Pujian yang keluar dari bibir Ivan terasa seperti guntur di tengah langit cerah. Fatma menatap Ivan, mencari jejak ironi atau sarkasme di matanya, tetapi yang ia temukan hanyalah sepasang mata gelap yang memancarkan kejujuran yang langka, meskipun Ivan berusaha keras menutupinya dengan ekspresi datar. "E-enak?" ulang Fatma, suaranya nyaris tak terdengar. Ivan segera menarik dirinya menjauh, kembali ke posisi kaku. Wajahnya yang memerah tipis menjadi bukti dari pengakuan yang tak disengaja itu. Ia membersihkan tenggorokannya, kembali ke mode 'Bos Macan'. "Maksudku, rasanya tidak buruk. Tapi itu bukan alasan untuk mengacaukan dapur seharga mobil sport," koreksinya dengan nada dingin, mencoba membatalkan pujiannya tadi. Namun, Fatma sudah menangkap ketulusannya. Fatma tersenyum kecil, sen

