Pengacara Pendamping Jalu

1007 Kata

Icha menyesap kopi susunya yang hampir dingin, lalu menatap Erwin dengan senyum miring. Mereka sedang duduk di salah satu kafe kecil yang tak jauh dari gedung Kejaksaan Negeri Jakarta Timur. Siang itu panas, tapi suasana di antara mereka justru menghangatkan. “Lo beda sekarang, Win,” ulang Icha sambil mengaduk sendok kecilnya di gelas. “Dulu lo selalu bilang, hukum itu soal kepastian, bukan soal keadilan. Tapi sekarang? Lo kayak pahlawan.” Erwin tersenyum lelah. “Mungkin karena gue ketemu terlalu banyak orang baik yang keburu dicap salah.” “Termasuk si Gloria itu?” goda Icha, menaikkan alisnya. Erwin tak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. “Tapi ini bukan cuma soal Gloria. Ini soal Jalu. Gue tahu dia sopir ojek biasa. Tapi dia gak salah, Cha. Dia cuma antarin barang, tanpa ta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN