Bahkan, dalam mimpi terburuk sekalipun, Anin tak sudi berada di situasi seperti saat ini. Pendengarannya dijejali gelak tawa penuh kepuasan. Sementara di depan matanya, disuguhi sosok Elard yang tengah menjadi bulan-bulanan. Tubuh cowok itu sudah penuh luka. Wajahnya bahkan nyaris tak lagi bisa Anin kenali. Tak ada senyuman usil, tatapan tajam, atau raut wajah yang bisa membuat bulu kuduk meremang ketakutan. Anin tersedak tangisnya sendiri, ia ingin berlari kearah Elard yang hanya pasrah meringkuk di atas lantai berdebu yang kotor. Berusaha melindungi diri dengan sisa tenaga yang dipunya dari hantaman pukulan dan tendangan. "Astaga, perut gue keram." Boby menyusut sudut air matanya yang berair. Ia lelah karena terus tertawa hingga perutnya terasa sakit. Ini bahkan lebih menggelikan dari

