DEBAR DEBAR

733 Kata
Abi berulang kali menoleh ke belakang, ke lokasi dapur yang memisahkan area ‘First Class’ dengan ‘Business Class’. Apa dia akan kembali ke sini? Alasan apa lagi yang akan aku ungkapkan? Kacang? Ahh… Perutku penuh hazelnut. Tidak, tidak.. Atau.. Apa aku pura pura sakit? Oh no! Jangan melemahkan dirimu Abyakta… Tiba tiba seorang pramugari bernama Anila menghampirinya dan menawarkan wine. Ia pun mengangguk. Saat Anti menuangkan wine tersebut, terbersit sesuatu dalam pikirannya. “Saya mau meminta tolong,” bisiknya. “Apa yang bisa saya bantu?” Anti menjawab dengan sopan. Abi mengeluarkan saputangan dari dalam saku kemejanya, “Serahkan ini pada temanmu yang bernama Binara. Sampaikan padanya, untuk menuliskan yang saya minta di sehelai kain ini. “Setelahnya, dia harus mengembalikan saputangan ini secara langsung.” Anti menahan senyumnya sekuat tenaga. Ia tidak percaya kalau lelaki super tampan ini menyukai sahabatnya. Tak sabar rasanya ingin membahasnya. Sesaat, ia melupakan kalau Binar sudah menikah. Anti hanya tersenyum dan mengangguk, “Baik.” Abi menikmati wine di tangannya dan menanti kedatangan Binar dengan perasaan tak sabar. Aku tidak pernah seperti ini. Aneh sekali rasanya. Diam diam, ia mengatupkan bibirnya menahan senyum. *** Anti dengan cepat menghampiri Binar yang sedang mencari cari sesuatu. “Hot news!” ia berbisik. “Apa?” Binar menoleh ke arah sahabatnya itu. “Lelaki super tampan itu!!! Kenapa kamu tidak cerita kalau dia mendekatimu?” Anti meremas lengan Binar dengan gemas. “Da.. Darimana…” Binar terdiam. “Ini…” Anti menyerahkan saputangan milik Abi pada sahabatnya. “Dia bilang begini : Serahkan ini pada temanmu yang bernama Binara. Sampaikan padanya, untuk menuliskan yang saya minta di sehelai kain ini. Setelahnya, dia harus mengembalikan saputangan ini secara langsung. “Kata per kata langsung aku hafalkan. “Dan oh… Caranya bicara dengan suaranya yang berat dan dalam itu sungguh seksi…” “Oh euh,” Binar mendadak gugup. Ia menyimpan saputangan itu masuk ke saku pakaian yang dikenakannya. “Dugaanku.. Dia meminta nomor ponselmu. Iya tidak?” tebak Anti. Binar hanya mengembungkan pipinya dan melanjutkan apa yang sedang dikerjakannya. Ia tidak merespon ucapan Anti. “Ihh.. Jawab…” Anti merasa penasaran. “Iya, iya… Dia meminta nomor ponselku,” gumam Binar. “Lalu? Apa kamu akan memberikannya? Ohh… Ini fairy tale…” Anti menahan senyumnya. “Ihh.. Apa kamu lupa?” Binar menunjukkan cincin di jari manisnya. Anti terdiam. Ah ya.. Sahabatnya ini sudah menikah. Anti sedikit cemberut. Dari dulu, entah kenapa, ia tidak pernah suka pada suami dari Binar. Althaf memang baik, tampan dan juga sukses. Bahkan, sejauh yang ia perhatikan, lelaki itu sangat perhatian pada sahabatnya. Tapi… Entahlah… Rasanya seperti ada yang salah meski ia tidak bisa mengungkapkannya pada Binar. Makanya tadi Anti begitu bersemangat saat tahu si tampan itu ingin mengenal sahabatnya. Tapi sekarang… Semangatnya seperti menghilang. “Jadi.. Kamu tidak akan memberikan nomormu?” Anti mempertanyakan hal yang tidak perlu ditanyakan. “NO… Bagaimana mungkin?” bisik Binar. “Ah.. Aku kecewa,” Anti mencoba tertawa. Meski hati kecilnya memang sedikit kecewa. Lelaki itu, yang duduk di suite 1A, sangatlah tampan dan dari raut wajahnya terlihat baik dan bukan lelaki genit. Bahkan, ada aura cerdas yang sangat kental. Anti kemudian membaca ulang daftar manifes. Suite 1A, First Class Gandakusuma, Abyakta. “Namanya Abyakta,” bisik Anti lagi. Binar akhirnya tertawa, “Sudah hentikan. Tidak ada yang bisa aku lakukan…” “Kamu akan terang terangan bilang tidak akan memberikannya? Atau bagaimana?” tanya Anti lagi. “Penerbangan ini belasan jam. Kamu tidak bisa menghindarinya.” “Entahlah. Aku harus mencari cara bicara yang tepat. Dia penumpang First Class, aku tidak mau sampai menyinggungnya dan menyebabkan keributan,” ungkap Binar beralasan. “Iya benar,” angguk Anti. “Sudahlah, nanti aku pikirkan,” Binar mengusir sahabatnya secara halus agar tidak mengganggunya lagi. Anti pun bergerak pergi. Binar kemudian membalikkan tubuhnya hendak keluar dari area dapur. Ia pun melangkah ke arah lorong. Namun tanpa diduga, lelaki bernama Abyakta Gandakusuma itu muncul di hadapannya. Meski kaget, Binar mencoba tersenyum. Ia memberikan jalan agar lelaki tampan itu bisa lewat. Sepertinya dia hendak ke toilet. Abi membalas senyumannya. Saat mereka berpapasan, ia berbisik pelan, “Aku serius. Give me your number…” Binar kaget mendengarnya hingga ia menengadah menatap lelaki tampan bertubuh tinggi besar tersebut. Abi menahan senyumnya dan mengunci pandangan mereka. Seperti tersihir, keduanya saling menatap tanpa berkedip. Seketika, ada debar debar yang menyeruak dan menggelitik sekujur tubuh keduanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN