Aku berlari tak tentu arah. Mataku sembab. Manik mataku tak bisa melihat dengan jelas. Beberapa kali aku terjatuh dan menabrak. Lenganku terasa perih karena tersayat ranting pohon.
Rasanya memalukan sekali keluar dari kamarku dalam keadaan seperti ini.
Aku tidak habis pikir, Luca mengusir Ash begitu saja. Harusnya, dia tidak perlu menyelamatkan Ash jika pada akhirnya dia mengusirnya. Lagipula, bukan salah Ash jika ada pembunuh bayaran yang menyerang. Bukankah, Ash sudah berusaha untuk melindungiku. Kalau begitu harusnya Ash biarkan saja aku mati.
Aku duduk di bawah pohon crem tua yang akhir-akhir ini menjadi temanku. Kedua tanganku memeluk lutut.
"Qiya! Ada apa?"
Sebuah pohon crem tua bernama Inc itu menyapaku.
"Aku baik-baik saja."
"Tidak biasanya kau sedih. Apalagi sampai menangis." Dahan Inc bergerak. Daunnya mengibas pipiku pelan. Sangat lembut.
"Apa itu karena peristiwa pembunuhan semalam?"
Sepertinya, berita itu sudah menyebar ke seluruh dunia tanaman.
"Ash! Luca mengusirnya!" Air mataku mengalir lebih deras.
"Ah, pantas saja kau menangis."
"Tapi, Qiya. Bagi kekaisaran, kau adalah segalanya. Bahkan, mereka tidak akan segan membunuh bangsawan yang menuangkan teh ke atas gaunmu."
Aku terdiam. Aku tahu dengan jelas akan hal itu. Semua orang di kekaisaran akan melakukan apapun untukku. Tapi, mengusir Ash untuk kesalahan yang tidak ia lakukan adalah hal yang buruk.
"Kau adalah putri kekaisaran yang sudah lama dinantikan kehadiramnya. Putri kekaisaran terdahulu selalu tewas ditangan pembunuh. Makanya, keluargamu sangat menjagamu. Kau adalah sumber kekuatan kekaisaran, Qiya."
"Apakah mereka hanya menyayangiku karena aku adalah sumberkekuatan kekaisaran? Kalau aku hanyalah seorang gadis lemah. Apakah mereka tidak akan menyayangiku?"
"Kenapa tidak kau tanyakan sendiri?"
Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Selama ini aku sudah yakin jika semua orang di sini menyukaiku apa adanya. Tapi, rasanya mustahil mereka akan menyukai Qiya yang lemah. Yang mereka suka pasti Qiya sang bulan kekaisaran.
"Kau tau kenapa kau memiliki spirit aura Qiya?"
Aku menggeleng.
"Itu karena kau istimewa. Kau selalu memikirkan orang lain. Kau memiliki hati yang tulus. Tidak seperti kebanyakan orang yang egois. Kau akan membawa banyak perubahan, Qiya."
"Qiya, kakak minta maaf. Kakak akan mencari Ash dan memintanya kembali."
Kepalaku terangkat. Luca duduk di sampingku.
"Maafkan, Kakak. Kakak sangat marah begitu melihat kau bersimbah darah. Kakak benar-benar minta maaf."
"Kakak akan membawa Ash kembali, bukan?"
"Iya, tentu saja. Para ksatria sudah mencari Ash dan kakak yakin mereka akan segera menemu...."
"Ash!" Aku memeluk kucing hitam besar yang duduk tak jauh dariku.
Ash menggerung.
"Maafkan aku karena sudah melukaimu."
Tangan kanan Ash memeluk pundakku. Luca tersenyum.
"Kakak, minta maaflah pada Ash!"
Luca menghembuskan nafas. Kakinya melangkah menyusul Ash.
"Maafkan aku, Ash!"
Ash menggerung.
***
Ratusan ksatria berbaris rapi di lapangan latihan. Kaisar dan kelima pangeran duduk di atas singgasana dalam tribun. Sedangkan aku, seperti biasa, duduk di atas kaisar. Aku baru tahu jika ada singgasana di atas tribun ini.
"Nah, Qiya, pilihlah dua ksatria yang akan menjadi ksatria pribadimu."
Aku menatap ratusan ksatria yang berdiri tegak seperti tiang listrik.
Bagaimana mungkin mereka membiarkan anak usia 4 tahun memilih ksatria yang bahkan tidak ia kenal?
Tunggu sebentar, pria dan wanita itu. Aku mengenalnya. Nove dan Grin. Mereka berdua adalah ksatria yang terkenal di seluruh kekaisaran karena kehebatan mereka. Bahkan, Carl pun mengeluh karena kedua ksatria itu terus mengganggunya saat menghancurkan kekaisaram.
"Qiya memilih Nove dan Grin."
"Nove Awt Odore dan Grin Ede Onnol kalian berdua bersimpuhlah di hadapan Tuan Putri!"
Kedua makhluk yang dimaksut itu melangkah dengan gagah. Sedetik kemudian mereka berlutut.
"Saya Nove Awt Odore akan menjadi ksatria pribadi Tuan Putri!"
"Saya Grin Ede Onnol akan memjadi ksatria pribadi Tuan Putri!"
Aku berdiri di antara kedua ksatria itu. Di tanganku tergenggam sebuah pedang.
"Aku, Qiya Arl Peranto menerima Nove Awt Odore dan Grin Ede Onnol menjadi ksatria pribadiku!"
Kedua ksatria itu berdiri. Aku tersenyum. Grin balas tersenyum.
Kaisar menatap Nove tajam. Di tangannya terpampang sebuah lukisan burung kecil yang mengerami dua telur. Jari telunjuk kaisar lurus di antara kedua kaki Nove. Dengan bengis kaisar menyobek lukisan burung itu. Nove meneguk ludah. Ksatria laki-laki yang masih berbaris langsung merapatkan kaki mereka.
Sedetik kemudian kaisar berdiri. Disusul kelima pangeran lain. Aku berjalan menyusul mereka. Nove dan Grin berjalan di belakangku. Ksatria lain bubar.
Urusan ksatria pribadiku sudah selesai. Sekarang hanya tinggal mengurus pesta kedewasaan Mith.
Lily yang menunggu di gerbang tempat latihan ksatria langsung memelukku. Aku balas memeluknya. Padahal baru dua bulan Lily meninggalkanku. Tapi, rasanya sudah lama sekali.
Hana yang berdiri di belakang Lily tersenyum padaku. Aku balas tersenyum. Dego mendengus.
"Lily, Hana, siapkan Tuan Putri untuk pesta teh."
Lily dan Hana mengangguk. Aku menatap kaisar heran. Untuk apa kaisar melakukan pesta teh di siang hari yang terik ini?"
Dan, di sinilah aku berada sekarang. Terdampar bersama kaisar dan kelima pangeran di atas karpet di taman istana kaisar. Di depanku terhampar makanan ringan dan teh yang nampak lezat. Aku makan kue mangkuk dengan lahap. Kelima pangeran dan kaisar hanya menatapku yang sedang sibuk mengunyah.
Poppy juga sibuk mengunyah biskuit tidak dalam mode menghilang. Poppy merasa aman di dekat kaisar dan kelima pangeran. Makanya, dia tidak perlu menyembunyikan diri. Aku juga tidak tahu sejak kapan Poppy berani menampakkan diri di hadapan mereka. Padahal, saat pertama kali bertemu, Poppy langsung bersembunyi.
"Ayah yakin ada yang ingin Qiya tanyakan."
Aku berhenti mengunyah kue mangkok.
"Memangnya apa?"
"Burung kecil itu bilang kau meragukan kasih sayang kami."
Aku terdiam. Sedetik kemudian mataku memicing. Menatap tajam Poppy yang langsung mengecil.
"Qiya, apakah rasa kakak terlihat palsu?" Luca menatapku sedih. Begitu pula dengan keempat pangeran lain.
"Entahlah, apakah kalian menyayangi Qiya hanya karena Qiya adalah bulan kekaisaran yang menjadi sumber kekuatan kekaisaran?" Kepalaku menunduk.
"Jika Qiya hanyalah seorang gadis lemah tanpa kekuatan yang selalu menyusahkan, apakah kalian tidak akan menyayangi Qiya?" Air mataku mengalir.
"Qiya, kami menyayangimu karena kau adalah Qiya. Dengan atau tanpa kekuatan. Qiya tetaplah bulan kekaisaran. Apapun yang Qiya mau akan Ayah kabulkan. Siapapun yang mengganggu Qiya akan kami musnahkan. Qiya lebih berharga dari segalanya. Bahkan, kekuasaan Qiya lebih tinggi dari Ayah." Kaisar menyentuh kedua pipiku lembut.
Kelima pangeran tersenyum tulus. Air mataku berhenti mengalir.
Sejak dulu mereka selalu melindungiku. Sejak dulu mereka selalu menyayangiku. Kenapa aku meragukan mereka?
Aku Qiya Arl Peranto. Aku adalah bulan kekaisaran yang berharga. Dengan atau tanpa Poppy.
Hari itu, wilayah gersang bekas perang manusia dan naga di wilayah Duke Henzo kembali berbunga. Tanaman tumbuh dengan subur. Hewan-hewan berdatangan. Air kembali mengalir. Angin bertiup lembut.
Kekuatan sesungguhnya spirit aura telah muncul.