Begitu kereta kuda itu keluar dari gerbang istana, beberapa rakyat yang melihat warna emas di kereta kuda itu langsung membungkuk. Sepanjang perjalanan yang aku lihat hanyalah orang yang membungkuk.
Kaisar akhirnya mengganti kereta kuda dengan kereta kuda biasa agar aku bisa melihat ibukota dengan baik. Tapi, tentu saja kaisar tidak mengganti para ksatria yang berbaris di bagian depan hingga belakang kereta kuda. Haha, untunglah para rakyat hanya mengira jika kereta kuda ini hanya berisi bangsawan super kaya yang sedang jalan-jalan.
Aku duduk di kereta kuda yang sama dengan kaisar dan Mith. Keempat pangeran lain berada di kereta kuda yang berbeda setelah kalah tanding.
Aku menatap jalanan ibukota yang sangat ramai. Ini pertama kalinya aku keluar istana setelah sekian lama.
Anak-anak berlarian. Orang-orang berlalu lalang. Penjual melayani pembeli. Suara dengung lebah membuat suasana nampak makin ramai.
Ah, ada toko boneka di sana.
"Qiya, apa Qiya ingin sesuatu?"
Aku menatap boneka bebek yang terpajang di etalase toko dengan mata penuh binar.
"Qiya mau boneka bebek."
"Hentikan kereta kudanya!"
Kereta kuda berhenti sesuai perintah kaisar. Seorang ksatria membuka pintu kereta kuda. Mith turun terlebih dahulu lalu menggendongku. Menyusul kaisar dan keempat pangeran lain.
"Qiya! Kami rindu Qiya!" Luca memelukku.
"Kami juga rindu Qiya!!!"
"Kita kan baru berjalan 10 menit yang lalu!"
Seluruh orang yang ada di sekitar kereta kuda langsung membungkuk.
"Ugh, rasanya sangat tidak nyaman."
Aku berjalan di antara kaisar dan Mith. Keempat pangeran lain berjalan bersisian di belakang. Rombongan keluarga kekaisaran yang nampak mencolok langsung menyibak kerumunan. Semua orang menunduk ketika kami lewat. Beberapa orang menatapku sembari tersenyum. Aku balas tersenyum.
Krincing!
Bel yang menggantung di pintu toko itu berdenting. Pemilik toko yang merupakan seorang pria tua yang sedang merapikan mainan langsung menyambut.
"Selamat datang!"
Dia memutar kepalanya untuk melihat siapa yang datang.
"Ah, Yang Mulia Kaisar!" Tubuh pria tua itu bergetar hebat.
"Qiya! Pilih mainan yang Qiya mau!" Kaisar menatapku penuh kasih. Sama sekali tidak peduli dengan pria tua pemilik toko yang ketakutan.
Aku menebar pandangan menyusuri seisi toko. Ada banyak mainan di sini. Boneka bebek yang aku lihat pun ternyata punya banyak warna dan banyak jenis. Ada warna biru dengan sayap mungil di belakangnya dengan warna senada. Ada yang berwarna kuning dengan paruh oranye. Ugh, usia jiwaku sudah 18 tahun tapi, tubuh anak kecil ini tidak bisa menolak mainan.
"Ayah, Qiya bingung mau yang mana." Aku menarik baju kaisar.
Kaisar menggendongku.
"Mudah saja! Ambil semua mainan disini!"
Beberapa ksatria yang berdiri di luar toko langsung masuk dan menjalankan perintah kaisar.
"Eh, kau ingin merampok pria tua ini?!"
"Nah, Tuan, terimalah permata ini. Apakah ini cukup?" Kaisar mencopot sebuah permata di pundaknya.
Pria tua itu menerimanya dengan kepala menunduk. Permata itu bahkan cukup untuk membeli toko ini beserta tanahnya.
"Terima kasih, Yang Mulia Kaisar!"
Kaisar memberikan boneka bebek berwarna biru dengan sayap dibelakangnya. Aku langsung memeluk boneka itu.
"Hey! Qiya bahkan tidak pernah menyentuh boneka dari Kakak." Dego menatapku dengan wajah melas.
Ah, boneka dari Dego saat ulang tahunku 6 bulan lalu memang tidak pernah aku sentuh. Aku memasukannya dalam kotak kaca. Lalu, memajangnya di meja tak jauh dari kasurku. Aku tidak ingin boneka itu rusak atau kotor jika aku terus memainkannya.
"Itu karena Qiya ingin agar boneka dari Kak Dego bisa bertahan selamanya!"
Dego mencium pipiku. Kaisar menatapnya tajam. Dego menciut. Begitu juga keempat pangeran lain yang ingin melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Dego.
Kaisar membeli dua kereta kuda untuk mengangkut mainanku.
Rombongan kereta kuda kembali bergerak menuju kuil suci. Aku kembali menatap sekitar. Kali ini jalanan ibukota sedikit lengang.
Mataku menangkap seorang gadis kecil berusia 5 tahun yang tengah ketakutan karena 3 orang dewasa dengan pedang di tangan menghalangi jalannya. Rambut coklat panjangnya tergerai. Nampak lusuh. Ah, mata anak itu berwarna ungu seperti Nymph.
"Ayah! Tolong gadis itu!" Aku kembali merengek pada kaisar. Kaisar melihat ke luar jendela.
"Biarkan saja!"
"Coba Ayah bayangkan kalau Qiya yang berada di posisi anak itu!"
Kaisar menatapku. Dengan cepat menjetikkan jarinya. Balok es menahan kaki dan tangan 3 orang dewasa itu. Gadis kecil berambut pirang itu kebingungan. Sedetik kemudian dia langsung berlari. Salah satu dari 3 orang dewasa pengguna spirit api itu langsung mengejar gadis itu.
"Hentikan kereta kudanya!" Kereta kuda berhenti sesuai perintahku. Tanpa banyak bicara aku langsung turun dari kereta kuda.
"Qiya! Kembali!" Kaisar dan Mith berseru. Berusaha mengejarku yang sudah berada beberapa meter ke depan. Keempat pangeran lain yang mendengar teriakan kaisar langsung ikut berlari mengejarku.
Gadis kecil itu akhirnya berhenti berlari. Keberuntungannya buruk. Dia berlari menuju g**g buntu. Sementara, pria itu sudah berada tak jauh darinya.
Tangan gadis itu teracung ke depan. Sebuah gelombang air muncul. Pria itu menyeringai. Tangannya terangkat. Sebuah bola api muncul di atas gadis yang langsung mati-matian membuat tameng itu. Aku melihat hal itu dari jauh. Jika dibiarkan gadis itu akan mati begitu saja. Tapi, bagaimana mungkin aku bisa menolong tanpa kekuatan spirit? Aku hanya anak yang lemah. Kaisar dan kelima pangeran pun sepertinya belum menemukanku.
"Hentikan!" Aku berteriak tepat ketika gadis itu terjatuh. Serpihan api kecil menyentuh kakinya. Meninggalkan luka bakar.
Pria itu menatapku.
"Apa yang dilakukan gadis kecil sepertimu di sini?" Pria itu menghampiriku yang menunduk ketakutan.
"Tidak Qiya! Jangan takut!"
Aku memgangkat kepalaku. Ketika masih berusia 4 bulan. Aku bahkan menghadapi pembunuh. Pria ini tidak ada apa-apanya.
"Kenapa kau menganggu dia?" Aku menunjuk gadis kecil yang meringis. Air mata mengalir deras dari kedua matanya. Dia nampak sangat kesakitan.
"Aku hanya menagih utang kedua orang tuanya yang sangat banyak. Karena mereka tidak bisa membayar. Aku terpaksa harus menjual anak mereka. Tapi, anak kecil itu terus-terusan melawan."
"Utang? Tapi, gadis kecil itu terlihat seperti anak bangsawan."
"Berapa utang keluarganya?"
"10000 keping emas!"
Aku tercengang. Kenapa bisa keluarganya terjerat utang sebanyak itu?
Aku mengambil permata yang berada di atas sepatuku. Harga permata itu dua kali lipat jumlah utang keluarganya. Pasti cukup.
Aku memberikan kedua permata itu. Pria itu menyeringai.
"Kau terlihat seperti anak bangsawan kaya. Kira-kira, berapa banyak keping emas yang bisa aku dapatkan jika aku menculikmu?"
"Seharga tiang gantung."
Aku memutar kepalaku. Kaisar dan kelima pangeran berdiri di belakangku dengan tangan memancarkan spirit mereka. Tubuh pria itu bergetar.
"Ya-yang Mulia Kaisar dan Pangeran."
"Apakah aku baru saja mendengar seseorang ingin menculik putriku?" Kaisar menatap pria yang langsung bersujud itu.
"To-tolong maafkan saya! Saya tidak tahu jika dia adalah Bulan Kekaisaran!"
Kaisar mengambil pedangnya. Aku menarik bajunya.
"Ayah! Tidak usah dipedulikan dia!"
Kaisar menatapku galak. Sedetik kemudian dia tersenyum.
"Putri Ayah memang sangat rendah hati!"
"Sekarang enyahlah dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran!" Wajah kaisar kembali berubah ketika menatap pria yang langsung lari itu.
"Kakak! Tolong selamatkan gadis itu!" Aku menggenggam tangan Niel dan menggiringnya menuju gadis kecil yang pingsan itu.
Niel menatap gadis itu iba. Tangan Niel menyentuh dahi gadis itu.
"Dia adalah Hana Lov Veienet, putri Baron Veienet bukan?" Luca ikut bergabung.
Niel mengangguk. Sebuah cahaya lembut muncul dari tangan Niel. Membungkus tubuh Hana. Luka bakar di kakinya menghilang. Keringat mengalir dari dahi Niel. Aku menatapnya.
"Kakak. Kenapa kakak terlihat lelah hanya karena luka bakar kecil?" Aku mengelap keringat Niel dengan sapu tangan.
"Gadis ini memiliki penyakit langka di tubuhnya yang membuat tubuhnya sangat lemah."
"Ah, pantas saja keluarganya berhutang."
"Apa?" Niel menatapku.
"Pria garang tadi bilang jika keluarga gadis ini berhutang 10000 keping koin."
Niel menatap kaisar. Kaisar menghembuskan nafas panjang.
"Buka acara pengobatan gratis bagi rakyat selama seminggu setiap sebulan sekali. Undang pengguna spirit penyembuh terbaik dari Duchy Hannes."
Ksatria yang tiba-tiba muncul dari balik tembok langsung mengangguk dan pergi.
"Ayo kita pergi, Qiya!" Kaisar menggendongku. Niel dan Luca berjalan di samping kaisar meninggalkan gadis yang sudah sadar itu seorang diri.
"Ayah! Bagaimana dengan gadis itu?"
"Biarkan saja! Kita sudah banyak membantunya!"
"Ayah. Bisakah kita mengantarnya ke rumahnya?" Aku menatap kaisar dengan mata berkaca-kaca. Persis seperti anak kucing jalanan yang biasa ditemukan di pinggit jalan.
"Baiklah! Mana mungkin Ayah menolak permintaan Qiya!"
"Kau baru saja melakukannya 2 detik lalu!"
"Luca! Gendong gadis itu dan bawa dia ke kereta kudamu!"
Luca mengangguk. Dengan cepat dia melangkah menghampiri Hana yang terlihat takut.
***
Baron Veienet dan istrinya langsung memeluk Hana tanpa peduli pada siapa yang membawa gadis itu kembali.
"Ayah, Ibu, mereka sudah menyelamatkan saya!"
Baron Veienet terlihat terkejut dengan kedatangan kami.
"Sa-sa-saya memberi salam pada Sang Matahari Kekaisaran, Lima Bintang Kekaisaran dan Bulan Kekaisaran." Baron Veienet membungkuk penuh hormat dan rasa terima kasih.
"Tuan Putri memberikan permata sepatunya untuk membayar hutang keluarga kita." Hana menatapku dengan senyum hangat.
"Terima kasih banyak atas kemurahan hati Tuan Putri. Saya berjanji akan membayarnya."
"Yah, bagaimana kalau Hana menjadi pelayan Tuan Putri saja sebagai gantinya" Luca berseru tak peduli. Aku menatapnya datar.
Baron Veienet menatap Hana yang mengangguk.
"Baiklah jika hal itu bisa membalas budi saya."
"Tidak perlu, Tuan Baron Veienet. Saya sudah memiliki Lily sebagai pelayan saya."
"Tidak masalah, Tuan Putri. Saya bisa menjadi pelayan Tuan Putri."
Niel berlutut. Berusaha menyamai tinggi badanku. Lantas, berbisik.
"Qiya, setujui saja. Tubuh Nona Veinet masih sangat lemah. Kakak harus menyembuhkannya lagi."
"Baiklah, saya setuju. Tapi, Nona Veienet datang sebagai teman saya. Bukan pelayan!"
Hana tersenyum hangat dalam pelukan ibunya.