Kereta kuda itu akhirnya kembali bergerak dengan membawa satu penumpang tambahan. Hana tertidur bersandarkan pada Dego yang langsung menepis kepalanya.
Hah, meminta Dego untuk menjaga Hana memang ide buruk. Dego kan tidak suka anak perempuan kecuali aku.
Aku sudah meminta Hana untuk duduk dalam kereta kudaku. Tapi, gadis itu menolak karena takut pada kaisar. Haha, lucu sekali alasannya.
"Ayah, apa Hana akan baik-baik saja? Qiya takut Kak Dego melemparnya dari kereta kuda."
Aku menatap kaisar cemas. Tubuh Mith bergetar. Menahan tawa.
"Tenang saja, Qiya. Dego tidak akan berani macam-macam."
Aku tersenyum. Jika kaisar sudah bilang begitu. Maka, tidak ada hal yang perlu aku khawatirkan.
Aku kembali menatap keluar jendela kereta kuda. Ah, wilayah ini kan dekat dengan rumah Baron Eradlo, ayah angkat Nymph. Apakah aku bisa bertemu dengannya?
"Eh, rambut perak itu kan??"
Seorang gadis kecil dengan rambut perak menatap boneka di sebuah etalase toko mainan. Manik mata ungu gadis itu nampak berkaca-kaca. Penampilannya pun sangat lusuh.
Baron Eradlo yang dijauhi oleh masyarakat karena dianggap memiliki anak haram pada akhirnya jatuh miskin. Bisnis perdagangannya jatuh karena orang-orang tidak mau membeli barang darinya. Jadi, merupakan hal yang wajar jika Nymph tidak pernah mendapatkan mainan yang dia mau.
Ah, ada beberapa anak yang bermain dengan boneka jerami di sekitar Nymph.
"Ayah, apakah saya boleh membagikan mainan saya?"
Aku menatap kaisar penuh harap.
"Qiya, jika Qiya terus meminta kereta kuda untuk berhenti, kita bisa terlambat ke kuil suci." Kaisar menatapku penuh kasih.
"Tidak apa, Qiya bisa mendapatkan spirit lain hari." Aku tersenyum lebar.
Kaisar menghembuskan nafas.
"Qiya janji ini yang terakhir!"
"Hentikan kereta kudanya!"
"Kalian, bagikan mainan Putri pada anak-anak itu."
Beberapa orang ksatria yang menaiki kuda di samping kereta kuda mengangguk. Tanpa banyak basa-basi langsung melakukan perintah kaisar.
Aku merasa bersalah pada para ksatria yang harus melakukan hal diluar tugas mereka. Tugas mereka adalah melindungi anggota kekaisaran. Bukan membagikan mainan.
Aku menatap dari dalam kereta kuda. Anak-anak nampak berkerumun di antara para ksatria. Nymph salah satunya. Wajah gadis itu sumringah ketika mengambil boneka beruang besar dari tangan ksatria. Aku tersenyum. Senang rasanya bisa berbagi dengan pemeran utama wanita yang akan membantu Carl menghancurkan kekaisaran. Haha.... aku lupa akan hal itu.
Nymph menatap kereta kuda kami.
"Ah, mata kami bertemu."
Nymph tersenyum sembari melambaikan tangannya. Aku balas tersenyum.
Kereta kuda kembali bergerak menuju kuil suci. Kali ini kaisar menutup tirai kereta dengan balok es agar aku tidak melihat keluar jendela dan terus menolong orang lain.
Rombongan itu akhirnya tiba di kuil suci 15 menit kemudian.
Seorang ksatria membuka pintu kereta kuda. Mith turun terlebih dahulu lalu menggendongku.
"Qiya!" Dego langsung menghampiriku.
Aku menatap Hana yang tersenyum lemah di atas kasur angin buatan Kiel. Syukurlah dia baik-baik saja. Aku kira Dego melemparnya keluar jendela.
"Kiel, biarkan Nona Vienete istirahat dalam kereta kuda. Dego, jaga dia!"
Kiel menggangguk. Tangannya bergerak. Kasur angin itu ikut bergerak menuju kereta kuda. Bibir Dego mengerucut. Ia ingin protes. Tapi, perintah kaisar adalah hal yang mutlak.
"Dah, Qiya! Kakak akan sangat merindukan Qiya!" Dego memelukku sembari menangis.
"Hidupmu penuh drama sekali, kakak!"
Mith berjalan menuju kuil. Menyusul kaisar dan ketiga pangeran lain. Aneh, kuil suci ini terlalu lengang. Bukankah setiap hari akan ada upacara pemanggilan spirit untuk para rakyat dan bangsawan?
"Ayah sudah meminta para saintess untuk mengosongkan kuil suci untuk hari ini." Kata kaisar seolah bisa membaca pikiranku.
Aku menatapnya datar. Memangnya dia pikir hanya putrinya yang butuh spirit?
"Saya memberi salam pada Sang Matahari Kekaisaran, Para Bintang Kekaisaran dan Bulan Kekaisaran."
Seorang pria dengan pakaian putih membungkuk penuh hormat.
"Siapkan upacara pemanggilan spirit untuk Tuan Putri!" Kaisar berkata acuh.
"Sudah saya siapkan, Yang Mulia Kaisar. Tuan Putri, mari ikuti saya."
Aku menatap Mith yang balas tersenyum dan menurunkanku. Kaki kecilku melangkah mengikuti pria itu.
Sebuah pintu besar dengan lambang seluruh spirit terhampar di depanku. Beberapa lambang spirit itu terlihat asing.
"Silakan masuk, Tuan Putri!"
Aku mengangguk. Pria itu membuka kedua pintu besar itu. Mataku menatap setiap sudut ruangan besar ini.
Ruangan ini hampir bisa dibilang kosong. Hanya ada puluhan pilar dengan lambang spirit yang berkeliling membentuk lingkaran dengan sebuah karpet merah di tengahnya.
Aku duduk bersimpuh di atas karpet. Kedua tanganku mengepal. Kepalaku menunduk. Persis seperti orang yang sedang memohon.
"Para spirit, tolong muncul dan jadilah spirit Qiya. Qiya ingin melindungi orang-orang di sekitar Qiya. Ayah, kakak, Lily, Tuan Ash, Tuan Linn, Hana dan semua rakyat kekaisaran ini. Mereka terus melindungi Qiya. Tapi, Qiya tidak bisa melakukan hal yang sama. Qiya mohon. Bantulah Qiya agar Qiya jadi lebih kuat!"
Lengang. Tidak ada balasan. Tidak ada pilar yang bersinar.
"Ah, sepertinya tidak ada yang ingin jadi spiritku."
Aku berdiri.
"Terima kasih sudah mendengarkan Qiya!" Badanku membungkuk penuh hormat.
Aku berbalik. Bersiap melangkah. Sebuah cahaya terang muncul di atas kepalaku. Cahaya terang yang mengisi seluruh sudut ruangan ini membuat mataku terpejam karena silau.
Cahaya itu meredup. Seekor burung kecil berwarna putih dengan kedua sayap dan ekor berwarna pelangi terbang di atasku.
"Kau Putri Kekaisaran Peranto, bukan?"
"Eh, bisa bicara?!"
Aku mengangguk dengan gugup.
"Kau berbeda sekali dengan kelima kakakmu."
Aku tersenyum. Aku tau maksut burung ini.
"Keempat pangeran menghunus pedang pada semua lambang spirit dan mengancam mereka. Sedangkan, pangeran terkecil menangis kencang hingga aku harus melempar spirit keluar dari alam spirit. Ternyata dia mendapatkan spirit air. Tapi, kau tidak melakukan hal yang sama." Burung itu menatapku.
"Itu karena Qiya istimewa."
"Yah, aku tahu itu. Makanya kau mendapatkanku."
"Apakah kau spirit Qiya?"
Burung itu mengangguk. Aku menatapnya bingung. Tuan Linn bilang spirit hanya muncul dalam wujud lambang. Tidak ada yang tahu bagaimana wujud aslinya. Lalu, menyatu dengan tubuh pemiliknya dalam bentuk spirit stone. Benarkah burung ini adalah spirit?
"Sama sepertimu. Aku juga istimewa." Burung itu mendekati dan mematuk dahiku.
Rasanya, aku bisa merasakan kekuatan mengalir dalam tubuhku.
"Kau spirit apa?"
"Spirit aura." Burung itu hinggap di bahu kananku.
"Qiya tidak pernah dengar."
"Karena kehadiranku hanya dianggap mitos. Makanya kau tak pernah dengar."
"Apakah kau tidak berubah jadi spirit stone?"
Burung itu menggeleng.
"Aku jadi spirit stone dalam wujud ini."
"Kalau orang lain melihat lalu membunuhmu, Qiya juga ikut mati."
Burung itu tertawa. Aku menatapnya bingung.
"Tenang saja, aku bisa mengubah wujudku atau menghilang. Aku juga bisa melakukan ini."
Burung pelangi itu memejamkan matanya. Tubuhnya perlahan mengecil. Burung itu terbang dan hinggap di kedua telapak tanganku.
"Siapa namamu?"
"Kau yang harusnya memberiku nama." Manik mata biru burung itu menatapku.
"Baiklah, namamu adalah Poppy!"
Aku melangkah keluar ruangan itu dengan Poppy kecil di atas kedua telapak tanganku.
Pintu ruangan itu terbuka. Kaisar dan keempat pangeran langsung berhambur ke arahku.
"Qiya!" Mith menghampiriku.
"Apa spirit Qiya? Apakah spirit es?"
Aku menggeleng.
"Api? Tanah? Penyembuh? Angin? Air? Awan?"
Aku kembali menggeleng. Niel menatapku iba.
"Apakah Qiya tidak punya spirit?"
Kaisar dan ketiga pangeran menatap Niel tajam. Lantas sedetik kemudian menatapku iba.
"Qiya punya." Aku membuka telapak tanganku.
"Eh, dimana Poppy?"
"Poppy? Kau dimana?" Kepalaku bergerak mencari Poppy.
"Tidak apa-apa, Qiya! Tidak mempunyai spirit bukanlah hal yang aneh." Niel mengusap kepalaku lembut.
"Qiya benar-benar punya spirit tahu!" Aku menatap Niel galak.
"Poppy! Muncullah!"
"Tidak mau! Orang-orang itu terlihat berbahaya."
Sebuah suara muncul di telingaku.
"Eh, Poppy?? Apakah itu kau??"
"Iya, aku menghilangkan diriku."
"Tidak apa-apa. Mereka keluargaku!"
"Oh, jadi keempat makhluk itu para pangeran, ya."
Poppy kembali muncul di telapak tanganku. Kaisar dan keempat pangeran langsung menutup telapak tanganku. Lapisan pelindung kembali muncul di atas kepalaku.
"Bukankah ini sedikit berlebihan?"
"Qiya! Sembunyikan soal spirit Qiya dari semua orang!" Mith menatapku serius.
"Memangnya kenapa?"
"Spirit Qiya adalah spirit aura. Spirit ini dianggap sebagai mitos karena tidak pernah muncul. Lalu, jika spirit lain hanya muncul dalam bentuk lambang dan menjadi spirit stone. Spirit aura punya wujud yang bisa disentuh dan dilihat dan bebas berkeliaran."
"Tidak seperti spirit lain yang muncul sebagai spirit level terendah. Spirit aura muncul langsung sebagai level tertinggi yang tidak pernah bisa di capai siapapun. Spirit level 10. Tapi, tidak ada yang tahu bagaimana cara mengaktifkan kekuatan spirit ini."
Aku mendengarkan penjelasan Mith dengan saksama.
Percuma sekali spirit ini muncul dalam level 10 tapi tidak bisa digunakan. Haha.
"Spirit aura termasuk kedalam semua jenis spirit."
"Ah, itu artinya Poppy termasuk spirit pelindung, penyerang, pengumpul. Dan, penghancur juga penyembuh?"
Mith mengangguk.
"Spirit aura membuat penggunanya bisa bicara dengan hewan juga tumbuhan. Spirit ini juga bisa mengendalikan mereka. Itu adalah kekuatan dasar spirit ini. Kakak rasa Qiya bisa langsung menggunakannya."
"Apa hebatnya hal itu?"
"Apakah Qiya tau soal perang antar manusia dan bangsa iblis?" Kali ini kaisar yang bertanya.
Aku mengangguk.
"Para iblis yang punya kekuatan perusak, merusak beberapa tempat di dunia. Tempat yang sudah di rusak bangsa iblis tidak bisa dimurnikan kembali. Semua tanaman dan hewan yang ada di sana mati. Tanahnya pun gersang. Pengguna spirit tanah level tertinggi pun tidak bisa mengubahnya."
"Pengguna spirit aura bisa memurnikan tanah itu. Tapi, tidak ada siapapun yang tahu bagaimana cara agar pemilik spirit aura bisa memurnikan tanah. Ada yang bilang mereka harus berdoa pada dewa dengan khusyuk di tanah yang tandus itu"
"Maka dari itu, jika orang orang tau jenis spirit milik Qiya. Ayah yakin akan ada banyak orang yang mengincar Qiya!"
"Argh, jika tau akan seperti ini jadinya. Harusnya kaisar terdahulu tidak usah menerima berkah dewa!" Kaisar menjambak rambut pirangnya.
Aku menatap kaisar dengan tatapan polos.