Abi tak berkedip menatap Binara yang menunjukkan ekspresi kaget.
Namun, saat melihat ada kru lain menyapanya, ia pun bergerak pergi. Abi tidak mau membuat Binara berada dalam kesulitan karena ada penumpang yang menggodanya.
Sepanjang perjalanan, setiap kali sosoknya melintas di lorong pesawat, Abi merasa senang sendiri. Ia memang dengan sengaja membuka pintu suite nya sehingga bisa memperhatikan gerak gerik pramugari yang menyihir hatinya itu. Abi mengagumi kecantikan dan ketenangannya saat menghadapi penumpang.
Saat melamun, seorang pramugari lain menghampirinya. Di dalam hati, Abi membaca nama yang tertulis di name tag nya ‘Anila Basanti’.
Mmm.. Kamu bukan dia…
“Silahkan pak,” Pramugari tersebut menyajikan makan siang lengkap untuknya. “Apa ada hal lain yang bapak butuhkan?”
Kepalanya menoleh ke arah Binar yang berada di lorong lain.
“Dia…” gumamnya.
“Maaf?” Anti tidak mendengar ucapan Abi.
“Ah tidak,” gelengnya. “Sudah semua. Terima kasih.”
“Apa perlu saya tutup pintunya?” tanya Anti lagi.
“Tidak, biarkan saja,” Abi memang dengan sengaja membiarkan pintu suite nya terbuka.
“Baik,” Anti pun beranjak pergi.
Sada yang berada di suite 1E, memperhatikan sikapnya. Meski terpisah lorong, namun posisi mereka yang berada di baris yang sama membuatnya bisa melihat ekspresi Abi.
Ia bangkit dari tempat duduknya menghampiri sepupunya itu.
“Kamu serius?” Sada menahan senyumnya. “Pramugari bernama Binar itu memang cantik. She’s lovely… Tapi sampai membuatmu lupa diri??? Ini amazing.”
“Jangan ganggu aku. Makan dulu,” Abi mengibaskan tangannya sebagai gestur mengusir sepupunya.
Sada hanya tertawa.
Ia kembali duduk di suite 1E.
Abi menghabiskan makanan di hadapannya dan mengabaikan sepupunya itu. Ia dengan tak sabar menantikan Binara melintas ke arahnya.
Semoga saja dia yang membereskan bekas makanku.
Abi tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Ia akhirnya menyalakan layar kecil di hadapannya dan menonton berita sambil memakan cemilan kacang yang ada di mini bar di hadapannya.
Mmm… Kacang ini enak. Hazelnut.
Ia menghabiskan hingga dua bungkus.
“Maaf, apa sudah selesai?” suara seorang perempuan terdengar jelas di telinganya. “Apa saya bisa membereskan peralatan makan bapak?”
Abi yang perhatiannya sedang pada layar dan memakan camilan kacang ketiga sedikit kaget. Jantungnya berdebar kencang.
Suaranya…
Sepertinya…
Apa dia Binara?
Ia menelan kacang yang ada di mulutnya. Meski masih setengah proses kunyah, tapi Abi memaksakan diri untuk memakannya. Dengan tenang ia meminum air mineral untuk melegakan tenggorokannya.
Lalu, ia pun menoleh.
Si cantik itu ada di sampingnya.
“I… Iya, saya sudah selesai,” ucap Abi.
Binara membereskan peralatan makannya dengan tenang.
Abi tak henti menatapnya. Ia mengagumi kecantikannya. Tapi lebih tepatnya, ada aura tertentu yang membuatnya tertarik. Kalau hanya cantik, banyak perempuan cantik di luar sana.
Tapi Binara berbeda. Ada sesuatu lebih yang membuatnya tak bisa mengalihkan pandangan darinya.
Tiba tiba saja, pramugari cantik itu menoleh ke arahnya, “Apa ada hal lain yang bapak butuhkan?”
“Ah euh…” Abi kaget karena pertanyaan itu begitu mendadak. Ia ketahuan sedang diam diam menatap Binara.
“Ti, tidak ada,” jawabnya pendek. “Terima kasih.”
“Baik,” pramugari cantik itu tersenyum.
Namun saat hendak bergerak pergi, Abi kembali memanggilnya, “Maaf…”
“Iya pak,” jawabnya.
“Saya mau kacang ini..” Abi menunjukkan bungkus kosong di tangannya.
“Baik,” Binar tersenyum.
“Dan eh… Jeruk…” Abi asal bicara. Ia hanya tidak ingin Binar pergi begitu saja.
“Baik,” angguknya sambil kembali tersenyum.
Abi mengelus dadanya.
Ah, senyum yang cantik…
Aku tergila gila…
Dari seberang baris, Sada menahan senyumnya memperhatikan tingkah sepupunya itu.
Abi melotot ke arahnya.
Ah abaikan si Sada. Biarkan aku menikmati perjalanan ini.
Tak lama kemudian, Binara kembali membawa satu baki berisi semangkuk hazelnut dan jeruk yang diminta penumpang
firs class tersebut, “Ini pak, silahkan.”
“Terima kasih,” Abi kembali menatapnya. Ia kemudian bergumam pelan, “Kamu… Cantik…”
“Oh..” Binar berhenti sesaat karena kaget. Lalu melanjutkan menyajikan kacang dan jeruk tersebut di meja penumpang tampan di hadapannya itu.
“Maaf bukan maksudku membuatmu tidak nyaman, tapi itu tulus,” ucapnya pelan agar tidak terdengar penumpang lain. “Apa.. Aku boleh meminta nomor ponselmu?”
Binar mengedipkan matanya berulang kali karena kaget. Hal yang membuat Abi semakin tak menentu.
Mata bulat yang indah.
Dan bibir mungilmu..
Oh… Aku bisa gila!
“Maaf,” Binar tidak menjawab apapun lagi dan langsung bergerak pergi setelah menyajikan makanan di meja milik Abi.
Abi mengerutkan keningnya.
Hmm… Dia tidak menjawab karena canggung sedang bertugas? Atau dia menolakku?
Bayangan kalau Binara menolaknya membuatnya semakin tak menentu.
Damn! Hanya dalam beberapa jam saja, dan aku mendadak serba tidak jelas begini. Perutku langsung mulas.
***
Di balik pembatas antara area penumpang dengan dapur, Binar bersandar ke dinding. Ia mengelus dadanya berulang kali. Ada debar debar aneh baik di d**a dan juga perutnya.
Ini aneh.
Ini aneh.
Oh, kenapa jantungku berdetak semakin kencang?