Kaisar dan keempat pangeran menggiringku menuju kereta kuda. Tak ada siapapun yang bicara. Saintess yang bertanya apa jenis spiritku langsung mendapatkan hadiah balok es dari kaisar.
"Qiya! Kakak rindu Qiya!" Dego langsung menghampiriku, meninggalkan 'pasiennya' yang tengah terbaring dalam kereta kuda.
"Jadi, apa jenis spirit Qiya?"
Dego menatapku. Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Dego balas menatap ayah dan keempat kakaknya untuk mendapatkan jawaban. Tapi, yang ia dapat hanyalah butiran salju. Dego terdiam.
Dia sudah tahu jawabannya. Hanya ada 3 jawaban.
Pertama, jenis spiritku sangat kuat dan langka. Kedua, aku tidak punya spirit. Ketiga, spiritku sangat lemah hingga hampir bisa dibilang jika aku tidak punya spirit. Dan, Dego lebih percaya pada jawaban kedua dan ketiga.
"Qiya, tidak punya spirit bukanlah hal yang aneh."
Aku menatap Dego geram. Sudah dua kali aku mendengar kalimat itu. Aku menatap kaisar. Kaisar mengangguk.
Tanganku bergerak. Sebuah sulur tanaman rambat mencekal kaki Dego dan mengangkatnya ke udara dengan posisi terbalik.
Ah, aku dan kaisar sepakat untuk memberitahu publik jika spiritku adalah spirit flora. Spirit flora hanya bisa mengeluarkan tanaman rambat. Hampir mirip dengan spirit aura. Bedanya adalah banyak. Spirit aura bisa bicara dan mengendalikan tanaman juga hewan. Yah, setidaknya hal itu bisa aku sembunyikan.
"Ah! Lepaskan aku!" Dego berontak.
Aku menggerakkan tanganku. Sulur itu bergerak perlahan. Menurunkan Dego yang langsung memelukku.
"Spirit flora, ya?"
Aku menatap Dego datar.
"Mari segera kembali ke istana. Ada banyak hal yang harus ayah urus." Kaisar merampasku dari pelukan Dego.
Kereta kuda kembali melakukan perjalanan. Kaisar sudah mencarikan balok es yang menutup jendela kereta kuda sehingga aku bisa melihat pemandangan luar dengan jelas.
"Itu kereta kuda yang tadi!"
"Bukankah gadis kecil itu sangat cantik?"
"Halo, nona!"
"Aku ingin sekali memeluknya!"
"Ada apa, Qiya?"
"Ayah, bukankah di luar terlalu ramai."
Kaisar menatap keluar jendela. Hanya ada hutan dengan pepohonan rindang di sana.
"Apakah Qiya mendengarkan pepohonan bicara?"
Aku mengangguk.
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Mereka hanya menyapa Qiya. Ah, ada juga yang bilang Qiya cantik dan ingin memeluk Qiya."
Mith menatap keluar jendela dengan tajam. Aku meneguk ludah.
"Pohon mana yang ingin memeluk Qiya?" Tangan Mith terangkat.
"Pohon Anyelar di sebelah pohon Besar itu."
Dalam sedetik pohon setinggi 2 m dengan daun berwarna coklat kemerahan itu terbungkus api.
"Hey! Lor terbakar!"
"Apa yang terjadi?"
"Darimana asal api ini?"
"Kakak!"
Aku menatap kaisar. Meminta peradilan atas tindakan semena-mena Mith. Tentu saja kaisar acuh.
"Tidak apa! Api itu tidak terasa panas dan akan padam dengan sendirinya. Anggap saja sebagai simulasi terbakar." Ucap Mith enteng.
Apa dia tidak tahu jika adik perempuan semata wayangnya bisa mendengar teriakan ketakutan para pohon?
Haha, punya spirit 'mitos' super langka dan kuat ternyata tidak selamanya bagus.
"Qiya! Jika ada pohon dan hewan yang bilang macam-macam, bilang pada Ayah atau kakakmu!"
Aku menatap kedua makhluk itu datar. Dengan pohon saja mereka begitu. Apalagi dengan pria.
***
Kaisar langsung mengurus acara pengobatan gratis bagi rakyat setibanya di istana. Orang-orang dari Duchy Hannes mulai berdatangan.
Ah, Duchy Hannes kan merupakan kampung halaman Ibuku. Apakah aku bisa melihat orang tua atau saudara ibu?
Aku menatap langit-langit kamar yang sangat tinggi. Hana berdiri di samping kasurku. Sedangkan, Poppy terbang dalam mode menghilang menjelajahi kamarku yang sangat luas. Hanya aku yang bisa melihatnya.
"Tuan Putri, apakah anda ingin melakukan sesuatu?"
"Hana, panggil aku Qiya saja."
Aku menatap Hana datar. Ini kali ke 1000 gadis yang 3 tahun lebih muda dari Dego itu memanggilku Tuan Putri. Padahal, aku sudah memintanya memanggilku Qiya saja.
"Ta-tapi, rasanya tidak sopan jika seorang putri baron miskin memanggil Anda seperti itu." Qiya nampak ketakutan.
Aku tahu apa yang terjadi. Hana pernah memanggilku Qiya untuk pertama kali. Dan, Dego tak sengaja mendengarnya. Tentu saja makhluk itu langsung marah.
Aku menghembuskan nafas panjang.
"Kau kan datang ke sini sebagai temanku. Bukan pelayan. Jadi, tidak perlu terlalu formal."
"Ta-ta-tapi, Pangeran Kelima bilang...."
"Tidak usah pedulikan Kak Dego!"
"Baiklah......Qiya."
Aku tersenyum. Tanganku menepuk ruang kosong di kasurku yang bisa menampung 10 orang dewasa. Aku sendiri tak tahu kenapa kaisar memberikan kasur sebesar ini untuk gadis kecil berusia 3 tahun. Rasanya aku bahkan bisa melakukan pentas sirkus di kasur ini.
Hana melangkah dengan ragu. Butuh waktu 5 menit bagi Hana untuk duduk di atas kasurku.
"Tidurlah. Cuaca hari ini cocok sekali untuk tidur siang."
Hana mengangguk. Dengan ragu merebahkan tubuhnya.
"Kasur Qiya sangat lembut."
Aku tersenyum.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara pintu diketuk. Aku bangkit dari tidurku. Lantas duduk.
"Masuk!"
Tuan Linn melangkah dengan gagah menuju arahku.
"Tuan Putri, Yang Mulia Kaisar ingin bertemu dengan Anda." Tangan kanan kaisar itu menunduk.
Aneh, kenapa kaisar tiba-tiba memanggilku. Apakah ada hubungannya dengan spirit?
"Ada apa?"
"Ada seseorang yang ingin bertemu Anda."
Aku bangkit dari kasurku. Lantas berjalan di belakang Tuan Linn yang memperlambat langkahnya. Menyamai langkah kaki mungilku. Poppy berhenti terbang. Ia hinggap di atas pundakku. Masih dalam mode menghilang.
Koridor istana putri lengang. Kaisar sudah tidak lagi menempatkan ksatria di istanaku. Sebagai gantinya, mungkin aku akan punya ksatria pribadi.
"Tuan Linn!" Aku mengangkat tanganku. Sebuah telapak kaki hewan dan helai daun muncul di atasnya dengan cahaya remang. Itu adalah lambang spiritku.
Tuan Linn langsung menutup telapak tanganku.
"Tuan Putri! Bukankah berbahaya menunjukkan spirit anda ke sembarang orang?"
Poppy mengangguk.
"Tuan Linn kan bukan sembarang orang." Aku tersenyum. Menatap Tuan Linn tulus.
Aku tahu dengan jelas. Meski, Tuan Linn terlihat masa bodo dengan kekaisaran ini. Dia adalah orang yang sangat mencintai kekaisaran ini lebih dari siapapun.
Di novel Mask, saat Carl menghancurkan kekaisaran, Tuan Linn dan Ash adalah orang yang dengan cepat melindungi para rakyat sehingga korban yang berjatuhan hanya sedikit. Meski, pada akhirnya Tuan Linn tewas di tangan Carl. Dan, aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
Tuan Linn tersenyum.
"Terima kasih, Tuan Putri. Tapi, tetap saja! Anda tidak boleh menunjukkan spirit anda ke orang lain!"
"Baik!"
"Jadi, apa wujud spirit anda?"
"Burung dengan sayap dan ujung ekor pelangi. Aku menamainya Poppy."
Poppy muncul di depan Tuan Linn.
"Argh! Sejak kapan dia ada di sini?"
Plop! Poppy berubah menjadi bros. Aku dengan cepat menangkapnya.
Seorang pria dan wanita tua menghampiriku. Mereka terlihat seperti bangsawan.
"Saya memberi salam pada Duke Hannes dan Duchess Hannes." Tuan Linn menunduk penuh hormat.
Ah, itu artinya mereka....
"Saya memberi salam pada Duke Hannes dan Duchess Hannes." Aku ikut memberi salam seperti Tuan Linn.
"Apakah gadis kecil ini putrinya Rein?" Duchess Hannes menatapku gemas.
Tuan Linn mengangguk.
"Benar, Ayah Mertua." Kaisar muncul entah darimana dan menggendongku.
"Lihatlah matanya. Sama seperti Rein. Juga sama seperti kita."
Aku menatap mata kedua orang tua itu. Benar, manik mata mereka sama sepertiku. Biru berlian. Bedanya, mataku lebih bersinar dan cerah.
"Rein pasti sangat bahagia jika bisa melihat putrinya. Sayang sekali dia tewas karena Gor...."
"Apa? Gor apa? Ibuku tewas karena apa?"
"Ayah, ada Qiya di sini."
"Ah, maafkan aku. Apakah aku boleh menggendongnya?"
Kaisar mengangguk. Dengan lembut menyerahkanku pada Duke Hannes yang menatapku penuh kasih.
"Nah, Qiya! Apakah kau ingin mengadakan pesta minum teh dengan kakek dan nenekmu?"
Aku mengangguk penuh semangat.
"Iya! Qiya mau!"
Kaisar tersenyum menatapku.