102. Secuil Kesabaran Yang Tersisa

1684 Kata

"Masnya nggak tidur?" "Sssstt ...." Menempelkan jari telunjuk di bibir, Elard mengalihkan atensinya yang sejak tadi tertuju pada sosok Anin yang kini tengah terlelap. Beralih menatap Nara yang berdiri di sampingnya. Pria itu mengedikkan dagu dan mengajaknya keluar kamar. Kali ini, Elard tak lagi menyeret tiang infus, karena sejak sore, infus yang terpasang di tangannya sudah di lepas. Dan, seharusnya ia juga pulang dari rumah sakit. Tapi dia bersikeras ingin kembali menginap. Membuatnya memperpanjang masa perawatannya. "Masnya mau kemana? Ini sudah malam." Meski kesal dengan sikap Elard yang suka seenaknya, Nara tetap mengikuti setiap langkah pria itu. Walau sedikit kepayahan, saat mensejajarkan diri karena Elard berjalan begitu cepat dengan langkah lebar. "Gue mau beli kopi di kantin r

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN