Dia Kakak Iparmu!

1320 Kata
Ketika mobil Ivan berhenti di depan gerbang tinggi kediaman Abimana, sudah pukul sembilan malam. Rumah mewah bergaya kolonial itu tampak tenang di luar, tapi Ivan tahu, di dalamnya pasti sudah ada badai. Saat ia memasuki ruang keluarga, Nyonya Widyawati Abimana, ibunya, sudah menunggunya. Wanita itu duduk di sofa tunggal beludru, mengenakan gaun sutra yang elegan. Ekspresinya tidak marah, melainkan terluka, jauh lebih buruk dari kemarahan. "Mama kira kamu kecelakaan, Ivan," kata Nyonya Widyawati, suaranya tenang tapi tajam. Ivan melepas jasnya, meletakkannya di sandaran sofa. "Aku baik-baik saja, Ma. Aku ada urusan mendadak." "Urusan mendadak sampai harus memutus telepon dari Mama? Dan membuat pernyataan konyol seperti itu?" Nyonya Widyawati bangkit, berjalan mendekati putranya. "Ma, aku capek. Aku nggak mau bahas ini sekarang." "Kita haehs menyelesaikannya, Ivan. Apa maksudnya kamu tidak akan menikah kecuali dengan Dheandra?" Mata sang Ibu menusuk. "Apa yang ada di otakmu? Kamu tahu betul Dheandra itu siapa!" "Aku tahu, Ma! Dia istri Ervan! Aku tahu!" Ivan balas meninggikan suaranya, rasa lelah dan marah yang sempat mereda kembali menyeruak. "Justru karena aku tahu, aku tidak mau ada wanita lain yang Mama paksakan masuk ke hidupku!" "Kamu mencintainya!" seru Nyonya Widyawati, tangannya gemetar. "Setelah bertahun-tahun kamu gagal menikah, dan berhasil membuka hati lagi, kenapa harus Dheandra yang kamu cintai?!" Ivan memejamkan mata, memalingkan wajah ke dinding. "Aku tidak mencintai Dheandra, Ma. Aku ... aku cuma nggak bisa melihat wanita lain." "Itu sama saja, Ivan! Demi Allah, dia sudah menjadi keluarga kita, dia seperti putri kandung Mama, dia sudah menjadi ibu dari keponakanmu!" Nyonya Widyawati mencengkeram lengan Ivan. "Kamu harus menikah! Mama tidak mau kamu terus-terusan seperti ini. Apalagi setelah peristiwa itu—" "Jangan sebut peristiwa itu!" Ivan membentak, melepaskan cengkeraman ibunya. Suaranya terdengar hampa. "Selama kamu masih terikat dengan trauma masa lalu itu, kamu tidak akan pernah bisa melupakan dia, Ivan. Mama ingin kamu menikah, melupakan semuanya. Dan jangan lupa, Mama sedang mengurus kelanjutan kerja sama besar yang belum sempat dirintis mendiang Palamu dengan PT Rajawali Holding. Kamu harus fokus! Kamu yang memimpin perusahaan ini sekarang, bukan malah berhalusinasi tentang kakak iparmu!" Ivan menarik napas dalam-dalam. "Aku akan fokus pada Rajawali Holding. Aku akan fokus pada pekerjaan. Tapi, jangan pernah lagi urus pernikahanku, Ma." "Dan jangan pernah menyebut nama Dheandra di mana pun, Ivan! Mama tidak mau ada gosip! Apalagi ... " Nyonya Widyawati merendahkan suaranya, tatapannya menyiratkan sesuatu yang dingin dan menakutkan. "Apalagi sampai didengar oleh orang luar yang tidak berkepentingan. Jaga rahasiamu. Harga diri keluarga Abimana dipertaruhkan." Ivan menatap ibunya. Ia tahu ibunya benar. Rahasia ini jauh lebih berbahaya daripada sekadar cinta terlarang, rahasia ini bisa meruntuhkan segalanya. Ia teringat Fatma dan Dita. Dua Office Girl yang kini memegang kendali atas kehancuran Ivan Abimana. "Sudah selesai? Aku ke kamar dulu," kata Ivan dingin, lalu berbalik meninggalkan ibunya yang masih berdiri mematung. Di kamarnya yang luas, Ivan terduduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajahnya keras-keras. Bukan ancaman sang Ibu yang paling membuatnya tertekan, melainkan kenyataan bahwa ia telah membiarkan rahasia itu keluar, di hadapan orang-orang yang tidak seharusnya tahu. 'Aku harus memastikan dua gadis itu diam.' Pikiran Ivan kembali fokus pada Fatma, wajahnya yang pucat, dan matanya yang ketakutan. Itu adalah kelemahannya, dan tentunya ia harus menghadapi mereka lagi besok. *** Keesokan harinya, Fatma terbangun dengan beban yang bertambah. Udara pagi yang lembap di dalam kamar kosnya tidak mampu mengusir dingin yang ditinggalkan oleh ancaman Ivan kemarin. Ia segera ke kamar mandi lalu mengambil air wudhu. Dalam keheningan Subuh, ia berdiri di atas sajadah, mencoba menumpahkan semua kecemasan yang ia rasakan. Ia berdoa agar diberi kekuatan untuk menghadapi hari, dan agar halusinasi tentang Ayahnya tidak lagi muncul. Setelah selesai, ia melihat Dita masih tertidur pulas. Fatma segera bersiap. Ia mengambil dompetnya dan mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan dari saku, uang yang terasa panas di tangannya. "Ini uang yang dia kasih ke aku kemarin," gumamnya. Fatma membangunkan Dita. "Dit, bangun. Subuh! Habis itu kita sarapan di depan. Aku traktir." Dita mengerang, lalu membuka mata. "Duit dari mana? Bukannya Mamang kamu teh kasih uang cuma lima ratus ribu buat biaya di sini? Hemat-hemat aja, nggak usah traktir aku!" "Aku dapat bonus mendadak yang dikasih Pak Ivan kemarin," jawab Fatma sinis. "Dua ratus ribu, cukup nggak buat biaya makan kita seminggu?" "Cukup atuh, kulkas ada, kompor sama alat masak ada, beli stok sayur sama ikan aja. Kita masak, biar makin hemat," jawab Dita. "Ya udah, sok atuh sholat dulu. Mumpung masih subuh, kita belanja. Aku kan belum tahu harus belanja ke mana." "Oke oke, tunggu bentar. Aku sholat dulu!" Lima belas menit kemudian, Fatma dan Dita sudah duduk di warung tenda di depan gang sebelum mereka belanja, menikmati sepiring nasi uduk yang mengepul, ditemani segelas teh hangat. Di belakang mereka, suara lalu lintas di jalan besar sudah mulai ramai. "Ya ampun, Fat. Nasi uduknya enak banget. Rezeki nomplok dari Pak Ivan emang enak ya," gurau Dita, yang kini sudah kembali ceria, meskipun ia tetap sesekali melirik Fatma. Fatma tidak tertawa. Ia mengaduk sambalnya. "Lieur ah. Jangan dulu bahas Pak Ivan boleh nggak? Nanti aku nggak nafsu makan, Ditaaaaa!" Dita menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Oke, maaf. Habis ini kita ke warung sayur yang besar di seberang itu, ya? Kita kan harus masak buat seminggu." Fatma mengangguk. Setelah sarapan, mereka berjalan kaki ke warung sayur terdekat, membeli semua kebutuhan pokok. Mereka membawa kantong belanjaan ke kosan, menyimpannya di kulkas, lalu bergegas bersiap. "Dari sini kita jalan kaki aja, Fat. Biar cepat dan irit," kata Dita sambil mengunci pintu kosan. "Siap," balas Fatma. Mereka berjalan kaki dari gang kosan menuju Hotel Pelangi Samudra, membiarkan tubuh mereka menyesuaikan diri dengan terik matahari pagi, mencoba mengusir aura mencekam dari hari sebelumnya dengan obrolan ringan tentang harga cabai. *** Tepat pada saat Fatma dan Dita sedang tawar-menawar harga sayuran di warung dekat kosan, Ivan Abimana sudah duduk di meja makan panjang kediaman Abimana. Cahaya pagi yang lembut menembus kaca jendela besar, menerangi meja makan mewah yang hanya diisi oleh dua orang, Ivan dan Ibunya, Nyonya Widyawati. Widyawati tampak lebih tenang, tetapi ketenangan itu diwarnai oleh kelelahan. Seorang asisten rumah tangga menyajikan teh dan sarapan ala Barat di piring porselen bermerk. "Mama harap kamu lebih bijak lagi, Ivan," ujar Nyonya Widyawati, suaranya terkontrol. "Ini demi masa depan kamu. Kendalikan perasaanmu." Ivan menyesap tehnya. "Mama nggak perlu memikirkan itu, aku tahu apa yang harus aku lakukan." "Benarkah?" Nyonya Widyawati mengangkat alis tipisnya. "Sudah tiga tahun kamu seperti ini. Sekalinya kamu membuka hati, kamu malah membuka untuk orang yang salah." "Tidak ada yang bisa mengendalikan perasaan seseorang, Ma. Semua terjadi begitu saja." Ivan meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi pelan. "Aku sudah bilang, aku akan fokus pada pekerjaan. Mulai hari ini, aku akan mengambil alih negosiasi dengan Rajawali Holding secara penuh. Aku akan memastikan kerja sama ini berhasil, seperti yang Mama inginkan." Nyonya Widyawati menatap putranya, melihat kesungguhan yang bercampur dengan kelelahan yang mendalam. "Bagus. Itu yang Mama harapkan. Tapi, pastikan kamu tidak membuat kesalahan, Ivan. Rajawali Holding itu perusahaan besar. Mereka tidak main-main. Dan yang paling penting, jangan sampai ada urusan pribadi yang mengganggu negosiasi." "Aku mengerti," jawab Ivan singkat. "Satu lagi ...." Widyawati berhenti sejenak. "Tolong, jangan salah menaruh hati. Cukup Ervan yang sekarang tidak bisa diandalkan Mama. Mama nggak mau anak yang lain pergi juga dari Mama. Mama minta maaf karena akhir-akhir ini Mama terlalu banyak menuntut sama kamu." Nyonya Widyawati jarang meminta maaf. Kata itu terasa asing keluar dari bibirnya yang biasanya hanya memberi perintah, menuntut, dan menekan. Ivan sempat menatap ibunya, namun tidak lebih dari sedetik. Ia menunduk kembali, menusuk telur omeletnya pelan. "Sudahlah, Ma. Aku paham. Mama cuma ingin yang terbaik," ujarnya datar. Widyawati menggenggam cangkirnya dengan kedua tangan, seolah kehangatan teh bisa menyembuhkan kekhawatiran di dadanya. "Mama cuma takut kamu terseret lagi dalam masalah yang sama. Mama nggak mau kehilangan kamu juga." "Aku nggak akan hilang, Ma," jawab Ivan lirih. "Tapi, Mama jangan lupa bahwa hati tidak bisa dipaksakan. Aku tidak salah menaruh hati, karena Dheandra dan Ervan sedang dalam proses perceraian."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN