Anin mengela napas, berjalan lunglai dengan sesekali menendang kerikil yang menghalangi jalannya. Atau ... Itu sekadar pengalihan untuk semua kerumitan yang membuat perasaannya kacau? Pagi yang cerah berbanding terbalik dengan keadaan hatinya yang masih mendung sedari kemarin. Terlebih, sang Bibi masih mendiamkannya meski tak lagi melempar kata-kata pedas yang menyakitkan hati. Anin belum bisa mengorek informasi, akan apa yang sebenarnya Fany katakan pada bibinya hingga wanita paruh baya itu terhasut dan murka padanya. Tak ingin harinya kian kacau, Anin memilih berangkat ke sekolah menaiki bus alih-alih satu mobil dengan Fany seperti biasa. Dia, merasa pecundang payah yang hanya bisa diam diperlukan semena-mena. Fakta itu benar-benar membuatnya ingin meledakan amarah, tapi sialnya tak bi

