SELINGKUH
Di pojok ruangan, dua umat manusia menikmati kebersamaan mereka. Ada desahan yang terdengar berulang kali. Tak hanya itu, bunyi kecupan dan hisapan saling bersahutan.
Begitu menggairahkan.
Saking menggebu gebu, keduanya tidak lagi peduli kalau mereka melakukannya di kantor, di sebuah ruangan kerja yang bertuliskan ‘MANAGING PARTNER’ tergantung di pintunya.
“Uhh…”
“Oohhh…”
*Ahh.."
Sang perempuan bersandar ke tembok sambil menahan tekanan sang lelaki ke tubuhnya. Pakaiannya tersingkap hingga memperlihatkan kedua bukit kembarnya yang tidak lagi tertutup. Bahkan roknya terangkat hingga memperlihatkan kakinya yang jenjang dengan kain segitiga yang tidak lagi menutupi area sensitifnya.
Begitupun dengan sang lelaki yang dengan berani membiarkan bukti kejant*nannya dipertontonkan di ruang kerja miliknya tersebut. Ia meluapkan perasaannya tanpa malu.
Tubuh keduanya berguncang hebat saking besarnya hasrat yang mereka luapkan. Rintihan dan erangan tak henti keluar dari mulutnya. Kedua umat manusia tersebut lupa diri dan tidak menahan segala emosinya yang meledak ledak.
Menit demi menit berlalu.
Sampai akhirnya, guncangan itu melambat dan berhenti sama sekali.
Keduanya terengah engah mengatur nafas yang menderu akibat aksi mereka. Secara perlahan, sang lelaki menarik dirinya.
“Ahh..” si perempuan mengecup lembut bibir lelaki di hadapannya. “As usual, kamu memang luar biasa.”
Setelah diam beberapa saat, si lelaki dengan cepat menarik celananya hingga apa yang ada di bagian bawah tubuhnya tertutup dan tidak lagi terpampang jelas.
“Cepat rapikan pakaianmu,” ucapnya tanpa merespon ucapan perempuan itu.
“Aku tahu,” jawabnya ogah ogahan sambil menarik celana dalamnya dan menautkan resleting roknya. Ia kemudian mengaitkan bra lalu mengancingkan kemeja sutra putih yang dikenakannya. Semua yang melekat di badannya kembali rapi dan setiap bagian sensitif di tubuhnya kembali tertutup.
Si lelaki mengecek ponselnya. Ekspresi wajahnya terlihat kaget.
“Ada apa?” Perempuan itu menghampirinya.
“Aku baru membaca pesan, Binar dalam perjalanan ke sini,” ucapnya.
“Oh… Right on time. Untung kita sudah selesai,” Perempuan tersebut memamerkan senyumnya yang terlihat licik. Ia kemudian mendekat ke arah lelaki yang baru saja melakukan hubungan int*m dengannya itu, dan merapikan rambutnya. Perempuan itu juga memastikan tidak ada jejak lipstik tertinggal di wajah ataupun pakaiannya.
“We’re good…” ucapnya sambil tersenyum.
Namun senyumnya menghilang ketika sang lelaki mengambil sebuah cincin di atas meja dan mengenakannya di jari manis.
“Apa cincin itu harus kamu kenakan terus?” tanyanya dengan nada ketus.
“Binar bisa curiga kalau aku melepasnya. Mengertilah,” jawabnya dengan nada datar. "Kamu tahu situasiku. Jadi jangan mengeluhkannya."
“Ya.. Ya…” perempuan itu duduk di satu kursi yang mengitari meja rapat di ruangan tersebut. Diam diam ia menggertakkan giginya sebagai tanda kesal.
Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ada rasa benci dan cemburu yang menggelora pada sosok bernama ‘Binar’. Namun ia menutupinya agar tidak ada keributan antara dirinya dan sang lelaki.
Lelaki itu adalah atasannya. Tapi lebih dari sekedar atasan, lelaki berwajah tampan yang baru saja dicumbunya adalah idaman hatinya. Sejak lama ia menyukainya.
Saat gayung bersambut, ia pun tidak menyia nyiakan kesempatan yang ada di depan mata.
Tok, tok, tok.
Terdengar satu ketukan di pintu.
“Masuk,” ucap sang lelaki dengan suaranya yang tegas.
Pintu pun terbuka.
Sesosok perempuan bertubuh tinggi langsing memasuki ruangan. Wajahnya cantik dan lembut dengan rambut panjang bergelombang. Ia mengenakan gaun selutut bernuansa pastel yang membuatnya terlihat bersinar.
Perempuan yang bisa membuat lelaki manapun bertekuk lutut.
Sang lelaki menghampirinya dan mengecup pipinya, “Aku baru membaca pesanmu. Untung saja belum pulang. Kalau tidak, kamu bisa sendirian di sini…”
“Syukurlah. Apa pekerjaanmu sudah selesai?” Tanya perempuan cantik tersebut.
“Sudah,” Angguknya. “Apa kamu sudah makan?”
“Belum. Justru aku ke sini karena ingin mengajakmu makan malam,” jawabnya.
Lelaki itu mengambil tas yang ada di meja, “Kita pergi sekarang. Jangan sampai kamu kelaparan.”
“Iya,” responnya sambil tersenyum, lalu menatap perempuan yang sedang duduk di kursi rapat. “Apa kamu mau bergabung?”
“Boleh?” tanyanya tanpa malu malu. “Aku juga lapar.”
Perempuan berwajah cantik itu pun tersenyum dan mengangguk.
Sang lelaki tak berkata kata. Tanpa ekspresi, ia bergerak keluar dari ruangannya. Diikuti dua orang perempuan di belakangnya.
Perempuan yang mengenakan gaun bernuansa pastel itu adalah istrinya.
Sedangkan perempuan lain dengan kemeja sutera putih adalah selingkuhannya.
Mereka saling mengenal satu sama lain.