Beware 22

1376 Kata
 ~~•~~ Berita soal tanah tandus di wilayah kekuasaan Duke Henzo yang kembali menghijau tersebar ke seluruh benua dalam sekejap. Semua mata orang tertuju padaku sebagai pemilik spirit flora yang kemungkinan bisa menyembunyikan kekuatan spirit aura. Tidak hanya aku, semua pemilik spirit animalia pun dicurigai. Tapi, tentu saja dengan mitos tentang berkat dewa, semua rasa curiga lebih terpusat padaku. Kaisar mengatakan jika aku jatuh sakit di hari menghijaunya tanah tandus itu. Tapi, tentu saja tidak ada yang percaya akan hal itu. Pangeran ketiga yang memiliki spirit penyembuh tentu tidak akan membiarkan adiknya jatuh sakit. Bukannya meredakan rumor. Hal itu justru membuat rasa curiga orang-orang makin terpusat padaku. Kaisar mengatakan kalau tanah hijau itu adalah hasil kerja keras para pangeran. Orang-orang bodoh pun meminta kaisar untuk menunjukkan letak spirit stone ku. Karena spirit stone milik pengguna spirit aura tidaklah ada. Tentu saja kaisar menolak. Dan memotong kepala orang-orang bodoh itu. Menunjukkan spirit stone sama saja dengan menunjukkan kelemahan putri kekaisaran. Kalaupun benar jika aku bukanlah penyebab atas menghijaunya tanah tandus itu. Orang-orang akan mengincar spirit stoneku. Hidupku bisa saja terancam bahaya, lagi. Dan lagi. Pada akhirnya, orang-orang memintaku untuk duduk bersimpuh di tanah tandus dan memohon pada dewa. Katanya, jika pemilik spirit aura melakukan hal itu. Tanah tandus di sekitarnya akan menjadi hijau kembali. Kaisar akhirnya setuju. Dia langsung mengirim rombongan kekaisaran ke wilayah Duke Tsani. Ratusan orang ksatria menjagaku di barisan depan dan belakang. Kelima pangeran dan kaisar menjagaku disemua sisi dengan kuda. Bahkan, sisi atas dan bawahku terjaga dengan baik berkat Luca dan Kiel. Aku ingin bilang jika hal itu berlebihan. Tapi, mengingat ada ribuan mayat yang tergeletak di sepanjang perjalanan kami. Aku rasa, tidak ada yang berlebihan mengenai hal ini. Aku langsung melakukan apa yang orang-orang lakukan. Aku duduk bersimpuh. Memohon pada dewa. Sayangnya, sepertinya dewa tidak mendengarku. Tanah tandus itu tetap tandus. Semua orang akhirnya kembali ke rumah mereka dengan tatapan kecewa. Ini semua berkat Poppy. Dia memberitahuku untuk membayangkan hal yang menyedihkan selama memohon kepada dewa. Karena, pada faktanya, kekuatanku bekerja bukan hanya karena sekedar memohon. Kekuatanku hanya bekerja saat aku berada dalam tingkat kebahagiaan paling tinggi. Tanah tandus itu adalah bukti kesedihan dan keputusasaan. Maka dari itu, butuh kebahagiaan untuk menghijaukannya kembali. Hah, padahal orang-orang d***u itu sama sekali tidak tahu apapun. Tapi, mereka bersikap seolah tahu segalanya. Setidaknya, butuh waktu hingga 6 hari sampai semua rumor dan rasa curiga itu menghilang sepenuhnya. Yah, sebenarnya butuh waktu lebih lama. Tapi, berkat ancaman kaisar, rumor itu menghilang begitu saja. Dan, sekarang di sinilah aku berada. Berjalan sepanjang jalanan ibukota bersama Hana dan kedua ksatria pribadiku. Kami berempat sedang mencari hadiah untuk Mith. Yah, walau aku yakin Mith akan tetap bahagia kalau aku memberikan sampah padanya. Aku menyamar menjadi putri bangsawan miskin. Nove dan Grin berperan sebagai orang tuaku. Dan Hana sebagai kakakku. Poppy bersembunyi dalam kantong bajuku. Tubuh burung itu mengecil hingga seukuran kacang. Tidak akan ada yang menyadari kehadirannya. Aku memakai pakaian dari kain layaknya rakyat biasa. Tanpa ada permata sedikitpun yang bertengger di atasnya. Rambut pirangku diubah menjadi coklat. Senada dengan bola mataku. Tak lupa, rambutku dikuncir dua agar nampak lebih sederhana. Penyamaran yang sempurna untuk berbelanja tanpa menimbulkan kehebohan. Aku yakin, semua orang di sini akan langsung bersimpuh begitu melihat Bulan Kekaisaran berjalan di dekat mereka. Dan, para pemilik toko yang aku datangi akan langsung memberikan dagangan mereka. Aku kan ingin belanja. Bukan merampok. "Menurut kalian apa yang bisa aku berikan kepada Kak Mith?" Ah, aku mengubah gaya bicaraku. Tidak ada lagi acara menyebut namaku dan nama lawan bicara. Karena kaisar akan mengancam siapapun yang membuatku melakukannya. Acara menyebut nama hanyalah berlaku untuk para pangeran dan kaisar. Benar-benar tidak adil. "Saya yakin Pangeran Putra Mahkota akan tetap senang walaupun diberi sampah." Grin menjawab enteng. "Kau bisa masuk penjara atas perbuatanmu itu." Nove menyenggol pundak Grin. Aku setuju dengan Nove. Tapi, ucapan Grin tidak sepenuhnya salah. Aku memejamkan mataku. Berpikir keras. Dengan uang sakuku yang dihitung sejak lahir, aku bisa membeli setidaknya satu wilayah kekuasaan untuk 15 orang. Tapi, Mith kan sudah sangat berkuasa. Untuk apa dia membutuhkan wilayah kekuasaan lagi? Bagaimana dengan kuda? Hah! Istana kekaisaran bahkan punya belasan kandang kuda. Mith saja sudah muak melihatnya. Pedang? Mith kan punya istana khusus untuk menyimpan pedang. Bagaimana mungkin dia membutuhkan pedang?!?!?! Hah!!! Sangat sulit untuk memberikan hadiah kepada orang yang sudah punya segalanya. Apa yang tidak dimiliki calon kaisar itu?!?!?! Ah, bagaimana dengan gelang saja? Mith dan keempat pangeran lain tentu akan senang jika aku memberinya gelang yang sama denganku. Aku yakin, tidak ada seorangpun di istana yang memiliki gelang. Selain gelang permata dan berlian. Aku berlari menuju toko gelang yang berada tak jauh dari tempat kami berdiri. Hana langsung menyusulku. "Tu....Shia. Jangan lari!!!" Grin berteriak. Tushia?? Yang benar saja!! Nama macam apa itu?? "Ibu!!! Ayah!!! Cepat!!!" Kedua ksatria itu bergegas sebelum aku menghilang dalam keramaian. Krincing!!! Bel itu berdenting begitu aku membuka pintunya. Pemilik toko langsung menghampiriku. Ketiga makhluk yang mengekoriku langsung duduk bersimpuh di lantai. Toko kecil ini sangat cantik. Berbagai jenis gelang dengan berbagai warna tergantung di setiap sudut toko. Para rakyat dan bangsawan berjalan menyusuri setiap jengkal toko. Ah, sepertinya toko gelang ini menerima semua kalangan. "Apa yang membawa seorang gadis kecil kesini?" Pemilik toko yang merupakan seorang wanita muda tersenyum. "Saya mencari gelang untuk kelima kakak saya." "Kalau begitu, bagaimana dengan gelang yang anda buat sendiri?" Gelang buatan tangan? Hanya ada satu gelang dengan model itu di dunia. Rasanya terdengar sangat spesial. Aku mengangguk. Pemilik toko menuntunku menuju sebuah meja. Di depannya terhampar berbagai manik. Aku tersenyum riang. "Silakan dekorasi gelang anda sendiri. Jika anda butuh bantuan, silakan panggil saya kapanpun." Pemilik toko itu menundukkan kepalanya. Lantas pergi dan menghampiri pembeli lain. Seorang rakyat biasa. Namun, diperlakukan sama istimewanya dengan para bangsawan. Aku mengambil sebuah gelang merah polos. Gelang ini cocok untuk Mith yang memiliki spirit api. Tanganku dengan cekatan mengambil semua manik yang berhubungan dengan Mith. Bara api. Bintang. Mahkota. Bulan. Dan, sebuah lambang spirit api yang berukuran besar. Semua manik itu terpaut menjadi satu dalam sebuah rantai mungil. Dan, selesai. Hadiah untuk Mith telah selesai. Tinggal 13 gelang lagi. Butuh waktu dua jam bagiku untuk membuat gelang untuk kelima pangeran dan kaisar juga untuk beberapa orang yang juga istimewa. "Apakah sudah selesai, Nona?" Pemilik toko kembali menghampiriku. Matanya menatap barisan gelang berwarna-warni di hadapanku. Aku mengangguk. "Cantik sekali!" Wanita itu menyerahkan 14 kotak kayu mungil untukku. "Terima kasih!" Aku tersenyum. Menerima kotak kayu itu. Memasukkan semua gelang buatanku ke dalam kotak kayu itu. Aku menyerahkan 10 keping koin emas sebagai bayaran. Pemilik toko itu terlihat bingung. "Maaf, Nona. Tapi, anda hanya perlu membayar 1 keping emas. Ini terlalu banyak untuk saya." "Tidak apa, anggap saja sebagai imbalan atas sarannya." Aku melangkah pergi meninggalkan toko itu dengan senyuman manis. Aku yakin para pangeran akan menyukainya. *** "Qiya! Gelang ini cantik sekali! Kakak akan memakainya setiap hari!!" "Terima kasih banyak, Qiya! Qiya kami memang yang terbaik!" "Kakak akan memberikan sihir pelindung dalam gelang ini agar tidak rusak!" "Kakak akan menjaga gelang ini seperti nyawa kakak sendiri!" "Kakak sayang Qiya!" Kelima pangeran berteriak histeris ketika membuka kotak kayu berhiaskan pita itu. Satu persatu dari mereka bergantian memeluk dan mencium pipiku. Entah mengapa aku menyesalinya. "Gelang ini hanya ada satu di dunia, bukan?" Kaisar menggendongku. Aku mengangguk. "Ayah akan meminta para penyihir kekaisaran untuk memberikan sihir pelindung tertinggi dalam gelang ini." "Bukankah itu sedikit berlebihan?" "Tidak ada yang berlebihan jika mengenai Qiya." Kaisar memelukku. Kelima pangeran ikut memelukku. Atau lebih tepatnya memeluk kaisar. Keenam makhluk itu akhirnya melepaskanku setelah drama menangis dan terharu. Aku berjalan menyusuri istana. Lantas memberikan gelang untuk Hana. Pasangan baru. Dan kedua ksatriaku. Juga Poppy. Hanya tersisa satu orang lagi. "Ash!" Aku berlari dengan senyuman mengembang. Menyusul Ash yang duduk di bawah pohon ek tua. Ash tersenyum. Luka di tubuhnya telah menghilang. Kepala black panther itu menunduk. Memberi salam padaku. "Aku membuat gelang ini untuk Ash!" Aku membuka kotak kayu berhiaskan pita hitam itu. Di dalamnya tergeletak sebuah gelang hitam dengan hiasan kepala dan telapak kaki kucing. "Aku tidak tahu apa Ash memakai gelang. Tapi, aku harap Ash suka!" Aku melingkarkan gelang itu di ekor Ash karena tangan blackpanther itu terlalu besar. Ash menggerakkan ekornya. Tersenyum ketika melihat sebuah gelang terlingkar. Aku memeluk tubuh besar Ash. "Terima kasih banyak sudah melindungiku!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN