ABYAKTA GANDAKUSUMA

708 Kata
Dua bulan sebelum. Sesosok lelaki yang luar biasa tampan dan gagah keluar dari rumah megah dan mewah bak istana. Kulitnya yang kecoklatan menunjukkan kalau dirinya tipe lelaki yang menyukai berada di luar ruang. Dan memang seperti itu kenyataannya. Ia kemudian memasuki mobil bertuliskan ‘RANGE ROVER’ di bagian depan yang terparkir di halaman rumahnya. Mobil tersebut merupakan tipe Holland Edition yang sangat terbatas dan di Indonesia cuma ada satu unit. Harga fantastis lebih dari tiga ratus ribu euro menjadikannya hanya bisa dimiliki orang orang tertentu. Salah satunya, Abyakta Gandakusuma, putra satu satunya dari pasangan Abichandra Gandakusuma dan Arum Batari Ismawan. Keluarga Gandakusuma adalah konglomerat yang bergerak di bidang keuangan, seperti perbankan dan manajemen investasi. Merekalah pemilik saham pengendali Bank Central Indonesia. Bank Central Indonesia atau BCI merupakan bank swasta terbesar di tanah air dengan kapitalisasi pasar menunjukkan yang terbesar di Kawasan Asia. Harga sahamnya juga menunjukkan tren positif dengan terus naik dari tahun ke tahun. Tidak hanya sektor perbankan, BCI juga menaungi beberapa perusahan lainya seperti BCI Investama, BCI Finance, BCI Sekuritas, BCI Insurance dan masih banyak lagi. Awalnya saham mayoritas PT Bank Central Indonesia dimiliki dua bersaudara Abhicandra dan Adiguna Gandakusuma. Namun sepeninggal sang ayah, kini saham mayoritas dipegang oleh Abyakta Gandakusuma dan sang paman Adiguna Gandakusuma. Mereka masing masing memiliki 30% dan 25% saham. Sisanya 45% dimiliki oleh para pemegang saham lainnya, termasuk direksi dan komisaris Bank Central Indonesia. Sebagai pemegang saham mayoritas, Abi, panggilan akrabnya, tidak perlu bersusah payah menghidupi dirinya sendiri. Sehari hari ia aktif peduli terhadap konservasi alam dengan fokus pada area pesisir dan laut. Abi yang hobi menyelam sering menjadikan laut sebagai tujuan berlibur. Namun, makin lama, ia memperhatikan makin banyak saja sampah plastik saat sedang berada di kedalaman lautan. Akhirnya Abi mendirikan sebuah perusahaan yang mengembangkan dan meningkatkan teknologi untuk membersihkan sampah plastik di lautan. Ia menamakannya PT ARUM BATARI yang terinspirasi dari nama sang ibunda, Arum Batari Ismawan. Sampai sekarang, Abi terus menerus melakukan pengembangan berkelanjutan bersama tim peneliti untuk membersihkan lebih banyak lagi sampah plastik di lautan. Sebagai bagian dari apa yang dikerjakan PT Arum Batari, ia juga mendaur ulang sampah plastik khususnya wadah plastik transparan berbahan Polyethylene Terephthalate atau yang biasa disebut PET. Abi merubahnya menjadi eco friendly fiber yang merupakan bahan tekstil daur ulang tanpa limbah. Awalnya, semua itu hanya 'mainan' baginya. Namun lama kelamaan, ia menemukan passion baru dalam hidupnya. Seperti hari itu, Abi bergerak menuju bandara untuk terbang ke Los Angeles karena ada agenda rapat. Ia hendak menemui tim peneliti terkait pembahasan pengembangan teknologi terbaru untuk mengangkat sampah plastik di lautan. Setibanya di bandara, sepupunya, Sadana Ismawan sudah menantinya. Sada yang juga pecinta lingkungan adalah seorang creative director dari sebuah creative agency. Namun secara de facto, dalam perjalanan kali ini, Sada adalah teman diskusi Abi alias orang kepercayaannya. Abi tidak percaya orang lain selain sepupunya dari pihak ibu tersebut. Keduanya check in lalu bergerak menuju lounge sambil menunggu waktu boarding. Abi membuka buka tablet miliknya untuk mengecek jadwal selama di Los Angeles nanti. “Dengan segala kesibukanmu, apa kamu tidak terpikirkan untuk membawa asistenmu, Batara? Jangan aku kamu korbankan,” gelak Sada. Abi hanya tertawa, “Batara akan menyusul. Ada agenda mendadak hari ini. Tapi aku tidak ingin menunda keberangkatan ini, jadi dia mewakiliku.” “I see…” Sada mengangguk angguk. “Lalu kenapa kita menggunakan penerbangan komersial? Tumben… Kemana jet pribadimu itu?” Abi tergelak, “Batara menggunakannya.” “Kamu serius?” Sada tak percaya. “Seperti yang aku bilang, agendanya mendadak dan di Singapura. Dia tidak mendapatkan tiket,” jelasnya. “Sudahlah…” Tiba tiba, Abi berhenti bicara. Matanya menoleh ke kiri dan terpaku pada serombongan pramugari yang melintas. Ia tak berkedip menatap salah satu pramugari yang berada di paling belakang. Cantik sekali... Tanpa berkata kata, ia bergerak keluar lounge dan berlari ke arah rombongan itu. Namun para pramugari itu sudah melewati area pemeriksaan khusus kru pesawat. Abi mencoba mengingat seragam yang dikenakannya. Mmm… Dari modelnya, itu seragam Gamma Airlines. Dan aku akan terbang menggunakan penerbangan tersebut. Semoga saja dia ada di pesawat yang sama. Sambil tersenyum, Abi kembali ke lounge. “Ada apa dengan sikapmu barusan? Kenapa tiba tiba pergi begitu saja?” Sada mengerutkan keningnya. “Seorang bidadari lewat… Aku terpesona,” jawab Abi sambil tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN