Beware 14

1156 Kata
Bunga memenuhi aula pesta istana utama. Hamparan meja dengan makanan dan minuman terbaik terhidang di atasnya. Para bangsawan dengan pakaian dan perhiasan mewah membungkus tubuh mulai berdatangan. Kaisar duduk di singgasananya. Mith duduk di kursi antara kaisar dan sebuah kursi kosong. Ah, aku rasa itu singgasana ratu. Sedangkan, keempat pangeran lain duduk di samping kursi kaisar dan ratu. Aku? Tentu saja di atas pangkuan kaisar. Kaisar sekali lagi membetulkan posisi tiara kecilku. Mith dan keempat pangeran lain juga memakai mahkota. Bedanya, mahkota milik Mith punya lebih banyak permata di atasnya. Mungkin, karena posisinya yang lebih tinggi dari keempat pangeran lain juga aku. Beberapa bangsawan yang melihatku duduk di atas pangkuan kaisar langsung berbisik. Membicarakanku satu sama lain. "Apakah dia Sang Bulan Kekaisaran?" "Aku rasa iya. Lihat saja rambut pirangnya yang mirip kaisar." "Lalu, matanya yang berwarna biru itu. Bukankah sama dengan mata Yang Mulia Ratu?" Dengungan lebah itu berhenti ketika Luca mengangkat pedangnya. "Saya, Putri Ilvy Ros Raini dari Kerajaan Raini mengucapkan selamat ulang tahun bagi Bulan Kekaisaran." Seorang gadis kecil sepantaran Mith membungkuk. Rambut merahnya tergulung rapi. Manik mata berwarna coklat itu nampak cantik. Gadis itu lantas tersenyum padaku. Aku balas tersenyum. "Putri Ilvy, ya? Ah, putri kelinci merah muda!" "Saya mengucapkan terima kasih banyak atas kemurahan hati Tuan Putri karena telah mengembalikan Inci, kelinci saya yang tiba-tiba menghilang! Saya ingin tahu siapa yang sudah menculik Inci." Putri Ilvy menatap Mith tajam. Aku ikut menatap Mith yang langsung memalingkan wajahnya. Menolak bersinggungan dengan pemilik kelinci korban penculikannya. "Sebagai gantinya, saya memberikan hadiah ini untuk Tuan Putri." Seorang pria yang berdiri di belakang Putri Ilvy langsung membuka kotak kadonya. Beberapa bangsawan yang melihat isi kotak itu langsung berbisik. Putri Ilvy tersenyum. "Ini adalah permata Ameryst yang sangat langka. Hanya ada 2 permata Ameryst di dunia. Saya sudah merubahnya menjadi gelang." Apa boleh aku memiliki permata yang sangat langka itu? Rasanya, aku tak pantas memilikinya. "Ayah, bolehkah Qiya menerimanya?" Aku menatap kaisar yang manggut-manggut. Aku tersenyum. Kaisar membantuku turun dari pangkuannya. Kaki kecilku melangkah menuruni anak tangga. Putri Ilvy menyambut tanganku. Lantas dengan senyuman yang masih mengembang, Putri Ilvy memasangkan gelang itu di tangan kiriku. "Terima kasih, Putri Ilvy!" Aku mengangkat ujung rokku. Kepalaku sedikit menunduk. "Dengan senang hati, Tuan Putri!" Ilvy membungkukkan badannya. Tangan kanannya berada di atas d**a. Sedangkan tangan kirinya mengangkat roknya. Ah, itu salam tanda rasa bangga ala Kerajaan Raini. "Kalau begitu saya undur diri!" Aku mengangguk. Putri Ilvy kemudian melangkah pergi. Tubuhnya perlahan menghilang di antara keramaian. Sebuah pusaran angin lembut mengangkat tubuhku. Ah, ini spirit milik Kiel. Kiel menggerakkan tangannya. Lalu, menurunkanku di atas singgasana ratu. "Hei! Memangnya aku boleh duduk di sini?" Aku mengambil ancang-ancang untuk turun. Tapi, tangan Mith menghalangi tubuhku. Ah, itu artinya aku memang harus duduk di sini, ya? Kaisar dan kelima pangeran lain berdiri. Aku menatap mereka bingung. Para bangsawan langsung diam dan memperhatikan mereka. Tidak ada yang berani bicara sedikitpun. "Apa yang harus aku lakukan?" Aku bergegas berdiri dan kaisar langsung menggendongku. "Aku perkenalkan pada kalian. Sang Bulan Kekaisaran. Qiya Arl Peranto!" Kaisar mengangkat tubuhku ke atas. Para bangsawan yang hadir langsung bertepuk tangan dan meneriakkan namaku. Rasanya aku pernah mengalami hal ini sebelumnya. Pesta itu berlangsung meriah dan lancar. Tidak ada masalah yang berarti kecuali para pangeran yang berebutan mengajakku berdansa. Ada api, tanah, angin dan air yang muncul di aula pesta sebelum akhirnya diusir oleh es. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang lembut. Hampir seisi kamarku diisi oleh kotak kado dan pakaian. Aku tidak punya cukup tenaga untuk membuka semuanya. Bahkan, para pelayan pun mengaku kelelahan. "Tuan Putri, apakah anda sudah tidur?" Lily membuka pintu kamarku dengan perlahan. Aku bangkit dari tidurku. Lily tersenyum. "Tuan Putri pasti lelah. Bagaimana jika Tuan Putri mandi lalu berganti pakaian terlebih dahulu?" Aku mengangguk. Bergegas berdiri. Lily menggendongku menuju kamar mandi. "Lily, apa jenis spirit milik Lily?" Aku meniup busa sabun yang ada di tanganku. "Spirit milik saya adalah spirit awan." Lily mengusap rambutku dengan air bunga mawar. "Sama seperti milik Tuan Linn?" Lily menggeleng. "Tidak, Tuan Putri. Spirit saya hanya bisa mengeluarkan awan badai, awan hujan atau awan petir." Aku mengangguk. "Spirit Lily level berapa?" Aku terus bertanya. Lily tersenyum. Sama sekali tidak keberatan dengan pertanyaanku yang terus menderu. "Spirit milik saya masih level 3. Karena saya jarang sekali berlatih." "Apa Lily mau berlatih dengan Tuan Linn?" Aku menatap Lily yang membilas rambutku. "Ah, Tuan Linn tidak akan punya banyak waktu untuk melatih pelayan seperti saya." "Qiya akan memintanya!" Aku mengepalkan kedua tanganku. Ini kesempatan yang bagus untuk mendekatkan mereka berdua. *** Aku mengetuk pintu ruang kerja Tuan Linn. Hari ini aku akan belajar dengan Tuan Linn untuk pertama kalinya. "Masuklah, Tuan Putri!" Aku mendorong pintu dengan pelan. Tuan Linn sudah menunggu. Ada banyak tumpukan buku di atas mejanya. Tuan Linn sepertinya sangat sibuk. "Duduklah, Tuan Putri!" Aku mengangguk. "Hari ini kita akan belajar tentang spirit. Tuan Putri pasti sudah tau tentang spirit bukan?" Aku kembali mengangguk. "Di dunia ini ada 5 jenis spirit. Spirit pelindung. Spirit penyembuh. Spirit penyerang. Spirit pengepul. Dan, spirit penghancur. Ah, ada juga tipe spirit yang bisa menjadi spirit penyerang maupun spirit pelindung. Apakah Tuan Putri tau contohnya?" Tuan Linn menatapku. "Spirit milik ayah dan kelima kakak kecuali kakak ketiga adalah tipe penyerang dan pelindung. Spirit milik kakak ketiga adalah tipe penyembuh. Spirit awan milik Lily adalah tipe penyerang." Tuan Linn tersenyum. Bagi Tuan Linn yang sudah mengajar kelima pangeran, aku adalah anak paling cerdas dan gampang di atur. Yah, kalian juga pasti sudah tahu. Mith justru yang menjadi guru Tuan Linn. Luca selalu berlarian dan menghamburkan kertas. Niel tenang tapi sedikit bodoh. Kiel selalu datang terlambat. Dan, Dego menjawab pertanyaan sambil menangis. Sedangkan, aku! Qiya Arl Peranto. Mendengarkan dengan baik penjelasan Tuan Linn. Diam dan duduk di tempatku dengan sopan. Cerdas. Selalu datang tepat waktu. Dan tidak menangis. Jadi, aku sama sekali tidak heran jika Tuan Linn menyukaiku. "Apakah Tuan Putri tahu apa itu spirit pengepul?" Aku mengangguk. "Spirit pengepul adalah spirit yang bisa mengumpulkan informasi. Spirit mata dan spirit udara masuk jenis spirit pengepul. Pengendali spirit mata bisa melihat dengan jelas objek yang jauh. Lalu, spirit udara bisa mendengarkan suara yang jauh. Maka dari itu, biasanya para pengendali spirit ini bekerja sebagai mata-mata atau pengumpul informasi." Tuan Linn mengangguk. "Lalu, spirit penghancur sendiri sangat langka. Satu-satunya spirit penghancur adalah spirit bencana. Tipe spirit ini tidak bisa digunakan untuk melindungi. Tingkat serangan pun tidak bisa dikendalikan. Sekali spirit ini digunakan. Maka, satu desa atau bahkan satu benua bisa hancur. Tergantung tingkatan level spiritnya." Tuan Linn kembali mengangguk. "Spirit milik Carl ternyata adalah jenis spirit penghancur. Pantas saja!" "Saya rasa Tuan Putri sudah tahu banyak." "Kalau begitu, apa Qiya dapat hadiah?" Aku menatap Tuan Linn penuh harap. "Hadiah?" "Iya, karena Qiya bisa menjawab semua soal dari Tuan Linn tanpa melakukan kesalahan. Berarti Qiya berhak mendapatkan hadiah." Tuan Linn nampak berpikir. Kemudian ia mengangguk. "Baiklah, kalau begitu sebutkan apa yang Tuan Putri mau!" "Latih level spirit Lily!" Aku tersenyum riang. "Apa?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN