Aku punya jadwal baru selain makan dan bermain, yaitu belajar. Nyonya Lace kini menjadi guru tata krama sekaligus orang yang akan mengurus semua pendidikanku.
Aku tak menyangka jika menjadi putri kekaisaran yang tidak mungkin naik takhta juga harus menerima pelajaran yang banyak seperti pangeran putra mahkota.
Aku takjub pada kepala Mith yang masih utuh.
Ada banyak pelajaran yang harus aku pelajari selain tata krama. Ada sejarah, strategi perang, perdagangan, bahasa, seni dan pengetahuan umum. Semua guru yang mengajar pun berbeda.
Untuk pelajaran sejarah dan pengetahuan umum akan diajarkan langsung oleh Tuan Linn. Lalu, ada Tuan Laude Ayer Ransisco, yang merupakan seorang Marquiss sekaligus pemimpin ksatria raja mengajar strategi perang juga pedang. Selanjutnya, Nyonya Iana Fill Teramus, seorang countess yang memiliki bisnis perdagangan terbesar di ibukota tentu menjadi guru yang tepat untuk pelajaran perdagangan.
Untuk pelajaran bahasa, kaisar mendatangkan Rinn, bangsa elf yang dikenal memiliki kemampuan bahasa yang baik. Yang paling aku suka adalah Nona Enjanes Losh Frimt, seorang putri baron yang terkenal di kekaisaran karena kehebatannya dalam semua bidang seni hingga mendapat julukan sebagai "Dewi Karya". Cocok sekali dengannya.
Ah, aku baru ingat kalau besok adalah hari ulang tahunku. Itu artinya, tinggal 2 tahun lagi sampai Carl datang ke kekaisaran gila ini. Seingatku, Mith dan Luca-lah yang menjadi perwakilan kekaisaran untuk menyambut Carl. Waktu 2 bulan terasa seperti selamanya bagi Carl yang jauh dari kampung halamannya. Ditambah perlakuan Luca yang menguras kesabaran membuat Carl semakin kangen dengan kamarnya. Dibandingkan perlakuan selir, perlakuan Luca lebih parah darinya.
Hah, wajar sih!
Luca memukul Carl karena tidak mau bertanding spirit dengannya. Padahal, jika Carl mau menggunakan kekuatan spiritnya, setengah istana kekaisaran akan hancur. Entah karena gempa bumi, banjir, badai, salju, ataupun kebakaran. Lalu, Luca juga memukul Carl karena tidak membalas ucapan Luca. Padahal, itu karena Carl tidak mau salah bicaranya. Makanya, Carl lebih memilih diam. Parahnya, saat Carl membalas ucapan Luca. Pangeran Kedua gila itu tetap memukul Carl karena dianggap lancang.
Hah!
Sebenarnya apa mau anak gila itu? Pantas saja Carl menghancurkan kekaisaran ini di akhir cerita!
Kira-kira, jika aku yang menjadi perwakilan kekaisaran untuk menyambut Carl. Lalu, bersikap baik padanya, apakah di akhir cerita Carl tidak akan menghancurkan kekaisaran? Tapi, bagaimana caranya agar putri terakhir yang tidak punya peran penting sepertiku bisa menjadi perwakilan kekaisaran?!
Semakin dipikirkan, semakin aku tidak tahu solusinya. Bagaimana mungkin bisa menyelesaikan masalah tanpa solusi?!
Aku menatap langit biru tanpa awan putih. Pemandangan langit di taman istana putri memang yang terbaik. Rumputnya pun terasa seperti kasur yang empuk dan lembut.
"Qiya! Apa yang Qiya pikirkan hingga bengong seperti itu?" Kepala Mith muncul di atasku.
Aku terlonjak kaget. Sejak kapan makhluk ini ada di sini?!
"A-anu, i-i-itu...."
Aku duduk di samping Mith yang menatapku, meminta penjelasan.
"Aku harus menjawab apa?! Tidak mungkin aku bilang kalau aku memikirkan peristiwa 2 tahun lagi! Bisa-bisa mereka menganggapku gila?!"
"Qiya hanya memikirkan tentang kelinci merah muda!"
"Apa yang aku katakan?!" Aku tersenyum senormal mungkin. Mana mungkin pangeran putra mahkota yang dikenal sangat cerdas ini bisa tertipu.
"Benarkah? Apa Qiya suka kelinci merah muda?"
"Eh?! Dia tertipu!"
"Iya, Qiya suka sekali kelinci merah muda!"
Aku tersenyum manis dengan tubuh kaku. Melihat wujudnya saja tidak pernah. Apalagi menyukainya. Aku bahkan tidak tahu kalau kelinci merah muda itu ada!
"Yah, semua anak pasti juga suka! Apa Qiya mau?"
"Eh? Mith mau memberiku kelinci merah muda?"
Aku memasang tampang bingung. Mith menatapku, meminta jawaban atas tawarannya. Aku kembali tersenyum. Lantas mengangguk.
"Baiklah, Qiya tunggu di sini! Kakak akan segera kembali dengan kelinci!"
"Baik, terima kasih, Kak Mith!" Aku mencium pipi Mith yang langsung pergi dengan bunga memenuhi tubuhnya.
"Hah! Masa bodolah! Palingan dia hanya akan membawa kelinci putih yang dicat!"
Aku memejamkan mataku. Kembali memikirkan bagaimana cara menjadi perwakilan kekaisaran.
"Qiya!"
Suara Mith!
Aku beranjak duduk lalu membuka mataku. Aku tersentak. Di tangan Mith ada kelinci merah muda dengan hidung yang kembang kempis. Lucu sekali! Tunggu! Kelinci merah muda itu nyata?! Darimana dia mendapatkan kelinci ini?!
"Qiya, ini pesanan Qiya!" Mith menatapku penuh harap.
"Apa yang kau inginkan dariku?"
"Darimana kakak mendapatkan kelinci ini?" Aku menatap wajah kelinci yang terlihat ketakutan itu. Jelas sekali jika Mith memaksa kelinci ini untuk pergi.
"Kakak mendapatkannya dari Putri Ilvy Ros Raini dari Kerajaan Raini!" Mith berseru semangat.
"Apakah kakak mencurinya?"
"Tidak! Kakak hanya mengambilnya dengan paksa!"
Aku menatap Mith datar.
Memang apa bedanya?
Mentang-mentang pangeran, nyuri kelinci sembarangan!
"Kakak! Kembalikan kelinci itu pada Putri Ilvy!" Aku melipat d**a dan memalingkan wajahku.
"Apakah Qiya tidak suka dengan kelinci ini?" Nada suara Mith berubah sendu. Aku menatapnya.
Ugh, rasanya aku bisa melihat anjing dengan telinga yang terlipat dan wajah sedih.
"Kenapa kau selalu menyakiti hati nuraniku?!"
"Qiya lebih suka kakak daripada kelinci merah muda ini!" Aku memeluk Mith erat.
"Kakak juga suka Qiya!"
"Haha, acting cute always works."
***
Para pelayan nampak sibuk mempersiapkan pesta ulang tahunku. Kaisar ingin pesta ulang tahunku menjadi pesta terbaik di seluruh benua. Karena, pesta ini juga merupakan ajang untuk memperkenalkan diriku pada publik. Selama ini yang mengenalku hanyalah para bangsawan yang selalu menghadiri hal tidak penting berkedok "rapat darurat".
Hadiah mulai berdatangan dari para bangsawan dan rakyat biasa yang antusias dengan pestaku. Gaun yang dipesan kaisar sebagai hadiah ulang tahunku satu-persatu dikirim ke kamarku.
Gaun ini tak ada habisnya! Apa kaisar ingin aku membuka butik di kamarku?! Lalu, bukankah lebih baik jika uang yang ia gunakan untuk membeli semua baju mengembang itu digunakan untuk membantu rakyat yang sedang kesusahan.
"Qiya! Kami membawa hadiah untuk Qiya!" Kelima pangeran mendobrak pintu kamarku dengan kasar seperti biasa.
Aku kagum dengan pintu itu karena bisa bertahan terhadap kelakuan keenam makhluk gila itu selama 3 tahun.
Lily yang sedang merapikan rambutku langsung berhenti. Aku beranjak dari kursi rias dan menghampiri para pangeran yang membawa kotak kado di tangan masing-masing.
"Buka kado kakak pertama dulu!" Mith menyodorkan kotak kado berwarna biru.
Aku membuka kado itu dengan antusias. Di kehidupan lamaku, aku sama sekali tidak pernah merayakan ulang tahun karena terlalu sibuk belajar. Lagipula, kedua orang tuaku tidak punya uang untuk merayakannya.
"Ah, ini kan...."
"Karena Qiya suka sekali dengan kelinci, kakak memberikan kostum kelinci ini untuk Qiya. Bagaimana? Qiya suka?" Mith menatapku penuh harap. Ada bunga dan kilauan cahaya di dekat wajahnya.
"Usiaku sudah 18 tahun! Dan, kau memberikan kostum anak kecil ini untukku?"
Aku menatap Mith datar. Hey, dia terlihat seperti anak anjing yang sedih lagi. Hah!
"Qiya suka sekali! Terima kasih!" Aku mencium pipi Mith.
"Ugh, kilauan cahaya apa ini?"
Keempat pangeran lain langsung menyodorkan kotak kado mereka!
"Kalian ingin dicium juga, ya?"
Aku membuka kado dari Luca sembari berharap isinya bukanlah hal yang aneh.
"Eh, peluit?"
"Iya, jika Qiya meniup peluit itu, Ash akan datang dan melakukan apapun yang Qiya mau!"
"Kau memang suka sekali menyiksa Ash, ya?"
Aku mencium pipi Luca. Jika aku menolak hadiah ini, bisa-bisa Luca menangis dan menjadi panda lagi.
"Terima kasih, Kak Luca!"
Aku membuka kado dari Niel dengan semangat. Diantara kelima pangeran, dialah yang paling normal. Jadi, sudah pasti kadonya pun normal!
"Kalung?" Aku menatap kalung mungil dengan liontin berwarna biru yang bersinar dengan sangat indah.
"Ah, itu bukan kalung biasa! Kakak sudah menambahkan sedikit kekuatan kakak di dalam liontinnya. Jika Qiya terluka, kalung ini akan melontarkan cahaya. Dan, kakak akan datang menolong Qiya. Tapi, kalau lukanya kecil, Qiya tinggal meletakkan liontin itu di atas luka itu!
"Sudah kubilang Niel yang paling normal!"
"Terima kasih, Kak Niel! Bisa tolong pasangkan di leher Qiya?" Aku mengangkat rambut pirang panjangku.
Niel mengangguk. Dengan senang hati melingkarkan kalung itu di leherku. Keempat pangeran lain menatapnya sinis.
Aku mematut bayanganku di cermin. Kalung ini nampak serasi dengan mataku.
"Selanjutnya, dari Kakak!"
Aku membuka kado Kiel dengan semangat. Terdapat sebuah bunga yang tak asing terawetkan dalam kaca dan bersinar terang seperti lamput.
"Ah, bunga peoni!"
"Cantik bukan? Kakak meminta penyihir untuk mengawetkan bunga itu dan menjadikannya lampu karena Qiya menyukai bunga itu!" Kiel menatapku seperti anak kucing yang mengharapkan mainan.
Aku meletakkan lampu itu di meja tak jauh dari kasurku. Lantas berlari memeluk Kiel.
"Terima kasih, Kak Kiel!"
"Aku! Aku!"
Aku tersenyum. Membuka kado dari pangeran terkecil.
"Eh, boneka bebek?"
"Iya! Karena kalau Qiya sedang marah, bibir Qiya terlihat seperti bebek! Lucu sekali! Seperti ini." Dego memonyongkan bibir tipisnya. Sudah kuduga isinya benda aneh.
Aku menatap Dego datar.
"Kau sebenarnya menghina atau memujiku?"
Aku memeluk Dego tanpa mengucapkan terima kasih.
"QIYA!"
Kaisar mendobrak pintu kamarku sama kasarnya dengan pangeran.
"Apa Qiya suka kado dari Ayah?"
Aku menatap barisan gaun berbagai warna yang berbaris rapi hampir memenuhi kamarku.
"Wuah, aku akan membuka butik baju anak besok!"
Aku menghampiri kaisar. Lantas meluruskan kedua tanganku. Kaisar langsung menggendongku. Aku memeluk dan mencium pipinya. Kaisar menatapku bahagia.
Ugh, pancaran cahaya ini lagi!
Benar saja, begitu aku memalingkan wajahku. Kelima pangeran menatap kaisar penuh rasa dengki.
"Para kakak ingin menggendong Qiya juga?" Aku bertanya dengan wajah polos. Kelima makhluk itu mengangguk.
Kaisar menatap mereka tajam. Kelimanya menciut.
"Nah, Qiya! Istirahatlah! Besok adalah hari besar bagi Qiya!" Kaisar menurunkanku lalu mengelus kepalaku lembut. Aku mengangguk.
"Pangeran! Lanjutkan kelas kalian!"
Kelima pangeran menyeret kaki mereka keluar dari kamarku.
"Dah, Qiya!"
Aku melambaikan tanganku.
"Tuan Putri, ini hadiah dari saya." Lily menyodorkan kotak kado kecil di hadapanku.
Aku langsung menerima kotak kado itu dan membukanya. Ah, sebuah pita berwarna biru dengan permata mungil di tengahnya. Sangat cantik!
"Maafkan saya jika pita itu jelek. Saya menjahitnya sendiri. Lalu, membeli permata itu dengan uang tabungan saya. Jika Tuan Putri tidak su...."
"Pitanya cantik sekali! Terima kasih Lily! Qiya akan memakainya besok!" Aku menatap Lily dengan mata penuh binar. Lalu memeluknya.
"Ah, Tuan Putri! Baju saya kotor."
"Tidak apa! Qiya tetap ingin memeluk Lily! Lily juga keluarga Qiya!"
Lily balas memelukku erat.