis dengan sangat kencang. Mith dan Luca yang semula semangat bertengkar kini nampak pucat. Apalagi begitu mereka melihat salju turun memenuhi ruangan. "Mith!! Luca! Ayah tunggu kalian di tempat latihan!" Mith dan Luca kompak saling tatap lantas meneguk ludah. Jika bisa memilih, mereka pasti memilih untuk turun ke medan perang selamanya daripada harus berlatih dengan Ayah mereka. Aku juga pasti akan memasang wajah seperti mereka jika hal buruk itu terjadi padaku. Atau mungkin lebih parah. "Qiyaku sayang pasti sangat takut, ya? Tidak apa! Ayah akan menghukum kedua kakakmu itu dengan benar!" Kaisar mengambil alih tubuhku dari tangan Luca. Kenapa pria ini selalu memasang wajah penuh bunga saat berhadapan denganku? Bibirku bergetar karena menahan tangis. Di saat seperti ini, memasang tampang imut adalah kunci keberhasilan. Mari kita singkirkan kedua pangeran gila itu! "Aaaa, lucunya!" Kaisar mencium pipiku dengan ganas. "Qiya memang anak paling lucu di kekaisaran ini! Tidak! Di seluruh dunia! Qiya kita adalah yang paling lucu!" Aku menatap kaisar datar. Sudah cukup drama menangis dan bersikap imutnya. Aku sudah muak dengan semua pujian itu. Kelima Pangeran sudah cukup memberiku banyak pujian untuk hal yang tidak penting. Saat aku sendawa dipuji. Kentut pun dipuji. Minum s**u juga. Bahkan, rasanya kalau aku bernafas pun akan mendapat pujian! "Kalau begitu kami pergi dulu! Dah Ayah! Dah Qiya!" Mith dan Luca kompak keluar dari jendela yang terbuka. Ash dengan sigap menangkap kedua pangeran gila itu. "Harusnya kau biarkan saja mereka jatuh, Ash!" "Kalian berdua! Jangan kabur!" Dalam sekejap tubuh Ash menghilang. Juga kedua pangeran itu. Untuk ukuran black panther raksasa, Ash gesit juga. "Hah! Rein, entah bagaimana kau bisa bersabar menghadapi kedua anak itu." Kaisar menghembuskan nafas panjang. "Anda nampak tertekan sekali ya, kaisar!" Aku ingat sekarang! Rein Sin Hannes, putri Duke Hannes yang merupakan satu dari 7 Duke yang biasa disebut "Tameng Kekaisaran" karena bisa dibilang mereka adalah pelindung kekaisaran. Dari novel yang k****a, Rein adalah pengendali spirit penyembuhan level 8. Level yang tidak semua orang bisa mendapatkannya hingga kehadiran level ini ditiadakan. Jika warna mataku sama dengannya. Berarti, warna mataku adalah biru berkilau seperti berlian. Kalau begitu, rambut pangeran kembar yang berwarna coklat berarti sama dengan Ibunya. Lalu mengenai para Duke. Tidak seperti kekaisaran lain yang memiliki banyak Duke. Kekaisaran gila ini hanya memiliki 7 Duke. Hal itu berlaku sejak kaisar gila ini duduk di atas tahta. Duke sebelumnya diturunkan jabatannya menjadi Marquiss. Atau ada juga yang diturunkan menjadi Baron. Jika kalian bertemu dengan Baron di kekaisaran ini. Maka, ada dua kemungkinan. Orang yang kalian temui memang hanya Baron. Atau dia adalah Duke yang diturunkan jabatannya. Ketujuh wilayah kekuasaan duke yang diberi nama Duchy itu mengelilingi kekaisaran selayaknya tameng. Dan, setiap wilayah mewakili satu spirit. Spirit air milik Duke Listo yang menjaga air sungai tetap mengalir meski kemarau melanda. Spirit api milik Duke Henzo yang digunakan untuk membakar wilayah musuh saat perang. Spirit es yang sama dengan kaisar milik Duke Drom. Spirit angin milik Duke Nalte yang banyak melahirkan ksatria hebat dari wilayahnya yang terkenal akan kecepatannya. Spirit tanah yang menyuburkan tanah kekaisaran milik Duke Arwin karena spirit milik Pangeran Kedua tidak bisa diharapkan. Spirit penyembuh milik Duke Hannes yang menjadi tempat menyuplai obat-obatan. Dan, spirit sihir milik Duke Tsani dimana banyak lahir penyihir hebat yang menjadi tentara barisan pertama saat perang. Walau begitu, kebanyakan penyihir bergerak bebas tanpa terikat dengan kekaisaran. Kecuali jika mereka telah melakukan sumpah setia pada kekaisaran. Lima pangeran gila yang dijuluki "Pedang Kekaisaran" ditambah 7 Duke pengendali spirit level tertinggi yang menjadi "Tameng Kekaisaran". Lengkap sudah kegilaan kekaisaran ini. Jika ada pembunuh bayaran yang berani menyusup ke istana dan membunuh para pangeran. Maka, dia layak mendapatkan penghargaan dan harus dibuatkan film berjudul "Tuhan, Mengapa Aku Begitu Bodoh?" "Baiklah, Qiya! Ayah harus pergi dan membunuh kedua kakakmu itu. Kau tidurlah dahulu." Kaisar meletakkan tubuhku dengan hati-hati di atas kasurku yang lembut. Tak lupa dia memasukkan botol s**u yang masih belum tandas ke dalam mulutku. "Hei! Apa maksutmu dengan 'membunuh'? Walau bodoh, mereka berdua itu anakmu tahu! Dan bagaimana mungkin kau meninggalkan bayi sendirian di dalam ruangan yang atapnya menghilang!" Aku ingin berteriak. Tapi, daripada berteriak, mulutku ini lebih memilih menyedot s**u! Hah! Sudahlah. Setidaknya, walau atap itu hilang. Kasurku ini baik-baik saja. Eh?! Bagaimana mungkin kasur ini baik-baik saja? Padahal ruangan ini saja hampir terbelah jadi dua. Oh, sepertinya kaisar meletakkan tameng es itu sebelum atap ruangan ini menimpa kasur ku. Es ini sama sekali tidak dingin. Malah hangat. Kaisar memang perhatian padaku, ya. Tunggu sebentar! Kalau dia meletakkan tameng es ini di atas kasur ku, berarti dia tahu kalau atap ruangan ini menghilang. Dan, dia masih saja meletakkan ku di ruangan ini? Kutarik kata-kataku barusan! Bicara soal Rein Sin Hannes. Dia adalah istri kaisar. Sekaligus ibuku. Aku ingin tahu sekarang dia ada dimana. Apakah aku akan segera bertemu dengannya? Apakah dia cantik? Apakah aku mirip dengannya? Hoam... Aku tertidur lelap di dalam ruangan yang atapnya menghilang. Marah dengan tubuh bayi ini sangat menguras tenaga. Bicara soal ruangan, apakah istana ini kekurangan uang hingga tak sanggup memperbaiki atap kamar Tuan Putri ini? Walau tak lama lagi dia akan pindah alam. Tapi, setidaknya sekarang dia masih hidup! Kriet! Terdengar suara derit pintu pelan. Haha. Sepertinya pintu itu cukup kuat untuk menahan serangan brutal kedua pangeran yang tak ada bandingannya daripada apa yang mereka lakukan setiap hari pada pintu malang itu. "Terima kasih, Qiya!" Sepertinya aku baru saja mendengar suara pintu yang bicara. "Tuan Putri!" Ah, suara yang lemah lembut ini. Suara pelayan. Apakah ini saatnya minum s**u? Tapi, aku masih kenyang. Kepala pelayan itu muncul di atas kepala ku. Dia nampak asing. Apakah dia pelayan baru? Dimana pelayan yang biasanya? Aku menatap pelayan itu. Dia tidak terlihat membawa botol s**u. Dia justru membawa bantal. Apakah ini saatnya ganti bantal? Tapi, bantal ini masih baik-baik saja dan super lembut. Pelayan itu mengangkat bantal itu di atas kepala ku. Entah kenapa, tapi, aku punya firasat buruk tentang hal ini. "Saatnya menyusul ibumu!" Tangan dan kaki mungilku menggelepar ketika bantal itu menutup wajahku. "Argh, siapapun tolong aku! Dimana para ksatria?! Dimana Ash?! Dimana para pangeran?! Siapapun tolong aku! Aku tidak mau mati lagi! Sakit! Nafasku sesak!" Eh, bantal itu tidak lagi menekanku meski masih berada di atas wajahku. Apa yang terjadi? "Dia tidak mati, kan?" "Apa Qiya baik-baik saja?" "Qiya tidak bergerak! Bagaimana ini?!" "Suara ribut apa itu? Aku tidak bisa melihat. Pandangan ku kabur." "Kalau sampai Qiya terluka bahkan seujung jari saja, akan aku pastikan mayat ini dicincang hingga sel terkecil!" Bantal itu disingkirkan dari wajahku. Kelima pangeran mengelilingiku. Mataku mengerjap sebelum akhirnya terpejam sempurna. "Qiya!" "Dia hanya pingsan." "Cepat panggil semua dokter istana!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN