108. Hari Yang Buruk

1577 Kata

Meremasi tangan yang berada di atas pangkuan, Anin menatap nanar pada amplop coklat yang baru saja disodorkan kearahnya. Terdengar suara elaan napas dari sosok yang menempati kursi di seberangnya. "Mbak benar-benar minta maaf ya, Nin. Sebenarnya, Mbak juga bingung, karena Fany itu nggak suka banget sama asisten pengganti lo. Tapi tiba-tiba, pas lo udah lebih sehat dan bisa mulai kerja, dia minta Farel buat jadi asisten tetapnya." Mengangkat wajah yang sebelumnya terus tertunduk, Anin berusaha menciptakan senyuman yang bertolak belakang dengan keadaan hatinya yang carut-marut. Kebingungan harus mencari pekerjaan baru setelah Fany mendepaknya. Sudah sekitar satu minggu Anin keluar dari rumah sakit. Sang Bibi sempat melemparinya dengan banyak pertanyaan karena Anin—atas bantuan Saras, terp

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN