Ia menatap dirinya sendiri di depan cermin. Atasan kemeja sutra merah marun mencetak bentuk tubuhnya yang menggoda. Apalagi rok pendek berwarna putih semakin mempertontonkan badan sintalnya. Kaki jenjang itu terlihat jelas hingga batas pangkal paha.
Shabila Dariani berulang kali memutar tubuhnya untuk memastikan kalau pakaiannya rapi dan tidak ada yang salah. Ia juga membuka kancing kemejanya hingga belahan dadanya yang rapat itu terlihat mengintip.
“Ok great…” ia menahan senyumnya.
Terakhir, Shabila mengenakan sepatu hak tinggi berwarna hitam setinggi sepuluh senti meter. Ia menyambar blazer dan tasnya untuk bergerak menuju mobilnya yang terparkir di basemen apartemen.
Semua yang dikenakannya berasal dari jenama mewah yang harganya tidak murah. Sebagai senior associate di Laksmada Law Firm, Shabila memang menjaga penampilannya agar terlihat ‘mahal’. Karirnya sebagai senior associate menjadikannya sering menangani kasus kasus kompleks. Di internal perusahaan, ia juga menjadi penghubung antara manajemen dan para associate.
Shabila mulai mengemudikan kendaraannya menuju Laksmada Law Firm.
Ada dua hal yang membuatnya semangat. Kasus yang ditanganinya dan… Althaf Laksmada.
Senyum mengembang di wajahnya.
Dari dulu, ia selalu menyukai atasannya itu. Namun, selalu ada perempuan di sekitarnya. Bahkan hingga akhirnya Althaf menikah.
Shabila tentu saja patah hati.
Tapi tidak berlama lama, ia memutuskan untuk secara agresif mendekatinya. Apalagi dengan adanya peluang dan kesempatan karena hampir setiap hari mereka bertemu. Ia tak peduli dengan status Althaf, yang ada dalam pikirannya hanyalah hasrat dan obsesinya.
Gayung bersambut.
Keduanya menjalani hubungan gelap hingga sekarang.
Perlahan namun pasti, aku akan membuatnya bercerai dari istrinya.
Setelah dua puluh menit perjalanan, ia pun tiba di Kantor Laksmada Law Firm.
Shabila memasuki ruangan kantornya sambil mengeluarkan ponselnya. Ia tersenyum membaca pertukaran pesan antara dirinya dengan Althaf.
Penampilan luar atasannya itu terlihat dingin, namun lelaki itu ‘panas’ di atas ranjang.
I’m crazy for you.
Seketika, ada dorongan untuk melihat kekasih gelapnya itu. Ia mengambil satu map berisi berkas satu kasus kliennya yang akan dijadikan alasan untuk bicara pada atasannya itu.
Shabila pun melangkah menuju ruangan ‘managing partner’ dan mengetuk pintunya.
Tok, tok, tok…
“Ya,” balas Althaf dari dalam ruangan.
Shabila membuka pintunya dan melangkah masuk sambil tersenyum. Ia pun duduk di hadapan atasannya itu.
“Aku mau membicarakan kasus Bhagawati,” ucapnya genit.
Althaf merespon dengan dingin, “Bicara saja. Bagaimana perkembangannya?” Ia menunduk sambil terus membaca dokumen di hadapannya.
Shabila merasa kesal sendiri.
Aku berdandan secantik mungkin tapi kamu tidak menatapku.
Ia kemudian melirik ke arah satu pigura foto di meja Althaf.
Setiap kali melihatnya, setiap kali itu juga rasa cemburu menderanya.
Foto itu adalah momen pernikahan Althaf dan Binar. Keduanya terlihat bahagia dan berseri seri. Bahkan Althaf tersenyum dengan tampannya.
Kenapa juga kamu menyimpannya di meja itu? Apa Binar yang memintamu?
Ingin rasanya melemparkan foto itu agar tidak ada lagi di dunia ini.
Gejolak rasa itu selalu datang setiap melihatnya. Lama kelamaan, rasa cemburu pun bercampur dengan benci.
Bisa jadi karena rasa sukanya pada Althaf semakin dalam maka Binar seakan akan menjadi musuhnya dan saingannya.
Tidak cuma kamu, tapi aku juga memiliki hak atas Althaf.
I hate you, Binar!