"Kecuali aku menikah sama Dheandra!"
Suara Ivan meninggi, menggema di dalam kabin mobil.
Seketika, Ivan sadar. Matanya melebar sepersekian detik, cengkeraman tangannya di kemudi mengeras. Ekspresi terkejut dan marah berkelebat cepat di wajahnya. Ia segera menekan tombol off di setirnya, memutus sambungan telepon secara brutal tanpa menunggu respons dari ibunya.
Keheningan yang tersisa terasa dingin, pekat, dan mematikan.
Fatma, yang duduk persis di sebelahnya, memejamkan mata. Ia bisa merasakan aura kemarahan Ivan yang tak terkatakan. Dita di belakang meringkuk, mencoba menghilang ke dalam jok mobil.
Ivan tidak bicara. Ia hanya menatap kaca depan, mengambil napas panjang, dan mengembuskannya perlahan. Ketika ia menoleh, pandangannya yang biasanya dingin kini terasa seperti bilah es yang tajam, menusuk langsung ke Fatma, lalu ke Dita melalui spion tengah.
"Kalian berdua!" Suara Ivan sangat rendah, datar, dan berbahaya.
Dita dan Fatma sontak menjawab serempak, "Ya, Pak!"
"Apa pun yang kalian dengar selama obrolan itu ...." Ivan menjeda, menekan setiap kata. "Lupakan. Tidak ada yang pernah terjadi. Tidak ada yang pernah kalian dengar."
Fatma meremas tangannya di pangkuan. Ivan tidak mengancam akan memecat, tapi auranya jauh lebih menakutkan dari sekadar ancaman.
"Jika ada satu kata pun dari obrolan tadi yang keluar dari mulut kalian, entah itu di kantin, di kosan, apalagi di media sosial, kalian akan berhadapan dengan HRD besok pagi. Dan bukan hanya pemecatan yang kalian dapatkan. Mengerti?"
"M-mengerti, Pak!" jawab Fatma, suaranya tercekat.
Dita mengangguk-angguk cepat di belakang. "Siap, Pak! Saya jamin. Saya lupa ingatan sekarang juga, Pak! Saya amnesia dadakan!"
Ivan tidak menjawab. Ia hanya menatap Fatma lama, memastikan ketakutan itu tersampaikan. Ia lalu menjalankan mobilnya, membelokkan ke depan gang kosan mereka.
Mobil berhenti. Ivan menekan tombol unlock.
"Turun."
Dita langsung melompat keluar. "Terima kasih, Pak!"
Fatma menyusul. Sebelum ia sempat menutup pintu, Ivan memanggil.
"Fatma."
Fatma berbalik. Ivan menatapnya, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, tetapi hanya kalimat keras yang keluar.
"Jaga mulut. Dan jaga diri. Wajahmu masih pucat."
Lalu, Ivan menutup kaca jendelanya dan melaju pergi dengan kecepatan tinggi, seolah melarikan diri dari aib yang baru saja ia bagi dengan dua Office Girl.
"Gila! Gila! Gila! Itu tadi apa?!" Dita mengunci pintu kosan, lalu langsung menjatuhkan diri ke lantai, masih shock.
Fatma bersandar di pintu, dadanya naik turun menahan napas. "Dia ... dia benar-benar mengancam kita, Dit."
"Iya, aku tahu! Tapi, kamu nggak lihat tadi ekspresinya, Fat?" Dita berbisik, matanya berbinar takjub. "Dia marah banget sama Ibunya! Dan dia nggak akan nikah kecuali sama Non Dheandra?"
Fatma memejamkan mata, membiarkan nama itu bergaung. Ia baru diceritakan Dita kemarin soal rahasia keluarga Ivan, dan mendengar nama itu disebut langsung di sampingnya terasa seperti bom yang meledak.
"Kamu ingat kan, Fat, yang aku ceritain kemarin?" Dita merangkak mendekat, suaranya sangat lirih. "Non Dheandra itu Kakak Iparnya! Istri kakaknya Pak Ivan, namanya Pak Ervan Abimana. Gila ya, kayaknya dia cinta sama Kakak Iparnya sendiri! Mingkin itu yang bikin Mamanya Pak Ivan stress tujuh turunan dan nyuruh dia cepat-cepat nikah."
Fatma membuka mata. Freezer itu ternyata bukan hanya dingin, tapi hancur. "Jadi, dia beneran mencintai Kakak Iparnya, sampai segamblang itu di telepon." Fatma menggeleng. Ivan yang dingin ternyata punya kelemahan, punya luka yang dalam yang berhubungan dengan keluarga dan cinta yang terlarang. Itu entah mengapa membuat Fatma merasa sedikit bersimpati, meskipun ia baru saja diancam.
"Mulai besok," kata Dita, kembali ke mode detektif. "Misi utama kita adalah jangan sampai ada yang tahu soal cinta terlarang Pak Ivan dan Kakak Iparnya."
"Nggak usah berlebihan, kan emang bukan urusan kita," ujar Fatma.
"Ya siapa tahu aja nanti jadi urusan kamu, Fat," gurau Dita.
"Maksudnya apa?!" tanya Fatma, matanya membesar karena terkejut atas gurauan Dita yang keterlaluan.
Dita terkekeh, menyikut Fatma pelan. "Hehe ... nggak, nggak ada! Cuma, kalau kamu tahu rahasia sebesar itu, Fat, kamu itu sekarang jadi semacam saksi kunci. Bos se-dingin Pak Ivan nggak akan bisa lihat kamu kayak Office Girl biasa lagi. Kamu tuh sekarang ... spesial!" Dita bangkit, menuju dapur kecil mereka. "Udahlah, jangan dipikirin. Yuk, makan dulu. Aku masak mi instan spesial."
Fatma masih berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen kayu. Kata-kata "spesial" yang Dita ucapkan bergaung di telinga, bukan karena Fatma merasa diistimewakan, melainkan karena ia tahu, status baru ini justru menempatkan lehernya di bawah pisau cukur. Ia tahu rahasia yang terlalu besar. Ia tahu kelemahan si Raja Es, dan itu adalah posisi yang berbahaya.
Ia memejamkan mata, memaksakan dirinya melupakan drama mobil tadi. Ada hal yang lebih mendesak. Bayangan pria paruh baya di lobi hotel itu kembali.
Postur yang sama. Garis bahu yang miring. Lekuk telinga yang lancip.
"Ayah ...," bisiknya pelan, sebelum suara Dita dari dapur menariknya kembali ke kenyataan.
"Fat! Mau pakai telur nggak?!"
"Mau!" balas Fatma, akhirnya menarik napas dalam-dalam. Ia harus makan. Ia harus tidur. Besok adalah hari yang baru, dan ia harus menghadapi Ivan yang sudah kembali membeku, seolah tidak ada yang pernah terjadi.
Fatma berjalan gontai ke dapur, meninggalkan pintu kosan yang baru saja ia kunci, dan meninggalkan bayangan mobil sedan hitam mengkilap itu di jalanan Jakarta.
***
Sementara Fatma dan Dita mulai merebus air di kosan mereka, mobil Ivan melesat cepat, meliuk-liuk di antara kemacetan Sudirman yang semakin padat.
Aroma parfum wood dan citrus mahalnya terasa pahit di udara. Ivan menyetir dalam diam yang mematikan, cengkeraman di kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tadi, ia melaju kencang bukan untuk menghindari macet, melainkan untuk melarikan diri dari dirinya sendiri.
Ia telah kehilangan kendali. Di depan dua orang karyawan rendahan, yang ia bayar untuk membersihkan sampah dan menyajikan kopi, ia telah menelanjangi aib terbesarnya, cinta pada istri kakaknya.
"Sial!" Ivan membanting tangannya ke setir, tetapi suaranya teredam oleh ketenangan kabin mobil mewah itu.
Ia melirik spion tengah, tempat Fatma duduk tadi, tempat mata Fatma menyaksikan keruntuhannya. Wajah pucat Fatma, mata yang berkaca-kaca karena ketakutan. Ia telah mengancamnya. Ia telah melampaui batasnya sebagai seorang atasan.
Kenapa aku peduli wajahnya pucat?
Pertanyaan itu kembali muncul, mengganggu konsentrasinya. Biasanya, ia tidak akan pernah menghiraukan kondisi fisik stafnya. Tapi Fatma, ada sesuatu yang mengganggu tentang Fatma sejak ia kembali dari Hotel Emerald.
Ivan menekan tombol blower AC mobil hingga maksimal, seolah mencoba mengusir aura kehangatan dan rasa bersalah yang baru saja menempel.
Ia tahu ia tidak bisa langsung pulang. Ia akan menghadapi Mama-nya yang sudah pasti histeris setelah panggilan telepon yang diputus mendadak itu.
Ivan membelokkan mobilnya menuju jalur cepat, menuju daerah Menteng yang tenang, berhenti di depan sebuah toko buku tua yang sudah tutup. Ia mematikan mesin.
Ia duduk di sana selama hampir dua jam, hanya menatap jalanan sepi, bahkan sampai matahari tenggelam berganti kegelapan malam. Ia menyalakan ponselnya, membuka galeri foto. Jari telunjuknya berhenti pada sebuah foto lama, foto pernikahan kakaknya, Ervan.
Di foto itu, Ervan, yang tersenyum lebar, berdiri di samping Dheandra. Dheandra terlihat anggun, gaun pengantinnya sederhana tapi berkelas. Dan di samping Dheandra, Ivan berdiri tersenyum lebar, ikut merasakan kebahagian yang dirasakan kakaknya. Namun, kenapa sekarang berbeda, ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika ia melihat wajah teduh Dheandra.
Ivan menghela napas panjang, menutup ponselnya. Ia harus pulang dan menghadapi konsekuensi dari ledakan emosinya.