Widyawati menarik Fatma ke pelukan hangat yang beraroma parfum mahal. Fatma tersentak, merasakan kehangatan yang kontras dengan aura dingin Ivan. Ivan hanya bisa mematung di belakang, merasa seperti figuran yang disingkirkan oleh sutradara, ibunya sendiri. "Sudah, Van. Jangan melamun di sana. Fatma, ayo kita ke meja makan. Mama udah suruh Bibi siapkan menu favorit Ivan, biar kamu tahu selera anak Mama," ujar Widyawati ceria, menarik Fatma, menempatkannya di kursi tepat di hadapan Ivan. Suasana di meja makan terasa luar biasa mewah dan sunyi, hanya suara dentingan sendok perak yang beradu dengan piring porselen yang memecah keheningan. Fatma duduk kaku, berusaha menjawab pertanyaan Widyawati di sela-sela makan. "Fatma, maaf, ya. Mama sempat minta data diri kamu dari HRD!" Ivan sedikit t

