Pelayan sibuk menyiapkan pesta minum teh di taman istana. Duchess Hannes membantuku naik ke atas kursi yang cukup tinggi.
Di hadapanku terhampar gelas teh beserta makanan ringan. Duchess Hannes duduk di hadapanku.
"Dimana, Kakek?"
"Kakekmu sedang sibuk mempersiapkan acara pengobatan gratis bagi rakyat." Duchess Hannes menyesap cangkir teh dengan anggun.
Aku mengambil satu kue mangkok dan memakannya. Makanan ringan bercita rasa manis memang yang terbaik.
"Apa Nenek tidak bermain dengan kelima kakak juga?"
Duchess Hannes menggeleng. Bibir tipisnya melengkung ke atas.
"Kelima kakakmu itu unik. Sedangkan, Qiya istimewa." Duchess Hannes kembali menyesap cangkir teh.
Aku memiringkan kepalaku.
"Kakak pertamamu hanya diam. Kakak keduamu berlarian. Kakak ketigamu selalu menanyakan kesehatan Nenek. Padahal Nenek adalah pengguna spirit penyembuh level 8. Kakak keempatmu hanya makan. Kakak kelimamu menangis seharian."
Aku tersenyum. Kelima makhluk itu memang unik.
"Nah, Qiya coba makan ini." Duchess Hannes memberikan toples berisi bunga berwarna ungu muda dengan pita senada di leher toples.
Cantik sekali!
"Apa itu?" Aku menatap toples itu penuh binar.
Aku tidak tahu apa isinya. Tapi, yang jelas pasti enak.
"Ini adalah permen bunga es yang hanya tumbuh di Duchy Hannes." Duchess Hannes mengambil satu permen.
Aku membuka mulutku. Begitu permen bunga itu menyentuh lidahku rasa dingin dan manis memenuhi mulutku. Enak sekali!
"Enak! Qiya suka!" Aku menyentuh kedua pipiku. Mataku terpejam. Duchess Hannes tersenyum.
"Ini untuk Qiya!" Duchess Hannes memberikan sekeranjang penuh permen bunga es.
"Terima kasih, Nenek!" Aku mengambil satu permen lalu meletakkannya di bawah meja.
Poppy yang bersembunyi di bawah meja dalam mode menghilang langsung memakan permen itu.
"Sama-sama, Qiya. Jika Qiya mau, Nenek akan mengirimkan permen setiap hari untuk Qiya!"
Aku tersenyum lebar.
"Nenek! Makan terlalu banyak makanan manis bisa merusak gigi Qiya!" Luca muncul dari balik semak.
Ah, aku mematikan kemampuan bicara dengan tumbuhan selama dengan Nenek. Jadi, aku sama sekali tidak tahu jika Luca bersembunyi dalam semak.
Ngomong-ngomong, spirit aura ini keren juga. Aku bebas mengatur kemampuan mana yang ingin aku matikan sementara atau ingin aku gunakan terus-menerus.
Aku menemukan kemampuan ini ketika aku lelah mendengarkan semua curahan hati pohon yang menderita karena para pangeran menjadikannya samsak tinju.
"Luca! Memata-matai seorang gadis bukanlah perbuatan yang baik." Duchess Hannes berkata tegas.
"Maaf. Tapi, Kak Mith dan adik kembar juga melakukannya." Luca menunjuk ke arah semak lain.
Tiga kepala muncul.
Duchess Hannes menggelengkan kepalanya.
Pada akhirnya, kelima pangeran ikut pesta teh kami. Kecuali Dego yang harus melatih kemampuan Hana. Kaisar sendiri yang memerintahkannya. Karena Hana akan terus menempel padaku. Bahaya yang ia hadapi pun akan jadi sangat besar. Makanya, Hana harus kuat. Setidaknya, untuk melindungi dirinya sendiri.
Hah, aku harap Hana baik-baik saja.
Aku memejamkan mataku. Kasur besar ini rasanya lengang tanpa Hana.
Hana pasti baik-baik saja.
Argh, tidak! Tidak ada anak perempuan yang akan baik-baik saja jika berurusan dengan Dego.
Aku langsung bergegas berlari menuju tempat latihan para ksatria. Di sanalah Dego melatih Hana.
Sebuah lapangan luas terhampar di depanku. Beberapa tembok dengan pedang dan berbagai s*****a menghias lapangan itu.
Suara aduan dua pedang terdengar ke telinga, membuat badanku terasa geli. Meski para ksatria adalah pemilik level spirit level 5 hingga level 7. Tapi, kemampuan berpedang mereka juga harus bagus. Beberapa ksatria memakai elemen spirit mereka untuk dijadikan pedang sama seperti teknik pangeran kedua. Luca memakai pedang dari tanah yang dialiri kekuatan spiritnya. Pedang tanah milik Luca bisa mengeluarkan tanah juga.
Aku mengintip dari balik gerbang yang terbuka.
Dua anak kecil terlihat sedang berlatih di tepi lapangan. Dego terlihat marah. Sedangkan, Hana terus bersemangat.
Air berbentuk runcing keluar dari tangan mungil Hana. Menuju boneka patung yang bergerak. Telak mengenai kepala dan jantungnya. Dego semakin marah.
Aku menatap Dego datar. Padahal dia sama sekali tidak pernah marah ketika aku dengan sengaja mengikat kakinya saat berjalan hingga ia terjatuh. Dia malah memujiku.
Entah kenapa tubuhku rasanya merinding.
"Hei! Apa yang dilakukan anak kecil di tempat seperti ini!"
Seorang pria berbadan besar dengan besi berpaku tersampir di pundaknya menatapku galak. Aku meneguk ludah.
"A-a-anu itu......."
"Kenapa aku gagap? Aku kan yang paling berkuasa di sini!"
"Saya....."
"Apa?!" Pria itu menunduk. Luka di matanya yang berbentuk garis vertikal terlihat jelas.
"Qiya! Apa yang Qiya lakukan di sini?" Dego melambaikan tangannya sembari tersenyum. Hana mengekor di belakang.
Kemana perginya anak galak tadi??
"Kakak!"
Pria besar itu langsung pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat.
"An-an-anda Tuan Putri?"
Aku tersenyum. Lantas mengangguk.
"Ma-ma-maafkan saya!" Pria itu langsung membungkuk.
"Sir Joseph! Apa yang anda lakukan pada adik saya?" Dego menatap pria itu galak.
Keringat mengalir dari dahi pria bernama Sir Joseph itu.
Ah, aku tahu siapa dia. Sir Joseph adalah kepala ksatria putih. Ksatria yang bertugas mengawal anak-anak kekaisaran. Ksatria lain adalah ksatria hitam dan hijau. Tugasnya adalah melindungi rakyat dan tamu kehormatan. Aku juga baru tahu beberapa hari lalu saat pelajaran Tuan Laude yang menjelaskan tentang ksatria kekaisaran.
"Tidak ada, Kakak! Sir Joseph hanya menanyakan kabar Qiya." Aku tersenyum. Bersikap seolah tidak ada apapun yang terjadi.
Haha, kemampuan actingku memang sangat bagus.
"Baiklah! Kalau begitu, ayo masuk Qiya!"
Sir Joseph terus membungkuk hingga aku masuk ke dalam tempat latihan ksatria.
Beberapa ksatria langsung membungkuk. Aku berjalan pelan. Hana mengekor di belakangku. Aku menarik tangannya. Memintanya untuk berjalan di samping ku alias di antara aku dan Dego. Dego menatap Hana galak. Lalu kemudian tersenyum manis ketika menatapku. Dengan terpaksa membiarkan Hana berjalan di sampingnya.
Latihan itu berjalan baik tanpa adanya amarah. Dego tidak ingin aku mendengarnya berteriak marah . Meski, yang diteriaki bukanlah aku. Yah, lainkali aku akan menemani Hana berlatih dengan Dego lagi.
***
Ribuan orang terlihat berbaris rapi di halaman istana. Ratusan orang dari Duchy Hannes tersebar di beberapa titik antrean. Kaisar dan kelima pangeran kecuali Niel terlihat mondar-mandir melihat jalannya acara pengobatan gratis bagi rakyat itu. Ratusan ksatria yang bertugas menjaga di setiap meter barisan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Sedangkan aku, bertugas menghibur anak-anak yang ketakutan selama diobati. Kaisar memintaku membuat tanaman sulur berbentuk kasur yang bisa membuat orang yang berdiri di atasnya melompat dan melayang selama beberapa detik. Kaisar juga memintaku membuat ayunan dan sulur raksasa yang bisa dipanjat. Entah mengapa rasanya seperti membangun arena bermain.
Semua anak bisa bermain di sana. Asalkan mereka sudah melakukan pengobatan. Itu cara yang bagus untuk membujuk anak-anak yang takut.
Acara pengobatan gratis ini akan dilakukan setiap 3 hari sekali selama 6 bulan penuh.
Poppy yang berada dalam mode menghilang terbang memutari halaman istana. Tidak akan ada yang tahu jika ada burung bersayap pelangi terbang di atas mereka.
Aku baru menyadari jika kaisar sangat peduli pada rakyatnya. Bahkan, kaisar menempatkan sebuah kotak di depan gerbang istana dan beberapa titik wilayah kekaisaran. Kotak yang ku kira adalah kotak surat itu ternyata adalah kotak kritik permintaan.
Kaisar berharap para rakyat dapat memberikan kritik terhadap pemerintahan kaisar atau memberikan permintaan untuk membuat kekaisaran lebih maju. Tapi, sudah 12 tahun sejak kotak itu berdiri dan sama sekali tidak ada kritik ataupun permintaan apapun. Para rakyat mengira jika kotak itu adalah cara kaisar untuk menghabisi siapapun yang tidak puas dengan cara pemerintahan kaisar.
Hah, aku juga pasti akan mengira begitu. Mengingat kelakuan kaisar yang selalu memberikan hukuman mati bahkan pada para pelayan. Haha....