Fany bangkit dari duduknya. Masih dengan bersedekap tangan, gadis itu mengayunkan langkah begitu tenang, menuju Anin yang masih bergeming di ambang pintu. Menatapnya datar dan membuat Fany menyeringai melihat percikan kemarahan di kedua mata gadis itu. Kasihan, Anin pasti tengah kepayahan menahan diri untuk tak mengkonfrontasinya. Baiklah, jadi biar dia saja yang melakukan itu. "Sebenarnya, gue berharap pertunjukan ini sedikit lebih lama. Karena b****g gue panas nunggu lo pulang. Tapi apa? Cuma omelan beberapa menit dan satu tamparan?" Tanya Fany dengan suara kecewa yang sangat dibuat-buat dan terlalu mendramatisir. Gadis itu menggelengkan kepala dan berdecak. Menikmati bagaimana menyenangkannya mempermainkan emosi Anin. "Bibi lo payah, nggak seru!" "Jangan usik Bibiku." Ucap Anin yang

