Keluar dari lift, Anin. Berderap cepat meninggalkan gedung apartemen Fany. Tak memedulikan beberapa orang yang tampak penasaran padanya yang terisak dengan wajah basah. Menundukkan pandangan, Anin menggumamkan maaf saat tak sengaja menubruk atau bersenggolan dengan orang lain. Ini memalukan. Anin ingin menghentikan tangisnya, tapi tak bisa. Akan semakin memalukan jika nanti di pinggir jalan ia harus mencari taksi untuk membawanya pu— "Astaga!" Anin terpekik saat lengannya tiba-tiba ditarik seseorang. Sembari menenangkan degup jantungnya yang masih berdegup kencang, gadis itu terbelalak, melihat siapa yang kini menatap tajam kearahnya. "Kenapa menangis?" Meneguk ludah kelu, Anin menggeleng kaku. "K—Kak El, k—kenapa bisa ada di sini?" "Kenapa menangis?" Tak memedulikan pertanyaan yang A

