Bahu Anin terkulai lemas. Semangatnya meredup, saat pandangannya yang menyapu ke sekitar tak menemukan keberadaan Gavin. Dia bahkan sempat mendongakkan wajah dan mencari-cari di rimbunan pohon besar, siapa tau ada cowok itu yang kembali tengah memanjat untuk meletakan sangkar burung yang jatuh. Tapi ... Tidak ada. Cowok itu benar-benar tak ada di sini. Menyeret langkah, Anin akhirnya memutuskan untuk mendudukkan diri di bawah pohon besar dengan punggung yang ia sandarkan nyaman. Berselonjor kaki, meletakan kotak bekal yang juga sengaja di bawanya di atas pangkuan. Sedari bel pertanda istirahat berteriak lantang tertangkap pendengaran. Fany sudah beranjak meninggalkannya, karena seperti biasa, gadis itu akan menuju kantin berasa Sela dan Mona. Awalnya, Anin memilih untuk mengeram di dalam

