BINARA ADININGRUM

728 Kata
Serombongan pramugari melewati pemeriksaan dan masuk ke dalam pesawat yang sudah dalam posisi stand by. Salah satu dari pramugari tersebut adalah Binara Adiningrum. Sesosok perempuan bertubuh tinggi langsing dengan wajah cantik dan lembut. Kecantikannya sangatlah memesona. Binar memiliki wajah bak boneka apalagi dengan kulit putih bak pualam membuatnya terlihat bersinar. Ia mengenakan seragam Gamma Airlines berupa gaun selutut berwarna burgundy. Gaun tersebut merupakan karya perancang ternama tanah air menggunakan bahan kualitas terbaik, sehingga kesan mewah dan anggun begitu melekat di diri setiap pramugari yang mengenakannya. Apalagi dengan sentuhan ikat pinggang kecil di pinggang dan scarf motif berbahan sutra di leher mereka. Tak heran, meski dalam balutan seragam, Binar tampil begitu memesona. Sesuai ketentuan yang berlaku dalam aturan maskapai, ia tidak mengenakan banyak perhiasan di tubuhnya. Hanya sepasang anting berlian kecil dan cincin pernikahannya. Namun, mengingat ukuran berliannya yang cukup besar, Binar memutar cincin tersebut agar bagian berlian berada di telapak tangannya. Hal itu ia lakukan agar tidak mengganggu aktivitas dan juga tidak menarik perhatian penumpang. Begitupun dengan rambut panjang yang seharusnya bergelombang indah, kali ini terikat rapi membentuk cepol sederhana. Sebelum mulai bekerja, ia mengecek ponselnya dan membaca ada pesan dari suaminya yang memang rutin mengirimkan pesan penuh cinta setiap ia pergi bertugas. Kata kata seperti ‘I love you’, atau “I’m going to miss you’ memenuhi pertukaran pesan keduanya. Senyum mengembang di wajah cantiknya sebelum mematikan ponsel tersebut dan menyimpannya di koper. Binar lalu menyimpan koper kecilnya di area khusus barang barang kru pesawat. Setelah memastikan setiap helai kain yang melekat di tubuhnya rapi, ia pun bersiap menjalankan tugas dan menyambut para penumpang kelas satu. Teman dekatnya, Anila Basanti berdiri di sampingnya. Ia berbisik, “Aku penasaran, apa ada penumpang tampan hari ini atau tidak? Dari data manifes, ada beberapa orang lelaki muda berusia tiga puluhan… Semoga saja..." Binar mencubit lengan teman yang biasa disebut Anti itu secara diam diam, “Jaga mulutmu. Kalau ada yang dengar, mereka bisa salah paham. Jangan sampai ada pikiran kita menyalahgunakan data penumpang.” “Ya, ya,” Anti pun terdiam. “Oh, ya jangan lupa, kursi 2F dia alergi kacang, lalu 4K meminta piyama ukuran XXXL, yang lainnya… Tidak ada yang khusus,” Binar mengingatkan sahabatnya itu sambil membaca daftar manifes. Pramugari mendapatkan data total dan juga nama penumpang, khususnya yang membutuhkan bantuan khusus, termasuk juga permintaan spesifik dari mereka. Keduanya mulai melihat para penumpang ‘First Class’ berdatangan. Binar tersenyum menyambut mereka dan memastikan semuanya duduk di kursi yang tepat. Saat menyapanya, ia juga mengamati perilaku penumpang termasuk kondisi fisik mereka. Seorang pramugari terbiasa melakukan pengamatan fisik untuk mencari Able Bodied People yaitu penumpang yang sehat dan bugar untuk membantu dalam keadaan darurat. Mereka juga mengamati untuk membaca perilakunya. Apakah ada potensi bahaya, ada yang sakit atau mabuk atau juga mencurigakan? Semua diamati pramugari sambil diam diam menyapa penumpang yang masuk. Diam diam, ia memperhatikan Anti saat menyadari kalau dari empat belas penumpang ‘First Class’ sudah muncul sepuluh penumpang. Hampir semuanya lelaki separuh baya atau wanita karir. Belum terlihat kemunculan seorang lelaki muda yang ada di daftar manifes. Namun, dari kejauhan Anti dan Binar memperhatikan ada empat penumpang lainnya sedang melangkah ke arah mereka. Semuanya lelaki dan terlihat berusia tiga puluh tahunan. Tiba tiba saja, Anti meremas tangan Binar berulang kali. “O M G Binar. Ada satu. Itu lihat yang jalan di belakang. Gila dia tampan sekali.. Aku belum pernah melihat lelaki seganteng itu…” bisik Anti tanpa menggerakkan bibirnya. Mereka tetap memasang poker face seperti tidak ada apa apa. "Yang mana?" Binar memicingkan matanya. "Paling belakang. Kaos putih, jaket hijau," gumam Anti. Binar memperhatikan lelaki yang dimaksud. Sahabatnya itu benar, ia harus mengakui ketampanan lelaki itu. Apalagi dengan tubuhnya yang tinggi besar, lelaki itu sangatlah gagah. Bahunya lebar dan dadanya bidang. Bahkan, dari kejauhan, wajahnya sangat bersinar. Yang menjadi daya tariknya, terutama, adalah hidung mancung dan rahang tegas. Satu persatu keempat lelaki itu memasuki area ‘First Class’. Dengan kecantikan Binar yang menawan hati, tidak heran kalau setiap lelaki yang melintas melirik hingga dua kali ke arahnya. Hingga saat lelaki tampan yang dimaksud Anti berhenti di hadapannya, Binar hanya tersenyum dan tidak berpikiran macam macam. Namun, si ganteng itu tidak melanjutkan langkahnya dan hanya berdiam diri sambil tersenyum. Lelaki tersebut kemudian menggumam saat membaca name tag di seragamnya, “Binara Adiningrum. "Ternyata kita satu pesawat. "Aku mencarimu…” Binar membelalak, “A… Apa???”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN