Usia Mith sudah 12 tahun sekarang. Seminggu lagi adalah hari ulang tahun sekaligus hari peringatan kedewasaannya. Enam tahun lagi dia akan resmi menjadi kaisar. Yah, itupun jika tidak ada perebutan tahta antar saudara.
Aku juga tumbuh seperti Mith dan keempat pangeran lain. Usiaku 4 tahun sekarang. Kaisar bilang ia akan menempatkan beberapa ksatria pribadi untukku. Hah, padahal pangeran lain saja tidak pernah sekalipun ditempeli ksatria. Kecuali saat acara resmi.
"Qiya, apakah ada yang kau pikirkan?" Hana berhenti menyisir rambutku. Manik matanya menatap wajahku yang nampak terlipat.
Ah, usia Hana sudah 6 tahun sekarang. Dan dia telah tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat cantik. Level spiritnya pun sudah mencapai level 5. Ini semua berkat keteguhan hatinya menghadapi amarah Dego.
"Qiya?"
"Ah, aku baik-baik saja. Hanya sedang memikirkan hadiah untuk Kak Mith." Aku tersenyum. Berusaha bersikap senormal mungkin.
"Kaisar bilang Lily akan kembali dari cutinya."
Aku tersenyum. Kali ini tulus.
Lily dan Linn baru saja menikah 6 bulan lalu. Dan, dua bulan lalu kaisar memberikan liburan bagi mereka berdua untuk bulan madu dimanapun mereka mau. Sebenarnya, Lily sudah tidak lagi menjadi pelayanku. Tapi, gadis itu terus saja bersikeras. Akhirnya, kaisar membangun paviliun di dekat istana ku sebagai tempat tinggal Lily dan Linn.
Haha, rasanya mereka memang sudah ditakdirkan untuk bersama. Dua huruf dari nama depan dan nama belakang mereka saja membentuk nama satu sama lain. Li dan Nn menjadi Linn. Li dan Ly menjadi Lily.
Bukankah itu sebuah kebetulan yang hebat?
Ash muncul. Black panther raksasa yang semakin besar itu melompat di atas balkon kamarku. Kakinya dengan gagah berjalan menghampiriku. Kucing hitam raksasa itu tidur di bawah kakiku.
Aku tersenyum. Mengusap kepala Ash dengan lembut.
Hana bergidik. Tinggal bersama dengan hewan peliharaan Luca selama satu tahun tidak membuat gadis kecil itu berani padanya.
Padahal Ash hanyalah kucing biasa. Ash lucu dan menggemaskan. Yah, bedanya dia sedikit lebih besar.
Ash berdiri. Kepala kucing hitam itu menatap punggungnya. Aku tersenyum.
Tanganku bergerak. Sebuah tangga dari sulur tanaman muncul dari balik tanah.
Kaki kecilku melangkah dengan perlahan. Dengan hati-hati aku duduk di atas punggung Ash. Kucing itu menggerung. Ekornya bergerak. Ash sepertinya sedang gembira.
"Hana, aku pergi dulu!"
"Ta-tapi...."
Ash berlari dengan kencang. Kakinya langsung melompat dari balkon kamarku. Kucing itu mendarat dengan sempurna di atas tanah. Aku tertawa.
Sore ini Ash mengajakku ke danau di dalam hutan kerajaan. Aku sudah tau jika kerajaan ini sangat luas. Tapi, aku baru tau kalau ada hutan di dalamnya. Aku kira kaisar sudah menimbun semua danau. Aku rasa kaisar melewatkan yang satu ini.
Apakah aku bisa menemukan pantai atau laut jika terus berjalan?
"Ash, pelankan langkahmu!" Aku menepuk kepala Ash pelan.
Ash mengangguk. Kecepatan langkahnya menyusut. Mataku sekarang bisa menangkap dengan jelas pemandangan hutan hijau yang sangat cantik ini.
Aku menghidupkan kembali kemampuan mendengarkan tanamanku. Poppy yang tertidur dalam keadaan menyamar menjadi bros di bajuku langsung terbangun. Burung kecil itu tidak mengubah bentuknya.
"Kau mau kemana, Qiya?"
"Ke danau dalam hutan."
Aku bicara dalam hati.
Pikiranku dan pikiran Poppy saling terhubung selama kami berada dalam tempat yang sama. Aku juga baru tau akan kemampuan ini akhir-akhir lalu. Ketika aku tidak sengaja mengatai Poppy gendut ketika kami sedang makan bersama. Dia langsung marah dan mematuk kepalaku. Benar-benar burung kecil yang sentimental.
Langkah kaki Ash terhenti. Ah, ini artinya kita sudah berada di....
"Wuah, cantiknya!"
Di hadapan ku terhampar danau berwarn hijau. Kilauan cahaya matahari yang menimpa permukaannya membuat danau itu nampak seperti zamrud.
Aku berjalan di tepi danau. Ah, dilihat dari dekat begini jadi makin nampak cantik.
"Qiya, jangan terlalu dekat!"
"Tidak apa, kan ada Ash!"
Langkah kakiku semakin cepat. Aku berlari di tepi danau. Kalaupun aku tercebur, ada Ash yang akan menolongku. Lagipula, tepi danau ini tidak mungkin dalam. Palingan hanya sampai lututku saja.
SYUT! Sebuah panah menancap di sebelah kakiku. Satu cm lagi dan panah itu akan melubangi kakiku.
Aku tersentak. Kepalaku memutar dengan perlahan.
Tak jauh dariku, Ash menggerung. Cakar tajam lagi besarnya menyengkeram sebuah tubuh manusia yang berlumuran darah. Di atas Ash, ada seseorang berpakaian serba hitam dengan busur dan anak panah di kedua tangannya. Jadi, dia yang menyerangku.
Aku pikir orang-orang gila yang ingin membunuhku sudah hilang. Ternyata masih ada, ya.
Tanganku teracung. Bersiap menyerang. Hanya karena aku adalah anak kecil berusia 4 tahun, bukan berarti aku lemah. Aku ini pemilik spirit aura yang terlalu langka tahu!
Sebuah sulur muncul dari bawah pohon. Bersiap mengikat makhluk yang duduk di atas pohon itu.
Terlambat! Dia berhasil melarikan diri. Aku terus berusaha menyerangnya. Begitu pula dengan Ash yang terus berlarian.
Syut!!! Sebuah anak panah melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arahku. Ada orang dibalik dedaunan yang menyerang.
Ugh, terlambat! Aku tidak akan bisa menghindar.
Aku memejamkan mataku. Aneh, tidak sakit. Tidak terasa apapun.
"Ash!" Aku langsung memeluk Ash yang berdiri di hadapanku.
Darah mengalir deras dari tubuh Ash yang tertancap beberapa anak panah.
Ah, lagi-lagi karena aku! Orang-orang selalu dalam bahaya karena aku. Padahal, aku adalah pemilik spirit aura yang super langka. Aku pikir aku bisa melindungi semua orang. Tapi, faktanya aku masih jadi beban bagi mereka.
"Ash! Bangun!" Air mataku mengalir. Sekarang tidak ada lagi yang aku pikirkan selain keselamatan Ash. Aku tidak peduli pada dua orang bertopeng yang menarik anak panah dari busurnya.
Aku mengambil liontin kalung hadiah ulang tahunku setahun lalu. Kedua tanganku menggenggam liontin itu. Sebuah cahaya memenuhi tanganku. Begitu aku menyentuh Ash, cahaya itu merembet ke tubuh Ash.
Perlahan tapi pasti, luka di tubuh Ash menutup. Darah itu berhenti mengalir. Aku tersenyum.
Sebuah anak panah menancap di lenganku. Darah mengalir dengan deras. Rasanya sakit sekali. Tapi, begitu aku melihat Ash yang selamat dan berdiri lalu membunuh kedua orang itu. Semua rasa sakitnya hilang.
"Qiya!"
"Adikku bangun!"
"Qiya, ini ayah!"
Ah, semua keluargaku ada di sini. Aku ingin bicara. Tapi, aku mengantuk. Aku tertidur. Sangat lelap.
***
Semua orang langsung heboh begitu aku membuka mataku. Hana menangis. Kaisar dan kelima pangeran menatapku sedih. Lily terisak dalam pelukan Linn.
Aku tersenyum. Kaisar langsung memelukku.
"Ayah!"
Luka di tanganku menghilang. Begitu juga rasa sakitnya.
"Tuan Putri, syukurlah anda baik-baik saja!"
Pasutri baru itu tersenyum bahagia. Begitu juga Hana yang terisak sembari tersenyum. Lucu sekali!
Kaisar menurunkanku.
"Qiya! Kakak takut sekali ketika melihat Qiya berlumuran darah" Mithh terisak.
Ini pertama kalinya aku melihat Mith menangis. Padahal, dia adalah orang yang sangat kaku.
"Qiya baik-baik saja!" Aku tersenyum lebar.
Senang rasanya melihat ada banyak orang yang mengkhawatirkanku.
"Apa Ash baik-baik saja?"
Semua orang terdiam.
"Kakak! Kakak tidak menghukum Ash, kan?" Aku menatap Luca sedih.
Luca terdiam.
"Kakak sudah mengusir Ash dari kerajaan karena dia tidak becus menjagamu!"
"Tapi, Ash adalah orang yang menyelamatkan Qiya!"
"Qiya....Ash adalah binatang buas
Dia bukan orang."
"Qiya benci Kak Luca!" Aku berlari. Mendobrak pintu. Air mataku mengalir.
Binatang buas apanya. Selama ini, Ash-lah yang menemaniku berjalan keliling istana. Ash-lah yang menjagaku saat masih bayi. Tidak pernah sekalipun kucing raksasa itu meninggalkanku. Bahkan, ketika matanya terpejam pun. Aku bisa tahu dengan jelas jika Ash masih terjaga.
Ash adalah temanku. Dia keluargaku. Ash bukan hanya sekedar binatang buas!